• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Author Archives: Setiawan

IRAN ALAMI PERUBAHAN PENTING

10 Monday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Middle East

≈ Leave a comment

Tags

Iran

     REVOLUSI yang melanda Iran telah mentransformasikan negeri ini ari negeri yang berorientasi Barat menjadi Republik Islam Iran. Sistem politik Iran berubah seratus delapan puluh derajat dari sekuler menjadi religius. Munculnya Iran menjadi salah satu negara Islam dan penentang paling keras Amerika Serikat telah mengegerkan dunia.

     Setelah romantisme revolusi lewat diiringi letupan di dalam negeri, Iran semakin rasional menghadapi kenyataan di sekelilingnya. Emosi revolusi kini diganti dengan napas tenang pembangunan. Perang delapan tahun dengan Irak, persaingan kekuasaan serta salah urus dalam soal ekonomi sudah menjadi kenangan silam.

     Isu-isu ideologis tampaknya tidak terlalu dominan lagi, diganti dengan isu rekonstruksi Iran. Bahkan isu ideologis dengan slogan ekspor revolusi tidak lagi membuat negeri tetangganya meringis. Iran di bawah Presiden Rafsanjani mulai menoleh pada perbaikan hubungan baik dengan negara muslim di Timur Tengah maupun Barat. Kunjungan ke Suriah dan Arab Saudi baru-baru ini mengisyaratkan perubahan itu.

     Para pendukung Rafsanjani memang tidak melupakan aspek ideologis kebangkitan Islam Syiah di Iran, tetapi mereka kini bertekad mengurangi isolasi dunia dan membawa Iran ke pentas dunia sebagai kekuatan politik yang perlu diperhitungkan. Sisa pendukung

hingar bingar revolusi masih ada tetapi situasi umum memperlihatkan perhatian mendalam dalam soal sosial, ekonomi dan pembangunan.

                                ***

    

     BEBERAPA pejabat Iran menyangkal pandangan luar bahwa revolusi telah kehilangan bahan bakarnya. “Semangat revolusi berlanjut khususnya di kalangan generasi muda tetapi dengan bentuk lebih logis,” kata Ali Asghar Faramarzian, Dirjen Urusan Pers Asing di Ministry of Islamic Guidance.

     Namun sejumlah penduduk, pejabat dan diplomat dan pengusaha asing, seperti ditulis Judith Miller dalam International Herald Tribune, mengemukakan, mereka mencium adanya perubahan-perubahan penting.    

     Mereka mencontohkan sikap terbuka Iran terahadap Barat dalam soal politik luar negeri. Hal ini juga berlangsung dalam upaya rasionalisasi dan swastanisasi sektor-sektor kunci ekonomi. Rafsanjani di satu sisi sedang menggeser tekanan politik dan ideologi dalam soal kenegaraan. Rafsanjani yang diangkat sebagai presiden 28 Juli 1989 mendorong pragmatisme dalam arti positif dan kepentingan nasional untuk mengelola negeri yang berpenduduk sekitar 55 juta ini.

     “Revolusi ini akhirnya selesai,” komentar seorang diplomat. “Revolusi telah berlalu sebulan lampau ketika Irak membom kota suci Irak di Najaf dan Karbala, kota suci Syiah, tanpa rekasi Iran. Revolusi telah berakhir ketika Irak mulai membantai masyarakat Syiah

Irak tanpa satupun protes dari Iran. Revolusi telah selesai saat menghentikan ekspor revolusi Islam dan mengkonsentrasikan pada pembangunan dalam negeri.”    

     Namun demikian perubahan di Iran bukanlah soal yang gampang. Hal ini diakui pula oleh kaum profesional Iran dan diplomatnya. Kekerasan revolusi masih berada di bawah permukaan. Kaum radikal telah kehilangan kekuasaan tetapi mereka memiliki kekuasaan

untuk membawa kaum militan turun ke jalan dan menggalang kekuatan di parlemen yang beranggotakan 270 orang.

