“Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Engkau yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”
Saudaraku seiman, tahukah kalian bahwa di atas hamparan pasir Arafah yang gersang itu, tersimpan keajaiban yang mampu mengubah takdir seorang hamba? Bahwa di sinilah Allah SWT menurunkan rahmat-Nya bagaikan hujan yang membasahi bumi kering?
Hari Arafah bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum spiritual yang mengguncang alam semesta.Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah berkata bahwa Arafah adalah hari di mana pintu langit dibuka selebar-lebarnya, dan doa-doa hamba naik tanpa penghalang. Inilah saatnya kita menyelami keagungan hari yang dijuluki **”يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ”** (Yaumul Hajjil Akbar) – Hari Haji yang Agung. Arafah Sebagai Puncak Kesempurnaan AgamaPernahkah kita merenungkan mengapa Allah memilih Arafah sebagai tempat turunnya ayat penyempurna agama? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
*”Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka selain hari Arafah.”*Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam karyanya “Tafsir Al-Wasith” menjelaskan bahwa Arafah melambangkan puncak ketundukan dan pengakuan hamba kepada Tuhannya. Di sinilah ayat **الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ** (Al-Yawma akmaltu lakum dinakum) –
“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian” turun sebagai mahkota kesempurnaan Islam.Bayangkan, saudaraku! Di hamparan tanah seluas 10,4 kilometer persegi itu, berkumpul jutaan manusia dari berbagai suku, bangsa, dan warna kulit, berdiri dalam kesetaraan mutlak di hadapan Allah. Tidak ada yang membedakan raja dengan rakyat, kaya dengan miskin, putih dengan hitam.
Inilah manifestasi nyata dari firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang kemuliaan manusia yang hanya diukur dari ketakwaannya. Magfirah yang Mengalir Deras di ArafahProfesor Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam “At-Tafsir Al-Munir” mengungkapkan bahwa Arafah adalah “محطة الغفران الكبرى” (mahattatul gufranil kubra) – stasiun besar pengampunan. Di hari ini, Allah SWT turun ke langit dunia dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, membanggakan para hamba-Nya kepada para malaikat.Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:*
*”Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada penduduk langit, lalu berkata: ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.'”*Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “شُعْثًا غُبْرًا” (syu’tsan gubran) menggambarkan kondisi fisik yang lelah namun jiwa yang berkobar-kobar dengan cinta kepada Allah. Mereka rela meninggalkan kemewahan dunia demi meraih keridhaan Ilahi.Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam “Fiqh Az-Zakat” menekankan bahwa wukuf di Arafah mengajarkan kita tentang **”الفناء في الله”** (al-fana fi Allah) – lebur dalam cinta kepada Allah.
Di sinilah jiwa-jiwa yang terluka oleh dosa-dosa masa lalu menemukan obat penawarnya, yaitu rahmat Allah yang tak terbatas.Arafah Sebagai Cermin Hari KiamatSaudaraku, pernahkah kalian membayangkan betapa menakjubkannya pemandangan di Arafah? Jutaan manusia berpakaian serba putih, berdiri di bawah terik matahari, dengan tangan terangkat memohon ampunan.
Inilah gambaran kecil dari hari kebangkitan nanti!Imam Ibnu Katsir dalam “Tafsir Al-Quran Al-Azhim” menjelaskan bahwa wukuf di Arafah adalah **”بروفة يوم القيامة”** (brufa yaumil qiyamah) – gladi resik hari kiamat. Di hari itu, semua manusia akan berkumpul di satu padang yang luas, menunggu keputusan Allah tentang nasib mereka.Syaikh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’rawi dalam “Tafsir Ash-Sha’rawi” mengungkapkan hikmah mendalam: “Allah hendak menunjukkan kepada kita bagaimana rasanya berdiri di hadapan-Nya tanpa perantara, tanpa hijab, hanya dengan amal perbuatan sebagai bekal.”Mari kita renungkan firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 27-28:**وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ***”Dan serulah manusia untuk menunaikan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
Doa Mustajab dan Rahasia Spiritual Arafah
Dr. Muhammad Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin Al-Ashr” menyebutkan bahwa Arafah adalah **”ساعة الإجابة العظمى”** (sa’atul ijabah al-uzhma) – saat mustajab yang agung. Di sinilah doa-doa naik tanpa penghalang, menembus langit-langit dunia, mencapai Arsy Allah SWT.Rasulullah SAW mengajarkan doa terbaik di hari Arafah:**خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ***”Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.”*Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat tahlil ini mengandung enam dimensi spiritual: pengakuan keesaan Allah, penafian sekutu, pengakuan kepemilikan-Nya atas alam semesta, pujian kepada-Nya, pengakuan kekuasaan-Nya, dan ketundukan mutlak hamba.Saudaraku seiman, hari Arafah telah mengajarkan kita bahwa keagungan sejati bukanlah terletak pada kemewahan duniawi, melainkan pada kedekatan dengan Allah SWT. Di padang Arafah yang tandus itu, terpancar cahaya iman yang menerangi jiwa-jiwa yang gelap, mengalir sungai rahmat yang membasahi hati-hati yang kering, dan terbuka pintu taubat yang selebar langit dan bumi.Barangsiapa yang merasakan dahsyatnya wukuf di Arafah, atau bahkan hanya merenungkan keagungannya dari kejauhan, sesungguhnya ia telah menyentuh sebagian dari keindahan surgawi. Karena Arafah adalah jendela menuju ma’rifatullah – pengenalan yang hakiki kepada Allah SWT.Mari kita jadikan momentum Arafah ini sebagai titik balik kehidupan kita. Meski kita tidak berada di sana secara fisik, namun jiwa kita dapat hadir bersama mereka yang berwukuf, dengan memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar. Karena sesungguhnya, barangsiapa yang menghidupkan hari Arafah dengan ibadah dan taubat nasuha, Allah akan mengampuni dosa-dosanya sebagaimana Dia mengampuni mereka yang berwukuf di Arafah.**رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ * رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ * وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ***”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”***آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِي
Ada satu ironi yang hampir setiap manusia pernah mengalaminya, namun jarang disadari sebagai pola yang berulang: di tengah kesulitan, hati begitu lembut, doa begitu khusyuk, air mata begitu mudah menetes—tetapi begitu kesulitan itu berlalu dan nikmat datang menggantikannya, ingatan tentang siapa yang telah menolong perlahan memudar. Fenomena ini bukan sekadar pengamatan psikologis biasa, melainkan sebuah kebenaran yang secara eksplisit diungkap oleh Al-Qur’an empat belas abad yang lalu, jauh sebelum ilmu psikologi modern merumuskan konsep-konsep seperti hedonic adaptation atau cognitive dissonance.
