• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Monthly Archives: November 2010

Akhirnya, Pangeran William dapat pasangan

17 Wednesday Nov 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog, London

≈ Leave a comment

Tags

Kate Middleton, Pangeran William

Akhirnya Pangeran William, putra sulung mendiang Putri Diana, mengumumkan pertunangannya dengan Kate Middleton. Sudah lama mereka menjalin hubungan akhirnya pertemanan ketika di College – sederajat SMA kelas 3 dan tingkat 1 Perguruan Tinggi – berakhir dalam rencana pernikahan.

Videonya bisa dilihat di link BBC Indonesia.Konon dia adalah pewaris kedua tahta Kerajaan Inggris setelah Pangeran Charles. Tidak seperti ayahnya, tak banyak gosip dengan William. Dia pemuda seperti umumnya namun media tidak menyebutnya playboy. Putra mendiang Putri Diana ini menjadi berita dunia kini dan nanti. Media dipastikan akan mengulas panjang lebar tentang pasangan ini hari ini dan seterusnya sampai puncak acara pernikahan katanya pertengahan tahu 2011.

 

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Selamat Idul Adha 1431 H

15 Monday Nov 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Family

≈ Leave a comment

Tags

Haji, Idul Adha 1431 H

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah di Padang Arafah, simbol kasih sayang dan penyerahan diri kepada Allah SWT

Hari Raya dimanapun dan dalam agama apapun merupakan hari yang membahagiakan. Banyak mometum yang dikenang dan sangat berharga. Apalagi seperti Idul Adha maka yang terbayang adalah sebuah perjuangan manusia suci berabad-abad lalu bahkan mungkin lebih dari seribu tahun lalu.Haji adalah monumen tertinggi dalam perjalanan seorang Muslim karena melengkapi rukun Islam yang lima mulai dari Syahadat, Shalat, Zakat sampai Puasa kemudian Haji. Berbeda dengan Shalat lima waktu sehari, Haji minimal satu kali dalam perjalanna kehidupan kita.Pesan yang termuat dalam ibadah haji sangat mendalam, sangat bernilai dan memiliki dampak sampai akhir kahyata. Kecuali mungkin yang haji tanpa hati maka kembali setelah haji tidak ada nilai mabrur tetapi bisa jadi kembali ke perilaku sebelumnya.Dalam ritual puncaknya,  Wuquf di Arafah merupakan pengalaman ruhani yang menggetarkan. Mereka yang mengalami saat wuquf dari waktu dzuhur sampai maghrib akan merasakan bagaimana perjalanan ruhani sampai kepada puncaknya, bagamana doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan diri, keluarga dan umat sampai berjumpa dengan Sang Pencipta.Wuquf yang berarti diam sejenak atau berdiam. Berdiam merenungkan diri, berdiam dalam doa.Wuquf  adalah wujud komunikasi dengan Ilahi yang suci. Komunikasi yang sangat pribadi langsung bisa dirasakan.Allah sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Allah juga meliputi segala sesuatu. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa. Dialah Maha Pencipta.Takala berwuquf  maka kekuatan ruhani ini – bukan jasad yang hanya mengenakan pakaian ihram – yang mendominasi. Kekuatan ruh inilah yang Allah angkat dalam doa-doa yang bersambung terus dalam khusyunya wuquf.Mungkin tidak ada pengalaman bathin yang sangat mendalam selain wuquf ini. Di sebuah padang luas di Arafah – mengingatkan padang Mahsyar – dua atau tiga juta umat Islam bermunajat dalam diam, dalam doa dalam kekhusyuan ibadah.Duduk bersambung dengan Allah merupakan anugerah yang sangat luas akan dirasakan dalam hati. Getaran hati inilah yang akan merasakan bagaimana Allah “merespons” doa kita.Bagi yang pernah duduk dan berdiam di Padang Arafah, maka pengalaman ruhani inilah yang akan terbawa yang akan mengubah sikap dan posisi diri kita kepada Allah. Posisi yang menghambakan sepenuhnya kepada Allah, posisi yang menyerahkan diri totalitas kepada Allah, posisi yang menjadikan Allah tempat bergantung yang sempurna, menjadikan diri tawakal sepenuhnya kepada Allah.Salah satu dari hasil wuquf yang merupakan inti haji ini, hati seperti dilapangkan, dibukakan bashirah, diperkenalkan semua ciptaan-Nya dan bahkan hidup dalam ketenangan, kebahagiaan tanpa rasa khawatir apapun mengenai masa depan, tanpa khawatir soal keluarga, tanpa cemas soal kerja atau proyek. Semua sudah pasrah totalitas kepada Allah, dan Allah yang senantiasa membimbing dia.Maka jika seorang Muslim memiliki kesempatan berhaji, segeralah berniat. Inilah pengalaman yang akan mengubah diri kita dalam melihat, memandang dan berfikir. Inilah perjalanan yang secara fisik berat namun secara ruhani penuh dengan kebahagiaan.Selama kepada haji mabrur, Selamat Idul Afha 1431 H.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Aung San Suu Kyi bebas

14 Sunday Nov 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Jurnalisme

≈ Leave a comment

Tags

Aung San Suu Kyi

Suu Kyi

Aun San Suu Kyi di depan pendukungnya di Rangoon, Minggu 14/11/2010

Aung San Suu Kyi bebas ! Kabar ini seperti mengulang tahun 1996 ketika dapat wawancara dengan tokoh besar Birma ini di kediamannya di Rangoon sesaat setelah dibebaskan. Aung San Suu Kyi simbol demokrasi dan kebebasan Birma yang terkekang. Tanggal 13 November 2010 Suu Kyi dibebaskan lagi.

Aung-San-Suu-Kyi

Wawancara saya sebagai wartawan Kompas dengan Aung San Suu Kyi Mei 2006 sesaat setelah dibebaskan dari tahanan rumah

Sudah lebih dari 14 tahun pertemuan langsung saya dengan Aung San Suu Kyi, tokoh pergerakan pemenang Nobel Perdamaian. Dia seorang ibu yang sayang sama anak-anaknya yang terpisah karena harus tinggal di Inggris. Suaminya meninggal setelah lama tidak bertemu dia.Di rumahnya di Rangoon di pinggir danau,  Suu Kyi menghabiskan waktu perjuangannya. Dia adalah pribadi yang tegar, kuat dan berwawasan. Andai Birma sejak dulu memberikan kesempatan untuk ruju dengan dia mungkin wajah Birma tidak seperti sekarang, negara miskin dan terbelakang di sesama negara Asia Tenggara.Ucapannya sangat jelas dan tegas bahwa dia menginginkan Birma menjadi negara yang demokratis dan maju. Namun militer masih kuat dan ingin terus berkuasa. Pemilu November 2010 menunjukkan militer melalui jalan parpol ingin tetap mengisolasi Birma. Sebenarnya aneh sekali karena bahkan negara komunis yang bermusuhan dengan Barat pun bisa hidup berdampingan. Nasionalisme yang serba terkekang di Birma ini menjadi ideologi para penguasa yang notabene adalah militer.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d