• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Teknik Penulisan

Tantangan meliput di Timur Tengah

19 Wednesday Jul 2006

Posted by Setiawan in Teknik Penulisan

≈ Leave a comment

Dengan suasana membara saat ini di Lebanon dan Gaza, bagi seorang jurnalis ini adalah tantangan nyata. Drama pengungsian mungkin lebih menarik untuk diikuti dari sekedar pemboman yang dilakukan Israel dan Hezbullah. Kalau ke lapangan mungkin banyak feature and angle bisa dikembangkan.

Sebaliknya jika kita tidak memiliki kesempatan datang ke lokasi peristiwa, salah satu jalan adalah mengembangkan pengamatan dari jauh. Studi dari sumber kedua tidak ada salahnya. Sumber berita seperti majalah, koran,online news dan jurnal ilmiah merupakan sumber penting untuk penulisan berita.

Bahkan keuntungan penulisan dari jauh adalah analisis bisa lebih tajam dan menukik. Berbagai sumber bisa dihimpun mulai dari sumber di Timur Tengah, Barat dan dari Indonesia sendiri. Jadi meskipun posisinya di Jakarta misalnya analisis dan pembuatan berita akan jalan terus bagi seorang jurnalis. Bahkan dengan tingkat tertentu bisa mengembangkan daya analisis yang lebih menyeluruh karena membandingkan berbagai sumber.

Sebaliknya jika terjun ke lapangan tantangannya akan lebih besar dan juga ancaman fisiknya tinggi. Kebutuhan untuk pelatihan liputan perang atau daerah konflik harus sudah melengkapi diri kita. Jika tidak ada pengalaman terjun ke medan berat seperti arena perang di Lebanon selatan mungkin bisa berlatih di Indonesia mengikuti jurnalis senior ke daerah konflik mulai dari Aceh sampai Papua.

Sekali lagi tantangan di lapangan adalah bersifat fisik. Kita sebaiknya memiliki stamina tinggi untuk terus menerus awas dan waspada dengan situasi sekitarnya.

Salah satu pengalaman terjun ke lapangan adalah jalinlah persahabatan dengan sebanyak mungkin wartawan lokal dan wartawan Barat. Di lapangan kita biasanya memiliki semangat korps. Jadi apakah wartawan tulis, kameraman, fotografi atau radio memiliki semangat jurnalistik yang sama. Kecepatan, ketepatan, angle yang beraneka ragam serta teknik pengiriman yang memenuhi deadline adalah kebutuhan jurnalis di lapangan.

Oleh sebab itu biasanya begitu mendarat di sebuah medan liputan jangan lupa memeriksa semua jalur komunikasi yang kita bawa atau saluran telepon dimana menginap. Apakah kita tinggal di hotel atau rumah kenalan, sebaiknya cek dan ricek akses telepon dan internet.

Selain untuk pengiriman juga diperlukan untuk koordinasi dengan editor di kantor. Dijaman dimana telepon seluler sangat mudah maka fungsi SMS juga penting dalam liputan di medan yang keras.

Jangan lupa kalau di lapangan dan sempat memiliki akses ke internet atau ke faks untuk senantiasa mengecek perkembangan dunia serta angle yang dikembangkan wartawan kantor berita jika menyangkut pemberitaan hardnews. Namun untuk feature kita bisa mengembangkan keunikan khusus.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Menyajikan laporan=menyajikan makanan lezat

08 Saturday Jul 2006

Posted by Setiawan in Teknik Penulisan

≈ Leave a comment

Laporan yang ditulis setelah liputan di lapangan atau riset di perpustakaan perlu disajikan dengan cara yang mudah dibaca. Media massa adalah bacaan untuk umum. Sasaran pembaca atau pendengar/penonton untuk media elektronik seharusnya bisa memahami laporan seorang jurnalis dengan mudah.

Makanan

Dalam berbagai pendapat wartawan senior, begitu orang itu membaca lead sebuah tulisan seharusnya telah memberikan penjelasan yang komprehensif yang memungkinkan orang super sibuk bias mendapatkan informasi lengkap.

Meskipun demikian syarat utama sebuah berita atau laporan, namun tetap penyajiannya memperhatikan seni berkomunikasi. Seni menyajikan laporan dan berita penting sehingga bisa disantap dengan mudah, enak dan lezat.

Inilah yang dinamakan sejumlah rekan wartawan sebagai mengolah dan memasak informasi serta data itu kedalam sebuah laporan yang bisa lezat dicerna. Seorang jurnalis dengan kata lain perlu juga membayangkan seperti seorang juru masak alias koki dalam menyajikan makanan yang lezat.