Tiga ayat yang menjadi fokus artikel ini—QS Az-Zumar [39]: 8, QS Al-An’am [6]: 42, dan QS At-Taubah [9]: 126—membentuk sebuah rangkaian tematik yang utuh tentang tabiat manusia dalam menghadapi ujian, kelalaian yang mengikutinya, dan konsekuensi dari keengganan mengambil pelajaran. Artikel ini akan mengupas ketiganya secara tafsir, menghubungkannya dengan hadis-hadis Nabi ﷺ, pandangan ulama klasik dan kontemporer, termasuk cendekiawan Indonesia, serta—yang terpenting—merelevansikannya dengan realitas kehidupan umat Islam di era modern yang serba cepat, materialistis, dan penuh distraksi digital.
I. Teks dan Terjemahan Tiga Ayat
Sebelum masuk ke pembahasan mendalam, mari kita hadirkan kembali teks, transliterasi, dan terjemahan ketiga ayat tersebut secara utuh agar pembaca memiliki pijakan yang jelas.
“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.”
“Wa laqad arsalnā ilā umamim min qablika fa akhadznāhum bil-ba’sā’i waḍ-ḍarrā’i la’allahum yataḍarra’ūn.”
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.”
“Awalā yarauna annahum yuftanūna fī kulli ‘āmim marratan au marratayni tsumma lā yatūbūna wa lā hum yadzdzakkarūn.”
“Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”
Ketiga ayat ini, meski turun dalam konteks (asbabun nuzul) dan surah yang berbeda, memiliki benang merah yang sama: siklus ujian—respons manusia—dan pelajaran yang seharusnya dipetik.
II. Tafsir Mendalam Ayat per Ayat
A. QS Az-Zumar [39]: 8 — Lupa yang Sistematis
Az-Zumar merupakan surah Makkiyah yang banyak berbicara tentang tauhid, keikhlasan dalam beribadah, dan sikap orang-orang musyrik. Ayat ke-8 ini digambarkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim sebagai penjelasan tentang watak dasar manusia yang cenderung ingkar (kafir bin-ni’mah) ketika mendapatkan kelapangan setelah kesempitan [ref:11,15]. Kata kunci dalam ayat ini adalah munīban (kembali dengan penuh penyesalan dan ketundukan) yang menggambarkan intensitas permohonan manusia saat dalam kesulitan, kontras tajam dengan kata nasiya (lupa) yang muncul setelah nikmat datang.
Menurut Syekh As-Sa’di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, lupa di sini bukan sekadar lupa secara kognitif, melainkan lupa yang bersifat fungsional—yakni tidak lagi bersyukur, tidak lagi merasa butuh kepada Allah, bahkan terkadang berbalik menjadi sombong dengan nikmat yang diterimanya [ref:12]. Ini yang disebut oleh para mufasir sebagai nisyanul-‘ubudiyyah, lupa akan status penghambaan diri.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menekankan bahwa ayat ini sesungguhnya merupakan sindiran halus (ta’ridh) terhadap perilaku manusia secara umum, bukan hanya orang musyrik Mekah semata. Beliau menulis bahwa “kelemahan ini bersifat manusiawi, tetapi Al-Qur’an mengingatkan agar manusia menyadarinya sehingga bisa mengatasinya dengan iman dan ilmu” [ref:9].
Ayat lanjutannya (ayat 9) bahkan mempertegas dengan pertanyaan retoris: “Apakah sama orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, dengan orang yang tidak demikian?”—menunjukkan bahwa solusi dari lupa ini adalah konsistensi ibadah dan kesadaran akhirat, bukan sekadar respons situasional terhadap krisis.
B. QS Al-An’am [6]: 42 — Ujian sebagai Sarana Pendidikan Ilahi
Ayat ini berbicara tentang pola dakwah para rasul terdahulu. Allah menguji umat-umat sebelumnya dengan ba’sa’ (kesengsaraan, biasanya diartikan sebagai kemiskinan atau kesulitan ekonomi) dan dharra’ (kemelaratan, sering dikaitkan dengan penyakit atau musibah fisik), dengan tujuan la’allahum yatadharra’un—supaya mereka tunduk merendahkan diri.
Kata tadharru’ memiliki makna yang sangat kaya dalam bahasa Arab: bukan sekadar berdoa, tetapi berdoa dengan kerendahan hati total, seperti seorang yang benar-benar tidak berdaya dan pasrah sepenuhnya. Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menguji bukan karena kebencian, melainkan karena kasih sayang, agar hati yang keras bisa melunak dan kembali kepada-Nya [ref:5].
Ath-Thabari dalam Jami’ Al-Bayan mencatat riwayat dari beberapa sahabat bahwa ujian ini merupakan bentuk rahmat tersembunyi (rahmah mutawariyyah)—Allah “memaksa” hamba-Nya melalui kesulitan agar tidak terus-menerus tenggelam dalam kelalaian. Ini sejalan dengan prinsip pedagogis dalam Al-Qur’an bahwa terkadang pembelajaran paling efektif datang bukan dari kata-kata, melainkan dari pengalaman pahit.
Quraish Shihab menambahkan konteks menarik: ayat ini juga merupakan teguran halus bagi kaum musyrikin Quraisy yang menyaksikan bagaimana umat-umat terdahulu diberi ujian namun tetap membangkang. Pesannya jelas—pola ini akan terus berulang selama manusia tidak mengambil pelajaran [ref:9,10].
C. QS At-Taubah [9]: 126 — Ujian Berkala yang Terlewatkan
Ayat ini merupakan puncak dari peringatan Allah tentang siklus ujian. Kata marratan au marratayni (sekali atau dua kali) mengindikasikan bahwa ujian bukanlah kejadian tunggal yang datang sekali seumur hidup, melainkan siklus tahunan yang terus berulang—bisa berupa penyakit, musibah ekonomi, kehilangan, atau berbagai bentuk kesulitan lainnya.
Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wat-Tanwir menjelaskan bahwa ayat ini turun dalam konteks orang-orang munafik yang terus-menerus diuji keimanannya melalui berbagai peristiwa—baik peperangan, wabah penyakit, maupun kesulitan ekonomi—namun mereka tetap tidak juga bertaubat (lā yatūbūn) dan tidak mengambil pelajaran (lā yadzdzakkarūn) [ref:2].
