• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Archives

Ancaman Irak masih bayangi Kuwait

25 Tuesday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Middle East

≈ Leave a comment

Tags

irak, kuwait

   

     DALAM kajian internasional terdapat istilah yang disebut dengan lingkungan psikologis dan operasional. Yang pertama merujuk pada persepsi terhadap dunia luar baik berupa ancaman maupun peluang. Istilah kedua menerangkan soal-soal yang berkaitan dengan geografis dan posisi suatu negara serta batas-batasnya.

     Bagi Kuwait yang memperingati Hari Nasional ke-35, 25  Februari 1993  trauma Perang Teluk masih kuat membayang segenap penguasa dan rakyat. Kegembiraan setelah Irak mundur dari Kuwait diabadikan sebagai Hari Pembebasan yang jatuh tanggal 26 Februari.

     Kecemasan Kuwait tidak hanya berupa adanya bahaya invasi kedua tetapi juga sejumlah pengalaman pahit yang ditinggalkan akibat pendudukan. Misalnya tentang terbunuhnya rakyat, juga pemerkosaan para wanita dan mereka yang cedera. Sumber bahaya masih dari tempat yang sama yakni Irak. Apalagi dengan manuver militer Irak bulan Oktober lalu, makin menguatkan bahwa secara psikologis bahaya itu masih sangat dekat.

     Oleh sebab itulah sampai kini Kuwait masih tetap menyuarakan bahaya dari Irak. Seperti dijelaskan Salem G Alzamanan dari Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta, semua Resolusi dari Dewan Keamanan PBB minta dilaksanakan sepenuhnya oleh Baghdad yang sampai sekarang dipimpin Presiden Saddam Hussein. Langkah ini merupakan jaminan keamanan yang bisa diandalkan.

     Lebih-lebih yang menyangkut tawanan perang, pampasan perang dan pengembalian kekayaan Kuwait yang dijarah tentara Irak, pemerintah Kuwait sangat menekankannya. Beberapa kali sanksi PBB terhadap Irak  diperpanjang. Pada persidangan bulan depan pun tampaknya Kuwait masih belum puas dengan kebijakan Baghdad. Alzamanan menilai pendudukan itu sebagai upaya menghapus identitas rakyat Kuwait.

     Memulihkan kepercayaan dari bahaya itu adalah dengan meningkatkan kekuatan militer baik sumber daya manusianya maupun teknologi. Berbagai mesin perang dibeli dari Barat khususnya dari Amerika Serikat, salah satu pelindung Kuwait yang saat Perang Teluk sangat berperan. Kuwait juga berusaha menjalin kerja sama lebih dekat melalui Dewan Kerja Sama Teluk (GCC=Gulf Cooperation Council).

      Dengan Gerakan Non Blok (GNB) Kuwait sangat menaruh harapan apalagi dengan kepemimpinan Indonesia. Dalam konteks hubungan bilateral dengan Indonesia, Kuwait mengharapkan nilai perdagangan tak hanya ditingkatkan sampai tiga kali lipat bahkan sepuluh kali lipat dari nilai sekarang.

     Aspek bahaya eksternal secara psikologis memang masih membayangi rakyat. Namun di sisi lain ada perkembangan menarik sesuai perang yang mengerikan itu. Rakyat dan pemerintah yang dipegang Emir Kuwait Sheikh Jaber Al Ahmed Al Jaber Al Sabah bersatu padu. Dalam konteks itu permintaan sejumlah kalangan untuk menciptakan alam yang lebih demokratis ditanggapi secara serius.

     Biasanya memang keluarga Emir memiliki kekuasaan besar dalam kebijakan pemerintah. Sebagai penguasa turun temurun mereka juga mendapatkan berbagai keistimewaan. Dalam alam yang lebih berkembang ini sejumlah rakyat meminta perbaikan sistem politik dan kembali

 

Konstitusi 1961.

     Oleh sebab itulah, sehabis perang Teluk tahun 1992 diselenggarakan pemilu secara terbuka. Kubu oposisi menduduki 31 dari 50 kursi yang diperebutkan. Bahkan suasana pers pun lebih terbuka. Singkat kata berbagai keterbukaan politik sudah mulai dijalankan walaupun tentu saja proses itu akan memakan waktu lebih banyak lagi.

