• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Author Archives: Setiawan

Setelah 10 tahun reformasi gagal?

21 Wednesday May 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ 1 Comment

Sebagian kalangan menyebut reformasi sekarang telah gagal. Perlukah reformasi jilid kedua? Reformasi gagal karena korupsi masih merajalela, penegakan hukum masih terantuk uang dan sistem ekonomi semakin terpuruk karena tekanan dunia. Sistem ekonomi tidak berubah, mengisap banyak rakyat kecil, menguntungkan pedagang besar dan asing.Dengan mudah kita bisa menyebutkan gagal karena barang naik dan semakin serba susah. Bukannya reformasi membuat rakyat semakin sejahtera tetapi semakin miskin, menderita dan tertekan. Contohnya harga BBM sudah mahal, sudah naik dan akan naik lagi. Kapan berhentinya ? Rakyat menjerit. Itu kata sebagian orang.Amien Rais mengatakan, reformasi untuk bidang ekonomi memang tidak begitu berhasil. Kebijakan ekonomi karena sekarang situasi dunia berbeda dengan minyak lebih 100 dollar per barel, tidak ada yang diharapkan lagi. Amien yang tokoh reformasi juga bahkan mengaku bahwa rakyat memang menderita dengan kondisi sekarang.Namun disisi lain, kata Amien, politik menunjukkan keberhasilan. Reformasi ini kan multidimensi, politik, ekonomi bahkan pendidikan. Nah bidang politik ini, kata Amien sudah menunjukkan kemajuan.Pertanyaannya tentu saja, apakah kita memilih demokrasi politik tetapi lapar atau perut lapar demokrasi terkungkung. Pilihan yang sulit memang.Satu-satunya jalan memang mengadakan perubahan melalui saluran politik. Ya itu dia, pemilu tahun depan. Jika ada kekuatan politik solid untuk memperbaiki negeri ini maka bisa ditempuh dengan perebutan suara. Bukan politik daging sapi tetapi politik untuk kesejahteraan.Kegagalan ada sukses tertunda, kata orang. Jika diterapkan secara makro maka kegagalan Indonesia dalam memberikan kesejahteraan kepada puluhan juta rakyat miskin bisa diobati dengan sejumlah kebijakan yang memihak rakyat, bukan memihak asing dan orang kaya.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Kebangkitan Nasional

20 Tuesday May 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ 2 Comments

Tanggal 20 Mei baru saja memperingati 100 tahun kebangkitan. Ingin sekali berkomentar tentang apa yang disebut kebangkitan nasional, kebangkitan bangsa Indonesia. Sebenarnya kalau mau terbuka 100 tahun lalu belum ada yang namanya Indonesia seperti sekarang. Namun momentum digunakan untuk menggalang kesadaran satu bangsa, satu bahasa.Berkat tekad nasional itulah kemudian lahir Sumpah Pemuda dan berbagai gerakan sosial dan politik yang makin sadar akan jati diri Indonesia.Lalu apa relevansinya sekarang? Di tengah rencana kenaikan BBM, pembagian BLT ke masyarakat miskin serta perdebatan apakah pemerintah perlu menaikkan BBM, saya kira diskusi tentang topik ini semakin relevan.Satu catatan saja bahwa yang sudah bukan hanya Indonesia karena kenaikan minyak dunia yang melebihi 100 dollar ini serta harga pangan yang membumbung tinggi karena perubahan penggunaan biji-biji dari diekspor menjadi diolah sebagai minyak nabati.Dengan kata lain kondisi temporer ini akan menguji tentang rasa kebangkitan dan kebangsaan. Apakah kita akan saling menyalahkan satu sama lain? Apakah menolak kenaikan BBM juga ada solusi lainnya ketika pemerintah sekarang merupakan hasil dari kebijakan sebelumnya dimana utang bertumpuk?Saatnya mungkin demo itu lebih konstruktif. Menolak OK, itu sebuah pendapat yang patut dihargai. Namun akankah terus berdemo tanpa mempedulikan secara keseluruhan kesulitan yang dihadapi bangsa-bangsa dunia ?Saya sering bertemu dengan orang Asia selatan misalnya dari India. Saat diceritakan bahwa orang Indonesia yang jumlahnya 200 juta relatif sudah menggunakan bahasa Indonesia. Mereka terheran-heran dan takjub. India tidak bisa, katanya punya satu bahasa nasional. Bahasa Inggris masih menjadi perekat bangsa India. Kalian mestinya beruntung.Beruntung? Tidak terpikirkan bahasa yang sama merupakan keberuntungan sebuah bangsa. Setahu saya ya sudah begitu keadaannya jadi tak perlu lagi apresiasi.Inilah sebenarnya titik kunci kebangkitan. Menyadari berbagai anugrah ini, bangsa, bahasa, etnik, sumber daya alam dan segala isi perut bumi. Kebangkitan berarti mulai melek terhadap semua karunia ini lalu sekarang setelah dibiarkan terbengkali diambil orang lain, maka tiba saatnya memeras keringat untuk menguasai modal dan teknologi.Jangan sampai orang Indonesia – termasuk saya tentunya -bagaikan tikus mati di lumbung padi.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Blogger Buku membuat demokrasi beropini

18 Sunday May 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ 1 Comment

Ungkapan Taufik Rahzen, budayawan dan pencinta buku memang menyentakkan saya. Blogger buku merupakan sarana demokratisasi pemaknaan buku. Tafsiran buku tidak lagi didominasi media-media besar yang harus melalui proses editorial. Tepat atau tidak resensi yang dilakukan para blogger terhadap buku buku yang terbit tidak menjadi soal. Desentralisasi pendapat itu yang akan memberikan kontribusi besar dalam masa depan dunia buku.Pendapat Taufik ini memang benar. Kaum blogger buku yang selama ini digarap sambilan akan semakin serius karena ternyata seperti dikemukakan blogger buku, Endah Sulwesi, penerbit buku sekarang dengan senang hati meminta blogger ini untuk merensinya. Artinya mereka membaca kemudian memberikan pendapatnya. Namun diakui Endah, memberikan penilaian itu kadang-kadang mengandung resiko. Apalagi jika dia kenal dengan penulisnya. Namun tetap kejujuran penulis blogger inilah yang akan memberikan makna lebih jauh arti sebuah buku.Berkumpulnya blogger buku ini tampaknya memang menggembirakan. Ini merupakan sebuah pengakuan terhadap hobi yang kemudian juga dihargai oleh para penerbit dan pencinta buku. Coba saja kita berkelana di alam maya, akan banyak sekali situs resensi buku baik yang berbahasa Indonesia atau asing. Kalau para blogger ini serius dengan hobinya niscaya mereka juga akan dibutuhkan dalam peluncuran buku dan pameran buku di masa mendatang.Dengarkan ulasan selengkapnya tentang Blogger Buku

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d