• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Tag Archives: Islam

Surat Al-Adiyat: Relevansi di Era Modern

08 Sunday Mar 2026

Posted by Setiawan in Islam, Uncategorized

≈ Leave a comment

Tags

Al Quran, Islam, Tafsir

Dalam khazanah Al-Quran yang agung, setiap surat memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari segi pesan, konteks turunnya (asbabun nuzul), maupun nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Surat Al-Adiyat, surat ke-100 dalam Al-Quran yang terdiri dari 11 ayat, merupakan salah satu surat Makkiyah yang sarat dengan pesan mendalam tentang hakikat manusia dan peringatan tentang hari akhir. Artikel ini akan mengupas secara komprehensif tentang asbabun nuzul Surat Al-Adiyat, tafsirnya dari berbagai perspektif ulama klasik hingga kontemporer, serta relevansinya dalam kehidupan Muslim modern.

Asbabun Nuzul Surat Al-Adiyat: Sebuah Penelusuran Historis

Untuk memahami secara mendalam makna dan pesan surat Al-Adiyat, penting bagi kita untuk mengetahui konteks historis turunnya surat ini. Sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuthi (2008) dalam kitabnya “Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul”:

“Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah SAW mengutus pasukan berkuda, dan tidak ada kabar dari mereka dalam waktu yang lama. Maka turunlah surat Al-Adiyat.'” (As-Suyuthi, 2008, p. 242).

Riwayat serupa juga dikemukakan oleh Imam Al-Qurthubi (2006) dalam tafsirnya “Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran”, yang menjelaskan:

“Suatu ketika Rasulullah SAW mengutus suatu pasukan ke Bani Kinanah, dan setelah sekian lama tidak ada kabar dari mereka. Lalu sebagian orang munafik berkata: ‘Mereka telah terbunuh.’ Maka Allah menurunkan surat Al-Adiyat untuk memberitahukan bahwa mereka masih hidup dan dalam kondisi baik.” (Al-Qurthubi, 2006, Vol. 20, p. 159).

Riwayat lain yang disampaikan oleh Imam At-Thabari (2001) dalam “Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Quran” menyebutkan bahwa ekspedisi ini dikirim ke arah Bani Kinanah di bawah pimpinan Al-Mundzir bin ‘Amr Al-Anshari:

“Pasukan tersebut dikirim untuk menyelidiki aktivitas Bani Kinanah yang dikabarkan tengah mempersiapkan serangan terhadap Madinah. Setelah beberapa waktu tidak ada kabar, muncul kekhawatiran di kalangan kaum muslimin.” (At-Thabari, 2001, Vol. 24, p. 563).

Makna dan Tafsir Surat Al-Adiyat

Sumpah dengan Kuda Perang

Surat Al-Adiyat diawali dengan sumpah Allah menggunakan kuda-kuda perang yang berlari kencang. Ibn Katsir (2000) dalam “Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim” menjelaskan bahwa:

“Sumpah Allah dengan kuda perang menunjukkan kemuliaan jihad dan perjuangan di jalan-Nya. Kuda yang berlari kencang hingga mengeluarkan percikan api melambangkan semangat dan keteguhan dalam berjuang yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang beriman.” (Ibn Katsir, 2000, Vol. 8, p. 476).

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni (2001) dalam “Shafwat at-Tafasir” menambahkan:

“Allah bersumpah dengan kuda perang karena keutamaan kuda dalam jihad. Nabi SAW bersabda: ‘Kebaikan diikatkan pada ubun-ubun kuda hingga hari kiamat.’ Sumpah ini menunjukkan betapa pentingnya perjuangan di jalan Allah.” (Ash-Shabuni, 2001, Vol. 3, p. 587).