                                ***

     LINGKUNGAN operasional atau geografis menempatkan Kuwait dalam posisi unik. Dalam pengertian teritorial memang kecil apalagi dibandingkan dengan Indonesia luasnya tak seberapa hanya sekitar 18.000 km persegi. Bahkan penduduknya tahun 1992 hanya 1,2 juta, banyak terusir karena Perang Teluk yang menghabiskan biaya sampai 676 milyar dollar AS.

     Namun salah satu daya tariknya adalah emas hitam. Minyak bumi saat ini tidak hanya faktor kunci dalam industri tetapi juga bernilai strategis dalam konteks militer. Pembangunan kembali instalasi minyak serta infrastruktur lainnya termasuk membuang ranjau yang menurut Alzamanan dipasang di berbagai tempat di Kuwait merupakan perkembangan menarik karena banyak proyek itu dilaksanakan negara yang membantu Kuwait.

     Ambisi Irak ke Kuwait tak terlepas dari nilai minyak ini serta akses masuk ke Teluk Persia. Irak pun masih menganggap Kuwait salah satu propinsinya. Krisis di Teluk boleh dikatakan dimulai dari pertengkaran tentang eksplorasi minyak di perbatasan dua negara. Ujung dari perselisihan itu adalah upaya Baghdad menghidupkan lagi

aspek sejarahnya yang menganggap Kuwait adalah bagian dari Irak.     Unsur kekayaan minyak ini pula yang mendorong AS dan sekutunya mengerahkan berbagai upaya untuk mengusir balik tentara Irak. Barat dan Jepang sangat menekankan pengamanan jalur minyak ini. Wilayah ini memang memiliki nilai ekonomi tinggi yakni sebagai pensuplai energi. Sejumlah kalangan di AS menganggap minyak ini adalah “darah” dari hidupnya. Oleh sebab itu siapa saja yang berusaha menguasai “darah” ini dan menentang kepentingannya maka harus disingkirkan.

     Lingkungan Kuwait secara fisik memang tidak senantiasa bermusuhan. Negara-negara yang tergabung ke dalam GCC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arat, Bahrain dan Oman memiliki ciri-ciri hampir sama: minyak adalah faktor strategis yang tak bisa diabaikan negara mana pun. Kecuali Arab Saudi, semua anggota GCC wilayahnya kecil tapi kaya sumber daya alam. Menurut Alzamanan, persahabatan lewat GCC ini semakin dikukuhkan setelah krisis Teluk.

                                ***

     SEPERTI halnya semua negara, Kuwait memiliki cita-cita untuk menjadi negara yang sejahtera, makmur, aman dan damai. Kuwait juga menginginkan lingkungan eksternalnya stabil. Pengalaman pahit Perang Teluk memberikan pelajaran betapa ancaman perang tidak bisa hilang begitu saja. Alzamanan mengatakan, “Kami memberikan tanggapan responsif terhadap manuver militer Irak, Oktober tahun lalu agar tidak memberikan peluang sedikit pun untuk berani menyerbu.”

     Ini berarti bahwa sangat diharapkan sekali tetangganya bersahabat termasuk harapannya terhadap Irak. Seringkali dalam konteks kultur Arab, pertengkaran yang sengit dapat berubah menjadi persahabatan erat. Tidak hanya antarindividu tetapi juga antara suatu bangsa dan negara. Sedalam apa pun permusuhan itu kalau kedua pihak sudah bertekad menguburnya, maka tak ada lagi hambatan untuk memulihkan persahabatan.

     Tidak terkecuali dengan Kuwait. Walaupun sekarang bermusuhan atau katakanlah menganggap Irak sumber ancaman, mungkin suatu saat di masa depan akan tercipta suatu lingkungan bagi Kuwait yang bersahabat baik
dari sesama anggota GCC, Irak maupun Iran. Keamanan Teluk Persia memang tidak hanya bermanfaat bagi Kuwait tetapi juga negara lainnya yang jauh dari wilayah tersebut. (asep setiawan)

Kompas: 25/2/95

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Mujahidin Khalq: Durin Hubungan Iran-Irak

25 Tuesday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Middle East

≈ Leave a comment

Tags

irak, Iran, mujahidin khalq

     SERANGAN pesawat-pesawat Iran ke pangkalan Mujahidin Khalq (Pejuang-pejuang Rakyat) di Irak waktunya bersamaan dengan masa persiapan pemilihan presiden Iran 11 Juni nanti. Oleh sebab itu alasan Teheran menggempur Mujahidin tak lain adalah meningkatnya gangguan kelompok oposisi terhadap masyarakat Iran.

