Blog mengenai Jakarta

Tags

, ,

Sambil melihat-lihat Jakarta dari dekat ternyata banyak juga yang membuat blog mengenai ibu kota Indonesia ini, bahkan ada pula Jakarta daily photo. Hmm sudah sedemikian menarik ya Jakarta sehingga banyak pula ulasannya. Bahkan saya juga sudah pernah berbicara dengan sejarawan Jakarta Mona Lohanda dari arsip nasional. Menarik juga informasinya mengenai Jakarat tempoe doeloe.Jadi sesudah membuka-buka blog Jakarta ini juga tertarik memberikan sumbangsih sedikit mengenai bagaimana hidup di ibu kota yang macet dan – ini sangat dirasakan – berudara kotor karena mobi, motor dan bus yang berputar-putar setiap hari melepaskan gas monoksida. Tidak jarang sekarang ada sedikit batuk-batuk, mungkin juga sedang adaptasi dengan udara yang berat timbalnya ini.The Jakarta Indonesia Urban Blog  boleh menjadi pembuka awal. Kebetulan ketemu ketika sedang browsing mengenai sebuah topik.Dari sini bisa mengalir ke beberapa blog dan situs misalnya Bataviase atau bisa pula mampir di Jakarta Daily Photo.

Kereta Listrik yang vital di Jakarta dan sekitarnya

Tags

, , , ,

Saya kira sudah menjadi patokan di negara-negara maju bahwa moda transportasi umum hanya bisa ditempuh dengan kereta api. Dengan gerbong yang bisa mengangkut sampai ratusan orang dan rendah polusi, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak memprioritaskan kereta listrik.Di London Tube telah menjad andalan memindahkan sekitar tiga juta per hari bahkan membantu komuter sampai zona 6 yang bisa ditempuh sampai satu jam dari satu titik terjauh di Central London.Kalau Jakarta mau mencegah kemacetan yang semakin hebat, maka kereta listrik pilihan masa depan. Taruhlan kalau masih ada umur 50 tahun ke depan harus sudah ada apa yang namanya kereta listrik.Potensi ini cukup besar. Pengalaman dari stasiun Sudimara ke Sudirman di tengah Jakarta merupakan sebuah pengalaman mengesankan. Kereta Listrik ini dari segi fisik sudah menyamai apa yang ada di London. Jadwalnya sudah ada dan kecepatan sampai dengan waktu tempuh bisa diandalkan. Dengan KRL ini jarak tempuh hanya setengah jam dari pinggiran Jakarta ke tengah kota. Bayangkan kalau naik taksi atau mobil pribadi, mungkin pada jam sekitar pkl 07.00 jarak tempuh ke titik yang sama di Stasiun Sudirman memerlukan waktu hampir dua jam dan kalau naik taksi bisa sampai Rp 100.000 -an karena tertahan macet dan keluar masuk tol.Anehnya potensi ini tidak pernah digali oleh pemerintah. Sungguh sebuah ironi. Jika efisiensi dijadikan patokan maka KRL adalah pilihan masa sekarang dan masa depan.Kalau tadi kereta secara fisik nyaman lain lagi dengan stasiunnya. Taruhlah Sudimara di daerah Bintaro sebagai sample. Wah semrawut, kotor dan tidak menunjukkan stasiun modern. Mulai pedagang, pengunjung dan berbagai orang numpuk di stasiun, apalagi giliran kereta kelas ekonomi datang semakin sibuk saja.Saya kira dengan polesan sedikit dan ketertiban yang lebih baik lagi, setidaknya bisa menyamai stasiun kereta api di Malaysia yang asri dan bersih meski sama-sama panas kalau siang hari.

Kemerdekaan dan kemiskinan

(tulisan ini sebenarnya berkaitan dengan 17 Agustutan-an tapi sudah terlambat)Kalau kita menengok ke sekeliling terutama di perkotaan, kesan tampak memang gemerlap bangunan dan mall. Tidak hanya itu, mall, hypermarket dan segala bentuk supermarket ini selalu penuh. Bernakah itu hasil kemerdekaan selama 63 tahun itu?Sebagian memang demikian.Namun mayoritas masih berada di bawah garis kemiskinan. Inilah yang lebih dirasakan dari sekedar gebyar upacara dan acara kemerdekaan.Bagaimana keluar dari kondisi ini ? Inilah pertanyaan sangat penting kalau melihat nasib kebanyakan masyarakat Indonesia di tengah kekayaan alam yang luar biasa.Kalau melihat kebiasaan dan budaya di Indonesia perbaikan tampaknya harus dimulai dari kelas elit baik dari ekonomi, militer, politik dan bahkan mungkin budaya serta pendidikan.Sayangnya sampai sekarang sebagian kalangan elit ini tidak memuaskan untuk menjadi pemimpin yang benar-benar diikuti masyarakat. Tampaknya harus menunggu sebelum kalangan inti elit ini benar-benar dedikasinya untuk kemajuan negeri bukan memperkaya diri dan kerabatnya.