Kritik terhadap Sifat Manusia

Pada bagian selanjutnya, surat Al-Adiyat mengkritik sifat dasar manusia yang cenderung mencintai harta secara berlebihan dan tidak bersyukur. Menurut Sayyid Quthb (2003) dalam “Fi Zhilalil Quran”:

“Surat ini menyingkap tabiat manusia yang sering kali tidak bersyukur kepada Tuhannya dan terlalu cinta kepada harta. Ia lupa bahwa pada hari kiamat, segala rahasia akan dibuka dan Allah akan memberitahukan apa yang tersembunyi di dalam dada manusia. Ketika itu, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada penolong kecuali amal saleh yang telah dilakukan.” (Quthb, 2003, Vol. 6, p. 3963).

M. Quraish Shihab (2002) dalam “Tafsir Al-Mishbah” memperdalam analisis ini dengan menyatakan:

“Ayat-ayat dalam surat Al-Adiyat menggunakan bentuk pengukuhan sumpah untuk menegaskan bahwa kecintaan manusia kepada harta benda sering kali menjadikannya bakhil dan tidak mensyukuri nikmat Allah. Padahal, sikap demikian dapat mengantarnya kepada kesengsaraan duniawi dan ukhrawi.” (Shihab, 2002, Vol. 15, p. 467).

Peringatan tentang Hari Akhir

Bagian akhir surat Al-Adiyat berisi peringatan tentang hari kebangkitan dan pembalasan. Mustafa Al-Maraghi (1946) dalam “Tafsir Al-Maraghi” menjelaskan:

“Ayat-ayat terakhir surat Al-Adiyat mengungkapkan bahwa kelak pada hari kiamat, segala rahasia akan dibongkar, dan apa yang tersembunyi dalam hati manusia akan diperlihatkan dengan jelas. Ini merupakan peringatan keras bagi mereka yang lalai dan terlena dengan kehidupan dunia.” (Al-Maraghi, 1946, Vol. 30, p. 244).

Sementara itu, Hamka (1982) dalam “Tafsir Al-Azhar” menafsirkan ayat-ayat terakhir ini dengan nuansa yang lebih reflektif:

“Betapa hebatnya peringatan ini. Bahwa kelak, semua yang tersembunyi di dalam dada manusia, yang selama di dunia dipendamnya dengan rapi, akan dibongkar dan diperlihatkan. Inilah salah satu bentuk keadilan Allah, bahwa tidak ada satu pun rahasia yang akan tetap tersembunyi di hari pembalasan.” (Hamka, 1982, Juz 30, p. 240).

Pesan Moral dan Spiritual dari Surat Al-Adiyat

Kritik terhadap Materialisme

Salah satu pesan utama dari Surat Al-Adiyat adalah kritik terhadap materialisme dan kecintaan berlebihan terhadap harta benda. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (2009) dalam “At-Tafsir Al-Munir” menekankan:

“Surat ini turun untuk mengingatkan manusia tentang kecenderungan alamiahnya mencintai harta benda secara berlebihan (hubb al-khair), yang bisa mengalihkannya dari mengingat Allah dan akhirat. Peringatan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Makkah saat itu yang sangat materialistis, dan tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern yang semakin terjebak dalam pusaran konsumerisme.” (Az-Zuhaili, 2009, Vol. 30, p. 417).

Dalam bukunya “Islam and the Economic Challenge”, Muhammad Umer Chapra (1992) mengaitkan pesan surat Al-Adiyat dengan kritik terhadap kapitalisme modern:

“Al-Quran, seperti dalam Surat Al-Adiyat, telah sejak dini memperingatkan tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta yang dapat menjerumuskan manusia pada egoisme, ketamakan, dan eksploitasi. Sistem ekonomi yang dibangun semata-mata pada motif keuntungan tanpa diimbangi dengan nilai-nilai moral dan spiritual, sebagaimana terlihat dalam kapitalisme modern, cenderung mengabaikan dimensi keadilan sosial yang menjadi pilar utama ekonomi Islam.” (Chapra, 1992, p. 18).

