• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Author Archives: Setiawan

Blog Riza Sihbudi, Atikbud KBRI Inggris

14 Friday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 1 Comment

Teman lama Riza Sihbudi diam-diam sudah tampil online dengan blognya sihbudi.com. Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI London ini sudah mengumpulkan beberapa foto dan peristiwa penting sejak Agustus.Kalau tidak ada tulisan terakhirnya di emailkan Profil Mahasiswa Indonesia di UK mungkin sudah ketinggalan mengikuti pemikiran pakar Timur Tengah ini. Wawancara saya dengan Riza mengenai bukunya belum juga di upload disini.Sebelum terbang ke Jakarta, saya juga sempat mampir di kantor Pak Riza. Ini juga terlupakan saya kirim fotonya. Saya kira perjalanan Riza ke London akan memperkaya analisa mengenai Timur Tengah dalam politik di Eropa khususnya di Inggris.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

MELONGOK KEPENTINGAN AS

10 Monday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Middle East

≈ Leave a comment

Tags

Amerika Serikat, Teluk

                       

     MENGAPA AS menilai penting Teluk Parsi? “Apa yang dipertaruhkan adalah lebih dari sekadar ekonomi atau minyak. Apa yang menjadi taruhan adalah, apakah negara-negara di dunia mampu bersama-sama berdiri menentang agresi, apakah kita hidup di dunia yang diatur hukum atau diatur hukum rimba,” kata Presiden AS George Bush.

     Apakah pernyataan Bush ini benar, sangat tergantung dari pada masa kelak nanti, di kala dokumen-dokumen rahasia mulai diungkapkan, mengenai apa sebetulnya intensi AS di Timur Tengah. Dan apa pula kepentingannya ikut melibatkan diri di Perang Teluk.

     Tetapi Perang Teluk bukan kejadian pertama AS mengirim pasukan dan mesin perangnya ke Timur Tengah. Ini juga bukan pertama kali AS mengerahkan segalanya untuk mempertahankan Kuwait. Musim panas tahun 1958, mereka sudah melakukan itu. Pada saat itu, penggelaran 14.000 serdadu di Beirut untuk mendukung pemerintahan pro-Barat, dinilai sebagai salah sebuah episode Perang Dingin; operasi itu dipicu oleh kudeta anti-Barat di Irak, sembari menahan lajur komunisme di Lebanon. Menurut beberapa dokumen yang terungkap belum lama ini, ternyata kepentingan AS di kawasan itu lebih dari sekadar mempertahankan hak negara-negara kecil, atau menentang agresi, atau

ingin mengamankan tata dunia.

     Tanggal 14 Juli 1956, sekelompok komunis, nasionalis, pecinta Presiden Mesir Gammal Abdul Nasser, mendongkel rezim di Irak yang dipimpin PM Nuri Said dan menjadi pemerintahan boneka Inggris. Gerakan di Mesir ini mengakibatkan keguncangan di kawasan tersebut, membuat negara-negara Barat segera mewaspadainya dengan cara mendukung rezim-rezim pro-Barat di Lebanon dan Yordania.

     Saat itu, The New York Time menulis bahwa Irak adalah sumber minyak bumi yang tidak ada penggantinya buat kepentingan Barat, dan menjadi poros penting dari Pakta Baghdad (aliansi Turki, Pakistan, Irak, Iran dan Inggris), serta menjadi basis terakhir pengaruh Barat di kawasan. Memang Nuri Said menjadi antek AS dan Inggris dalam rangka menghambat pengaruh pemerintah kiri di Suriah yang waktu itu berperanan penting di kawasan.

     Kudeta 14 Juli itu dinilai sebagai pukulan buat AS. Nasser dan Uni Soviet dituding sebagai biang keladi kudeta. Sejak kudeta di Irak berhasil, Inggris selalu berteriak-teriak bahwa kudeta sama akan terjadi di Kesultanan Kuwait, lalu menyembah-nyembah AS agar segera mengirim pasukan ke Irak. Bagaimana AS bereaksi?

