Islamising Indonesia The Rise of Jemaah Tarbiyah and the Prosperous Justice Party (PKS)

Tags

, ,

The Prosperous Justice Party (PKS) is the most interesting phenomenon in contemporary Indonesian politics. Not only is it growing rapidly in membership and electoral support, it is also bringing a new and markedly different approach to Islamic politics, one which has no precedent in Indonesian history.Understanding PKS and analysing its political behaviour presents challenges to scholars and observers. This is partly due to the fact that the party represents a new trend within Indonesian Islam which has few parallels with preceding movements.Yon Machmudi has rendered us a valuable service. In this book, he provides a thoughtful and authoritative context for viewing PKS. He critiques the existing categorisations for Indonesian Islam and points to their inadequacy when describing the PKS and the campus-based Tarbiyah movement from which it sprang. He reworks the santri typology, dividing it into convergent, radical and global substreams. This offers new possibilities for explaining the PKS phenomenon and assists in differentiating between various types of Islamic revivalism in contemporary Indonesia. It also allows a more understanding of the accommodatory stance which PKS has towards the state and other political forces.Yon’s text provides a good overview of the development of PKS from its Tarbiyah movement origins to its impressive success at the 2004 general elections. It considers the party’s attitude towards the issues of sharia implementation and community welfare and closes by examining the future challenges facing PKS.It is a well written and authoritative account from a scholar who has done wideranging research on the party.

The Limits of Culture: Islam and Foreign Policy

Tags

,

In recent years, analysts of world affairs have suggested that cultural interests — ethnicity, religion, and ideology — play a primary role in patterns of conflict and alliances, and that in the future the “clash of civilizations” will dominate international relations. The Limits of Culture explores the effect of culture on foreign policy, focusing on countries in the geopolitically important Caspian region and paying particular attention to those states that have identified themselves as Islamic republics — Iran, Taliban Afghanistan, and Pakistan.The contributors to The Limits of Culture find that, contrary to the currently popular view, culture is rarely more important than other factors in shaping the foreign policies of countries in the Caspian region. They find that ruling regimes do not necessarily act according to their own rhetoric.Iran, for example, can conduct policies that contradict the official state ideology without suffering domestic retribution. Also, countries frequently align with one another when they do not share religious beliefs or cultural heritage. For example, Christian Armenia cooperates on trade and security with non-Christian Iran. Cultural identities, the contributors find, are flexible enough to enable states to pursue a wide range of policies that are consistent with their material interests.As the essays in The Limits of Culture make clear, the emerging foreign policies of the Caspian states present a significant challenge to the culturalist argument.Resource: online book

Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling by Taufik Ismail

Tags

,

(Sebuah karya puisi yang luar biasa menohok bangsa Indonesia yang dilanda musibah terus dengan bergentayangannya berbagai mafia seperti mafia hukum mafia pajak dan mafia kekuasaan dll, mohon izin diambil dari sebuah milis, semoga mendapatkan hikmahnya dan menjadikan Indonesia bebas dari tikus koruptor dari atas sampai bawah)Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid,pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,VCD koitus beredar 20 juta keping,kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan… dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiah.Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya,… dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara,ketika pulang lihat mereka berdukacita karena majikan mungkir tidak membayar gaji,banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa.Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makinmudah dipatahkannya.Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian.Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,yang di atas tukang tindas.Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungidari atas sampai ke bawah?Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjatadan yang memerintah.Bagaimana ini ? …….Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark UpOperation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton,tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,barangkali sekitar satu juta orang ini,cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendaliperintah, eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi.Bagaimana caranya mau diperiksa dan diusut secara hukum ?Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan ?PercumaSeratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkanInsya Allah tak akan terselesaikan.Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersediamengembalikan jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga,orang yang berpuasa juga,orang yang berhaji juga.Kita bujuk baik-baik dan kita doakanmereka.Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan darah atau teman sekolah,maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,orang seagama atau sedaerah,Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dandiam-diam berharap semoga kitamendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.Kayu kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa,televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.”Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.”Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.Mereka berteriak dan mendekatiku dengan sikap mengancam.Aku melarikan diri kencang-kencang.Mereka mengejarkan lebih kencang lagiMereka menangkapku.”Ambil bensin!” teriak seseorang.”Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.Seseorang memantik korek api.Aku dibakar.Bau kawanan rayap hangus.Membubung Ke udara. Inikah akhir kehidupan rayap ? Semoga !Salam Maghrib dari PI