Yang menarik dari ayat ini adalah dua kata kerja penutup yang saling melengkapi: taubah (kembali/bertaubat) berorientasi pada perubahan sikap spiritual, sedangkan tadzakkur (mengambil pelajaran/mengingat) berorientasi pada proses kognitif-reflektif. Al-Qur’an menegaskan bahwa kegagalan sejati bukan pada terjadinya ujian, melainkan pada gagalnya kedua proses ini terjadi setelah ujian berlalu.
Tabel 1: Perbandingan Struktur Tiga Ayat
Aspek
QS Az-Zumar: 8
QS Al-An’am: 42
QS At-Taubah: 126
Fokus Utama
Respons manusia: doa saat susah, lupa saat senang
Tujuan ujian: agar tunduk merendahkan diri
Frekuensi ujian: berkala, tapi tak diambil pelajaran
Subjek
Manusia secara umum (al-insān)
Umat-umat terdahulu
Kaum munafik/manusia pada umumnya
Kata Kunci
nasiya (lupa)
tadharru’ (tunduk merendah)
tadzakkur & taubah
Jenis Surah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Pesan Inti
Kritik terhadap sifat pelupa manusia
Ujian sebagai sarana pendidikan Ilahi
Peringatan atas kegagalan introspeksi
Implikasi Modern
Krisis rasa syukur di tengah kemakmuran
Perlunya memaknai kesulitan sebagai teguran, bukan kesialan
Pentingnya evaluasi diri berkala (muhasabah)
III. Perspektif Hadis Nabi ﷺ
Al-Qur’an tidak berdiri sendiri; ia dijelaskan dan diperkuat oleh hadis-hadis Nabi ﷺ yang relevan dengan tema kelalaian setelah nikmat dan hikmah di balik ujian.
1. Hadis tentang mukmin yang selalu dalam kebaikan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Hadis ini menjadi kunci solusi atas persoalan yang diangkat dalam QS Az-Zumar: 8. Jika manusia pada umumnya cenderung lupa bersyukur saat mendapat nikmat, seorang mukmin sejati justru harus melatih dirinya untuk tetap dalam kondisi syukur-sabar secara konsisten, tidak tergantung pada situasi yang dihadapinya.
2. Hadis tentang ujian sebagai penghapus dosa
“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu keletihan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, atau kegundahan, hingga duri yang mengenainya, melainkan Allah akan menghapus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari, no. 5641; Muslim, no. 2573)
Hadis ini menguatkan pesan QS Al-An’am: 42 bahwa ujian memiliki fungsi purifikatif. Ia bukan sekadar hukuman, tetapi sarana pembersihan dosa dan peningkatan derajat.
3. Hadis tentang muhasabah diri
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata—yang meski bukan hadis marfu’ namun menjadi rujukan etika Islam yang mashur—”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang” (Riwayat At-Tirmidzi dalam bentuk atsar). Perkataan ini relevan dengan QS At-Taubah: 126 yang mengkritik orang-orang yang tidak melakukan tadzakkur meski telah berkali-kali diuji.
4. Hadis tentang doa di waktu lapang
“Barangsiapa yang ingin doanya dikabulkan Allah pada saat kesulitan dan musibah, maka perbanyaklah berdoa pada saat lapang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3382, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Hadis ini secara langsung menjawab problematika dalam QS Az-Zumar: 8. Jika manusia hanya berdoa saat susah dan lupa saat senang, Nabi ﷺ mengajarkan pembalikan pola: perbanyaklah mengingat Allah justru di saat lapang, agar hubungan itu tidak bersifat transaksional-situasional.
IV. Pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer
A. Ulama Klasik
Al-Ghazali dalam magnum opus-nya Ihya’ Ulumiddin, khususnya pada Kitab Ash-Shabr wasy-Syukur (Kitab Sabar dan Syukur), menjelaskan bahwa syukur dan sabar adalah dua sayap keimanan yang harus berjalan beriringan. Menurut Al-Ghazali, manusia yang hanya mampu bersabar saat susah tetapi lupa bersyukur saat senang, imannya masih pincang. Beliau menulis bahwa nikmat sejatinya adalah ujian yang lebih berat daripada musibah, karena musibah secara alami mendorong manusia untuk kembali kepada Allah, sementara nikmat justru cenderung membuat manusia terlena dan merasa mandiri.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin mengembangkan konsep menarik bahwa ada dua jenis hamba: hamba yang mengenal Allah melalui nikmat (ma’rifah bin-ni’am) dan hamba yang mengenal Allah melalui musibah (ma’rifah bil-mihan). Idealnya, seorang mukmin sejati mengenal Allah dalam kedua kondisi tersebut secara seimbang, tidak hanya bergantung pada satu momentum spiritual saja.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib memberikan analisis linguistik menarik tentang kata khawwalahu dalam QS Az-Zumar: 8, yang berasal dari akar kata yang bermakna “memberi tanpa diminta” atau “menganugerahkan secara cuma-cuma”—menegaskan bahwa nikmat itu murni karunia, bukan hak yang layak diterima manusia, sehingga sepatutnya direspons dengan syukur, bukan kelalaian.
B. Ulama dan Cendekiawan Modern
Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an (Tafsir di Bawah Naungan Al-Qur’an) menafsirkan QS Al-An’am: 42 dalam konteks perjuangan dakwah dan sunnatullah dalam sejarah. Beliau menulis bahwa Allah menggunakan ujian sebagai instrumen untuk “membangunkan” umat yang tertidur dalam kelalaian kolektif, sebuah fenomena yang menurutnya masih sangat relevan bagi umat Islam kontemporer yang mengalami stagnasi spiritual di tengah kemajuan materi.
Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menekankan dimensi sosiologis dari ketiga ayat ini—bahwa pola lupa setelah nikmat dan gagal mengambil pelajaran dari ujian bukan hanya fenomena individual, melainkan juga bisa terjadi pada level masyarakat dan bangsa. Az-Zuhaili menyinggung bagaimana bangsa-bangsa modern yang mengalami kemakmuran materi seringkali justru mengalami kemerosotan moral dan spiritual.