Pentingnya Jihad dan Pengorbanan

Sumpah Allah dengan kuda perang di awal surat mengisyaratkan pentingnya jihad dan pengorbanan. Yusuf Al-Qaradhawi (2010) dalam bukunya “Fiqh Al-Jihad” menjelaskan:

“Penyebutan kuda perang dalam Surat Al-Adiyat bukanlah sekadar simbolisme, melainkan penekanan tentang pentingnya kesiapsiagaan dan pengorbanan dalam membela kebenaran. Jihad dalam konteks modern tidak selalu berarti perang fisik, tetapi lebih luas mencakup segala bentuk perjuangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umat.” (Al-Qaradhawi, 2010, p. 75).

Sementara itu, Tariq Ramadan (2004) dalam “Western Muslims and the Future of Islam” merefleksikan makna jihad dalam konteks modern:

“Surat Al-Adiyat mengisyaratkan bahwa perjuangan dan pengorbanan adalah bagian inheren dari kehidupan beriman. Bagi Muslim yang hidup di era global, jihad yang sejati adalah perjuangan intelektual, spiritual, dan sosial untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sambil berinteraksi secara positif dengan realitas kontemporer.” (Ramadan, 2004, p. 113).

Introspeksi dan Pertanggungjawaban

Peringatan tentang hari akhir dalam surat ini mengajak kita untuk senantiasa melakukan introspeksi. Syed Muhammad Naquib al-Attas (1995) dalam “Prolegomena to the Metaphysics of Islam” menekankan:

“Kesadaran akan adanya hari akhir, sebagaimana diingatkan dalam Surat Al-Adiyat, menghasilkan apa yang disebut sebagai ‘kesadaran aksiologis’ – kesadaran bahwa setiap perbuatan kita memiliki nilai dan akan dipertanggungjawabkan. Tanpa kesadaran ini, manusia cenderung terjerumus dalam nihilisme dan relativisme moral.” (Al-Attas, 1995, p. 37).

Hasan Hanafi (1981) dalam “Islamic Studies” menambahkan:

“Peringatan tentang hari pembalasan dalam Surat Al-Adiyat bukan dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran etis yang mendorong manusia bertindak atas dasar tanggung jawab. Ini merupakan basis epistemologis bagi etika Islam yang menekankan konsekuensialisme spiritual.” (Hanafi, 1981, p. 124).

Relevansi Surat Al-Adiyat dalam Konteks Modern

Melawan Konsumerisme dan Materialisme

Di tengah arus konsumerisme global, pesan Surat Al-Adiyat tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta menjadi sangat relevan. Ziauddin Sardar (2014) dalam “Reading the Qur’an in the Twenty-First Century” menjelaskan:

“Kritik Al-Quran terhadap materialisme, sebagaimana disuarakan dalam Surat Al-Adiyat, menawarkan landasan filosofis untuk melawan konsumerisme yang telah menjadi ideologi global. Dengan menginternalisasi pesan surat ini, Muslim kontemporer dapat mengembangkan pola konsumsi yang moderat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan pada pemuasan hasrat individu semata.” (Sardar, 2014, p. 143).

Khaled Abou El Fadl (2007) dalam “The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists” menambahkan:

“Moderasi dalam hal materi, sebagaimana dianjurkan dalam Surat Al-Adiyat, bukan berarti penolakan terhadap kemakmuran ekonomi, melainkan penggunaan kekayaan secara bertanggung jawab dan beretika. Islam mengakui hak kepemilikan pribadi, namun memberinya fungsi sosial yang tegas.” (Abou El Fadl, 2007, p. 178).

Memaknai Jihad dalam Era Kontemporer

Gambaran kuda perang dalam Surat Al-Adiyat dapat direinterpretasi sebagai simbol perjuangan dalam konteks modern. Fazlur Rahman (1982) dalam “Islam and Modernity” menyatakan:

“Perjuangan (jihad) yang diisyaratkan dalam Surat Al-Adiyat harus dimaknai secara kontekstual sesuai tantangan zaman. Bagi Muslim kontemporer, jihad yang paling urgen adalah jihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan, baik dalam lingkup personal, komunal, maupun global.” (Rahman, 1982, p. 165).

