• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Islam

KEMULIAAN HARI ARAFAH: PUNCAK KESEMPURNAAN IBADAH DAN AMPUNAN ILAH

26 Tuesday May 2026

Posted by Setiawan in Islam

≈ Leave a comment

Tags

Arafah, Haji

Oleh

Asep Setiawan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. رَبَّنَا افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الرَّحْمَةِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن*”Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas junjungan para nabi dan rasul, serta keluarga dan para sahabatnya. Ya Tuhan kami, bukakanlah untuk kami pintu-pintu rahmat, dan tolonglah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Amin, ya Tuhan semesta alam.”*Hadirin rahimakumullah, pernahkah kita merenungkan mengapa Allah SWT menciptakan waktu-waktu istimewa dalam kehidupan ini? Mengapa ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan? Mengapa ada hari yang ampunannya mengalir seperti hujan rahmat yang turun dari langit? Hari ini, marilah kita menyelami kedalaman makna spiritual dari salah satu hari paling agung dalam kalender Islam – **Hari Arafah**.Hari Arafah bukan sekadar tanggal dalam kalender. Ia adalah puncak kesempurnaan ibadah haji, titik kulminasi perjalanan spiritual jutaan umat Muslim, dan momen di mana pintu-pintu langit terbuka lebar untuk menerima doa dan taubat setiap hamba. Seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran:الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا*”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.”* (QS. Al-Maidah: 3)Ayat ini turun di Arafah, menandai kesempurnaan ajaran Islam dan kemuliaan luar biasa dari hari tersebut.Hari Arafah Sebagai Puncak Kesempurnaan SpiritualBayangkan sebuah gunung yang menjulang tinggi, dan di puncaknya berdiri jutaan manusia dengan pakaian putih yang sama, tanpa membedakan suku, bangsa, atau status sosial. Mereka berdiri di bawah terik matahari, berdoa dengan penuh khusyuk, menangis dalam keheningan yang sakral. Inilah pemandangan Arafah yang digambarkan oleh Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah sebagai “surga dunia bagi orang-orang yang beriman.”Hari Arafah mengajarkan kita tentang esensi kesetaraan manusia di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara raja dan rakyat, kaya dan miskin, tua dan muda. Semua berdiri dalam keadaan yang sama, mengenakan pakaian ihram yang sederhana, memohon ampunan kepada Sang Pencipta. Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, mantan Grand Syeikh Al-Azhar, pernah berkata, “Arafah adalah cermin kehidupan akhirat, di mana semua manusia akan berkumpul tanpa perbedaan status duniawi.”Rasulullah SAW bersabda:مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ*”Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka selain hari Arafah.”* (HR. Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa hari Arafah adalah hari pembebasan massal dari siksa neraka. Subhanallah! Betapa agung hari ini sehingga Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya.Keutamaan Puasa Arafah bagi Non-Jamaah HajiBagi kita yang tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji, Allah memberikan kesempatan emas untuk merasakan keberkahan hari Arafah melalui puasa. Imam An-Nawawi dalam “Al-Majmu'” menjelaskan bahwa puasa Arafah bagi non-jamaah haji memiliki keutamaan yang luar biasa.Rasulullah SAW bersabda:صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ*”Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah akan menghapus (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.”* (HR. Muslim)Bayangkan, hanya dengan berpuasa sehari, kita bisa mendapat ampunan dua tahun! Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya “Fiqh As-Shiyam” menjelaskan bahwa ini adalah manifestasi rahmat Allah yang tak terbatas. Puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi upaya mensucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.Doa di Hari Arafah – Senjata Paling AmpuhPernahkah Anda merasakan momen di mana doa mengalir begitu khusyuk dari hati yang paling dalam? Di hari Arafah, seakan-akan ada jalan khusus yang menghubungkan langsung antara hamba dan Tuhannya. Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan bahwa doa di hari Arafah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki hari lainnya.Rasulullah SAW bersabda:خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ*”Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah: Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”* (HR. Tirmidzi)Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam “Majmu’ Fatawa” menjelaskan bahwa kalimat tauhid ini adalah doa terbaik karena mengandung pengakuan terhadap keesaan Allah, penyerahan total kepada-Nya, dan keyakinan akan kekuasaan-Nya yang mutlak.Pelajaran Kehidupan dari ArafahHari Arafah mengajarkan kita tentang persiapan menghadapi hari pembalasan. Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Muhammad Ratib An-Nabulsi dalam ceramah-ceramahnya, “Arafah adalah latihan untuk hari kiamat.” Di sana, jutaan manusia berkumpul, menunggu dalam ketidakpastian, berharap mendapat ampunan, dan takut akan penolakan.Imam Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” menggambarkan bahwa kondisi psikologis jamaah haji di Arafah sangat mirip dengan kondisi manusia di padang Mahsyar. Ada perasaan was-was, harap, cemas, dan pada saat yang sama, ada keyakinan penuh terhadap rahmat Allah. Inilah yang membuat hari Arafah begitu istimewa – ia menghadirkan rasa takut dan harap secara bersamaan. Dimensi Sosial dan Kemanusiaan Hari ArafahKeagungan hari Arafah tidak hanya terletak pada dimensi spiritual individual, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan universal yang diajarkannya. Prof. Dr. Muhammad Imara, pakar pemikiran Islam kontemporer, dalam bukunya “Islam and Humanity” menjelaskan bahwa Arafah adalah laboratorium praktis untuk mewujudkan persaudaraan global.Di Arafah, kita melihat bagaimana manusia dari berbagai benua, bahasa, dan budaya dapat bersatu dalam satu tujuan. Tidak ada yang membedakan mereka kecuali ketakwaan. Ini adalah pelajaran berharga bagi dunia modern yang sering terpecah oleh konflik etnis, ras, dan ekonomi.Hadirin yang dirahmati Allah, hari Arafah telah mengajarkan kita bahwa keagungan sejati bukan terletak pada harta, pangkat, atau keturunan, tetapi pada ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT. Setiap tahunnya, jutaan muslim dari seluruh dunia berkumpul di tanah suci itu, bukan untuk memamerkan kekayaan atau status, tetapi untuk menunjukkan kerendahan hati dan ketundukan kepada Sang Pencipta.Mari kita jadikan momentum hari Arafah ini sebagai titik balik dalam kehidupan spiritual kita. Bagi yang tidak berkesempatan berhaji, mari manfaatkan hari ini dengan berpuasa, memperbanyak dzikir, dan berdoa dengan penuh khusyuk. Bagi yang pernah merasakan kemegahan Arafah, jadikanlah pengalaman itu sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna.Ingatlah bahwa hari Arafah hanyalah sekali dalam setahun, tetapi semangat Arafah – yaitu semangat taubat, persaudaraan, dan ketundukan kepada Allah – harus kita hidupi setiap hari. Semoga Allah memberikan kita semua kesempatan untuk merasakan langsung kemegahan hari Arafah di tanah suci, dan semoga amal ibadah kita di hari yang mulia ini diterima di sisi-Nya.اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْحُجَّاجِ الْمَبْرُورِينَ وَالسُّعَاةِ الْمَشْكُورِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن*”Ya Allah, sampaikanlah kami untuk menunaikan haji ke Baitullah yang suci, jadikanlah kami termasuk jamaah haji yang mabrur dan sa’i yang bersyukur, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, keluarga dan para sahabatnya dengan salam yang banyak. Amin, ya Tuhan semesta alam.”

