Rencana Aneksasi Israel terhadap Tepi Barat Berbahaya

Tags

, ,

Rencana aneksasi Israel terhadap 30 persen Tepi Barat merupakan langkah yang berbahaya bagi perdamaian di Timur Tengah. Rencana ini jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum internasional setelah pendudukan terhadap Tepi Barat yang sudah berlangsung 70 tahun ini. (to be continued)

Indonesia Perlu Antisipasi Perubahan Global

Tags

, ,

PERUBAHANglobal akibat pandemi Covid-19 sudah dirasakan setiap orang yang hidup di planet bumi. Bahkan perubahan sudah dirasakan oleh berbagai negara yang menghadapi pandemik ini.

Sampai 28 Juni dari data yang dirilis Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar 9,7 juta orang sudah terkena virus corona yang diketahui berasal dari Wuhan Desember 2019. Dari jumlah tersebut, di tingkat global sekitar 494 ribu orang meninggal dan 2.754 di antaranya meninggal di Indonesia.

Dengan penyebaran di dunia mencapai 216 negara maka tidak dapat disangsikan lagi inilah wabah paling hebat di awal abad ke-21 ketika dunia bersiap menghadapi era baru globalisasi di berbagai sektor. Berbagai perkiraan pertumbuhan ekonomi yang semula optimis di akhir 2019, maka sampai Juni berbagai data menunjukkan situasi ekonomi dunia menuju resesi.

Dengan tingkat korban yang terus bertambah serta situasi ekonomi, sosial, dan budaya yang tidak menentu ini jelas bahwa kehidupan umat manusia tidak lagi akan sama dengan berbagai perkiraan dari lembaga apapun yang kredibel. Variabel pandemi ini telah mengubah perjalanan hidup manusia, baik interaksi antarmanusia maupun interaksi antarnegara.

Baca selanjutnya di medcom

 

 

 

Amerika Serikat Hadapi Covid-19

Tags

, , ,

More than 100 days into the coronavirus pandemic, here’s where things stand in the United States: 2.3 million people have been infected, and some 120,000 people — more than in any other country — have died. Early epicenters like New York and New Jersey appear to have gotten their outbreaks under control, but several new hot spots have emerged, including in Florida, Texas and Arizona, where daily case counts are higher than ever.

Demikian kalimat dalam editorial New York Times 23 Juni 2020. Dilema antara kepentingan elit politik dengan kenyataan bahwa virus corona ini sulit dikendalikan menjadi bagian tak terpisahkan bagaimana korban di Amerika Serikat menduduki ranking 1.

Idealnya sebuah negara adidaya seperti Amerika Serikat “mudah” menghadapi ancaman pandemi ini. Alasannya antara lain, pemerintahan modern, teknologi yang canggih, infrastruktur kesehatan yang memadai ditambah lagi anggaran yang relatif besar.

Lalu mengapa jumlah penderita pandemi ini terus bertambah? Salah satu yang diduga penyebab bukan ketidakmampuan aparatur kesehatan atau kekurangan anggaran namun leadership yang lemah. Leadership saat ini dibayangi kepentingan pemilu 2020 daripada memfokuskan kepada penyehatan rakyatnya.

Ini menjadi pembelajaran bagi banyak negara bahwa jika leadership yang diberi amanat menjaga negara, menaga rakyat sibuk dengan kepentingan dirinya agar terpilih kembali maka yang jadi korban adalah rakyat kebanyakan. Pilihan kebijakan menjadi bias. Perdebatan kebijakan juga tidak lagi bisa berimbang karena kursi leadership itu yang diincar.

Bandingkan dengan negara lain seperti China dan Rusia misalnya. Ketika China harus menghadapi virus corona pertama kali di Wuhan sejak Desember, leadership nya tegas dan fokus kepada penyelamatan. Lockdown sekitar dua atau tiga bulan dan nyaris selesai.

Crisis leadership, sebagian pihak menyebut menjadi penting jika tidak dikaitkan denga kursi pemilu.