C. Cendekiawan Indonesia
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah dan juga karyanya Membumikan Al-Qur’an menawarkan pendekatan kontekstual yang khas Indonesia. Beliau menekankan pentingnya “membaca” ayat-ayat ini bukan sebagai narasi masa lalu semata, melainkan sebagai cermin diri yang harus terus-menerus direfleksikan. Dalam beberapa ceramahnya, Shihab mengaitkan fenomena “lupa nikmat” ini dengan gaya hidup konsumtif masyarakat urban modern yang terus mengejar kepemilikan materi tanpa pernah merasa cukup, apalagi bersyukur.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar memberikan catatan reflektif yang menyentuh tentang QS Az-Zumar: 8, mengaitkannya dengan pengalaman pribadi manusia Indonesia yang, menurut beliau, sering kali “berbondong-bondong ke masjid saat gempa dan kesulitan datang, namun sepi kembali ketika keadaan normal.” Ungkapan Hamka ini, meski ditulis puluhan tahun lalu, ternyata sangat prediktif terhadap fenomena yang masih terjadi hingga hari ini.
Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam berbagai tulisannya tentang etika dan spiritualitas Islam menegaskan bahwa esensi keberagamaan sejati (true religiosity) diukur bukan dari seberapa taat seseorang saat kondisi terjepit, melainkan dari konsistensi ibadah dan akhlak saat kondisi lapang dan berkecukupan.
Quraish Shihab dan Yusuf Qardhawi (meski bukan orang Indonesia, karyanya sangat populer di Indonesia) dalam Fiqhuz Zakah dan berbagai tulisan lain sering mengaitkan tema syukur dengan kewajiban sosial—bahwa nikmat yang diterima seharusnya mendorong kepedulian sosial (zakat, sedekah), bukan justru individualisme dan kesombongan.
V. Relevansi bagi Kehidupan Umat Islam di Dunia Modern
Inilah bagian terpenting dari pembahasan ini: bagaimana ketiga ayat yang turun 14 abad lalu ini berbicara secara langsung kepada kondisi umat Islam—dan manusia secara umum—di era modern.
A. Fenomena “Doa Krisis” dan Spiritualitas Musiman
Salah satu fenomena paling nyata dari QS Az-Zumar: 8 di era modern adalah apa yang bisa disebut sebagai “spiritualitas musiman” atau crisis spirituality. Data menunjukkan lonjakan drastis aktivitas keagamaan pada masa-masa krisis. Misalnya, saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2020, terjadi peningkatan signifikan pencarian kata kunci keagamaan di internet, peningkatan penjualan Al-Qur’an, dan lonjakan jamaah shalat tahajud serta doa-doa daring.
Namun pola yang sama juga menunjukkan penurunan drastis begitu situasi krisis mereda. Fenomena ini konsisten dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an: manusia modern pun—meski hidup dengan teknologi canggih—tetap menunjukkan pola psikologis-spiritual yang sama dengan manusia di zaman Nabi ﷺ.
B. Krisis Rasa Syukur di Tengah Kemakmuran Materi
Paradoks modernitas adalah: semakin tinggi tingkat kemakmuran materi suatu masyarakat, semakin rendah pula tingkat kepuasan hidup dan rasa syukurnya. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai hedonic treadmill atau hedonic adaptation—manusia cenderung cepat beradaptasi dengan kenikmatan baru dan segera menganggapnya sebagai hal yang biasa, lalu mengejar kenikmatan berikutnya tanpa pernah merasa puas.
Fenomena ini merupakan manifestasi kontemporer dari apa yang diperingatkan dalam QS Az-Zumar: 8. Kelalaian (nisyan) yang dimaksud ayat ini kini termanifestasi dalam bentuk budaya konsumerisme, media sosial yang mendorong perbandingan sosial tanpa henti (social comparison), dan gaya hidup yang terus mengejar validasi eksternal alih-alih syukur internal.
C. Musibah Global sebagai Momentum Tadharru’ Kolektif
QS Al-An’am: 42 sangat relevan ketika kita membaca berbagai musibah berskala global yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir—mulai dari tsunami Aceh 2004, gempa-gempa besar, hingga pandemi COVID-19 yang melumpuhkan dunia. Dalam banyak kasus, peristiwa-peristiwa ini memicu gelombang tadharru’ kolektif: manusia dari berbagai latar belakang kembali merenungkan makna hidup, memperbanyak doa, dan—pada sebagian orang—benar-benar mengalami transformasi spiritual jangka panjang.
Namun ayat ini juga mengandung peringatan: jika momentum tadharru’ ini tidak dikelola dengan baik, ia akan menguap begitu situasi kembali normal—persis sebagaimana yang digambarkan dalam QS Az-Zumar: 8.
D. Ujian Berkala dan Tantangan Muhasabah di Era Digital
QS At-Taubah: 126 berbicara tentang ujian yang terjadi berkala setiap tahun, sekali atau dua kali. Di era modern, ujian semacam ini bisa berupa berbagai bentuk: krisis kesehatan pribadi, gejolak ekonomi, kehilangan pekerjaan, konflik rumah tangga, hingga tekanan psikologis akibat penggunaan media sosial yang berlebihan.
Tantangan terbesar umat Islam modern justru terletak pada kemampuan melakukan tadzakkur (mengambil pelajaran) dan taubah (kembali kepada Allah) di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi. Notifikasi ponsel yang terus-menerus, tuntutan pekerjaan yang tiada henti, dan budaya instant gratification membuat banyak orang kehilangan ruang dan waktu untuk melakukan refleksi mendalam pasca-ujian.
Tabel 2: Manifestasi Modern dari Tema Tiga Ayat
Ayat
Fenomena Klasik
Manifestasi Modern
Solusi yang Ditawarkan Islam
QS Az-Zumar: 8
Berdoa saat susah, lupa saat senang
Spiritualitas musiman, ramai masjid saat krisis lalu sepi kembali
Konsistensi ibadah (istiqamah), dzikir harian, syukur sebagai kebiasaan
QS Al-An’am: 42
Ujian bagi umat terdahulu
Bencana alam, pandemi, krisis ekonomi global
Memaknai ujian sebagai teguran kasih sayang, bukan kesialan semata
QS At-Taubah: 126
Ujian berkala tapi tak diambil pelajaran
Kehidupan cepat, distraksi digital, minimnya waktu refleksi
Muhasabah rutin, jurnal spiritual, dzikir dan tafakkur berkala
VI. Studi Kasus: Data dan Fenomena Kontemporer
Untuk memperkuat argumen relevansi ayat-ayat ini, mari kita lihat beberapa data dan fenomena kontemporer yang mengilustrasikan pola tersebut.