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

ARAFAH: PUNCAK MAHABBAH DAN MAGFIRAH YANG MENGGETARKAN JIWA

25 Monday May 2026

Posted by Setiawan in Islam

≈ Leave a comment

Tags

Haji, Islam

Oleh

Asep Setiawan

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ***

“Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Engkau yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

Saudaraku seiman, tahukah kalian bahwa di atas hamparan pasir Arafah yang gersang itu, tersimpan keajaiban yang mampu mengubah takdir seorang hamba? Bahwa di sinilah Allah SWT menurunkan rahmat-Nya bagaikan hujan yang membasahi bumi kering?

Hari Arafah bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum spiritual yang mengguncang alam semesta.Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah berkata bahwa Arafah adalah hari di mana pintu langit dibuka selebar-lebarnya, dan doa-doa hamba naik tanpa penghalang. Inilah saatnya kita menyelami keagungan hari yang dijuluki **”يَوْمُ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ”** (Yaumul Hajjil Akbar) – Hari Haji yang Agung. Arafah Sebagai Puncak Kesempurnaan AgamaPernahkah kita merenungkan mengapa Allah memilih Arafah sebagai tempat turunnya ayat penyempurna agama? Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

**مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ**

*”Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba-Nya dari neraka selain hari Arafah.”*Dr. Muhammad Sayyid Tantawi, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam karyanya “Tafsir Al-Wasith” menjelaskan bahwa Arafah melambangkan puncak ketundukan dan pengakuan hamba kepada Tuhannya. Di sinilah ayat **الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ** (Al-Yawma akmaltu lakum dinakum) –

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agama kalian” turun sebagai mahkota kesempurnaan Islam.Bayangkan, saudaraku! Di hamparan tanah seluas 10,4 kilometer persegi itu, berkumpul jutaan manusia dari berbagai suku, bangsa, dan warna kulit, berdiri dalam kesetaraan mutlak di hadapan Allah. Tidak ada yang membedakan raja dengan rakyat, kaya dengan miskin, putih dengan hitam.

Inilah manifestasi nyata dari firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang kemuliaan manusia yang hanya diukur dari ketakwaannya. Magfirah yang Mengalir Deras di ArafahProfesor Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam “At-Tafsir Al-Munir” mengungkapkan bahwa Arafah adalah “محطة الغفران الكبرى” (mahattatul gufranil kubra) – stasiun besar pengampunan. Di hari ini, Allah SWT turun ke langit dunia dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, membanggakan para hamba-Nya kepada para malaikat.Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:*

*إِنَّ اللَّهَ يُبَاهِي بِأَهْلِ عَرَفَاتٍ أَهْلَ السَّمَاءِ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا غُبْرًا**

*”Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk Arafah kepada penduduk langit, lalu berkata: ‘Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu.'”*Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa “شُعْثًا غُبْرًا” (syu’tsan gubran) menggambarkan kondisi fisik yang lelah namun jiwa yang berkobar-kobar dengan cinta kepada Allah. Mereka rela meninggalkan kemewahan dunia demi meraih keridhaan Ilahi.Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam “Fiqh Az-Zakat” menekankan bahwa wukuf di Arafah mengajarkan kita tentang **”الفناء في الله”** (al-fana fi Allah) – lebur dalam cinta kepada Allah.

Di sinilah jiwa-jiwa yang terluka oleh dosa-dosa masa lalu menemukan obat penawarnya, yaitu rahmat Allah yang tak terbatas.Arafah Sebagai Cermin Hari KiamatSaudaraku, pernahkah kalian membayangkan betapa menakjubkannya pemandangan di Arafah? Jutaan manusia berpakaian serba putih, berdiri di bawah terik matahari, dengan tangan terangkat memohon ampunan.

Inilah gambaran kecil dari hari kebangkitan nanti!Imam Ibnu Katsir dalam “Tafsir Al-Quran Al-Azhim” menjelaskan bahwa wukuf di Arafah adalah **”بروفة يوم القيامة”** (brufa yaumil qiyamah) – gladi resik hari kiamat. Di hari itu, semua manusia akan berkumpul di satu padang yang luas, menunggu keputusan Allah tentang nasib mereka.Syaikh Muhammad Mutawalli Ash-Sha’rawi dalam “Tafsir Ash-Sha’rawi” mengungkapkan hikmah mendalam: “Allah hendak menunjukkan kepada kita bagaimana rasanya berdiri di hadapan-Nya tanpa perantara, tanpa hijab, hanya dengan amal perbuatan sebagai bekal.”Mari kita renungkan firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 27-28:**وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ * لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ***”Dan serulah manusia untuk menunaikan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”