     Namun serangan itu mendapat reaksi keras dari Baghdad karena dianggap melanggar perbatasan. Pesawat Iran di antaranya menggempur pangkalan Mujahidin di Ashraf, sekitar 90 kilometer dari perbatasan, di samping pangkalan di Jalula, 35 kilometer perbatasan.

     Serangan itu memperburuk hubungan kedua negara yang belum pulih akibat Perang Iran-Irak selama delapan tahun, 1980-1988. Masih terdapat sisa-sisa persoalan yang mengganjal Iran akibat perang mengerikan itu. Disusul kemudian Perang Teluk 1991, di mana Iran bersikap netral padahal Baghdad mengharapkan retorika Islam versus Barat-nya Saddam Hussein bisa mengundang Iran masuk dalam kancah perang. Nyatanya, Iran hanya mengamati perkembangan walaupun Baghdad dipukul sampai babak belur. 

     Teheran masih merasa tidak perlu terlalu berdekatan dengan Saddam. Apalagi kelompok oposisi Iran masih diberi tempat di Irak, sehingga sulit dikatakan hubungan itu akan membaik. Kini Mujahidin menjadi duri dalam hubungan Iran-Irak karena peningkatan aksi sabotase – di antaranya meledakkan pipa minyak – di Iran.

                                ***    

 

     SIAPA Mujahidin Khlaq itu ? Boleh dikatakan kelompok oposisi Mujahidin termasuk yang besar yang berbasis di Irak. Tidak seperti kelompok oposisi lain yang muncul sesudah revolusi, Mujahidin memiliki kekuatan besar baik secara militer maupun politik, sebelum revolusi.

     Beberapa pihak menyebut kelompok yang didirikan 1965 ini Islam-Marxis. Tokoh-tokoh pendiri Mujahidin di antaranya Mohammad Hanifnejad, Said Mohsen dan Ali Asqar. Pada awalnya Mujahidin mengambil tema antiimperialisme dan nasionalisme dalam ideologinya. Meskipun kelompok ini menolak disebut Islam-Marxis, mereka menerima beberapa pemikiran Marx yang dianggap seusai dengan gerakan mereka. Dalam awal pemberontakan terhadap Shah, kelompok yang jelas komunis adalah Feda’iyan Khalq.

     Jika pendukung Feda’iyan berasal dari kalangan Marxis-nya Partai Tudeh yang tergabung kedalam Front Nasional, maka pendukung Mujahidin berasal dari sayap agamawan Front Nasional dan khususnya dari Gerakan Kemerdekaan yang sejak 1961 dipimpin Mehdi Bazargan dan Ayatollah Mahmud Taleqani.

     Ideolog Mujahidin Reza’i seperti dikutip dalam Roots of Revolution (1981) karya Nikki R Keddie, menyatakan revolusi yang disodorkan Imam Shiah khususnya Ali bin Abi Thalib, Hassan dan Hussein bertujuan melawan tuan tanah feodal dan mengeksploitasi saudagar kapitalis. Bagi Reza’i, Mujahidin merupakan kewajiban setiap Muslim untuk melanjutkan perjuangan menciptakan “masyarakat tanpa kelas” dan menghancurkan semua bentuk kapitalisme, depotisme dan imperialisme.

     Beberapa aksi yang menggemparkan adalah pembunuhan pemboman Kantor Penerangan Amerika Serikat (USIS), Jenderal AU AS Harold Price, 30 Mei 1972 dan pemboman Mausoleum Shah Reza beberapa saat sebelum kunjungan Presiden Richard Nixon ke Teheran. Mereka juga membunuh sejumlah agen intel Amerika dan Iran.

     PM Rajai meringkas sikap pemerintah Iran terhadap Mujahidin dengan mengatakan, “Perbedaan ideologi diizinkan (dalam Islam) namun yan tidak diizinkan adalah menyesatkan yang lain (rakyat). Sejak Mujahidin menyesatkan rakyat dengan interpretasi (Marxis) terhadap Islam, mereka tidak bisa lagi ditoleransi dalam Republik Islam (Iran).”