Fenomena 1: Lonjakan Spiritualitas Saat Pandemi
Berbagai riset global mencatat peningkatan signifikan aktivitas keagamaan selama puncak pandemi COVID-19 (2020-2021), termasuk peningkatan unduhan aplikasi Al-Qur’an, streaming kajian keislaman, dan partisipasi kelas daring tentang spiritualitas Islam. Namun begitu pandemi mereda dan kehidupan kembali normal pada 2022-2023, tren partisipasi ini menurun drastis kembali mendekati level pra-pandemi—sebuah pola yang secara persis mencerminkan apa yang digambarkan QS Az-Zumar: 8.
Fenomena 2: Krisis Ekonomi dan Kembalinya Kesadaran Beragama
Di Indonesia, pasca krisis moneter 1998, banyak pengamat sosial-keagamaan mencatat lonjakan minat masyarakat terhadap kajian-kajian keislaman, khususnya tentang tema tawakal, sabar, dan syukur. Fenomena serupa juga terjadi pada masa-masa sulit ekonomi lainnya, di mana masjid-masjid mengalami peningkatan jamaah dan kajian-kajian spiritual mengalami lonjakan partisipasi.
Fenomena 3: Generasi Muda dan Krisis Makna
Riset-riset tentang kesehatan mental generasi muda (Gen Z dan milenial) menunjukkan tingginya tingkat kecemasan dan depresi meski hidup di tengah kemudahan teknologi dan akses informasi yang tak terbatas. Fenomena ini oleh sejumlah pemerhati kesehatan mental Muslim dikaitkan dengan krisis makna spiritual—generasi yang memiliki segalanya secara materi namun kehilangan koneksi dengan dimensi transenden yang memberikan makna hidup sejati.
Tabel 3: Rekomendasi Praktis Berdasarkan Ketiga Ayat
No
Rekomendasi
Landasan
Cara Implementasi
1
Membiasakan dzikir dan doa harian, bukan hanya saat krisis
QS Az-Zumar: 8
Wirid pagi-petang, dzikir setelah shalat
2
Melatih syukur aktif (bukan pasif)
HR. Muslim, no. 2999
Jurnal syukur harian, sedekah rutin
3
Memaknai musibah sebagai teguran kasih sayang
QS Al-An’am: 42
Refleksi pasca-musibah, kajian tafsir tematik
4
Melakukan muhasabah berkala (mingguan/bulanan)
QS At-Taubah: 126
Membuat catatan evaluasi diri, muhasabah bersama keluarga
5
Menjaga keseimbangan sabar dan syukur
Ihya’ Ulumiddin, Al-Ghazali
Latihan kesadaran diri (mindfulness Islami) di setiap kondisi
6
Membangun komunitas spiritual yang konsisten
Konsep jama’ah dalam Islam
Kajian rutin, halaqah mingguan, bukan hanya saat Ramadhan
VII. Dimensi Psikologis: Perspektif Ilmu Modern yang Menguatkan Al-Qur’an
Menariknya, berbagai temuan psikologi modern justru menguatkan kebenaran ayat-ayat ini. Konsep post-traumatic growth dalam psikologi positif menjelaskan bagaimana individu yang mengalami trauma atau krisis besar seringkali mengalami pertumbuhan psikologis dan spiritual yang signifikan—sejalan dengan konsep tadharru’ dalam QS Al-An’am: 42.
Sebaliknya, konsep hedonic adaptation yang telah disinggung sebelumnya menjelaskan mengapa manusia cenderung “lupa” bersyukur setelah mendapatkan sesuatu yang diinginkan—persis seperti yang digambarkan dalam QS Az-Zumar: 8. Penelitian dalam bidang positive psychology oleh berbagai peneliti kontemporer bahkan menunjukkan bahwa praktik bersyukur secara sadar (gratitude practice) dapat secara signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis—yang dalam bahasa Islam sesungguhnya adalah penerapan konkret dari perintah bersyukur yang telah diajarkan Al-Qur’an sejak awal.
Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an bukan sekadar doktrin teologis abstrak, melainkan prinsip-prinsip yang selaras dengan hakikat psikologis manusia yang telah dikonfirmasi oleh riset ilmiah kontemporer.
VIII. Menjawab Tantangan: Bagaimana Membangun Konsistensi Spiritual?
Setelah memahami diagnosis Al-Qur’an tentang kelalaian manusia, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana caranya keluar dari pola ini? Berdasarkan kajian tafsir dan hadis di atas, terdapat beberapa langkah konkret yang bisa diambil.
Pertama, membangun kesadaran teologis yang mendalam (ma’rifatullah). Semakin dalam pengenalan seseorang terhadap Allah—sifat-sifat-Nya, kasih sayang-Nya, dan hikmah di balik setiap ketentuan-Nya—semakin kecil kemungkinan ia mudah lupa saat mendapat nikmat. Ini karena hubungan dengan Allah tidak lagi bersifat transaksional (hanya butuh saat susah), melainkan relasional yang mendalam.
Kedua, membiasakan ritual harian yang konsisten. Islam telah menyediakan struktur ibadah harian—shalat lima waktu, dzikir pagi-petang, tilawah Al-Qur’an—yang jika dijalankan konsisten, akan menjadi “jangkar spiritual” yang mencegah seseorang hanyut dalam kelalaian, baik saat susah maupun senang.
Ketiga, melatih kesadaran akan sifat sementara dunia (fana). Pemahaman bahwa nikmat dunia bersifat sementara dan merupakan titipan, bukan hak milik permanen, akan membantu seseorang tetap rendah hati dan bersyukur, bukan justru sombong dan lupa diri.
Keempat, membangun komunitas yang saling mengingatkan. Konsep ta’awun (tolong-menolong) dan tawashi bil haqq (saling menasihati dalam kebenaran) dalam Islam menjadi mekanisme sosial yang penting untuk mencegah kelalaian kolektif. Kajian rutin, halaqah, dan silaturahmi keagamaan berfungsi sebagai sistem “check and balance” spiritual.
Kelima, melakukan evaluasi diri berkala yang terstruktur. Sebagaimana disinggung dalam QS At-Taubah: 126, kegagalan mengambil pelajaran seringkali terjadi karena tidak adanya mekanisme refleksi yang terstruktur. Membuat jurnal spiritual, menetapkan waktu khusus untuk muhasabah (misalnya setiap malam Jumat atau di penghujung bulan Hijriah), dapat membantu memastikan bahwa setiap ujian yang dialami benar-benar dimaknai dan menghasilkan perubahan positif.