Doa Mustajab dan Rahasia Spiritual Arafah

Dr. Muhammad Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin Al-Ashr” menyebutkan bahwa Arafah adalah **”ساعة الإجابة العظمى”** (sa’atul ijabah al-uzhma) – saat mustajab yang agung. Di sinilah doa-doa naik tanpa penghalang, menembus langit-langit dunia, mencapai Arsy Allah SWT.Rasulullah SAW mengajarkan doa terbaik di hari Arafah:**خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ***”Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.”*Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat tahlil ini mengandung enam dimensi spiritual: pengakuan keesaan Allah, penafian sekutu, pengakuan kepemilikan-Nya atas alam semesta, pujian kepada-Nya, pengakuan kekuasaan-Nya, dan ketundukan mutlak hamba.Saudaraku seiman, hari Arafah telah mengajarkan kita bahwa keagungan sejati bukanlah terletak pada kemewahan duniawi, melainkan pada kedekatan dengan Allah SWT. Di padang Arafah yang tandus itu, terpancar cahaya iman yang menerangi jiwa-jiwa yang gelap, mengalir sungai rahmat yang membasahi hati-hati yang kering, dan terbuka pintu taubat yang selebar langit dan bumi.Barangsiapa yang merasakan dahsyatnya wukuf di Arafah, atau bahkan hanya merenungkan keagungannya dari kejauhan, sesungguhnya ia telah menyentuh sebagian dari keindahan surgawi. Karena Arafah adalah jendela menuju ma’rifatullah – pengenalan yang hakiki kepada Allah SWT.Mari kita jadikan momentum Arafah ini sebagai titik balik kehidupan kita. Meski kita tidak berada di sana secara fisik, namun jiwa kita dapat hadir bersama mereka yang berwukuf, dengan memperbanyak dzikir, doa, dan istighfar. Karena sesungguhnya, barangsiapa yang menghidupkan hari Arafah dengan ibadah dan taubat nasuha, Allah akan mengampuni dosa-dosanya sebagaimana Dia mengampuni mereka yang berwukuf di Arafah.**رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ * رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ * وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ***”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”***آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِي

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Menyingkap Hikmah di Balik Turunnya Surat Al-Adiyat: Refleksi Spiritual untuk Kehidupan Modern

24 Tuesday Mar 2026

Posted by Setiawan in Islam

≈ Leave a comment

Tags

Islam

Oleh

Asep Setiawan

Dalam khazanah Al-Quran yang agung, setiap surat memiliki keistimewaan tersendiri, baik dari segi pesan, konteks turunnya (asbabun nuzul), maupun nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Surat Al-Adiyat, surat ke-100 dalam Al-Quran yang terdiri dari 11 ayat, merupakan salah satu surat Makkiyah yang sarat dengan pesan mendalam tentang hakikat manusia dan peringatan tentang hari akhir. Artikel ini akan mengupas secara komprehensif tentang asbabun nuzul Surat Al-Adiyat, tafsirnya dari berbagai perspektif ulama klasik hingga kontemporer, serta relevansinya dalam kehidupan Muslim modern.

Asbabun Nuzul Surat Al-Adiyat: Sebuah Penelusuran Historis

Untuk memahami secara mendalam makna dan pesan surat Al-Adiyat, penting bagi kita untuk mengetahui konteks historis turunnya surat ini. Sebagaimana dijelaskan oleh As-Suyuthi (2008) dalam kitabnya “Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul”:

“Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah SAW mengutus pasukan berkuda, dan tidak ada kabar dari mereka dalam waktu yang lama. Maka turunlah surat Al-Adiyat.'” (As-Suyuthi, 2008, p. 242).

