• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Blog

Malioboro Yogya yang makin sempit

07 Monday Apr 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 2 Comments

Malioboro Yogya kini sudah sangat padat. Saya sedikit kecewa melihat bagaimana Malioboro yang asri dengan lampu-lampu berbinar kini menjadi terlihat gelap dimalam hari dan semakin sempit jalannya.Kiri kanan jalan pertokoan tertutup dengan pembatas jalan yang menambah gelap. Ah berbeda sekali dengan bayangan dulu ketika Malioboro asri dan tenang. Tampaknya tranportasi jalan sudah menghabiskan badan jalan menambah suasana bising dan polusi. Mungkinkah Malioboro bisa menjadi jalan bebas polisi, bebas motor dan mobil ? Kalau ini bisa dikembalikan, Malioboro dengan lesehan dan pusat kerajinan akan menambah nilai pariwisata Yogya.(Saya lanjutkan tulisan mengenai Malioboro ini sesudah tiba di London, maklum susah sekali mencari waktu selama di Indonesia. Tugas berkeliling beberapa kota menyita waktu dan akses internet juga tidak mudah ya) Bagi saya Malioboro ada simbol penting seperti halnya Thamrin di Jakarta atau Oxford Street di London. Ini adalah jalur identitas kota Yogyakarta, kalau tidak disebutkan sebagai pusat kunjungan turis.Malioboro ada Yogya dan Yogya bisa direpresentasikan secara populer dengan kehadiran Malioboro. Memang ada Keraton Yogya di kota Gudeg ini namun semua orang yang datang ke Yogya mau tidak mau akan menyentuh jalan ini. Jika tidak dirawat dan dijaga maka Malioboro menjadi kumuh, kotor, semrawut, macet, padat dan tidak asri. Pemandangan yang menyebabkan mungkin banyak pengunjung bergegas segera pergi dari Mailoboro daripada menikmatinya.Sudah saatnya daerah ini ditata ulang untuk memberikan ruang lebih besar kepada para pejalan kaki. Merekalah yang akan menghidupkan denyut nadi Maliboro dengan lesehan terkenal yang sudah berjalan sangat lama. Kalau tempat lesehan itu kumuh dan kotor karena asap knalpot motor, sulit sekali pengungunjung menikmati udara Malioboro.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Tukang semir di terminal Gambir

04 Friday Apr 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Motivation

≈ 3 Comments

Tukang semir, saya mengagumi profesi satu ini. Banyak membantu dan menyenangkan dengan service Rp 2000 rupiah. Seharusnya saat itu saya memberi lebih banyak ketika sepatu yang tidak sempat disemir di London ini berdebu menyentuh tanah di Jakarta. Sebelumnya saya tidak pernah menggunakan jasa tukang semir anak muda ini.Ketika menawarkan, “Pak sepatunya mau disemir”Biasanya bilang tidak, tetapi sekarang saya katakan “ya”.Maka sepatu warna coklat berpindah ke tangan dia. Sepasang sandal saya gunakan sebagai alas seraya memesan indomie rebus, makanan yang berani disantap setibanya beberapa hari di Indonesia. Maunya menikmati banyak sajian menggiurkan tetapi perut ini belum kuat dengan makanan Indonesia di warung Gambir ini.Seraya melakukan janji dengan staf PT Kereta Indonesia, saya melihat adik tukang semir itu dengan tekun melap sepatu dengan khusyu. Saya tadinya mau membeli semir netral untuk membersihkan sepatu yang kotor karena baru saja menginjak tanah lempung dan berdebu.Saya merenungkan betapa hebatnya karya tukang semir ini jika dilihat lebih dalam. Dia bekerja dengan gaya marketing berani, menawarkan jasa tanpa harus menunjukkan ijazah terlebih dahulu. Saya kira tidak ada sekolah tukang semir di Indonesia. Kalaupun mau mendirikan sekolah seperti itu belum tentu ada siswanya.Tukang semir merupakan spirit entrepreneur atau meminjam istilah Kang Abik atau Habiburahman el Sirazy yang lagi ngetop adalah semangat tijaroh. Berdagang dan mandiri.Seorang tukang semir atau profesi menyemir sepatu merupakan sesuatu yang bisa dibanggakan. Artinya dengan kesulitan ekonomi seperti sekarang, mengais Rp 2000 dari sepasang sepatu tentu memerlukan keringat dan keberanian. Memasarkan skillnya dengan mengatakan, mau disemir pak? Ini merupakan modal awal yang sangat berharga.Keberanian menawarkan jasa menyemir sepatu tidak lain adalah membantu menciptakan keindahan dan kebersihan bagi para pemakai sepatu dan sandal. Tentu kalau dilihat begitu banyaknya orang setiap hari datang dan pergi dari Gambir, maka pasar semir sepatu bisa dikatakan unlimited ! Peluang selalu muncul setiap menit berpindah.Pelanggan tidak akan kehabisan – apalagi kalau melihat berjimbunnya manusia Indonesia di Jakarta. Sepatu juga merupakan sesuatu yang dikenakan oleh lebih dari 9 juta orang Indonesia di Jakarta. Maka pasar pun sangat luas bagi karir di semir menyemir sepatu ini.Saya mendoakan semoga tukang semir yang telah mengembalikan sepatu saya menjadi cemerlang dan tidak merasa malu lagi mengenakan sepatu tanpa harus datang ke supermarket untuk mencari semir cair yang mahal. Saya juga menjadi lebih PD ketika berhadapan dengan direktur PT Kereta Api Indonesia Bapak Ronny Wahyudi yang saat itu janjian di Gambir.Cuma sayang, seharusnya saya memberikan lebih banyak imbalan dari sekedar tarif yang dipasangnya. Semoga doa ini membuka rejeki dia lebih banyak dan memicu semangat tukang semir lainnya dan penjual jasa apapun di bumi Indonesia dan bumi Allah di alam jagad ini.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Selamat datang Indonesia !