Amina Wadud (1999) dalam “Qur’an and Woman” menambahkan perspektif gender dalam memaknai jihad:

“Perjuangan untuk keadilan gender, sebagaimana nilai-nilai keadilan lainnya, merupakan bagian dari jihad yang diisyaratkan dalam Al-Quran. Membaca Surat Al-Adiyat dengan kesadaran gender kontemporer mengajak kita untuk memikirkan ulang struktur-struktur sosial yang melanggengkan ketidakadilan dan diskriminasi.” (Wadud, 1999, p. 92).

Membangun Kesadaran Eskatologis di Era Digital

Peringatan tentang hari pembalasan dalam Surat Al-Adiyat menawarkan landasan spiritual untuk mengembangkan kesadaran eskatologis di era digital. Seyyed Hossein Nasr (2007) dalam “The Garden of Truth” merefleksikan:

“Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh teknologi digital dan media sosial, pesan eskatologis Surat Al-Adiyat mengingatkan kita untuk senantiasa menyadari dimensi transenden dari eksistensi manusia. Tanpa kesadaran ini, kita berisiko terjebak dalam simulacra digital yang menjauhkan kita dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.” (Nasr, 2007, p. 198).

Hamza Yusuf (2015) dalam “Purification of the Heart” menambahkan:

“Ayat-ayat akhir Surat Al-Adiyat yang berbicara tentang dibongkarnya isi hati manusia pada hari pembalasan mengajak kita untuk senantiasa menjaga kesucian hati, terlebih di era digital di mana banyak konten negatif yang dapat mencemari hati. Kesadaran akan adanya hari pembalasan mendorong kita untuk lebih selektif dalam mengkonsumsi dan memproduksi konten digital.” (Yusuf, 2015, p. 57).

Kesimpulan

Surat Al-Adiyat, meskipun tergolong surat pendek, menyimpan pesan-pesan mendalam yang tetap relevan sepanjang masa. Asbabun nuzulnya yang berkaitan dengan ekspedisi militer Muslim di masa awal Islam membuka pintu refleksi tentang pengorbanan dan perjuangan dalam membela kebenaran. Kritik terhadap kecintaan berlebihan pada harta menawarkan perspektif alternatif di tengah hegemoni materialisme global. Sedangkan peringatan tentang hari pembalasan mengajak kita untuk senantiasa melakukan introspeksi dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

Di era modern dengan segala kompleksitasnya, pesan-pesan Surat Al-Adiyat dapat menjadi panduan moral dan spiritual yang berharga. Surat ini mengajak kita untuk menyeimbangkan dimensi material dan spiritual kehidupan, mengembangkan kesadaran sosial dan lingkungan, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat melalui amal saleh dan ibadah yang tulus.

Wallahu a’lam bi as-shawab.

Referensi

Abou El Fadl, K. (2007). The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. HarperOne.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization.

Al-Maraghi, M. (1946). Tafsir Al-Maraghi. Mustafa Al-Babi Al-Halabi.

Al-Qaradhawi, Y. (2010). Fiqh Al-Jihad. Wahba Publishing House.

Al-Qurthubi, M. (2006). Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran. Muassasah Ar-Risalah.

As-Suyuthi, J. (2008). Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

Ash-Shabuni, M. A. (2001). Shafwat at-Tafasir. Dar Al-Fikr.

At-Thabari, M. (2001). Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Quran. Dar Hijr.

Az-Zuhaili, W. (2009). At-Tafsir Al-Munir. Dar Al-Fikr.

Chapra, M. U. (1992). Islam and the Economic Challenge. The Islamic Foundation.

Hamka. (1982). Tafsir Al-Azhar. Pustaka Panjimas.

Hanafi, H. (1981). Islamic Studies. Anglo-Egyptian Bookshop.

Ibn Katsir, I. (2000). Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim. Muassasah Ar-Risalah.

Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth. HarperOne.

Quthb, S. (2003). Fi Zhilalil Quran. Dar Asy-Syuruq.

Rahman, F. (1982). Islam and Modernity. University of Chicago Press.