     Bagaimana posisi Mujahidin di samping kelompok lainnya? Rajai membagi empat kategori kelompok politik : Muslim, simpatik, oposisi dan musuh. Partai Muslim adalah yang secara total mengikuti garis kebijakan Ayatollah Khomeini. Partai simpatisan adalah yang simpati terhadap revolusi Islam namun tidak dipandu oleh ulama walaupun diizinkan memiliki hubungan dengan pemerintah kecuali pekerjaan dan kementerian penting.

     Kelompok oposisi adalah yang menahan diri berkomplot menggulingkan pemerintah. Pihak musuh yakni yang mengangkat senjata terhadap pemerintah Islam dan berencana melakukan hal itu. Dalam kategori ini termasuk kelompok pendukung monarki, Partai Demokratik Kurdi, Komala, Fedayi Khalq, Mujahidin dan Paykar (Perjuangan) yang merupakan pecahan Mujahidin.

     Menurut Dilip Hiro dalam Iran Under The Ayatollahs (1987), anggota Mujahidin dan simpatisan umumnya berasal dari kaum muda baik pria maupun wanita dan datang dari kelas menengah tradisional seperti pedagang, pemilik toko, karyawan dan artis. Mereka tertarik keluar dari partai Islam karena ditawarkan interpretasi modern dan egaliter terhadap Islam.

     Mujahidin ini memang sudah biasa melakukan taktik gerilya berupa penyerangan terhadap tokoh-tokoh penting. Bahkan dalam daftar teratasnya, Mujahidin menempatkan pemimpin spiritual Iran Ayatollah Khamenei dan Presiden Ali Akbar Rafsanjani yang pernah menjabat Ketua Parlemen. Tahun 1982, Mujahidin dari markasnya di Paris menyatakan sejak 20 Juni 1981 mereka telah membunuh 2.000 pemimpin politik dan agama di Iran. Namun mereka mengklaim 3.000 pendukungnya dieksekusi.

     Secara konsepsional, Mujahidin juga sudah mempersiapkan 12 program di antaranya sistem dewan di semua tempat kerja dan institusi sebagai dasar demokrasi dalam masyarakat. Mereka akan menjamin kebebasan menyatakan pendapat dan keyakinan agama, mengakui minoritas etnik termasuk Kurdi.

     Dalam bidang ekonomi dijanjikan kenaikan produksi, menghapus utang petani, menawarkan bantuan teknik dan finansial kepada para petani. Dalam masalah luar negeri, mereka berjanji menghentikan hubungan dengan semua kekuatan imperialisme dan membatalkan semua perjanjian yang merugikan, kontrak-kontrak dan nasionalisasi aset asing.

                                ***

 

     SERANGAN gencar Mujahidin menjelang pemilihan presiden seperti diakui Pemerintah Iran tampaknya merupakan ulangan. Tahun 1981 karena gagal mengacaukan sistem pendidikan, mereka berkonsentrasi pada pemilihan presiden 2 Oktober 1981. Mereka ingin membangkitkan pembangkangan secara menyeluruh agar pemilu ditunda. Tanggal 27 September ratusan pendukung Mujahidin bentrok di Teheran University dengan Pengawal Revolusi. Pertarungan selama tujuh jam itu menewaskan 17 orang dan mencederai 40 lainnya. Apakah pemilihan presiden tertunda? Khomeini membalas dengan mengeksekusi 153 orang yang melawan Pengawal Revolusi.

     Kekalahan demi kekalahan dialami oleh Mujahidin dan kini melakukan gerakan dari Irak. Baghdad karena beberapa pertimbangan – di antaranya karena tidak menyukai regim sekarang – menyediakan tempat lapang bagi Mujahid
in. Pertempuran selama delapan tahun dengan Iran tentu saja tak bisa menghapuskan begitu saja dendam kalangan pemerintah Irak.

     Dari posisi Mujahidin ini dapat dikatakan menjadi duri dalam hubungan kedua negara yang bertetangga di samping masalah Kurdi dan Shiah. Duri ini memang kadang-kadang terasa seperti ketika Mujahidin melakukan sabotase besar-besaran di Iran. Namun tidak menjadi perhatian misalnya saat Perang Teluk 1991 pecah.

     Jika Irak mengasuh Mujahidin yang menentang Iran, Teheran pun berlaku serupa dengan mendukung gerakan Shiah di selatan dan memberikan tempat kepada pemimpin yang mau menggulingkan Presiden Saddam Hussein.