     Dua bulan lalu, sebagai contoh, parlemen mengecam Menteri Kesehatan Iraj Fazel karena menggantikan tokoh militan Islam di Universitas Teheran. Kecaman parlemen ini menyebabkan Rafsanjani mencopot Fazel dari jabatannya. Akan dengan tetapi dengan cerdik Rafsanjani menggantikannya dengan murid Fazel yang bahkan disebutkan lebih liberal dari gurunya. Sepekan kemudian, Presiden Rafsanjani menunjuk Fazel untuk duduk di Akademi Ilmu Pengetahuan.

     Meksipun sejumlah isyarat memperlihatkan adanya persaingan kekuasaan, akan tetapi kebanyakan pengamat sepakat bahwa Rafsanjani mampu mengkonsoliasikan kekuatan.

     “Ia bisa berkuasa selama satu dekade, dua tugas pentingnya adalah merekonstruksi dan mereformasi Iran,” pendapat seorang diplomat. “Jika ia tidak melakukannya, meskipun Iran memiliki peradaban tinggi, tenaga kerja banyak dan kekayaan minyak, akan menj
adi Pakistan atau Mesir.”

     Sejauh ini yang masih mampu berkuasa merembes ke segala bidang adalah Komiteh, kekuatan kemanan dalam negeri yang dibentuk setelah Revolusi 1979. Komiteh ini adalah untuk menjamin pelaksanaan hukum Islam. Suatu badan yang sama dibentuk di Arab Saudi dengan tugas mengawasi jalannya hukum Islam. Sejauh ini tidak ada kontradiksi dalam soal tersebut.

     Foto Ayatollah Khomeini, arsitek Revolusi Islam Iran, yang pernah muncul dimana-mana kini lenyap di sebagian besar tempat kecuali di gedung-gedung pemerintah. Radio juga telah menghapus acara rutin “Kata-kata dan petuah Imam Khomeini”yang disiarkan

setiap berita berita malam. Khomeini meninggal dunia 4 Juni 1989, kini setiap tahun kerapkali diadakan peringatan wafatnya tokoh besar Iran ini.

     Kaum wanita masih diperintahkan mengenakan jilbab yang menutup rambut dan seluruh tubuh. Akan tetapi toko kosmetik, dua blok dari Ministry of Islamic Guidance, masih tetap ramai dikunjungi pembeli meskipun dalam faktanya pemakaian kosmetik secara resmi tidak disukai.

                                ***

    

     DAPAT dicatat di sini sejumlah kebijakan yang diambil Rafsanjani yang memperlihatkan lebih jauh profil dirinya sebagai pembawa angin baru dalam Iran. Ia telah memulihkan hubungan dengan sejumlah negara Eropa dan menangani masalah yang sangat penting yakni hubungan dengan Washington. Kini hubungan dengan Perancis makin diperkuat.

     Beberapa pekan lalu Iran menerima Menlu Italia Gianni De Michelis, menlu pertama yang berkunjung ke Iran sejak Revolusi 1979. Setelah memulihkan hubungan dengan Inggris Desember lalu, Iran baru-baru ini membebaskan Roger Cooper, pengusaha Inggris yang ditahan selama lima tahun karena kasus spionase.

     Di samping itu Rafsanjani telah memulihkan hubungan dengan sejumlah negara yang tergabung dalam koalisi pimpinan AS saat Perang Teluk seperti  Kuwait, Persatuan Emirat Arab, Qatar, Mesir dan bahkan dengan Arab Saudi.

     Rafsanjani bahkan meluaskan hubungannya dengan berkunjung ke Suriah. Presiden Suriah Hafezz Assad memberi jaminan Iran akan diikutsertakan dalam pengaturan keamanan di Timur Tengah. Semula Iran memang dikucilkan namun karena sikapnya yang netral selama Perang Teluk dan ofensif diplomatiknya, pengaruhnya akan membesar dalam pengaturan keamanan Timur Tengah.

     Bank Dunia baru-baru ini menyetujui pinjaman 200 juta dollar, pinjaman pertama yang diterima Iran setelah Revolusi Iran. Bantuan ini ditujukan untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur akibat gempa

bumi tahun lalu.

