Bisakah korupsi menghilang di Indonesia?

Tags

Map of Indonesia
Image via Wikipedia

Pengadilan korupsi belakangan ini memunculkan pertanyaan lama, bisakah korupsi hilang dari bumi Indonesia? Kadang-kadang melihat negeri tetangga seperti Singapura kita perlu iri karena meski mereka itu lebih egois tapi dalam hal pungli dan korupsi dunia mengakuinya.Dari informasi beberapa mantan anggota DPR terungkap adanya kasus penyuapan dalam pemilihan seorang petinggi bank. Bahkan terbongkar pula kelicikan politisi yang juga masih duduk di Senayan menerima uang ratusan juta rupiah dari uang suap. Sebenarnya kasus ini sudah terbongkat lebih dari setahun lalu namun bukti-bukti perlu dikumpulkan.Pejabat pemerintah sampai tingkat menteri dan mantan anggota DPR tidak lepas dari virus ini.Tampaknya sudah saatnya hukuman berat dijatuhkan kepada pengambil uang rakyat yang jumlah ratusan juta, milyaran bahkan mungkin triliuan. Tapi bisakah hukum diterapkan kalau oknum aparat hukum sama-sama korup? (bersambung)

Reblog this post [with Zemanta]

Book Review:Indonesia's transformation and the stability of Southeast Asia

Tags

, , , , , ,

Indonesia, the world’s fourth most populous country, is undergoing a profound transformation that could lead to a variety of outcomes, from the consolidation of democracy to return to authoritarianism or military rule, to radical Islamic rule, or to violent disintegration.The stakes are high, for Indonesia is the key to Southeast Asian security. The authors examine the trends and dynamics that are driving Indonesia’s transformation, outline possible strategic futures and their implications for regional stability, and identify options the United States might pursue in the critical challenge of influencing Indonesia’s future course.Steps the United States might take now include support for Indonesia’s stability and territorial integrity, reestablishment of Indonesian-U.S. military cooperation and interaction, aid in rebuilding a constructive Indonesian role in regional security, and support for development of a regional crisis reaction force. A continued strong U.S. presence in the Asia-Pacific region will reinforce the U.S. role as regional balancer.Other review:From http://findarticles.com/p/articles/mi_m0PBZ/is_4_83/ai_109268892/Indonesia’s Transformation and the Stability of Southeast Asia is a report the RAND Corporation prepared for the U.S. Air Force to assess the rapid changes occurring in Indonesia and to recommend policies to the U.S. Government and the Air Force in response. The book is an excellent introduction to the complex situation that followed the end of the Suharto regime. Although its depth of coverage is rather limited by its length, it includes numerous footnotes and an extensive bibliography, which covers five pages and includes numerous academic papers, periodical articles, and reports from international conferences. Sources come not only from the Western world but also from Indonesia itself. This breadth of coverage improves the quality of Angel Rabasa’s and Peter Chalk’s summary and provides a valuable source for anyone seeking to further investigate the subject.The report begins with a succinct summary of the situation in Indonesia through 2001 and includes the growing pains of the post-Suharto political system; the conflict and United Nations intervention in East Timor; and the separatist pressures in several provinces. This summary also provides several recommendations that focus on improving the country’s stability and regional influence and U.S. Air Force policies toward Indonesia. The summary concludes with a caveat recommending that the Air Force continue to prepare for the worst-case scenario of complete Indonesian collapse. The remainder of the report elaborates on the points that the initial summary contains.The publication also includes chapters detailing Indonesia’s regional significance; its recent and future challenges; and opportunities for U.S. influence. Each chapter effectively presents its subject matter and is well documented, allowing the report to serve as a useful introductory publication to the region and a guide to further research.The only real criticism one might level against the report is its tone. In an attempt to achieve currency and relevance in 2001, Rabasa and Chalk chose to write in a journalistic style, which makes the piece read much like a long article in a current periodical. While this approach might have been effective in 2001, today it reads like old news. Despite this shortcoming, the authors effectively summarize a complex situation in a relatively short space. Therefore this report remains of value to the military professional as an introduction to the region and as a comprehensive bibliography.LCDR Kyle B. Beckman, USN, Fort Leavenworth, KansasSource: Google booksRead More

Reblog this post [with Zemanta]

Indonesia yang kuat dan bersatu

Tags

, , , ,

The Coat of Arms of Indonesia is called Garuda...
Image via Wikipedia

Cita-cita pendiri negeri ini adalah Indonesia yang kuat, sejahtera, makmur dan damai. Sebuah cita-cita universal setiap negeri yang ada di muka bumi. Dalam perjalanannya lebih dari setengah abad ternyata banyak yang berubah, banyak kendala dan banyak tantangan.Semuanya tidak seindah apa yang tertulis.Dengan insiden tindak terorisme yang merupakan imbas dari globalisasi dan demokrasi. Globalisasi semakin mendekatkan Indonesia dengan negara-negara di luar termasuk Timur Tengah. Kekerasan di Palestina, Irak dan Afghanistan terasakan sampai di Indonesia.Globalisasi informasi ini menyebabkan pengaruh luar negeri semakin dekat dengan pelosok tanah air. Seolah-olah tidak ada satu inci wilayahpun di Indonesia tak tertembus aliran informasi dunia.Oleh karena itu agar Indonesia memiliki soliditas yang tinggi, tidak hanya ideologi yang harus kuat tetapi juga sumber daya manusia di tataran penyelenggara neger, para tokoh dan masyarakat itu sendiri.Kelemahan di jajaran petinggi negara -misalnya karena korup – akan memperlemah jalannya pemerintahan.Kualitas sumber daya manusia inilah yang seharusnya menjadi fokus dalam pembangunan Indonesia kini dan mendatang. Manusia yang jujur, berwawasan dan melihat ke depan akan menjadi modal utama dibandingkan hanya sekedar menciptakan orang-orang cerdas, pintar dan memiliki pengetahuan yang luas.Pengetahuan yang luas kalau tidak disertai karakter tidak banyak manfaatnya. Buktinya banyak orang cerdas bergelar di Indonesia namun kurang penghargaan kepada mereka yang memiliki komitmen untuk mengelola Tanah Air dengan tulus. Indonesia masih memberi tempat kepada mereka yang memiliki pengetahuan cerdas dan luas tetapi bermental korup. Semakin banyak orang seperti ini menduduki kursi birokrasi dan profesional di suprastruktur semakin sulit menjadikan Indonesia yang kuat.Dalam sejarah kebangsaan, bangsa berkarakter itulah yang akan memenangkan persaingan tingkat global. Efisiensi dan efektivitas merupakan kunci manajerial tetapi kejujuran, komitmen dan integritas pribadi merupakan modal luar biasa pentingnya.Saatnya menciptakan Indonesia yang kuat dan bersatu dengan mencanangkan pendidikan ahlak, integritas dan kejujuran menjadi pilar dari pembangunan abad ke-21.

Reblog this post [with Zemanta]