Riwayat serupa juga dikemukakan oleh Imam Al-Qurthubi (2006) dalam tafsirnya “Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran”, yang menjelaskan:

“Suatu ketika Rasulullah SAW mengutus suatu pasukan ke Bani Kinanah, dan setelah sekian lama tidak ada kabar dari mereka. Lalu sebagian orang munafik berkata: ‘Mereka telah terbunuh.’ Maka Allah menurunkan surat Al-Adiyat untuk memberitahukan bahwa mereka masih hidup dan dalam kondisi baik.” (Al-Qurthubi, 2006, Vol. 20, p. 159).

Riwayat lain yang disampaikan oleh Imam At-Thabari (2001) dalam “Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Quran” menyebutkan bahwa ekspedisi ini dikirim ke arah Bani Kinanah di bawah pimpinan Al-Mundzir bin ‘Amr Al-Anshari:

“Pasukan tersebut dikirim untuk menyelidiki aktivitas Bani Kinanah yang dikabarkan tengah mempersiapkan serangan terhadap Madinah. Setelah beberapa waktu tidak ada kabar, muncul kekhawatiran di kalangan kaum muslimin.” (At-Thabari, 2001, Vol. 24, p. 563).

Makna dan Tafsir Surat Al-Adiyat

Sumpah dengan Kuda Perang

Surat Al-Adiyat diawali dengan sumpah Allah menggunakan kuda-kuda perang yang berlari kencang. Ibn Katsir (2000) dalam “Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim” menjelaskan bahwa:

“Sumpah Allah dengan kuda perang menunjukkan kemuliaan jihad dan perjuangan di jalan-Nya. Kuda yang berlari kencang hingga mengeluarkan percikan api melambangkan semangat dan keteguhan dalam berjuang yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang beriman.” (Ibn Katsir, 2000, Vol. 8, p. 476).

Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni (2001) dalam “Shafwat at-Tafasir” menambahkan:

“Allah bersumpah dengan kuda perang karena keutamaan kuda dalam jihad. Nabi SAW bersabda: ‘Kebaikan diikatkan pada ubun-ubun kuda hingga hari kiamat.’ Sumpah ini menunjukkan betapa pentingnya perjuangan di jalan Allah.” (Ash-Shabuni, 2001, Vol. 3, p. 587).

Kritik terhadap Sifat Manusia

Pada bagian selanjutnya, surat Al-Adiyat mengkritik sifat dasar manusia yang cenderung mencintai harta secara berlebihan dan tidak bersyukur. Menurut Sayyid Quthb (2003) dalam “Fi Zhilalil Quran”:

“Surat ini menyingkap tabiat manusia yang sering kali tidak bersyukur kepada Tuhannya dan terlalu cinta kepada harta. Ia lupa bahwa pada hari kiamat, segala rahasia akan dibuka dan Allah akan memberitahukan apa yang tersembunyi di dalam dada manusia. Ketika itu, tidak ada tempat berlindung dan tidak ada penolong kecuali amal saleh yang telah dilakukan.” (Quthb, 2003, Vol. 6, p. 3963).

M. Quraish Shihab (2002) dalam “Tafsir Al-Mishbah” memperdalam analisis ini dengan menyatakan:

“Ayat-ayat dalam surat Al-Adiyat menggunakan bentuk pengukuhan sumpah untuk menegaskan bahwa kecintaan manusia kepada harta benda sering kali menjadikannya bakhil dan tidak mensyukuri nikmat Allah. Padahal, sikap demikian dapat mengantarnya kepada kesengsaraan duniawi dan ukhrawi.” (Shihab, 2002, Vol. 15, p. 467).

Peringatan tentang Hari Akhir

Bagian akhir surat Al-Adiyat berisi peringatan tentang hari kebangkitan dan pembalasan. Mustafa Al-Maraghi (1946) dalam “Tafsir Al-Maraghi” menjelaskan:

“Ayat-ayat terakhir surat Al-Adiyat mengungkapkan bahwa kelak pada hari kiamat, segala rahasia akan dibongkar, dan apa yang tersembunyi dalam hati manusia akan diperlihatkan dengan jelas. Ini merupakan peringatan keras bagi mereka yang lalai dan terlena dengan kehidupan dunia.” (Al-Maraghi, 1946, Vol. 30, p. 244).

