• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Tips Liputan

Wawancara Nur Misuari di Filipina

26 Monday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ 1 Comment

Mengejar sumber berita seperti tokoh perjuangan Muslim Moro Nur Misuari yang pernah dikenal dalam perang gerilyawanya bukanlah langkah yang sepele. Diperlukan taktik yang menyertakan semua sumber untuk sampai mendekatinya.

Setelah Misuari menandatangani perdamaian di Istana Malacanang, Manila, saatnya untuk mendekati Misuari sebagai orang yang sekarang diakui oleh Pemerintah Filipina.

Kebetulan Kompas memiliki koresponden di Manila yang memang wartawan profesional untuk beberapa surat kabar asing. Kalau tidak salah namanya Barbara Dacanay. Melalui pintu koresponden inilah saya mencari akses kepada Misuari yang berada di Zamboanga, selatan Filipina.

Akhirnya diberi nama rekan dia untuk menanyakan apakah ada akses kepada Misuari. Setelah berunding kemudian janji bertemu di Zamboanga City. Urusan pertama yang dilakukan setelah mendapat nomor kontak dan berbicara langsung adalah memesan pesawat. Perjalanan Manila ke Pulau Zamboanga tidaklah dekat. Setelah mengatur perjalanan dengan perhitungan beberapa hari di Zamboanga ini maka akhirnya diputuskan untuk ke selatan mengejar Misuari.

 

Rekan wartawan Filipina ini memang cukup lama di lapangan sehingga saya berkesempatan untuk diantar masuk ke markas dan basis dari Front Pembebasan Nasional Mor, MNLF. Untuk memasuki kawasan ini saya beruntung diantar rekan wartawan Filipina ini sampai ke daerah pedalaman dengan kendaraan sendiri karna tidak ada taksi sampai ke sana.

Akhirnya dengan relasi wartawan ini saya ditinggal di markas Misuari ini, dititipkan ke bagian media dan asisten Misuari. Kebetulan pada hari kedatangan ada acara Misuari mengunjungi pulau terpencil yang pernah menjadi basis perjuangan dia melawan Filipina. Nah saya berusaha menempel Misuari dan rombongan dengan naik kapal boat Jihada1, Dengan kecepatan tinggi kapal melesat menuju laut lepas pada siang hari dan kemudian di tengah-tengah boat itulah saya mendekati Misuari untuk sebuah wawancara khusus disela-sela gemuruh ombak dan deru mesin boat.

Wawancara, foto bersama berlangsung lancar dan dalam suasan santai seraya menuju sampai ke sebuah pulau di tengah lautan.

Beruntung bisa mengambil banyak foto bersama rombongan Misuari yang katanya semua adalah mantan gerilyawan dan pernah mengangkat senjata. Di Pulau itulah Misuari mengenang perjuangannya dan disambut meriah penduduk yang jumlahnya bisa dhitung dengan jari. Dijamu dengan bakar ikan maka pesta kecil ini disela dengan canda dan tertawa karena damai sudah di tangan dengan otonomi khusus Moro.

Jadi kalau memang kesulitan mendekati nara sumber, maka salah satu jalan yang ditempuh menggunakan relasi wartawan lokal untuk menemui akses ke sumber utama berita. Disinilah perlunya kontak yang luas wartawan dimanapun bahkan sampai ke mancanegara. 

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Tips wawancara: sabar menunggu

26 Monday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ 3 Comments

Salah satu ujian dalam peliputan di lapangan adalah kesabaran menunggu nara sumber. Mengejar nara sumber utama bukanlah soal mudah. Anda bisa mengejarnya sampai berhari-hari mungkin juga berminggu-minggu. Jadi kalau satu hari tidak berhasil mendapatkan nara sumber, jangan menyerah. Apalagi hanya kalau menunggu berjam-jam dari pagi sampai sore, anggaplah sebuah bagian dari profesi. Di sela-sela menunggu masih banyak hal bisa dikerjakan mulai dari ngobrol dengan sesama rekan sampai merencanakan bentuk pertanyaan, kemungkinan jawaban dan tanggapan terhadap jawaban itu.

