Laporan yang ditulis setelah liputan di lapangan atau riset di perpustakaan perlu disajikan dengan cara yang mudah dibaca. Media massa adalah bacaan untuk umum. Sasaran pembaca atau pendengar/penonton untuk media elektronik seharusnya bisa memahami laporan seorang jurnalis dengan mudah.

Makanan

Dalam berbagai pendapat wartawan senior, begitu orang itu membaca lead sebuah tulisan seharusnya telah memberikan penjelasan yang komprehensif yang memungkinkan orang super sibuk bias mendapatkan informasi lengkap.

Meskipun demikian syarat utama sebuah berita atau laporan, namun tetap penyajiannya memperhatikan seni berkomunikasi. Seni menyajikan laporan dan berita penting sehingga bisa disantap dengan mudah, enak dan lezat.

Inilah yang dinamakan sejumlah rekan wartawan sebagai mengolah dan memasak informasi serta data itu kedalam sebuah laporan yang bisa lezat dicerna. Seorang jurnalis dengan kata lain perlu juga membayangkan seperti seorang juru masak alias koki dalam menyajikan makanan yang lezat.

Kalau kita perhatian, makanan itupun beraneka ragam. Makanan itu bisa disajikan dengan pedas atau manis. Santapan itu juga bisa disajikan dengan berbagai bumbu penyedap. Kalau makanan ada yang disebut pembuka atau starter guna menggoyang lidah guna menyantap sajian berikutnya, demikian juga tulisan.

Bahkan ada jenis makanan penutup untuk menambah rasa lezat yang sempurna dari suatu santapan. Berilah kepuasan kepada pelanggan sehigga selera makannya naik. Juru masak akan mengetahui bagaimana mengundang selera konsumennya.

Kalau diperhatikan lebih seksama, seni memasak sama dengan seni jurnalistik. Penulisan perlu memperhatikan aspek estetika sehingga terlihat lezat. Lebih dari itu tulisan juga terlihat enak dilihat. Kekacauan dalam merangkai kata-kata, menjalin logika dan menyajikan argumentasi akan menimbulkan sakit kepala kepada pembacanya. Itulah mengapa seni menyajikan tulisan atau laporan seperti halnya menyajikan hidangan perlu dipelajari.

Sebuah tulisan atau laporan yang menggugah akan menimbulkan dampak besar bagi pembacanya. Sajian yang informatif serta uraian yang dapat menimbulkan emosi pembaca peru dilatih.

Wartawan itu manusia dan pembaca juga manusia. Sentuhan tidak hanya kepada akal yang rasional tetapi juga kepada emosi seperti dalam penulisan laporan di tempat musibah. Itulah mengapa penulisan laporan pun perlu memperhatikan konteksnya.