Sementara itu, Hamka (1982) dalam “Tafsir Al-Azhar” menafsirkan ayat-ayat terakhir ini dengan nuansa yang lebih reflektif:

“Betapa hebatnya peringatan ini. Bahwa kelak, semua yang tersembunyi di dalam dada manusia, yang selama di dunia dipendamnya dengan rapi, akan dibongkar dan diperlihatkan. Inilah salah satu bentuk keadilan Allah, bahwa tidak ada satu pun rahasia yang akan tetap tersembunyi di hari pembalasan.” (Hamka, 1982, Juz 30, p. 240).

Pesan Moral dan Spiritual dari Surat Al-Adiyat

Kritik terhadap Materialisme

Salah satu pesan utama dari Surat Al-Adiyat adalah kritik terhadap materialisme dan kecintaan berlebihan terhadap harta benda. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (2009) dalam “At-Tafsir Al-Munir” menekankan:

“Surat ini turun untuk mengingatkan manusia tentang kecenderungan alamiahnya mencintai harta benda secara berlebihan (hubb al-khair), yang bisa mengalihkannya dari mengingat Allah dan akhirat. Peringatan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat Makkah saat itu yang sangat materialistis, dan tetap relevan dengan kondisi masyarakat modern yang semakin terjebak dalam pusaran konsumerisme.” (Az-Zuhaili, 2009, Vol. 30, p. 417).

Dalam bukunya “Islam and the Economic Challenge”, Muhammad Umer Chapra (1992) mengaitkan pesan surat Al-Adiyat dengan kritik terhadap kapitalisme modern:

“Al-Quran, seperti dalam Surat Al-Adiyat, telah sejak dini memperingatkan tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta yang dapat menjerumuskan manusia pada egoisme, ketamakan, dan eksploitasi. Sistem ekonomi yang dibangun semata-mata pada motif keuntungan tanpa diimbangi dengan nilai-nilai moral dan spiritual, sebagaimana terlihat dalam kapitalisme modern, cenderung mengabaikan dimensi keadilan sosial yang menjadi pilar utama ekonomi Islam.” (Chapra, 1992, p. 18).

Pentingnya Jihad dan Pengorbanan

Sumpah Allah dengan kuda perang di awal surat mengisyaratkan pentingnya jihad dan pengorbanan. Yusuf Al-Qaradhawi (2010) dalam bukunya “Fiqh Al-Jihad” menjelaskan:

“Penyebutan kuda perang dalam Surat Al-Adiyat bukanlah sekadar simbolisme, melainkan penekanan tentang pentingnya kesiapsiagaan dan pengorbanan dalam membela kebenaran. Jihad dalam konteks modern tidak selalu berarti perang fisik, tetapi lebih luas mencakup segala bentuk perjuangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umat.” (Al-Qaradhawi, 2010, p. 75).

Sementara itu, Tariq Ramadan (2004) dalam “Western Muslims and the Future of Islam” merefleksikan makna jihad dalam konteks modern:

“Surat Al-Adiyat mengisyaratkan bahwa perjuangan dan pengorbanan adalah bagian inheren dari kehidupan beriman. Bagi Muslim yang hidup di era global, jihad yang sejati adalah perjuangan intelektual, spiritual, dan sosial untuk mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sambil berinteraksi secara positif dengan realitas kontemporer.” (Ramadan, 2004, p. 113).