     Ketika berita kudeta di Irak sampai di Washington pagi hari tanggal 14 Juli itu, diadakan sidang yang dipimpin Menlu John Foster Dulles, dihadiri Pangab Nathan Twining dan Direktur CIA Allan Dulles, sebelum menghadap Presiden Dwight Eisenhower. Menurut hasil rapat, yang tertuang dalam sebuah dokumen, rapat setuju bahwa jikalau AS tak berbuat apa pun, maka: Nasser akan menguasai kawasan; AS akan kehilangan pengaruh bukan saja di negara-negara Arab dan Timur Tengah tetapi juga di kawasan secara keseluruhan, serta

pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan akan berada dalam mara bahaya; dan komitmen AS di seluruh dunia akan dipertanyakan.

    

Tak ada alternatif

     Menurut rapat itu pula, Jenderal Twining harus mengirim pasukannya, tak ada alternatif lain. Sisa tulisan dalam dokumen itu sudah dihapuskan, tetapi menurut William Quandt, pejabat senior Dewan Keamanan Nasional, Jenderal Twining mengusulkan pengiriman pasukan AS ke Lebanon, pasukan Inggris ke Irak dan Kuwait, pasukan Israel ke Tepi Barat, dan pasukan Turki ke Suriah. Diusulkan pula, PBB dijadikan semacam “payung”, dan ada risiko Uni Soviet bereaksi sehingga memecahkan perang besar melawan musuh bebuyutan AS itu.

     Untungnya, Eisenhower tidak menerima usulan Jenderal Twining, sekalipun PM Inggris Harold MacMillan menyetujuinya. Memang, menurut asumsi Barat waktu itu, kekuatan pro-Nasser akan membahayakan kepentingan militer dan bisnis minyak Barat. Di Kuwait sudah ada British Petroleum dan Gulf Oil, di Arab Saudi sudah ada ARAMCO, konsorsium minyak internasional juga sudah hadir di Iran, di Irak ada Inggris dan Perancis yang menguasai seperempat dari saham

perusahaan minyak nasional Irak.

     Eisenhower lebih berkepentingan dengan kebangkitan komunisme di Timur Tengah, sehingga dia lebih memprihatinkan nasib Presiden Lebanon Camille Chamoun yang pro-Barat dan memeluk erat Doktrin Truman, serta dengan jelas meminta bantuan. Eisenhower sejak lama memang mau “masuk” ke Lebanon meskipun subversi komunisme internasional tidak pernah ada.

     Di hadapan Kongres, Eisenhower membenarkan pengiriman pasukan ke Lebanon karena negara itu terancam Irak. Di lain pihak, Uni Soviet dan Gerakan Non Blok waktu itu segera mengecam pengiriman pasukan AS itu. AS segera mengirim unit senjata nuklirnya di Jerbar, ke Lebanon. Uni Soviet menanggapi dengan memperkuat wilayahnya yang berbatasan dengan Turki dan Irak. Nampaknya perang dunia sudah di ambang pintu. Eisenhower juga mengirimkan marinirnya dari Okinawa ke Teluk Parsi, dengan tujuan mencegah invasi Irak ke Kuwait. Begitu gawatnya situasi, Eisenhower sempai mempertimbangkan pula penggunaan senjata nuklirnya.

     Krisis berakhir karena akhirnya semua pihak menahan diri. Rezim baru di Irak ternyata tidak segalak yang dikira, yang takkan bisa menahan nafsu menyerbu Kuwait. Rezim di Lebanon yang tidak disukai rakyatnya akhirnya digantikan Jenderal Fuad Chehab yang diterima berbagai pihak di dalam negerinya, dan Nasser tidak menggembar-gemborkan nasionalisme Arab ke seluruh kawasan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.

     Saddam Hussein tadinya pun dikategorikan sebagai “sekutu” AS untuk menghadapi Iran. Saddam selamanya memang selalu “setia”, sampai akhirnya menjadi musuh ketika dia menyerbu Kuwait. Dari kasus kudeta Irak tahun 1956, dan juga Perang Teluk, nampak jelas bahwa AS akan mau mengakomodasi kepentingannya, dan akan mengambil tindakan apa pun, yang disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di kawasan. Tetapi satu hal yang perlu digarisbawahi, sikap akomodatif itu sangat tergantung dari apakah perubahan-perubahan itu akan membahayakan kepentingan strategis dan ekonomi (minyak) negeri adi daya itu.