     Sejumlah soal yang berkaitan tak langsung dengan AS dicairkan. Iran misalnya mendesak milisi Hizbullah untuk membebaskan sandera Barat yang masih ditahan di Lebanon. Selama Perang Teluk Iran menjamin akan mentaati Resolusi DK-PBB. Namun Teheran menyatakan oposisi terhadap kehadiran pasukan koalisi di Teluk.

     Tim ekonomi Rafsanjani secara terbuka bertanggung jawab atas swastanisasi, liberalisasi dan rasionalisasi, demikian pendapat Mohammad Hussein Adeli, Direktur Bank Sentral Iran.

     Di dalam negeri, Rafsanjani juga berupaya menggabungkan Komite dengan polisi reguler. Ia juga menyatukan Pengawal Revolusi Iran dengan tentara reguler. Rafsanjani berupaya menghapus dualisme fungsi pemerintahan yang membuat birokrasi menjadi panjang. Ia juga mengurangi sejumlah ulama di beberapa pos sensitif dan di sektor

kunci ekonomi. Mereka digantikan dengan teknokrat dn kelompok profesional.

     Lebih dari satu dekade setelah Revolusi yang menjatuhkan Shah Reza Pahlevi, Iran memang mengalami perubahan penting. Sikapnya semakin terbuka dan pergaulan internasionalnya mulai meluas. Sejumlah wartawan asing dari Barat seperti CNN atau NBC dapat menayangkan kehidupan sehari-hari Iran.    

     Perubahan-perubahan penting ini akan membuat Iran semakin kuat dalam peranan regional dan internasionalnya. Bahkan sesungguhnya kekuatan di Timur Tengah dalam dekade mendatang mungkin akan terletak di tangan Iran. Irak yang hancur karena Perang Teluk dan dicurigai Barat membutuhkan waktu lama untuk mengejar ketinggalannya. Situasi ini memberi peluang bagi Iran untuk tampi
l lagi sebagai kekuatan politik yang matang. (Asep Setiawan sumber IHT dan Bangkok Post)

 

Foto :

SENYUM DIPLOMATIS – Presiden Iran Hashemi Rafsanjani memberikan

senyuman diplomatis kepada Presiden Suriah Hafezz Assad di Damaskus

27 April lalu. Rafsanjani baru-baru ini mengadakan serangkaian

kunjungan ke negara tetangganya di Timur Tengah dalam satu ofensif

diplomatiknya.

 

 

KOMPAS, Minggu, 05-05-1991.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

KARTU MENAKUTKAN SADDAM

10 Monday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Middle East

≈ 1 Comment

Tags

irak, mideast

 

     PASUKAN Sekutu pimpinan Amerika Serikat (AS) pada awal perang bisa menggempur Irak habis-habisan, namun Saddam Hussein masih memiliki kartu as yang menakutkan. Taktik perang yang mengerikan itu adalah membakar minyak yang membanjiri Teluk. Tindakan ini tidak hanya mengancam ekonomi dan lingkungan Teluk tetapi lebih-lebih semua rencana militer AS.

     Sebagai jawaban atas serangan sekutu ke Baghdad, Saddam masih bisa membanjiri wilayah Teluk bagian utara dengan jutaan liter minyak. Langkah ini bisa dilakukan lewat tiga tankernya yang berlabuh di pelabuhan Kuwait atau sejumlah tanker raksasa dekat

pantai.

     Banjir minyak ini dapat menahan serangan AS ke Kuwait dari laut dan menyebabkan tercemarnya laut dengan minyak. Senjata minyak lainnya yang ampuh dari Saddam adalah meledakkan ladang minyak Kuwait di laut.

     Aliran minyak yang ditumpahkan ke laut ini bila mengenai pantai dapat menimbulkan malapetaka ekonomi. Tindakan ini akan mematikan sumber listrik dan fasilitas desalinisasi air laut. Padahal fasilitas salinisasi ini menyediakan air minum bagi Arab Saudi dan sejumlah negara lain.

     Meledakkan selusin atau mungkin ratusan sumur minyak Kuwait yang jumlahnya seluruhnya mencapai 1.080. Ledakan ini akan memenuhi langit dengan asap dan jelaga. Sejumlah analis militer bependapat, panas dan asap kemungkinan membatasi presisi senjata sekalipun yang “cerdas”.

