• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Archive

Kereta Listrik yang vital di Jakarta dan sekitarnya

28 Thursday Aug 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ Leave a comment

Tags

jakarta, kereta listrik, KRL, Sudimara, Sudirman

Saya kira sudah menjadi patokan di negara-negara maju bahwa moda transportasi umum hanya bisa ditempuh dengan kereta api. Dengan gerbong yang bisa mengangkut sampai ratusan orang dan rendah polusi, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak memprioritaskan kereta listrik.Di London Tube telah menjad andalan memindahkan sekitar tiga juta per hari bahkan membantu komuter sampai zona 6 yang bisa ditempuh sampai satu jam dari satu titik terjauh di Central London.Kalau Jakarta mau mencegah kemacetan yang semakin hebat, maka kereta listrik pilihan masa depan. Taruhlan kalau masih ada umur 50 tahun ke depan harus sudah ada apa yang namanya kereta listrik.Potensi ini cukup besar. Pengalaman dari stasiun Sudimara ke Sudirman di tengah Jakarta merupakan sebuah pengalaman mengesankan. Kereta Listrik ini dari segi fisik sudah menyamai apa yang ada di London. Jadwalnya sudah ada dan kecepatan sampai dengan waktu tempuh bisa diandalkan. Dengan KRL ini jarak tempuh hanya setengah jam dari pinggiran Jakarta ke tengah kota. Bayangkan kalau naik taksi atau mobil pribadi, mungkin pada jam sekitar pkl 07.00 jarak tempuh ke titik yang sama di Stasiun Sudirman memerlukan waktu hampir dua jam dan kalau naik taksi bisa sampai Rp 100.000 -an karena tertahan macet dan keluar masuk tol.Anehnya potensi ini tidak pernah digali oleh pemerintah. Sungguh sebuah ironi. Jika efisiensi dijadikan patokan maka KRL adalah pilihan masa sekarang dan masa depan.Kalau tadi kereta secara fisik nyaman lain lagi dengan stasiunnya. Taruhlah Sudimara di daerah Bintaro sebagai sample. Wah semrawut, kotor dan tidak menunjukkan stasiun modern. Mulai pedagang, pengunjung dan berbagai orang numpuk di stasiun, apalagi giliran kereta kelas ekonomi datang semakin sibuk saja.Saya kira dengan polesan sedikit dan ketertiban yang lebih baik lagi, setidaknya bisa menyamai stasiun kereta api di Malaysia yang asri dan bersih meski sama-sama panas kalau siang hari.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Kemerdekaan dan kemiskinan

27 Wednesday Aug 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ Leave a comment

(tulisan ini sebenarnya berkaitan dengan 17 Agustutan-an tapi sudah terlambat)Kalau kita menengok ke sekeliling terutama di perkotaan, kesan tampak memang gemerlap bangunan dan mall. Tidak hanya itu, mall, hypermarket dan segala bentuk supermarket ini selalu penuh. Bernakah itu hasil kemerdekaan selama 63 tahun itu?Sebagian memang demikian.Namun mayoritas masih berada di bawah garis kemiskinan. Inilah yang lebih dirasakan dari sekedar gebyar upacara dan acara kemerdekaan.Bagaimana keluar dari kondisi ini ? Inilah pertanyaan sangat penting kalau melihat nasib kebanyakan masyarakat Indonesia di tengah kekayaan alam yang luar biasa.Kalau melihat kebiasaan dan budaya di Indonesia perbaikan tampaknya harus dimulai dari kelas elit baik dari ekonomi, militer, politik dan bahkan mungkin budaya serta pendidikan.Sayangnya sampai sekarang sebagian kalangan elit ini tidak memuaskan untuk menjadi pemimpin yang benar-benar diikuti masyarakat. Tampaknya harus menunggu sebelum kalangan inti elit ini benar-benar dedikasinya untuk kemajuan negeri bukan memperkaya diri dan kerabatnya.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Berharganya Busway di Jakarta

13 Wednesday Aug 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ 1 Comment

Tags

bus, jakarta, komuter, transportasi

Bagi yang sudah lama meninggalkan kota Jakarta – sekitar tujuh tahun absen dari deru dan debu ibu kota – busway yang pernah dicemoohkan memang cukup penting. Setidaknya jika seseorang yang menggunakan angkutan umum berangkat dari Semanggi untuk mencapai Bundaran HI tidak perlu bersusah payah lagi.Taksi bukan penyelesaian tapi malah bikin macet. Apalagi kendaraan pribadi, tambah macet Jakarta. Sementara angkutan umum seperti Metro Mini atau bus kota tidak nyaman dan kadangkala tidak aman, karena sudah menjadi rahasia umum tempat beroperasi copet.Busway dengan tarif Rp 3500 memang merupakan sebuah alternatif penting bergerak dari satu titik ke titik lain. Tidak hanya dari Semanggi tetapi jika bepergian sore hari atau malam di jam-jam macet jalan, busway jadi alternatif berharga. Jika kita naik taxi pun menempuh jalan Thamrin dan Sudirman pada jam 1900 maka kita tidak bisa dengan mudah menembus jalan yang dijejali motor, mobil dan bus.Meski busway ini penting, tapi banyak yang lebih memilih kendaraan pribadi. Ini mungkin terkait dengan kebiasaan yang sudah lama. Di negara-negara lain, angkutan umum menjadi pilihan untuk berjalan ke dan dari kantor. Selain kebiasaan tentu saja mungkin gengsi.Namun ini harus dibayar mahal dengan polusi udara yang pekat membahayakan semua penduduk Jakarta, biaya bahan bakar yang besar karena macet terus setiap hari dan tentu juga secara ekonomis sangat berat.Bagi seorang yang pernah menjadi bagian dari sekitar 3,5 juta komuter yang datang dan pergi dari pusat kota London, kelemahan mencolok adalah memang transportasi umum. Singkatnya kendaraan umum di Jakarta dan sekitarnya tidak teramalkan datang dan perginya.Pengguna kendaraan umum menjadi warga kelas tiga barangkali karena sebagian besar memilih kendaraan pribadi. Bahkan suatu kali saya menyaksikan langsung seorang yang naik sedan marah-marah kepada sopir bus kota di depan Komdak dengan alasan mobilnya tersenggol. Padahal jelas dia yang salah mau menyalip. Mungkin seorang oknum penguasa yang berani memarahi sopir bus kota yang tampak ketakutan. Malah semua penumpang diperintahkan turun gara-gara mereka protes dengan ulah oknum tersebut. Begitulah gambaran sedikit naik angkutan umum di Jakarta.Di London penumpang angkutan umum dimanjakan dan diutamakan. Bahkan pengguna kendaraan pribadi yang masuk tengah kota dikenakan biaya cukup mahal lebih dari lima poundsterling sekali masuk, belum biaya parkir yang sangat mahal.Untuk jangka panjang, ini pikiran saya, harus dipikirkan setelah busway adalah memperbanyak dan memperluas jaringan kereta api yang sudah ada. Ide monorail memang ideal meski sulit dipraktekan untuk jangka panjang. Namun sebuah keniscayaan bahwa transportasi berbasis kereta rel ini harus diwujudkan, kalau tidak penduduk jakarta bisa habis umurnya kena macet di jalan.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d