  

KOMPAS, Minggu, 19-01-1992.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

PETA BARU POLITIK TIMUR TENGAH

10 Monday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Middle East

≈ Leave a comment

Tags

Timur Tengah

 

     KRISIS Teluk yang berlanjut dengan meletusnya perang telah mengubah peta politik Timur Tengah. Setahun sudah lewat konflik mencekam di Teluk Persia akibat serbuan Irak ke Kuwait 2 Agustus dini hari. Perubahan itu tidak hanya dialami oleh hubungan

antarnegara Timur Tengah, namun juga hubungan antara AS dengan Uni Soviet, serta hubungan keduanya dengan negara-negara di Timur Tengah.

     Pola hubungan itu di satu sisi memperkuat koalisi beberapa negara, tetapi di sisi lain justru memperlemahnya. Pola yang sedang berubah ini juga mengakibatkan hilangnya sejumlah isu peka dan memunculkan isu lainnya. Namun demikian isu sentral mengenai nasib bangsa Palestina tetap menjadi agenda utama negara-negara Arab dalam manuver politiknya. Sepanjang sejarah modern, isu Palestina telah menjadi alat pemersatu dan namun juga pemecah belah bangsa Arab.

     Persatuan bangsa Arab tampak sekali tatkala dari berbagai negara bergabung dalam satu front yang menyerang Israel dalam Perang Oktober 1973. Tadinya serbuan spektakuler ini ditujukan untuk menaklukan Israel dan mengembalikan hak-hak bangsa Palestina, namun di tengah pertempuran yang menunjukan bangsa Arab akan menang, AS turun tangan. Saat itulah titik balik terjadi yang merugikan front

persatuan Arab.

     Tampaknya AS dan bangsa Yahudi belajar banyak dari kasus yang hampir melenyapkan Israel di peta Timur Tengah. Keduanya, terutama AS, menjalin hubungan lebih erat dengan sejumlah negara moderat di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Kedua negara memang sudah lama menjalin persahabatan, khususnya karena hubungan minyak sejak tahun 1930-an. Persahabatan juga dibina lewat Mesir, salah satu negara

terkemuka di dunia Arab.

     Lewat dua pijakan ini AS mendapat kebebasan di dunia Arab meskipun tetap bisa mempertahankan persahabatannya dengan negara musuh Arab, yakni Israel. Jelaslah AS bisa menjalin hubungan ini dengan baik. Lewat kelonggaran itu AS bisa menetralisasi kekuatan

anti-AS yang muncul di beberapa negara Arab, bahkan bisa menundukkannya. Peluang itu pula yang digunakan untuk membujuk negara-negara Arab dan Israel duduk bersama dalam konferensi perdamaian Timur Tengah.

                  

Peta lama

     Sekurang-kurangnya ada tiga front dalam peta politik Timur Tengah. Pertama, koalisi negara-negara Teluk pimpinan Arab Saudi. Dalam koalisi ini tergabung Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Oman, Emirat Arab dan Kuwait. Mereka menyebut diri Dewan Kerja sama Teluk (GCC = Gulf Countries Council). Negara-negara kecil keemiran di Teluk ini

dari segi wilayah tidak begitu luas, namun dari segi kekayaan melebihi negara-negara di sekitarnya.

     Kedua, koalisi antara Irak, Yaman, Yordania dan Mesir. Koalisi ini semula sangat kuat namun mendapat cobaan sangat berat dengan manuver politik Mesir di bawah Presiden Anwar Sadat tahun 1979. Akibat manuver itu Mesir dikucilkan negara-negara Arab lainnya karena dianggap mengkhianati kesepakatan negara-negara Arab mengenai Palestina dan Israel. Bahkan lebih tragis lagi, manuver itu langsung atau tidak langsung membawa maut bagi Sadat. Ia dibunuh tentaranya sendiri saat berlangsungnya suatu parade militer.