     Namun dalam perkembangan nanti bukan mustahil kedua pemerintah sepakat untuk memperlemah Mujahidin. Situasi ini memang masih sulit dibayangkan saat ini tetapi pendekatan baru antara kedua negara – misalnya ketika Saddam turun dari kekuasaan – bisa saja terjadi. Demi keuntungan Baghdad, bisa saja Mujahidin dikorbankan karena sebetulnya Irak dalam keadaan sulit yakni digencet dari utara oleh Kurdi – yang jadi musuh bersama Iran – serta kelompok Shiah di selatan. Dengan taktik mengurangi musuh dari timur, Baghdad dengan mudah bisa saja memulihkan hubungan dengan Iran sehingga tekanan berkurang. (Asep Setiawan)

Sumber : Kompas, 30/5/93

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Pasukan Teluk Sekadar Simbol Solidaritas GCC

25 Tuesday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Global Politics

≈ Leave a comment

Tags

GCC, Persia, Teluk

 

     SEDIKITNYA ada dua alasan mengapa sejumlah negara mengadakan kerja sama keamanan atau membentuk alainsi. Pertama, karena ada sesuatu yang perlu diamankan. Dalam hal negara-negara Teluk Persia, yang diamankan adalah emas hitam alias minya. Enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC-Gulf Cooperation Council) terdiri Arab Saudi Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman dan Uni Emirat Arab (UEA).

     Perang Teluk yang melibatkan puluhan negara adalah contoh paling akhir untuk menjelaskan bagaimana minyak harus diamankan. Seluruh dunia termasuk, negara adidaya Amerika Serikat, Jepang dan Masyarakat Eropa Eropa kalang kabut tatkala Irak benar-benar menguasai ladang minyak Kuwait yang kaya raya. Bagi negara industri, minyak adalah darah yang menghidupkan ekonominya. Oleh sebab itu kekuasaan atas minyak bisa membahayakan eksistensi negara Barat umumnya. Kesimpulannya, Irak harus diusir dengan cara apa pun dari Kuwait.

     Alasan kedua, GCC bersedia membentuk pasukan gabungan untuk menjaga

keamanan karena ada yang disebut ‘musuh bersama’ Perasaan terancam kalau-kalau kekayaannya tiba-tiba lenyap karena diambil negara lain, menghinggapi sebagian besar anggota GCC. Kemakmuran yang kini dinikmati sekitar 23 juta penduduk GCC bisa lenyap seketika dan berganti dengan penderitaan bila minyak di tangannya direbut.

     Secara implisit GCC mendefinisikan ‘musuh bersama’ adalah Irak dan Iran, bukan Israel. 

     Irak dicantumkan sebagai sumber ancaman karena penyerbuan ke Kuwait dan fakta bahwa Presiden Saddam Hussein masih berkuasa sekaligus berambisi. Bahkan sampai kini hampir dua tahun setelah kalah di Perang Teluk, Baghdad masih mampu bersilat lidah untuk menghindari perintah yang dicantumkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang intinya melucuti seluruh persenjataan pembunuh massal milik regim Saddam.

     Kecerdikan Irak menyembunyikan persenjataannya yang konon disimpan di bawah tanah, dianggap anggota GCC sebagai suatu bahaya laten. Sebagai catatan saja, Irak tidak pernah menarik klaimnya atas Kuwait sebagai propinsi ke-19.

     Iran adalah negara kedua yang jadi perhatian Seikh dan raja minyak di Teluk Persia. Bukan karena Iran juga kaya minyak, tetapi negara tetangga yang berpenduduk lebih dari 59 juta ini sering berlawanan dalam kebijakan politiknya. Jika GCC dekat dengan AS, sebaliknya Teheran menentang kehadiran AS di Teluk.

 

“Peninsula Shield”

     Untuk menciptakan rasa aman, GCC membentuk pasukan gabungan yang disebut Peninsula Shield (Perisai Jazirah). Menurut catatan, pasukan ini sudah ada sejak 1983 dengan markas di Khafr Bateen, Arab Saudi.

     Kekuatan pasukan ini sekitar 10.000 personel dengan tugas utama sebagai kekuatan penggetar. Sejauh ini kegiatan pasukan ini adalah latihan bersama, koordinasi komando dan tukar menukar data intelijen.