Ramadan, T. (2004). Western Muslims and the Future of Islam. Oxford University Press.

Sardar, Z. (2014). Reading the Qur’an in the Twenty-First Century. Routledge.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati.

Wadud, A. (1999). Qur’an and Woman. Oxford University Press.

Yusuf, H. (2015). Purification of the Heart. Sandala Publications.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Khutbah Jumat: Kejujuran sebagai Fondasi Kehidupan

03 Friday Jan 2025

Posted by Setiawan in Uncategorized

≈ Leave a comment

Tags

Iman, indonesia, Inspiration, Islam, khutbah, life, renungan

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَ بِالصِّدْقِ وَنَهَى عَنِ الْكَذِبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan khutbah tentang nilai fundamental dalam kehidupan seorang muslim, yaitu kejujuran atau ash-shidq. Kejujuran merupakan salah satu sifat mulia yang diperintahkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam hal pribadi, keluarga, bermasyarakat, maupun bernegara.

Hakikat Kejujuran dalam Islam

Kejujuran dalam Islam memiliki makna yang sangat luas. Dalam bahasa Arab, kejujuran disebut dengan “ash-shidq” yang berarti kesesuaian antara ucapan dengan kenyataan, antara lahir dan batin, serta antara perkataan dan perbuatan. Kejujuran adalah sifat yang mendasar bagi seorang muslim yang bertakwa.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar (jujur), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Menurut tafsir Ibnu Katsir, makna “ash-shidq” (الصَّادِقِين) dalam ayat ini adalah orang-orang yang benar dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan mereka. Mereka tidak menampakkan kebaikan untuk menyembunyikan kejahatan, tidak pula mengucapkan sesuatu dengan lisannya yang bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya.

الصادقين أي في أقوالهم وأفعالهم وأحوالهم، لا يظهرون خيرا ليوهموا به خلاف ما هم عليه، ولا يقولون بألسنتهم ما ليس في قلوبهم

Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian selalu benar (jujur), karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang selalu berusaha untuk jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang yang selalu berdusta akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran dalam Memangku Jabatan Pemerintahan

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Saat ini, kejujuran menjadi barang yang sangat berharga, terutama dalam hal kepemimpinan dan jabatan publik. Sebagai pemangku jabatan di pemerintahan, seorang muslim diharapkan memiliki integritas yang tinggi karena ia mengemban amanah dari Allah SWT dan juga dari masyarakat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Dalam tafsir Al-Qurtubi, dijelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menunaikan amanah dalam segala bentuknya, baik amanah harta, ucapan, maupun perbuatan. Khususnya bagi para pemimpin dan pejabat pemerintahan, mereka wajib menunaikan amanah rakyat dengan mengelola sumber daya negara dengan jujur dan adil.

الأمانة تعم جميع وظائف الدين وتتناول الأمور الدينية والدنيوية، وحقوق الله وحقوق العباد

Rasulullah SAW mengingatkan tentang bahaya mengkhianati amanah:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Barangsiapa yang kami angkat menjadi pegawai untuk mengerjakan sesuatu, kemudian kami berikan kepadanya suatu pemberian (gaji), maka apa yang ia ambil setelah itu (selain gaji) adalah suatu bentuk pengkhianatan.” (HR. Abu Dawud)

Kisah teladan tentang kejujuran dalam memangku jabatan dapat kita ambil dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau sangat berhati-hati dalam menggunakan fasilitas negara. Suatu ketika, ketika beliau sedang mengurus urusan pribadi, beliau mematikan lampu yang dinyalakan dengan biaya negara dan menyalakan lampu miliknya sendiri. Beliau berkata, “Lampu ini dinyalakan dengan harta kaum muslimin, dan tidak pantas digunakan untuk urusan pribadi.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai pemangku jabatan di pemerintahan, kejujuran dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk:

  1. Jujur dalam mengelola keuangan negara dan tidak melakukan korupsi.
    Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)

  1. Jujur dalam memberikan informasi kepada masyarakat.
    Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)

  1. Jujur dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
    Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Selain dalam memangku jabatan pemerintahan, kejujuran juga harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun bermasyarakat.