     Namun Mesir yang memang karena luasnya wilayah, padatnya populasi dan pengaruh intelektualnya, kembali muncul sebagai salah satu negara leading di Timteng. Dalam Liga Arab, kewibawaan Mesir tampaknya kembali pulih. Pesan Presiden Hosni Mubarak dalam mendorong pembentukan pasukan multinasional Arab ketika krisis Teluk, mendapat sambutan cukup luas. Ini memperlihatkan bahwa jejak masa lalu, ketika Mesir sempat tersisih, tidak lagi tampak. Mesir kembali ke penampilan puncak dalam peta politik Timur Tengah.

     Daya kohesi koalisi ini memperoleh puncaknya awal tahun 1980-an. Presiden Irak Saddam Hussein, Raja Hussein dari Yordania, Presiden Mubarak dan Presiden Yaman, sangat kompak. Secara tak langsung koalisi ini mendapat perimbangan dari GCC yang memadukan kekuatan ekonomi dengan politik.

     Ketiga, koalisi negara-negara Magribi seperti Tunisia, Sudan, Marokko, Aljazair dan Libya. Memang ada kontroversi apakah negara-negara Afrika ini wajar dimasukkan dalam kancah polit
ik Timur Tengah. Namun identitas Arab yang melekat di negara-negara ini menyebabkan pemisahan itu kurang relevan.

     Salah satu perbedaannya bahwa isu Palestina maupun isu-isu Arab lainnya tidak terlalu ketat mempengaruhi percaturan politik dalam negeri. Bahwa isu itu tidak terlalu melekat di negara-negara ini banyak dipengaruhi faktor geografis semata-mata. Jauhnya wilayah ini dari pusat pergolakan menyebabkan gemanya tidak terlalu besar. Hanya patut diberi catatan, negara itu mengidentifikasikan diri sebagai negara Arab. Bila dilacak di masa lalu pada jaman keemasan Islam, maka kultur negara itu dapat dipahami bila disebut “Arab”.

     Ada satu negara yang tidak dapat dipisahkan dari medan politik Timur Tengah namun bukan termasuk rumpun bangsa Arab adalah Republik Islam Iran. Semula AS menaruh kepercayaan kepada Iran di bawah pimpinan Shah Reza Pahlevi, namun skenario yang diinginkan AS itu berantakan dengan pecahnya revolusi di Iran.

     AS semula ingin Teheran berperan sebagai polisi Timur Tengah sesuai dengan kepentingannya. Rencana itu kini sulit dialihkan ke negara lain. Kecewanya AS dengan rencana itu menyebabkan Washington mendorong negara-negara Arab menyokong Irak dalam perang melawan Iran. Ijin bebas kepada Irak mempersenjatai diri melawan Iran telah menjadi bumerang bagi AS. Delapan tahun masa perang melawan Iran telah memberi peluang untuk memiliki persenjataan modern lewat Barat.

     Tiga koalisi Arab ini bergabung dalam forum yang lebih besar,yakni Liga Arab. Persaingan dalam liga ini pun bukan hal yang ringan. Untuk memperoleh pengaruh dalam liga, setiap kelompok maupun negara secara individual mencari dukungan terhadap peranan masing-masing. Seperti diungkapkan sebuah sumber di Arab Saudi, “Di Liga

Arab ini banyak crazy leaders.”

 

Koalisi baru

     Jalan ke arah pembentukan koalisi ini sudah terjadi melalui Perang Teluk. Koalisi pertama jelas akan lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Keenam negara itu meningkat kekompakannya. Kekompakan itu tidak hanya dalam soal-soal politik, namun lebih dalam bentuk kebersamaan.

     Hampir semuanya berbentuk monarki atau monarki republik, semuanya memiliki kekayaan minyak, jumlah penduduknya tidak besar dan kekuatan militer tak begitu kuat. Nasib yang sama diantara keenam negara Teluk ini jelas akan mempertebal kerbersamaan mereka.Kebersamaan sudah tampak di awal pembentukan GCC, terlihat dari banyakya pertemuan dan kerja sama.      

     Apalagi kasus Kuwait yang diduduki Irak dengan klaim sejarah, akan mempertajam daya pengawasan mereka terhadap potensi ancaman dari luar. Sebenarnya ancaman terhadap Kuwait dari Irak sudah terjadi beberapa kali, ancaman itu sekarang lebih besar karena didukung persenjataan lengkap.