Dalam karir awal di bidang jurnalistik, saya pernah diminta wawancara kepala bidang politik LIPI Alfian. Nama beliau sangat harum sebagai analis politik yang jernih. Dalam situasi dimana kajian politik menjadi bahan tabu di masa Orde Baru, Alfian masih bisa memiliki ruang untuk manuver dan memberikan komentarnya.

Saya ditugaskan untuk wawancara Alfian dalam memberikan komentar terhadap sebuah peristiwa politik. Hanya dia satu-satunya yang dianggap bisa memberikan pendapat secara berbobot. Setelah mencari ke kantor dengan menelponnya akhirnya ditemukan kalau tidak salah di Gedung Pers di Jakarta Pusat lagi menghadiri sebuah rapat. Lalu segera bergerak ke sana dan karena sedang sidang maka ditunggulah di luar. Jam makan siang beliau keluar sebentar dan ditemui serta menyatakan kesediannya untuk sebuah wawancara.

Beberapa jam menunggu dan akhirnya setelah lewat pukul 15.00 lebih Dr Alfian keluar dari ruang sidang yang tampaknya sudah diselesai. Segera ditemui dengan harapan sudah siap dengan sebuah wawancara. Namun apa jawaban beliau: "Saya sudah lelah hari ini, bagaimana kalau besok saja ?"

Mendapat jawaban seperti itu setelah menunggu berjam-jam, mau tidak mau ya diterima saja. Nara sumber apalagi yang penting tidak bisa main paksa memberikan pendapat. Terpaksa kita mengalah untuk mendapatkan jawaban berkualitas. Ini juga bagian dari penghormatan kepada nara sumber terhadap sikap dan kondisinya.

Kalau mengikuti kata hati mungkin ada perasaan jengkel dan kesal. Apalagi harus laporan kepada editor, lalu apa kata editor nanti ?

Itulah bagian dari liku-liku liputan di lapangan. Semua nara sumber harus diantisipasi sulit dan waktunya sempit. Hampir semua nara sumber yang utama adalah orang penting yang super sibuk. Apakah dia menteri, pejabat tinggi, akademisi, pengusaha, selebriti atau pengacara, semuanya tidak mudah ditemui dan tidak mudah menyisihkan waktunya. Itulah salah satu yang harus dibiasakan ketika menghadapai nara sumber. Bukan mengalah terhadap "kepentingan" mereka, tetapi memaklumi sehingga bisa terjadi negosiasi untuk menentukan waktu dan tempat wawancara.

Dr Juwono Sudarsono ketika aktif di Universitas Indonesia adalah salah satu nara sumber untuk masalah internasional. Beliau juga orang sibuk namun kalau perlu dikerja ke rumahnya, meskipun sore hari, untuk sebuah wawancara. Perjalanan wawancara memang menuntut kemampuan dalam menyiasati transportasi seperti di Jakarta atau di daerah yang jauh.

Pengalaman liputan di Zamboanga sampai masuk keluar pulau hanya untuk ketemu Nur Misuari merupakan bagian dari perburuan mendapatkan sumber berita penting. Liputan di Rangoon juga terjadi hal yang sama, menunggu dan menyiasati supaya bisa dekat ke nara sumber. Demikian pula ketika berusaha berjumpa dengan mantan Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim dan Wan Azizh Wan Ismail, istrinya, dalam sebuah liputan di Malaysia.

Liputan di luar negeri lebih memerlukan kesabaran lagi karena medan yang masih asing dan perlu penyesuaian terlebih dahulu serta perhitungan secara cermat supaya waktu tidak terbuang percumah.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Tips wawancara dengan nara sumber utama

23 Friday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ Leave a comment

Wawancara dengan nara sumber utama seperti tokoh-tokoh nasional negara asing atau tokoh oposisi yang dicari para wartawan dunia.

Saat berkunjung untuk liputan ke Rangoon, salah satu target adalah wawawancara Aung San Suu Kyi. Tentu ini adalah sasaran idel semua wartawan yang ada. Bahkan saat itu di Ranggoon ketika datang sudah ada sedikitnya 200 wartawan mancanegara yang berebut ketemu Suu Kyi yang sudah dibebaskan dari tahanan rumah.