  1. Kejujuran dalam Berumah Tangga

Rumah tangga adalah tempat pertama dalam pembentukan karakter. Kejujuran antara suami dan istri akan menciptakan keharmonisan dan kepercayaan. Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

  1. Kejujuran dalam Berbisnis dan Bekerja

Islam sangat menekankan kejujuran dalam transaksi bisnis. Rasulullah SAW bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)

Beliau juga memperingatkan tentang bahaya penipuan dalam jual beli:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)

  1. Kejujuran dalam Bermasyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, kejujuran akan menciptakan kepercayaan dan kerukunan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Manfaat Kejujuran

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kejujuran memiliki banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antaranya:

  1. Mendapatkan ketenangan jiwa
    Rasulullah SAW bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah apa yang meragukan engkau kepada apa yang tidak meragukan engkau, karena sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.” (HR. Tirmidzi)

  1. Memperoleh kepercayaan masyarakat
    Orang yang jujur akan dipercaya oleh masyarakat dan memiliki integritas yang tinggi.
  2. Mendapatkan keberkahan dalam hidup
    Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

  1. Mendapatkan ridha Allah dan surga
    Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.

Tantangan Menjadi Pribadi yang Jujur

Jamaah yang dirahmati Allah,

Menjadi orang yang jujur di zaman sekarang memang tidak mudah. Banyak godaan dan tantangan yang dihadapi, seperti:

  1. Godaan materi dan keuntungan duniawi
  2. Lingkungan yang kurang mendukung
  3. Sistem yang kadang memaksa untuk tidak jujur
  4. Takut akan konsekuensi dari kejujuran

Namun, sebagai muslim yang beriman, kita harus ingat bahwa Allah SWT selalu mengawasi kita. Allah SWT berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Dan Rasulullah SAW juga mengingatkan:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Penutup Khutbah Pertama

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup dari khutbah pertama ini, marilah kita bertekad untuk selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam setiap aspek kehidupan, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, masyarakat, maupun sebagai pejabat pemerintahan. Kejujuran adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Mari kita berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu diberikan kekuatan untuk jujur dalam kondisi apapun.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Pada khutbah kedua ini, marilah kita lanjutkan pembahasan tentang kejujuran dengan melihat beberapa strategi praktis untuk menumbuhkan dan mempertahankan kejujuran dalam kehidupan kita.

Menumbuhkan Sifat Jujur

  1. Menanamkan keyakinan bahwa Allah SWT selalu mengawasi
    Allah SWT berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

  1. Membiasakan diri untuk selalu jujur dalam hal-hal kecil
    Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَا يَزَالُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Sesungguhnya seorang hamba senantiasa berkata jujur dan berusaha untuk jujur sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Menjauhi lingkungan yang mendorong untuk berbohong
    Allah SWT berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nisa: 140)

  1. Menghindari sumpah palsu
    Rasulullah SAW bersabda:

الْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ

“Sumpah palsu (dalam jual beli) dapat melariskan barang dagangan tetapi menghilangkan keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Teladan Kejujuran dalam Sejarah Islam

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dalam sejarah Islam, banyak tokoh yang memberikan teladan tentang kejujuran, di antaranya:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang mendapat gelar “Ash-Shiddiq” (yang sangat jujur) karena beliau langsung membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj ketika banyak orang yang meragukan.
  2. Umar bin Khattab, yang sangat keras terhadap korupsi dan penyelewengan jabatan. Suatu ketika, beliau menulis surat kepada gubernurnya, Abu Musa Al-Asy’ari: “Sesungguhnya kebaikan itu semuanya terkumpul dalam sifat jujur dan amanah, sedangkan kejahatan semuanya terkumpul dalam sifat dusta dan khianat.”
  3. Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan kejujuran dan kesederhanaannya dalam memimpin, hingga mampu memberantas korupsi dan mewujudkan kesejahteraan di masa pemerintahannya.