04 Friday Apr 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 1 Comment

Tags

indonesia, transportasi

Sejak 1 April saya telah menginjakkan kaki lagi di bumi Indonesia. Selamat Datang Nusantara ! Terakhir saya menghirup udara di bumi Indonesia tahun 2006. Kini sedang ada dalam tugas untuk melihat-lihat dunia transportasi.Indonesia tidak banyak perubahan setelah dua tahun ditinggalkan. Manusia Indonesia dinamis dalam kegiatan ekonomi dan media tetapi tetap saja ya konsumtif. Dimana dunia sedang khawatir dengan pemanasan global, sebagian besar masyarakat sedang asyik masyuk dengan berbagai hiburan. Media televisi telah menghipnotis dengan aneka hiburan sementara dunia pilkada telah menyedot dana dan tenaga memilih figur-figur lokal.Heboh soal siapa Gubernur BI dan jawaban Pak Presiden mengenai ketetapan bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak akan digeser.Itulah wajah Indonesia dari media yang bisa diintip.Indonesia masih memang berdenyut mengejar kemajuan bersaing dengan banyak negara namun yang saya perhatikan sekarang adalah masalah transportasi mulai darat sampai udara.Isu-isu keselamatan akan menjadi sorotan yang sejauh ini ketika tulisan ini diturunkan sedang berada di kota gudeg Yogya setelah menempuh perjalanan lebih dari tujuh jam dengan Argo Lawu dari Stasiun Gambir.Kereta api Indonesia banyak kemajuan tetapi juga banyak ruang bisa dikembangkan. Tidak seperti naik kereta di Inggris yang melaju mulus nyaris tanpa getaran dan goyangan, kereta Indonesia meski dengan kenyamanan ber AC – malah nyaris dingin di tengah malam bersinar temaram – masih merasakan getaran dan bising ketika menembus malam buta dari Jakarta ke Yogyakarta.Melihat bagaimana kereta api dan lokomotif diservis serta bagaimana masinis dibentuk dari lembaga pendidikan di Yogya selama 2,5 bulan akan menjadi dasar dari kemajuan perkereta apian di Indonesia. Cerita-cerita bagaimana pembentukan masinis generasi baru ini memang mengasyikkan di tengah harapan bahwa kereta api bisa memberikan keselamatan lebih besar daripada pesawat yang sedang menjadi sorotan dunia.Nah banyak cerita selanjutnya dalam mengarungi Indonesia dua minggu ini. Tentu tidak semua aspek terjamah tetapi setidaknya ada beberapa poin penting sebagai catatan.Sebelum lupa, ketika bertemu staf di terminal Yogyakarta, terlihat juga bagaimana wajah para sopir yang mengangkut ratusan dan ribuan penumpang setiap hari hidup dengan alamiah. Tidak ada quality control atau kalaupun ada memang seperti dikatakan seorang pengusaha bus yang berkecimpung selama setengah abad, pengawasan terhadap sopir dilakukan secara konvensional. Wah banyak ceritanya dan asyik lagi mendengar cerita sopir bagaimana bisa kuat berada di belakang sopir meski berjam-jam kerja setiap hari dan ketemu sopir yang lebih dari seperempat abad berada di bus memberikan pandangan lain mengenai betapa nilai-nilai keselamatan terhadap penumpang itu dipelajari secara alamiah.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d