Beberapa langkah yang ditempuh saat itu adalah:

1. Datang ke lokasi rumah Aung San Suu Kyi dimana setiap hari pagi dan sore dia berbicara kepada para pendukungnya. tentu Suu Kyi menggunakan bahasa setempat, jadi yang terdengar adalah pidato dia di belakang pintu gerbang besar dengan speaker seadanya lalu disambut yel-yel para pendukungnya. Begitu terjadi selama beberapa hari. Tentu saja mustahil mendekati Suu Kyi karena tidak hanya wartawan tetapi juga tokoh Liga Nasional untuk Demokrasi dan para biksu mengejarnya.

2. Setelah hadir dalam beberapa kali acara rutin mimbar demokrasi itu, suasana kegembiaraan meliputi jalan yang ada di sekitar rumah Suu Kyi yang terletak di pinggir danau. Nah saat itu adalah bagaimana mendekati para penjaganya yang notabene adalah para pendukung Suu Kyi. Sopir taksi uang disewa sudah diminta bantuan tapi tidak bisa dia melakukan apa-apa.

3. Cari info lewat wartawan lokal dan mancanegara yang Asia atau Eropa sama saja. Beluma da jawaban karena merekapun ternyata sama pikirannya, wawancara eksklusif dengan Suu Kyi. Nah salah satu keunggulan waktu itu tidak ada wartawan Indonesia. Setelah berkenalan tanya sana dan tanya sini, baru menemukan orang Rohingya yang ternyata seorang Muslim. Lewat koneksi ini dan ternyata dia bisa berbahasa Inggris dengan baik, maka saya mulai ngobrol dan mengutarakan niatnya. Ternyata dia paham, lalu berjanji akan menyambungkan saya dengan para penjaga karena dia bisa berbahasa lokal. Kenalan inilah yang menjadi pembuka untuk komunikasi kedalam. Maka diajaknya saya mendekati gerbang setelah acara pidato berapi-api selesai. Dia lalu berbicara, bahwa ada wartawan dari Indonesia ingin wawancara dengan Suu Kyi lalu surat saya dari kantor diserahkan dan juga kartu nama. Penjaga yang masih belia itu lalu menerima surat itu dan dimasukkan kedalam untuk diproses.

4. Tentu saja jauh dari optimis bisa bertemu dengan Suu Kyi yang dikerumuni wartawan seluruh dunia. Keesokan harinya dicek lagi ke pintu mengenai jadwal wawancara dan ternyata hasilnya nihil. Begitu terus dicek dan akhirnya keluar informasi  Kompas dijadwalkan wawancara agak sore !

5. Setelah menulis laporan setiap hari yang dikirim melalui faks dari hotel, dan susahnya setengah mati karena harus dicek ulang ke Jakarta, maka disiapkan sedertan pertanyaan. Alat perekam juga dipersiapkan dan tidak lupa koran Kompas dengan foto Suu Kyi dan kamera.

6. Ternyata setelah diijinkan masuk kedalam, saya merekam semua keadaan itu mulai dari kantor penjaga dekat pintu gerbang, ada kantor dekat rumah Suu Kyi dan Rumahnya yang kusam dipinggir pantai. Cukup luas. Akhirnya bisa berjumpa di dengan Suu Kyi dan bisa mengadakan wawancara dengan santai, malah dia masih memberikan banyak waktu walaupun tentu semua pertanyaan sudah selesai dijawab dengab singkat dengan bahasa Inggris yang lancar.

7. Setelah wawawancara berfoto bersama dan mengambil beberapa foto Suu Kyi sebagai dokumentasi. Dia tampak sudah terbiasa menerima wartawan beberapa hari setelah enam tahun dalam tahanan rumah, tidak diijinakn bertemu siapapun.

Demikian sekilas tips wawancara, ada beberapa tips lagi wawancara dengan beberapa tokoh seperti Anwar Ibrahim dan Nur Misuari.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d