Membangun Budaya Jujur dalam Masyarakat

Untuk membangun budaya jujur dalam masyarakat, kita perlu:

  1. Mulai dari diri sendiri dan keluarga
    Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Memberikan apresiasi kepada orang yang jujur
    Allah SWT berfirman:

هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Inilah saat orang-orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Maidah: 119)

  1. Menciptakan sistem yang mendukung kejujuran
    Seperti sistem yang transparan, akuntabel, dan adanya konsekuensi bagi ketidakjujuran.
  2. Mendidik generasi muda tentang pentingnya kejujuran
    Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Doa untuk Menjadi Pribadi yang Jujur

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu diberikan kekuatan untuk menjadi pribadi yang jujur:

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang terbaiknya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dari kami akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dari kami akhlak yang buruk kecuali Engkau.”

Penutup

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Sebagai penutup khutbah pada hari ini, marilah kita bertekad untuk menjadi pribadi yang jujur dalam segala hal, baik dalam posisi sebagai pemimpin, pejabat pemerintahan, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ingatlah selalu bahwa kejujuran adalah jalan menuju surga dan keridhaan Allah SWT.

Mari kita jadikan kejujuran sebagai prinsip hidup, bukan sekadar slogan. Dengan kejujuran, insya Allah kehidupan kita akan penuh keberkahan dan ketenangan, serta masyarakat akan menjadi lebih baik dan sejahtera.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Asep Setiawan

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Pentingnya Amanah dalam Kegiatan di Dunia

02 Thursday Jan 2025

Posted by Setiawan in Uncategorized

≈ Leave a comment

Tags

indonesia, Inspiration, Islam, life, renungan

KHUTBAH PERTAMA

Doa Pembuka Khutbah

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Hendaklah kita senantiasa berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib ingin mengingatkan diri sendiri dan kita semua tentang pentingnya amanah, terutama dalam memangku jabatan di pemerintahan maupun di mana pun kita berada. Tema ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam dan bangsa kita, agar kita menjadi hamba-hamba Allah yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab.


Makna Amanah dalam Islam

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Amanah adalah salah satu sifat mulia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Amanah artinya dapat dipercaya, jujur, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Amanah merupakan salah satu sifat utama para nabi dan rasul, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿ إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴾
(سورة الأحزاب: 72)

Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
(QS. Al-Ahzab: 72)

Tafsir singkat ayat ini:

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa amanah di sini mencakup seluruh perintah dan larangan Allah, seluruh syariat dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh manusia. Langit, bumi, dan gunung-gunung yang begitu besar saja tidak sanggup memikulnya, tetapi manusia menerima amanah tersebut, walaupun manusia sering menzalimi dirinya sendiri dengan melalaikan amanah itu.


Amanah dalam Jabatan Pemerintahan

Jama’ah rahimakumullah,

Di antara amanah yang sangat berat adalah amanah jabatan, baik di pemerintahan, lembaga, maupun organisasi apapun. Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»
(رواه مسلم)

Artinya:
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mengangkatku menjadi pejabat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk pundakku, lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sementara jabatan itu adalah amanah. Dan jabatan itu pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar.” (HR. Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa jabatan itu adalah amanah yang berat. Barang siapa yang tidak menunaikan amanah itu dengan benar, maka di akhirat kelak ia akan menanggung kehinaan dan penyesalan.


Bahaya Mengkhianati Amanah

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Islam sangat mengecam keras perbuatan mengkhianati amanah. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴾
(سورة الأنفال: 27)

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 27)

Tafsir ayat ini:
Ibnu Katsir menafsirkan, “Janganlah kalian mengkhianati Allah, yaitu dengan meninggalkan perintah-Nya; dan jangan mengkhianati Rasul-Nya, yaitu dengan tidak meneladani sunnahnya; serta jangan mengkhianati amanah yang diberikan kepada kalian, baik berupa harta, jabatan, rahasia, maupun tugas-tugas lainnya.”