IX. Kritik Diri: Refleksi bagi Umat Islam Kontemporer
Sebagai penutup dari bagian analisis, penting bagi kita untuk melakukan kritik diri yang jujur. Fenomena yang digambarkan dalam ketiga ayat ini bukan hanya milik orang-orang musyrik zaman dahulu atau kaum munafik di masa Nabi ﷺ, melainkan juga bisa terjadi—dan seringkali memang terjadi—pada diri umat Islam sendiri.
Berapa banyak dari kita yang begitu khusyuk berdoa saat menghadapi ujian sekolah, wawancara kerja, atau masalah kesehatan, namun begitu masalah itu selesai, intensitas ibadah kembali kendur? Berapa banyak masjid yang penuh sesak saat terjadi bencana alam, namun kembali lengang begitu kondisi normal? Berapa banyak dari kita yang mengalami ujian hidup berkali-kali—baik berupa kegagalan, kehilangan, maupun kesulitan—namun pola perilaku dan pilihan hidup kita tidak juga berubah menjadi lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan sebagai ajakan tulus untuk introspeksi bersama, sebagaimana semangat dakwah Al-Qur’an itu sendiri yang senantiasa mengajak manusia untuk tadabbur (merenungkan) dan tadzakkur (mengambil pelajaran).
X. Penutup: Dari Pemahaman Menuju Transformasi
Ketiga ayat yang dibahas dalam artikel ini—QS Az-Zumar: 8, QS Al-An’am: 42, dan QS At-Taubah: 126—bukan sekadar narasi teologis tentang manusia di masa lalu, melainkan cermin abadi yang terus relevan sepanjang zaman, termasuk di era modern yang penuh kemajuan teknologi dan materi.
Al-Qur’an, dengan kedalaman hikmahnya, telah mendiagnosis dengan sangat presisi tabiat manusia yang cenderung dekat dengan Allah saat susah namun lupa saat senang; menjelaskan hikmah di balik ujian sebagai sarana pendidikan Ilahi yang penuh kasih sayang; serta memperingatkan bahaya dari kegagalan mengambil pelajaran meski ujian datang berkali-kali.
Bagi umat Islam di dunia modern, pesan-pesan ini menjadi semakin relevan di tengah gempuran budaya konsumerisme, individualisme, dan distraksi digital yang semakin menjauhkan manusia dari kesadaran spiritual yang mendalam. Namun sebagaimana ditegaskan oleh para ulama klasik dan kontemporer, solusinya bukanlah menghindari nikmat atau justru mengharapkan datangnya ujian, melainkan membangun konsistensi spiritual (istiqamah) yang menjadikan syukur dan sabar sebagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seorang mukmin.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk senantiasa bersyukur di kala lapang, bersabar di kala sempit, dan mengambil pelajaran dari setiap fase kehidupan yang kita lalui.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.
As-Sa’di, Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan.
Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an.
Al-Baghawi, Ma’alim At-Tanzil.
Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih Al-Ghaib.
Ibnu ‘Asyur, At-Tahrir wat-Tanwir.
Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an.
Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir.
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jilid 4 & 6.
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an.
Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar.
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Kitab Ash-Shabr wasy-Syukur.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarijus Salikin.
Yusuf Qardhawi, Fiqhuz Zakah.
HR. Muslim, no. 2999, tentang mukmin yang selalu dalam kebaikan.
Dalam khazanah Al-Quran yang agung, setiap surat memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari segi pesan, konteks turunnya (asbabun nuzul), maupun nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Surat Al-Adiyat, surat ke-100 dalam Al-Quran yang terdiri dari 11 ayat, merupakan salah satu surat Makkiyah yang sarat dengan pesan mendalam tentang hakikat manusia dan peringatan tentang hari akhir. Artikel ini akan mengupas secara komprehensif tentang asbabun nuzul Surat Al-Adiyat, tafsirnya dari berbagai perspektif ulama klasik hingga kontemporer, serta relevansinya dalam kehidupan Muslim modern.
Asbabun Nuzul Surat Al-Adiyat: Sebuah Penelusuran Historis
Untuk memahami secara mendalam makna dan pesan surat Al-Adiyat, penting bagi kita untuk mengetahui konteks historis turunnya surat ini. Sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuthi (2008) dalam kitabnya “Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul”:
“Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah SAW mengutus pasukan berkuda, dan tidak ada kabar dari mereka dalam waktu yang lama. Maka turunlah surat Al-Adiyat.'” (As-Suyuthi, 2008, p. 242).
Riwayat serupa juga dikemukakan oleh Imam Al-Qurthubi (2006) dalam tafsirnya “Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran”, yang menjelaskan:
“Suatu ketika Rasulullah SAW mengutus suatu pasukan ke Bani Kinanah, dan setelah sekian lama tidak ada kabar dari mereka. Lalu sebagian orang munafik berkata: ‘Mereka telah terbunuh.’ Maka Allah menurunkan surat Al-Adiyat untuk memberitahukan bahwa mereka masih hidup dan dalam kondisi baik.” (Al-Qurthubi, 2006, Vol. 20, p. 159).
Riwayat lain yang disampaikan oleh Imam At-Thabari (2001) dalam “Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Quran” menyebutkan bahwa ekspedisi ini dikirim ke arah Bani Kinanah di bawah pimpinan Al-Mundzir bin ‘Amr Al-Anshari:
“Pasukan tersebut dikirim untuk menyelidiki aktivitas Bani Kinanah yang dikabarkan tengah mempersiapkan serangan terhadap Madinah. Setelah beberapa waktu tidak ada kabar, muncul kekhawatiran di kalangan kaum muslimin.” (At-Thabari, 2001, Vol. 24, p. 563).
Makna dan Tafsir Surat Al-Adiyat
Sumpah dengan Kuda Perang
Surat Al-Adiyat diawali dengan sumpah Allah menggunakan kuda-kuda perang yang berlari kencang. Ibn Katsir (2000) dalam “Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim” menjelaskan bahwa:
“Sumpah Allah dengan kuda perang menunjukkan kemuliaan jihad dan perjuangan di jalan-Nya. Kuda yang berlari kencang hingga mengeluarkan percikan api melambangkan semangat dan keteguhan dalam berjuang yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang beriman.” (Ibn Katsir, 2000, Vol. 8, p. 476).
Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni (2001) dalam “Shafwat at-Tafasir” menambahkan:
“Allah bersumpah dengan kuda perang karena keutamaan kuda dalam jihad. Nabi SAW bersabda: ‘Kebaikan diikatkan pada ubun-ubun kuda hingga hari kiamat.’ Sumpah ini menunjukkan betapa pentingnya perjuangan di jalan Allah.” (Ash-Shabuni, 2001, Vol. 3, p. 587).
Kritik terhadap Sifat Manusia
Pada bagian selanjutnya, surat Al-Adiyat mengkritik sifat dasar manusia yang cenderung mencintai harta secara berlebihan dan tidak bersyukur. Menurut Sayyid Quthb (2003) dalam “Fi Zhilalil Quran”:
“Surat ini menyingkap tabiat manusia yang sering kali tidak bersyukur kepada Tuhannya dan terlalu cinta kepada harta. Ia lupa bahwa pada hari kiamat, segala rahasia akan dibuka dan Allah akan memberitahukan apa yang tersembunyi di dalam dada manusia. Ketika itu, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada penolong kecuali amal saleh yang telah dilakukan.” (Quthb, 2003, Vol. 6, p. 3963).
M. Quraish Shihab (2002) dalam “Tafsir Al-Mishbah” memperdalam analisis ini dengan menyatakan:
“Ayat-ayat dalam surat Al-Adiyat menggunakan bentuk pengukuhan sumpah untuk menegaskan bahwa kecintaan manusia kepada harta benda sering kali menjadikannya bakhil dan tidak mensyukuri nikmat Allah. Padahal, sikap demikian dapat mengantarnya kepada kesengsaraan duniawi dan ukhrawi.” (Shihab, 2002, Vol. 15, p. 467).
Peringatan tentang Hari Akhir
Bagian akhir surat Al-Adiyat berisi peringatan tentang hari kebangkitan dan pembalasan. Mustafa Al-Maraghi (1946) dalam “Tafsir Al-Maraghi” menjelaskan:
“Ayat-ayat terakhir surat Al-Adiyat mengungkapkan bahwa kelak pada hari kiamat, segala rahasia akan dibongkar, dan apa yang tersembunyi dalam hati manusia akan diperlihatkan dengan jelas. Ini merupakan peringatan keras bagi mereka yang lalai dan terlena dengan kehidupan dunia.” (Al-Maraghi, 1946, Vol. 30, p. 244).
Sementara itu, Hamka (1982) dalam “Tafsir Al-Azhar” menafsirkan ayat-ayat terakhir ini dengan nuansa yang lebih reflektif:
“Betapa hebatnya peringatan ini. Bahwa kelak, semua yang tersembunyi di dalam dada manusia, yang selama di dunia dipendamnya dengan rapi, akan dibongkar dan diperlihatkan. Inilah salah satu bentuk keadilan Allah, bahwa tidak ada satu pun rahasia yang akan tetap tersembunyi di hari pembalasan.” (Hamka, 1982, Juz 30, p. 240).
Pesan Moral dan Spiritual dari Surat Al-Adiyat
Kritik terhadap Materialisme
Salah satu pesan utama dari Surat Al-Adiyat adalah kritik terhadap materialisme dan kecintaan berlebihan terhadap harta benda. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (2009) dalam “At-Tafsir Al-Munir” menekankan:
“Surat ini turun untuk mengingatkan manusia tentang kecenderungan alamiahnya mencintai harta benda secara berlebihan (hubb al-khair), yang bisa mengalihkannya dari mengingat Allah dan akhirat. Peringatan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Makkah saat itu yang sangat materialistis, dan tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern yang semakin terjebak dalam pusaran konsumerisme.” (Az-Zuhaili, 2009, Vol. 30, p. 417).
Dalam bukunya “Islam and the Economic Challenge”, Muhammad Umer Chapra (1992) mengaitkan pesan surat Al-Adiyat dengan kritik terhadap kapitalisme modern:
“Al-Quran, seperti dalam Surat Al-Adiyat, telah sejak dini memperingatkan tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta yang dapat menjerumuskan manusia pada egoisme, ketamakan, dan eksploitasi. Sistem ekonomi yang dibangun semata-mata pada motif keuntungan tanpa diimbangi dengan nilai-nilai moral dan spiritual, sebagaimana terlihat dalam kapitalisme modern, cenderung mengabaikan dimensi keadilan sosial yang menjadi pilar utama ekonomi Islam.” (Chapra, 1992, p. 18).
Pentingnya Jihad dan Pengorbanan
Sumpah Allah dengan kuda perang di awal surat mengisyaratkan pentingnya jihad dan pengorbanan. Yusuf Al-Qaradhawi (2010) dalam bukunya “Fiqh Al-Jihad” menjelaskan:
“Penyebutan kuda perang dalam Surat Al-Adiyat bukanlah sekadar simbolisme, melainkan penekanan tentang pentingnya kesiapsiagaan dan pengorbanan dalam membela kebenaran. Jihad dalam konteks modern tidak selalu berarti perang fisik, tetapi lebih luas mencakup segala bentuk perjuangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umat.” (Al-Qaradhawi, 2010, p. 75).
Sementara itu, Tariq Ramadan (2004) dalam “Western Muslims and the Future of Islam” merefleksikan makna jihad dalam konteks modern:
“Surat Al-Adiyat mengisyaratkan bahwa perjuangan dan pengorbanan adalah bagian inheren dari kehidupan beriman. Bagi Muslim yang hidup di era global, jihad yang sejati adalah perjuangan intelektual, spiritual, dan sosial untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sambil berinteraksi secara positif dengan realitas kontemporer.” (Ramadan, 2004, p. 113).
Introspeksi dan Pertanggungjawaban
Peringatan tentang hari akhir dalam surat ini mengajak kita untuk senantiasa melakukan introspeksi. Syed Muhammad Naquib al-Attas (1995) dalam “Prolegomena to the Metaphysics of Islam” menekankan:
“Kesadaran akan adanya hari akhir, sebagaimana diingatkan dalam Surat Al-Adiyat, menghasilkan apa yang disebut sebagai ‘kesadaran aksiologis’ – kesadaran bahwa setiap perbuatan kita memiliki nilai dan akan dipertanggungjawabkan. Tanpa kesadaran ini, manusia cenderung terjerumus dalam nihilisme dan relativisme moral.” (Al-Attas, 1995, p. 37).