Introspeksi dan Pertanggungjawaban

Peringatan tentang hari akhir dalam surat ini mengajak kita untuk senantiasa melakukan introspeksi. Syed Muhammad Naquib al-Attas (1995) dalam “Prolegomena to the Metaphysics of Islam” menekankan:

“Kesadaran akan adanya hari akhir, sebagaimana diingatkan dalam Surat Al-Adiyat, menghasilkan apa yang disebut sebagai ‘kesadaran aksiologis’ – kesadaran bahwa setiap perbuatan kita memiliki nilai dan akan dipertanggungjawabkan. Tanpa kesadaran ini, manusia cenderung terjerumus dalam nihilisme dan relativisme moral.” (Al-Attas, 1995, p. 37).

Hasan Hanafi (1981) dalam “Islamic Studies” menambahkan:

“Peringatan tentang hari pembalasan dalam Surat Al-Adiyat bukan dimaksudkan untuk menciptakan ketakutan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran etis yang mendorong manusia bertindak atas dasar tanggung jawab. Ini merupakan basis epistemologis bagi etika Islam yang menekankan konsekuensialisme spiritual.” (Hanafi, 1981, p. 124).

Relevansi Surat Al-Adiyat dalam Konteks Modern

Melawan Konsumerisme dan Materialisme

Di tengah arus konsumerisme global, pesan Surat Al-Adiyat tentang bahaya kecintaan berlebihan terhadap harta menjadi sangat relevan. Ziauddin Sardar (2014) dalam “Reading the Qur’an in the Twenty-First Century” menjelaskan:

“Kritik Al-Quran terhadap materialisme, sebagaimana disuarakan dalam Surat Al-Adiyat, menawarkan landasan filosofis untuk melawan konsumerisme yang telah menjadi ideologi global. Dengan menginternalisasi pesan surat ini, Muslim kontemporer dapat mengembangkan pola konsumsi yang moderat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama, bukan pada pemuasan hasrat individu semata.” (Sardar, 2014, p. 143).

Khaled Abou El Fadl (2007) dalam “The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists” menambahkan:

“Moderasi dalam hal materi, sebagaimana dianjurkan dalam Surat Al-Adiyat, bukan berarti penolakan terhadap kemakmuran ekonomi, melainkan penggunaan kekayaan secara bertanggung jawab dan beretika. Islam mengakui hak kepemilikan pribadi, namun memberinya fungsi sosial yang tegas.” (Abou El Fadl, 2007, p. 178).

Memaknai Jihad dalam Era Kontemporer

Gambaran kuda perang dalam Surat Al-Adiyat dapat direinterpretasi sebagai simbol perjuangan dalam konteks modern. Fazlur Rahman (1982) dalam “Islam and Modernity” menyatakan:

“Perjuangan (jihad) yang diisyaratkan dalam Surat Al-Adiyat harus dimaknai secara kontekstual sesuai tantangan zaman. Bagi Muslim kontemporer, jihad yang paling urgen adalah jihad melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan, baik dalam lingkup personal, komunal, maupun global.” (Rahman, 1982, p. 165).

Amina Wadud (1999) dalam “Qur’an and Woman” menambahkan perspektif gender dalam memaknai jihad:

“Perjuangan untuk keadilan gender, sebagaimana nilai-nilai keadilan lainnya, merupakan bagian dari jihad yang diisyaratkan dalam Al-Quran. Membaca Surat Al-Adiyat dengan kesadaran gender kontemporer mengajak kita untuk memikirkan ulang struktur-struktur sosial yang melanggengkan ketidakadilan dan diskriminasi.” (Wadud, 1999, p. 92).

Membangun Kesadaran Eskatologis di Era Digital

Peringatan tentang hari pembalasan dalam Surat Al-Adiyat menawarkan landasan spiritual untuk mengembangkan kesadaran eskatologis di era digital. Seyyed Hossein Nasr (2007) dalam “The Garden of Truth” merefleksikan:

“Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh teknologi digital dan media sosial, pesan eskatologis Surat Al-Adiyat mengingatkan kita untuk senantiasa menyadari dimensi transenden dari eksistensi manusia. Tanpa kesadaran ini, kita berisiko terjebak dalam simulacra digital yang menjauhkan kita dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.” (Nasr, 2007, p. 198).