                                ***                       

     DI SAMPING itu, beberapa ilmuwan top AS khawatir bahwa jika sumur minyak terbakar untuk berapa bulan, asapnya akan menutupi muka bumi. Akibatnya, suhu menurun dan dapat mempengaruhi iklim sampai derajat yang tidak tentu. Efeknya disebutkan tidak jauh dari “musim dingin nuklir” yang diakibatkan perang nuklir.

     Jika Saddam memilih senjata-minyak ini, keberhasilannya tergantung ke arah mana angin bertiup. Atau apakah pasang naik laut menguntungkan kekuatan sekutu atau pula apakah aliran minyak dan asap dapat terhindar dari medan tempur darat atau fasilitas industri di sepanjang pantai Saudi.

     Sejumlah pejabat industri minyak menyatakan, akan sulit mempertahankan kobaran api di laut kecuali secara terus menerus membanjirinya dengan minyak mentah yang baru. Manuver militer masih memungkinkan bila jalur api ini jika cukup jauh dari pantai.

     Laporan yang sampai ke beberapa pejabat industri minyak menyebutkan, Saddam masih memakai pilihan ini untuk mencegah pendaratan pasukan amfibi di pantai Kuwait. Saddam dapat membuka kran minyak yang tersimpan di tank lalu langsung membanjiri laut dan akhirnya melemparkan api sehingga menjadi perisai api yang sulit ditembus.

     William Kirk, jenderal pensiunan AU-AS, mengemukakan angin kuat di wilayah Teluk kemungkinan akan menghapus asap tebal yang menghalangi beberapa target militer. “Saya kira hal ini akan merupakan kesia-siaan bagi Saddam,” komentarnya.

     Mantan komandan Pusat Pertahanan Udara Taktis, Mayjen Gerald Carey, berpendapat beberapa jenis senjata memang tidak dapat menembus asap tebal misalnya rudal udara-darat Maverick yang dituntun oleh panas dan unit bom GBU-15 yang dituntun gambar

televisi atau sinar inframerah. Namun sistem penuntun radar tidak semuanya terpengaruh asap.

     Sedangkan Anthony Cordesman, staf direktur anggota Kongres dana hli militer, berpendapat, membanjiri minyak untuk mencegah pendaratan pasukan amfibi “dapat efektif secara taktis.” Taktik seperti itu disebutkan dapat menghambat operasi untuk sementara sehinggga dapat memberi waktu lebih banyak kepada Saddam untuk menyusun rencana. Namun ia menambahkan, serangan AS tidak dapat terhenti hanya karena pendaratan amfibi terhambat.

     Ahli energi AS, Badolato, mengatakan membanjiri minyak untuk menghancurkan kilang minyak, fasilitas desalinisasi dan generator listrik di Saudi, Bahrain dan Qatar, penanganan tidak lebih sulit daripada menlawan tindakan teroris pro-Irak. Badolato yang juga pernah menjadi staf dalam Pemerintahan AS periode Reagan telah mendengar rencana seperti itu. Irak dapat menyiapkan aksi itu dengan melepaskan 25 juta barel minyak atau 100 kali lebih dari minyak Exxon Valdez yang tumpah di Alaska.

     “Dalam skenario terburuk mungkin saja Saddam menghancurkan (ekonomi) Teluk,” ujar Richard Golob, penerbit Bulletin Polusi Minyak. Minyak akan merusak desalinisasi air laut dan meminyaki air sehingga tidak dapat digunakan untuk mendinginkan turbin. Fasilitas industri seperti penyulingan air juga akan hancur bila tidak mendapatkan air yang baik.

     Dikatakan, jika Saddam menghancurkan sejumlah fasilitas minyak Saudi, ada potensi serangkaian banjir minyak yang lebih dari tumpahnya minyak yang pernah ada di Ixtoc I. Peristiwa terjadi di Teluk Meksiko 1979 yang menumpahkan sekitar 532 juta liter minyak.