Amanah Adalah Ciri Orang Beriman

Kaum muslimin rahimakumullah,

Amanah adalah ciri utama orang beriman. Allah berfirman tentang sifat orang mukmin sejati:

﴿ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ﴾
(سورة المؤمنون: 8)

Artinya:
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.”
(QS. Al-Mu’minun: 8)

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga apa saja yang Allah amanahkan kepada mereka, baik berupa hak-hak Allah maupun hak-hak manusia, dan mereka memelihara janji-janjinya.”


Contoh Amanah Para Pemimpin Islam

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sejarah Islam mencatat betapa beratnya para sahabat Nabi menerima jabatan. Mereka takut akan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika diangkat menjadi khalifah, beliau sering menangis di malam hari, karena khawatir tidak mampu memikul amanah besar tersebut.

Beliau berkata:
“Seandainya ada seekor keledai yang tergelincir di Irak, aku takut Allah akan menanyai aku: ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'”

Begitu juga Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika diangkat menjadi khalifah, beliau berkata:

“Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat salah, luruskanlah aku. Kebenaran adalah amanah dan kebohongan adalah pengkhianatan.”


Wasiat Rasulullah tentang Amanah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
(رواه أحمد)

Artinya:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak dapat dipercaya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan bahwa amanah adalah bagian dari iman dan agama seseorang.


Bentuk Amanah di Pemerintahan dan Kehidupan

Jama’ah sekalian,

Amanah dalam pemerintahan meliputi berbagai aspek, antara lain:

  1. Mengelola harta negara dengan jujur
    Tidak boleh ada korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau penggelapan.
  2. Keadilan dalam mengambil keputusan
    Tidak boleh berpihak karena kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok.
  3. Menunaikan tugas sesuai aturan
    Bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kapasitas.
  4. Transparansi dan akuntabilitas
    Siap dievaluasi dan mempertanggungjawabkan pekerjaan secara terbuka.
  5. Mengutamakan kepentingan rakyat
    Memprioritaskan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Amanah juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari:

  • Amanah sebagai suami/istri,
  • Amanah sebagai orang tua,
  • Amanah sebagai guru,
  • Amanah sebagai karyawan dan atasan,
  • Amanah menjaga rahasia.

Akibat Mengkhianati Amanah

Saudaraku,

Orang yang mengkhianati amanah akan mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup Khutbah Pertama & Doa

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Marilah kita semua berusaha menjadi pribadi yang amanah. Jangan tergoda untuk mengkhianati amanah, sekecil apapun itu. Karena setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Mari kita berdoa:

اللهم اجعلنا من عبادك الأمناء، ووفقنا لأداء الأمانة، ونجنا من الخيانة، واغفر لنا ذنوبنا، إنك أنت الغفور الرحيم.

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang amanah, berikanlah kami taufik untuk menunaikan amanah, selamatkan kami dari pengkhianatan, dan ampunilah dosa-dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


KHUTBAH KEDUA

Doa Pembuka Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،


Ajakan untuk Memperbaiki Amanah

Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah,

Di khutbah kedua ini, kembali khatib mengingatkan diri sendiri dan seluruh jama’ah untuk meningkatkan kualitas amanah dalam segala hal. Bagi yang saat ini sedang memangku jabatan, baik kecil maupun besar, tunaikanlah amanah itu dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab. Ingatlah, setiap jabatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا ﴾
(سورة النساء: 58)

Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa’: 58)


Doa Penutup Khutbah

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa memohon kepada Allah agar kita dijadikan hamba yang amanah:

اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى، اللهم إنا نعوذ بك من الخيانة والفساد، اللهم أصلح ولاة أمورنا، ووفقهم لأداء الأمانة، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

Artinya:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan kecukupan. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan dan kerusakan. Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, berikanlah mereka taufik untuk menunaikan amanah. Ampunilah kami, orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.”

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Asep Setiawan

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts

Recent Posts

  • Surat Al-Adiyat: Relevansi di Era Modern
  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d