Hamza Yusuf (2015) dalam “Purification of the Heart” menambahkan:

“Ayat-ayat akhir Surat Al-Adiyat yang berbicara tentang dibongkarnya isi hati manusia pada hari pembalasan mengajak kita untuk senantiasa menjaga kesucian hati, terlebih di era digital di mana banyak konten negatif yang dapat mencemari hati. Kesadaran akan adanya hari pembalasan mendorong kita untuk lebih selektif dalam mengkonsumsi dan memproduksi konten digital.” (Yusuf, 2015, p. 57).

Kesimpulan

Surat Al-Adiyat, meskipun tergolong surat pendek, menyimpan pesan-pesan mendalam yang tetap relevan sepanjang masa. Asbabun nuzulnya yang berkaitan dengan ekspedisi militer Muslim di masa awal Islam membuka pintu refleksi tentang pengorbanan dan perjuangan dalam membela kebenaran. Kritik terhadap kecintaan berlebihan pada harta menawarkan perspektif alternatif di tengah hegemoni materialisme global. Sedangkan peringatan tentang hari pembalasan mengajak kita untuk senantiasa melakukan introspeksi dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

Di era modern dengan segala kompleksitasnya, pesan-pesan Surat Al-Adiyat dapat menjadi panduan moral dan spiritual yang berharga. Surat ini mengajak kita untuk menyeimbangkan dimensi material dan spiritual kehidupan, mengembangkan kesadaran sosial dan lingkungan, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat melalui amal saleh dan ibadah yang tulus.

Wallahu a’lam bi as-shawab.

Referensi

Abou El Fadl, K. (2007). The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. HarperOne.

Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. International Institute of Islamic Thought and Civilization.

Al-Maraghi, M. (1946). Tafsir Al-Maraghi. Mustafa Al-Babi Al-Halabi.

Al-Qaradhawi, Y. (2010). Fiqh Al-Jihad. Wahba Publishing House.

Al-Qurthubi, M. (2006). Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran. Muassasah Ar-Risalah.

As-Suyuthi, J. (2008). Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

Ash-Shabuni, M. A. (2001). Shafwat at-Tafasir. Dar Al-Fikr.

At-Thabari, M. (2001). Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Quran. Dar Hijr.

Az-Zuhaili, W. (2009). At-Tafsir Al-Munir. Dar Al-Fikr.

Chapra, M. U. (1992). Islam and the Economic Challenge. The Islamic Foundation.

Hamka. (1982). Tafsir Al-Azhar. Pustaka Panjimas.

Hanafi, H. (1981). Islamic Studies. Anglo-Egyptian Bookshop.

Ibn Katsir, I. (2000). Tafsir Al-Quran Al-‘Adzim. Muassasah Ar-Risalah.

Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth. HarperOne.

Quthb, S. (2003). Fi Zhilalil Quran. Dar Asy-Syuruq.

Rahman, F. (1982). Islam and Modernity. University of Chicago Press.

Ramadan, T. (2004). Western Muslims and the Future of Islam. Oxford University Press.

Sardar, Z. (2014). Reading the Qur’an in the Twenty-First Century. Routledge.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati.

Wadud, A. (1999). Qur’an and Woman. Oxford University Press.

Yusuf, H. (2015). Purification of the Heart. Sandala Publications.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts

Recent Posts

  • KEMULIAAN HARI ARAFAH: PUNCAK KESEMPURNAAN IBADAH DAN AMPUNAN ILAH
  • ARAFAH: PUNCAK MAHABBAH DAN MAGFIRAH YANG MENGGETARKAN JIWA
  • Beyond Managed Competition: The Xi Jinping–Donald Trump Summit and Its Implications for the Architecture of Global Politics
  • Menyingkap Hikmah di Balik Turunnya Surat Al-Adiyat: Refleksi Spiritual untuk Kehidupan Modern
  • Surat Al-Adiyat: Relevansi di Era Modern

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d