Hasan Hanafi (1981) dalam “Islamic Studies” menambahkan:
“Peringatan tentang hari pembalasan dalam Surat Al-Adiyat bukan dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran etis yang mendorong manusia bertindak atas dasar tanggung jawab. Ini merupakan basis epistemologis bagi etika Islam yang menekankan konsekuensialisme spiritual.” (Hanafi, 1981, p. 124).
Relevansi Surat Al-Adiyat dalam Konteks Modern
Melawan Konsumerisme dan Materialisme
Di tengah arus konsumerisme global, pesan Surat Al-Adiyat tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta menjadi sangat relevan. Ziauddin Sardar (2014) dalam “Reading the Qur’an in the Twenty-First Century” menjelaskan:
“Kritik Al-Quran terhadap materialisme, sebagaimana disuarakan dalam Surat Al-Adiyat, menawarkan landasan filosofis untuk melawan konsumerisme yang telah menjadi ideologi global. Dengan menginternalisasi pesan surat ini, Muslim kontemporer dapat mengembangkan pola konsumsi yang moderat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan pada pemuasan hasrat individu semata.” (Sardar, 2014, p. 143).
Khaled Abou El Fadl (2007) dalam “The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists” menambahkan:
“Moderasi dalam hal materi, sebagaimana dianjurkan dalam Surat Al-Adiyat, bukan berarti penolakan terhadap kemakmuran ekonomi, melainkan penggunaan kekayaan secara bertanggung jawab dan beretika. Islam mengakui hak kepemilikan pribadi, namun memberinya fungsi sosial yang tegas.” (Abou El Fadl, 2007, p. 178).
Memaknai Jihad dalam Era Kontemporer
Gambaran kuda perang dalam Surat Al-Adiyat dapat direinterpretasi sebagai simbol perjuangan dalam konteks modern. Fazlur Rahman (1982) dalam “Islam and Modernity” menyatakan:
“Perjuangan (jihad) yang diisyaratkan dalam Surat Al-Adiyat harus dimaknai secara kontekstual sesuai tantangan zaman. Bagi Muslim kontemporer, jihad yang paling urgen adalah jihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan, baik dalam lingkup personal, komunal, maupun global.” (Rahman, 1982, p. 165).
Amina Wadud (1999) dalam “Qur’an and Woman” menambahkan perspektif gender dalam memaknai jihad:
“Perjuangan untuk keadilan gender, sebagaimana nilai-nilai keadilan lainnya, merupakan bagian dari jihad yang diisyaratkan dalam Al-Quran. Membaca Surat Al-Adiyat dengan kesadaran gender kontemporer mengajak kita untuk memikirkan ulang struktur-struktur sosial yang melanggengkan ketidakadilan dan diskriminasi.” (Wadud, 1999, p. 92).
Membangun Kesadaran Eskatologis di Era Digital
Peringatan tentang hari pembalasan dalam Surat Al-Adiyat menawarkan landasan spiritual untuk mengembangkan kesadaran eskatologis di era digital. Seyyed Hossein Nasr (2007) dalam “The Garden of Truth” merefleksikan:
“Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh teknologi digital dan media sosial, pesan eskatologis Surat Al-Adiyat mengingatkan kita untuk senantiasa menyadari dimensi transenden dari eksistensi manusia. Tanpa kesadaran ini, kita berisiko terjebak dalam simulacra digital yang menjauhkan kita dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.” (Nasr, 2007, p. 198).
Hamza Yusuf (2015) dalam “Purification of the Heart” menambahkan:
“Ayat-ayat akhir Surat Al-Adiyat yang berbicara tentang dibongkarnya isi hati manusia pada hari pembalasan mengajak kita untuk senantiasa menjaga kesucian hati, terlebih di era digital di mana banyak konten negatif yang dapat mencemari hati. Kesadaran akan adanya hari pembalasan mendorong kita untuk lebih selektif dalam mengkonsumsi dan memproduksi konten digital.” (Yusuf, 2015, p. 57).
Kesimpulan
Surat Al-Adiyat, meskipun tergolong surat pendek, menyimpan pesan-pesan mendalam yang tetap relevan sepanjang masa. Asbabun nuzulnya yang berkaitan dengan ekspedisi militer Muslim di masa awal Islam membuka pintu refleksi tentang pengorbanan dan perjuangan dalam membela kebenaran. Kritik terhadap kecintaan berlebihan pada harta menawarkan perspektif alternatif di tengah hegemoni materialisme global. Sedangkan peringatan tentang hari pembalasan mengajak kita untuk senantiasa melakukan introspeksi dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.
Di era modern dengan segala kompleksitasnya, pesan-pesan Surat Al-Adiyat dapat menjadi panduan moral dan spiritual yang berharga. Surat ini mengajak kita untuk menyeimbangkan dimensi material dan spiritual kehidupan, mengembangkan kesadaran sosial dan lingkungan, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat melalui amal saleh dan ibadah yang tulus.
Wallahu a’lam bi as-shawab.
Referensi
Abou El Fadl, K. (2007). The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. HarperOne.
Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization.
Al-Maraghi, M. (1946). Tafsir Al-Maraghi. Mustafa Al-Babi Al-Halabi.
Al-Qaradhawi, Y. (2010). Fiqh Al-Jihad. Wahba Publishing House.
Al-Qurthubi, M. (2006). Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran. Muassasah Ar-Risalah.
As-Suyuthi, J. (2008). Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
Ash-Shabuni, M. A. (2001). Shafwat at-Tafasir. Dar Al-Fikr.
At-Thabari, M. (2001). Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Quran. Dar Hijr.
Az-Zuhaili, W. (2009). At-Tafsir Al-Munir. Dar Al-Fikr.
Chapra, M. U. (1992). Islam and the Economic Challenge. The Islamic Foundation.
Hamka. (1982). Tafsir Al-Azhar. Pustaka Panjimas.
Hanafi, H. (1981). Islamic Studies. Anglo-Egyptian Bookshop.
Ibn Katsir, I. (2000). Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim. Muassasah Ar-Risalah.
Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth. HarperOne.
Quthb, S. (2003). Fi Zhilalil Quran. Dar Asy-Syuruq.
Rahman, F. (1982). Islam and Modernity. University of Chicago Press.
Ramadan, T. (2004). Western Muslims and the Future of Islam. Oxford University Press.
Sardar, Z. (2014). Reading the Qur’an in the Twenty-First Century. Routledge.
Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati.
Wadud, A. (1999). Qur’an and Woman. Oxford University Press.
Yusuf, H. (2015). Purification of the Heart. Sandala Publications.