• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Author Archives: Setiawan

Bagaimana membuat subdomain di situs Anda

27 Tuesday May 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ 40 Comments

Pengalaman membuat subdomain dengan berguru kepada Mbah Google merupakan penglaman tersendiri. Tidak mudah ternyata meringkaskan cara dalam membuat subdomain. Pengalaman adalah guru yang terbaik kata orang.Bagi yang memiliki domain sendiri seperti http://www.asepsetiawan.com mungkin menarik jika dibuat berbagai jenis weblog atau situs dari satu domain. Membeli domain tidaklah mahal, bisa 1 pound atau sekitar Rp 18.000 atau bisa juga lebih dari 5 pound. Di Indonesia banyak alternatif lain, jelas.Saya mencoba membuat subdomain bukan folder baru. Subdomain artinya membuat situs baru dengan hanya membeli satu domain misalnya inspirasi.asepsetiawan.com. Sedangkan folder baru nantinya dia akan di berbentuk asepsetiawan.com/inspirasi. Yang pertama dengan nama subdomain memang lebih indah kelihatannya.Baiklah langkahnya sbb:1. Masuklah kedalam bagian bagaimana membuat subdomain. Setiap hosting atau perusahaan memiliki cara sendiri. Saya membuat subdomain misalnya london.asepsetiawan.com. Setelah memasang london di bagian cara membuat subdomain. Maka terciptalah subdomain itu.2. Sesudah itu subdomain itu harus disimpan di satu tempat. Nah kita buat di directory baru yang akan otomatis tercipta sendiri dengan menaruh misalnya directory  seperti “inggris”. Tunggu beberapa saat maka directory itu akan tercipta sendiri. Mungkin ada juga perusahaan yang manual.3. Setelah itu buatlah database baru. Nama, username dan password serta nama server biasanya sudah ada.4. Kemudian upload program Anda seperti WordePress ke directory baru itu kemudian config.php diganti dengan username, password dan nama password.5. Setelah selesai bagian terakhir adalah ketik http://london.asepsetiawan.com/wp-admin/install.php.Mungkin program lainnya seperti Joomla  atau Drupal juga serupa prinsipnya. Subdomain ini bisa dibuat denga menggunakan directory baru atau tidak.Saya sengaja menulis ini bukan untuk apa-apa sekedar berbagi pengalaman. Mungkin bagi ahli web dan komputer akan ditertawakan. Bagi orang awam dimana sekarang banyak menggunakan blog, siapa tahu bermanfaat bukan ?

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Menikmati taman kota

24 Saturday May 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 2 Comments

Tags

London, Park

Di London dan sekitarnya, taman merupakan sebuah kekayaan yang tidakada harganya. Di tengah udara yang berpolusi dan kesibukan masyarakatnya, taman bagaikan oase segar. Untungnya, taman atau istilah di London park terawat dengan baik. Entahlah mungkin karena sudah biasa sejak dahulu, ada anggarannya atau karena memang sebuah ciri budaya di Inggris.Dimana-mana memang taman dengan mudah kita jumpai. Di sekitar rumah setidaknya ada empat taman besar, bahkan ada dua park itu dilengkapi dengan danau. Danau ini biasanya tempat hidup bebek dan angsa. Hanya bagi penggemar mengail, bisa dilakukan namun kalau sudah ditangkap harus dilepas lagi. Dan juga harus bayar ! Mana bisa Ada yang seperti ini di Indonesia.Kalau summer seperti sekarang, maka taman menjadi sebuah “surga” melepaskan kepenatan dari kerja dan tugas-tugas berat. Taman menjadi sebuah arena menyegarkan kembali tubuh. Nikmat merenungkan alam di bawah pohon rindang, dengan angin semilir merupakan anugrah sangat besar. Mungkin lebih hebat dari berkunjung ke taman hiburan.Taman kota adalah paru-paru kota. Cuma agaknya kenikmatan bersantai di taman kota tidak bisa diterima semua orang. Mungkin karena kota tidak menyediakan taman atau mungkin manusia serba sibuk sehingga tidak sempat duduk tepekur tentang kebesaran Ilahi.Selain dinikmati hari libur, taman kota menjadi “aula” teman makan siang. Cukup membawa sandwich dan minuman, duduk menikmati roti isi sayur atau keju, lengkaplah peran taman kota.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Orang Inggris suka humor dan pecandu selebritis?

22 Thursday May 2008

Posted by Setiawan in Archive

≈ 2 Comments

Sudah lama ingin menuliskan ini sebagai perbandingan saja. Sebenarnya orang Inggris itu bagaimana sifat dan karakternya? Tentu setiap orang punya kesan sendiri. Namun Rough Guide baru-baru ini mengeluarkan buku panduan turisme yang menarik seperti disitir BBC.

“Inggris adalah bangsa yang “kelebihan berat badan, gemar minum, obsesi dengan seks dan selebriti serta pecandu televisi, demikian tulis panduan baru untuk wisatawan.

Edisi terbaru Rough Guide menyebutkan, tidak ada negara lain yang “picik, merasa penting dan menjengkelkan” seperti Inggris.”

Di bagian lain laporannya dikatakan pula:

Namun Inggris lebih “mengesankan, indah dan secara budaya beraneka ragam” dengan “berbagai bangunan, monumen bersejarah serta pertamanan”.

Kesan saya memang keindahan negeri dan keanekaragaman budaya mennjadi ciri utamanya. Soal bangunan kuno, lihat saja di London yang modern, banyak ditemukan bangunan yang dirawat nilai sejarahnya. Dalam soal museum Inggris memang unggul. Puluhan museum bisa ditemukan di London dan berbagai kota Inggris.

Apa katanya lagi? Berikut ini penjelasan lainnya:

“Inggris adalah bangsa yang bangga terhadap patriotisme, meskipun demikian perdana menterinya orang Skotlandia, memiliki pelatih sepakbola orang Italia dan seorang keluarga kerajaan asal Yunani.”

Inggris “tidak hanya sebuah negeri, namun tempat pertemuan budaya, kelas dan suku”.

Di sisi lain, Inggris merupakan “surga bagi para pengungsi” dengan imigran lebih dari 100 etnik akan juga “tempat sangat konservatif”.

Di satu segi, negara ini kehilangan keanekaragaman budaya, klaim buku panduan ini “dimana jantung banyak kota dan juga pinggiran kota terdiri dari zona pertokoan yang mirip.

“Walaupun demikian ini sebuah negeri dimana tumbuh sumbur individualitas dan kreativitas, menghasilkan budaya pop dan pentas seni, musik dan fesyen yang termasuk paling dinamis di dunia.Tidak lupa Rough Guide ini juga menulis, bahwa Inggris sangat fanatik akan sepakbola. Liga Primer adalah kebanggaan tetapi banyak yang mengeluh tiket nonton bolanya terlalu mahal.Bagaimana kesan Anda bertemu orang Inggris?

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d