Kalau kita perhatian, makanan itupun beraneka ragam. Makanan itu bisa disajikan dengan pedas atau manis. Santapan itu juga bisa disajikan dengan berbagai bumbu penyedap. Kalau makanan ada yang disebut pembuka atau starter guna menggoyang lidah guna menyantap sajian berikutnya, demikian juga tulisan.

Bahkan ada jenis makanan penutup untuk menambah rasa lezat yang sempurna dari suatu santapan. Berilah kepuasan kepada pelanggan sehigga selera makannya naik. Juru masak akan mengetahui bagaimana mengundang selera konsumennya.

Kalau diperhatikan lebih seksama, seni memasak sama dengan seni jurnalistik. Penulisan perlu memperhatikan aspek estetika sehingga terlihat lezat. Lebih dari itu tulisan juga terlihat enak dilihat. Kekacauan dalam merangkai kata-kata, menjalin logika dan menyajikan argumentasi akan menimbulkan sakit kepala kepada pembacanya. Itulah mengapa seni menyajikan tulisan atau laporan seperti halnya menyajikan hidangan perlu dipelajari.

Sebuah tulisan atau laporan yang menggugah akan menimbulkan dampak besar bagi pembacanya. Sajian yang informatif serta uraian yang dapat menimbulkan emosi pembaca peru dilatih.

Wartawan itu manusia dan pembaca juga manusia. Sentuhan tidak hanya kepada akal yang rasional tetapi juga kepada emosi seperti dalam penulisan laporan di tempat musibah. Itulah mengapa penulisan laporan pun perlu memperhatikan konteksnya.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Penulisan tragedi

07 Friday Jul 2006

Posted by Setiawan in Teknik Penulisan

≈ 1 Comment

 

Tragedi bisa terjadi setiap saat. Media cenderung meliput habis-habisan tragedi ini terutama kalau sudah menyangkut drama manusia. Nasib hidup dan mati insan ini menjadi sebuah berita yang akan menjadi pusat perhatian dunia. Apalagi jika skala tragedi itu mengglobal seperti bom London, bom Bali dan kelaparan di Afrika.

Hari ini tanggal tujuh Juli 2006, tepat satu tahun tragedi pemboman di London. Yang sudah diketahui umum sebanyak 52 orang meninggal karena aksi bom empat orang di jaringan kereta bawah tanah dan sebuah bus.

Peristiwa pemboman itu terjadi saat saya berada di lapangan ketika akan berangkat ke kantor. Suasana mencekam dapat saya rasakan di London mulai sejak melangkah ke kereta api, jalan di London yang seperti kota mati dari kendaraan umum dan suara melengking ambulans dan polisi.

Beberapa angle yang bisa digarap dalam penulisan tragedi seperti tragedi di London ini:

1. Selalu diangkat adalah drama manusia. Mereka yang meninggal, perasaan mereka yang selamat, keluarga korban adalah sumber berita yang kuat. Hindari statistik. Sajikan statistik dalam bentuk grafik. Penulisan diarahkan kepada emosi dan suasana berduka yang akan mendominasi tulisan sejak lead sampai akhir. Drama manusia ini merupakan sebuah gambaran betapa hidup dan mati, betapa semua ini akibat konflik akan menjadi menarik..

2. Sajikan dalam bentuk feature. Pendekatan feature dengan penonjolan karakter dan emosi manusia adalah sajian yang biasanya lebih menyentuh dan mengundang pembaca. Inilah yang akan membuat sebuah penulisan berita akan menarik. Fokus kepada karakter manusia dan penyajian yang lebih mengalir dari sekedar standar 5W1H. Penulisan seperti ini memang memerlukan latihan sendiri, tidak hanya sekedar menuliskan berita standar.  Biasanya penulisan bentuk feature ini lebih berat dari sekedar penyajian hardnews biasa.

3. Selain bentuk emosi manusia yang ditonjolkan, jangan lupa konteks pemberitaan. Tragedi terjadi dalam sebuah peristiwa. Meski sorotan itu terhadap emosi dan suasana hati mereka yang terlibat dan yang melihat maka peristiwa yang melingkupinya, misalnya jenis bom apa jika memang itu ledakan bom atau badai seperti apa dan berapa kekuatannya.

4. Jangan lupa di bagian belakang menuliskan sebuah ulasan sedikit mengenai apa yang terjadi kemudian, bagaimana para korban tragedi ini dan apakah akan bertambah jumlahnya. Lalu apakah gempa atau bencana itu akan terjadi lagi misalnya dalam kasus liputan di Yogya. 

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d