 

                                ***

    SEBUAH kelompok lingkungan AS, Friends of the Earth, melaporlan tumpahnya minyak setelah Irak menghancurkan sejumlah kilang minyak laut Iran 1983 menyebabkan kehancuran besar-bnesar kehidupan laut di Teluk. Secara temporer pula menghancurkan industri udang. Tempat desalinisasi air terbesar juga ditutup untuk beberapa hari.

     Ketidakpastian lebih besar datang dari efek atmosfir dari terbakarnya sumur minyak Kuwait yang tidak terkontrol. Potensi kebakarannya bisa memakan waktu berbulan-bulan. Ilmuwan AS terkemuka, termasuk Carl Sagan dari Unicersitas Cornel dan Richard Turco dan Brain Toon dari Pusat Penelitian Ames NASA, menaruh perhatian pula atas pencemaran di Teluk.

     Dalam studi pendahuluan oleh ilmuwan Eropa dan Yordania disimpulkan bahwa asap raksasa yang tebal dapat naik ke atmosfir dan menyebabkan perubahan temperatur. Sejumlah ilmuwan yakin efek dari angin moonson di India dan Asia Tenggara dan bahkan dapat menurunkan suhu di Amerika Utara.

     Sagan, salah seorang pencetus teori “musim dingin nuklir” mengatakan, efeknya dapat disamakan dengan ledakan gunung berapi Tambora di Indonesia 1815 yang disusul dengan “tahun tanpa musim kemarau”di tahun 1816 ketika New Engladn (AS) suhunya membeku dari Maret sampai Agustus.   

     Taktik Saddam yang mengerikan ini memang akan membakar Teluk bagian utara. Tidak ada lagi air laut selain lautan api. Senjata berbahaya ini masih menjadi salah satu pilihan. Menjadi bahan pertanyaan apakah Saddam mau menggunakan taktik ini demi mempertahankan wilayah Kuwait.

     Berdasarkan tindak tanduk politik dan militer Saddam agaknya terlalu gegabah untuk menyatakan mustahil ia melancarkan senjata minyak ini. Apalagi dengan pemboman bertubi-tubi dari pasukan sekutu yang jelas akan melumpuhkan pusat komando dan komunikasi maka, taktik ini menjadi salah satu pilihan utama.

     Saddam menjanjikan perang yang panjang. Ia tampak tidak akan menyerah seketika, kecuali AB-Irak sudah jenuh dan membangkang. Membakar ladang minyak juga akan sulit memulihkan Kuwait bila telah diduduki oleh pasukan Sekutu. Belum lagi efek ekonominya yang mengundang meroketnya harga minyak, asuransi dan gangguan ekonomi dunia.

 

KOMPAS, Sabtu, 19-01-1991.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Jalan panjang menuju transportasi KRL

31 Friday Oct 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ Leave a comment

Agaknya perlu sekali lagi menuliskan sebuah pengalaman betapa transportasi di Jakarta memang rumit dan pelik. Maksud hati menempuh jalan lebih cepat dan efisien, apadaya KRL di Jakarta belum mampu menembus tradisi lama: anjlok.Saya kadang tidak habis mengerti di era seperti seperti kereta anjlok masih terjadi di stasiun yang seharusnya terdepan di Jakarta, Tanah Abang. Namun apadaya kereta anjlok masih menjadi tradisi, tradisi yang seharusnya memang dihapuskan.Di tengah para pencinta KRL yang bergegas ke stasiun, menemukan kenyataan bahwa berita anjlok ini dan ditambah ada pemadaman Listrik di Manggarai menjadi sebuah berita buruk. Udara yang panas, pengap dan lampu yang temaram menambah lengkap penderitaan para penumpang.Untunglah pihak stasiun Sudirman masih rajin memberitahukan perkembangan itu dari menit ke menit. Bagi para penumpang yang sudah tidak sabar, naik bus, ojek dan taksi menjadi pilihan lain.Memang jalan panjang masih jauh untuk menemukan moda transportasi yang memenuhi kebutuhan, efektif dan efisien. Bukankah kemacetan angkutan darat menunjukkan adanya keinginan setiap orang cepat sampai ke rumah setelah bekerja seharian?Semoga memang KRL di Jabodetabek ini akan menjadi sebuah moda transportasi masa depan !

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d