     Sultan Qaboos dari Oman mengusulkan peningkatan jumlah pasukan ini sampai 100.000 personel namun tidak mendapat sambutann pada KTT GCC ke-13 yang berlangsung di Abu Dhabi 21-23 Desember.

     Proposal Oman ini juga tidak disinggung dalam deklarasi akhir pertemuan para menteri pertahanan baru-baru ini di Kuwait. Pertemuan itu hanya merekomendasi Peninsula Shield sebagai inti pasukan gabungan di masa depan. Namun media massa Kuwait menyebutkan GCC merencanakan meningkatkan kekuatan pasukan gabungan 15 tahun mendatang.

     Saat ini dipertahankan jumlah sampai 10.000 pasukan gabungan sebagai pilihan terbaik dari tiga pilihan yang ada. Dua alternatif lainnya adalah pembentukan pasukan independen baru dan setiap negara berkonsentrasi pada pengembangan angkatan bersenjatanya.

     Menhan UEA Sheikh Mohammad bin Rashid mengatakan, “Pembentukan pasukan gabungan teluk atau angkatan bersenjata bukanlah tugas sulit namun juga tidak segera dibutuhkan. Perang pembebasan Kuwait membuktikan bahwa masalah serius dan keputusan menentukan tidak memerlukan berbagai studi, komite-komite atau konferensi. Teknologi modern adalah salah satu elemen penting dalam menggabungkan upaya dan memajukan langkah bersama. Anggota GCC mampu menggabungkan dan mengkoordinasikan langkah dalam beberapa hari.

 

Efektivitas

     Apakah dengan jumlah 10.000 serdadu cukup untukmenggetarkan kekuatan luar, katakanlah Irak atau Iran? Jika melihat perkembangan kedua negara ini, efektivitas 10.000 tentara ini sangat diragukan. Lebih-lebih setelah muncul konflik intern di perbatasan Qatar-Arab Saudi, pasukan ini tampak kurang berperan. Sebaiknya Qatar yang menjalin hubungan lebih banyak dengan Iran, mengancam mundur dari Peninsula Shield.

     Bandingkan pula kekuatan personel Irak yang lebih dari setengah juta tentara dan Iran yang mencapai satu juta orang, Sedangkan kekuatan GCC bila digabung semuanya hanyalah sekitar 200 ribu sampai 300 ribu tentara. Walaupun dilengkapi peralatan canggih pasukan teluk ini masih harus diuji di lapangan.

     Lalu siapa penjamin keamanan minyak milik anggota GCC? pilihan jatuh ke negara adidaya Amerika Serikat. Pengalaman Perang Teluk membuktikan kekuatan penggetar 10.000 pasukan Teluk tak berdaya sama sekali dan tidak efektif. Irak dengan segudang senjata dan segudang sumber daya manusia dengan mudahnya mencaplok Kuwait.

     Namun ketika AS dan negara Eropa terlibat, barulah keamanan minyak di teluk terjamin. AS dan sekutunya tidak lagi mendapat tantangan dari timur seperti dilakukan Uni Soviet pada masa perang dingin. 

     Jika melihat situasi ini maka keberadaan perisai Jazirah lebih  terkesan sebagai simbol solidaritas GCC, di samping itu terkesan pula sebagai simbol adanya perhatian terhadap masalah pertahanan dibandingkan sebagai kekuatan nyata untuk menggetarkan musuh bersama. Bahkan peningkatan kekuatan sampai 100.000 pun misalnya, tampaknya masih belum mampu menggetarkan Irak atau Iran yang berpengalaman dengan perang modern selama tahun 1980-1988.

     Keamanan minyak terutama dijamin dengan keperkasaan militer AS yang menempatkan sejumlah kapal induk dan pangkalan militer di seputar Teluk Persia. Negara-negara Barat tampaknya masih bisa menjamin suplai minyak dari teluk sedikitnya sampai tahun 2000 sebelum alternatif energi lainnya ditemukan.

     Keberadaan pasukan gabungan ini mungkin bermanfaat untuk menunjukkan betapa kuatnya solidaritas dan kompaknya GCC dalam koordinasi komando militer. Ada pun cara menghadapi ancaman nyata tampaknya masih banyak berlindung ke dalam payung keamanan AS dan sekutunya. ***

Sumber: Kompas

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d