     Mesir memasuki koalisi ini meskipun tidak bergabung ke dalam GCC. Ini karena semata-mata soal geografis. Namun nama Mesir diantara keenam negara itu akan diingat selalu, khususnya saat penyelesaian isu Kuwait. Nama seperti Marokko, Pakistan, Banglades dan Suriah juga tidak akan hilang begitu saja dalam format politik baru nanti.

     Ada hal yang unik sebenarnya berkaitan dengan Suriah. Negeri

itu memang tidak dapat disangkal lagi pemimpinnya, Hafez Assad, tokoh yang bersaingan secara pribadi dengan Saddam. Suriah juga tidak begitu dekat dengan beberapa negara Teluk, namum berkat soal Kuwait ini kehadirannya sangat terasa.

     Nama Suriah kembali disebut disamping Mesir dalam pengaturan keamanan di Teluk. Fenomena ini memperlihatkan akses Suriah memasuki pentas politik Arab semakin besar. Di sisi lain kecurigaan terhadap Suriah sebagai eksponen pengekspor gerakan teroris, berkurang.

     Suriah memanfaatkan dengan baik momentun terjadinya Perang Teluk. Ketika sedang hangat-hangatnya krisis, Suriah menggempur posisi Jederal Michel Aoun di Lebanon. Assad juga mengukuhkan kehadirannya di Lebanon dengan mendukung pemerintah yang berkuasa. Lewat tangan Suriah inilah, milisi bersenjata setiap faksi yang menguasai Beirut dipaksa ditarik mundur. Suara Suriah menerima gagasan untuk berunding dengan Israel adalah salah satu ciri format baru politik di Timur Tengah.

     Kolisi kedua tentu saja pecah karena Mesir sulit diajak duduk dengan Irak saat ini. Tetapi di pihak lain, Irak, Yordania dan Yaman akan semakin kuat pula daya lekatnya. Nasib di Perang Teluk memperjelas posisi mereka. Selama ini Yordania dengan jelas memihak Irak, sedangkan Yaman tidak begitu tampak. Akan tetapi banyak pihak menilai Yaman adalah negara pro-Irak.

     Koalisi ketiga tidak begitu jelas. Kebanyakan menjaga jarak dengan situasi di Timur Tengah. Libya sama sekali tidak banyak manuvernya menangani soal Teluk kecuali mengecam Irak dan pada saat bersamaan mengecam kehadiran pasukan AS dan Barat.

     Perubahan pola hubungan ini tergantung dari banyak perkembangan di Teluk yang akan terus berjalan. Setidaknya daya ikat dan longgar antarsejumlah negara yang bertahan kurang dari satu dekade. Dengan kata lain pengucilan Irak dan eksponennya mungkin akan berangsur hilang dalam sepuluh tahun mendatang, kecuali ada insiden yang mengubah secara drastis misalnya perang baru.

     Namun, seperti diungkapkan seorang diplomat Indonesia di Mesir, dunia Arab kadang-kadang pecah, kadang-kadang bersatu. Dengan demikian tidak perlu heran ada perpecahan seperti sekarang karena akan kembali kepada kestabilan semula. Setiap negara Arab pada dasarnya berkeinginan bersatu lagi seperti sediakala.

     Keinginan itu tidak selalu terwujud karena adanya faktor luar yang ikut mempengaruhi jalannya percaturan politik Timur Tengah. Dapat disebutkan disini faktor itu antara lain negara-negara besar seperti AS, Inggris, Uni Soviet dan Israel. (Asep Setiawan)

 

TEKS FOTO:

Rtr/Ant

 

NASIB PALESTINA –  Nasib Bangsa Palestina tetap menjadi isu inti

percaturan politik Timur Tengah. Pemimpin Organisasi Pembebasan

Palestina (PLO) Yasser Arafat tampil dalam sebuah wawancara hari

Minggu (4/8). Ia memihak Irak dalam Perang Teluk sehingga namanya

nyaris tidak dipercaya lagi oleh negara-negara Teluk.

 

 

KOMPAS, Selasa, 06-08-1991.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d