• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Jurnalistik

Catatan mengenai peran dan tugas editor

21 Monday Feb 2011

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Jurnalistik, Jurnalistik Radio

≈ 2 Comments

Tags

editor

Salah satu posisi di media massa yang cukup penting adalah editor. Editor ini fungsinya yang sangat sederhana adalah mengedit laporan yang masuk dari rekan-rekan jurnalis di lapangan atau bisa pula mengedit tulisan kolom yang masuk ke sebuah media cetak.

Dalam hal audio dan video maka dia juga memeriksa script atau naskah yang akan dibacakan oleh produser juga isi audio dan video yang akan disiarkan.Untuk tulisan yang akan diterbitkan maka seorang editor memiliki dua tugas penting secara garis besarnya.

1. Dia harus memeriksa akurasi kalimat dan kata-kata yang dituliskan oleh reporter dari lapangan. Akurasi ini sangat penting karena dari sinilah kemudian akan diketahui bagaiman bobot sebuah tulisan atau laporan. Ketelitian merupakan ‘hukum menulis’ pertama yang harus diberlakukan.Sebuah kata jangan sampai tertinggal atau terbalik-balik atau kelebihan satu dua kata. Kata yang terjalin dalam sebuah kalimat merupakan bangunan dari paragraf dan bangunan dari tulisan atau laporan.Oleh sebab itu tugas pertama dan utama adalah memeriksa semua kata-kata yang ada di dalam tulisan itu baik secara tunggal maupun kalimat. Semuanya harus akurat sesuai dengan tata bahasa dan rasa bahasa. Pemeriksaan kalimat dan kata ini penting untuk menjadikan sebuah laporan ini kokoh dan berbobot.Keteledoran dalam penulisan kata akan berakibatkan pada kelemahan dalam tulisan itu. Bisa pula kesalahan ketik dan kesalahan penulisan akan mengganggu pembaca yang sedang tekun menyimak laporan atau gagasan dalam sebuah tulisan.Kesadaran akan makna bahwa sebuah kata itu benar dituliskan dan benar dilaporkan dan siap untuk dicetak menjadi sangat penting dalam tulisan yang akan diterbitkan dalam media cetak atau online. Bahkan di dunia televisi dan radio pun naskah harus benar-benar menunjukkan akurasinya.

2.Sesudah teknis penulisan mulai kata perkata benar sesuai dengan tata bahasa dan sesuai dengan penyebutan dalam dunianya maka langkah berikutnya adalah memeriksa nama, tempat, istilah dan ungkapan yang ada dalam bahasa Indonesia. Jangan sampai sebuah kota salah tulis apakah penulisan Makasar itu satu s atau dua ss seperti Makassar. Ini penting untuk menjaga konsistensi dalam penulisan nama.Apakah ditulis Suharto atau Soeharto, Sukarno atau Soekarno. Demikian juga penyebutan istilah yang benar apakah medianya menulis Al Qaida, Al Qaidah atau Al Qaeda atau bahkan Al Kaidah. Apakah menyebut Osama bin Ladin, Osama bin Laden atau Usamah bin Ladin. Editor bertugas membereskan semua komponen dalam laporan itu sehingga konsisten dan ajeg mengikuti ketentuan penulisan yang berlaku di sebuah media. Mungkin saja penulisan satu media dengan media lain, atau penyebutan media audio atau video satu sama lain berbeda. Apakah China atau Cina. Apakah Tionghoa atau Tiongkok. Semuanya harus disesuaikan dengan panduan lembaga media itu.

3. Setelah mengkaji semua kata-kata dan akurasi penulisannya maka seorang editor masuk kedalam struktur pelaporan. Apakah model piramida terbalik atau piramida biasa atau bahkan seperti model sebuah batang yang sejajar dan simetris. Disinilah bagian yang penting untuk memastikan bahwa urutan pelaporan fakta tersusun baik dan logis. Gagasan diurutkan dengan tatanan yang rapih.

4. Biasanya pada tahap akhir seorang editor akan melihat gaya penulisan rekannya. Jika gaya dan nuansa penulisan itu menjadi ciri dia maka ada dua kemungkinan. Bisa dipertahankan atau dirombak sama sekali. Seorang editor yang memiliki karakter kuat dan dominan bisa saja kalau waktunya mencukupi akan diubah gaya penuturan, penulisan dan urutan sesuai dengan keahliannya. Bisa saja jika dia mengenali gaya tulisan seseorang dia akan membiarkan laporan itu tertulis seperti gaya sang jurnalis. Demikian juga dalam pelaporan audio dan video. Seorang editor akan mengenali gaya seseorang dala penyampaian ide, gagasan dan laporan.***

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Kekuatan Radio

20 Sunday Feb 2011

Posted by Setiawan in Archive, Jurnalistik, Jurnalistik Radio

≈ 1 Comment

Tags

berita, Jurnalistik Radio, kekuatan radio

Dunia radio masih hidup saat ini meskipun teknologi komunikasi sudah berkembang pesat dengan kehadiran internet serta penggunaan netbook serta telepon cerdas yang semakin lengkap fiturnya.

Bahkan siaran radio bisa diakses melalui telepon genggam biasa apalagi telepon seluler cerdas.Semula dengan kemajuan internet, radio dikatakan sudah tamat riwayatnya seperti halnya pernah diramalkan untuk surat kabar dan majalah berita.

Namun ternyata radio hidup lebih panjang justru berkat adanya teknologi internet ini karena berita lokal seperti di Indonesia dapat dinikmati di mancanegara, jauh melebihi batas territorial dan kemampuan antene radio.

Selain situs berita radio itu juga bisa dipancarkan melalui teknologi di internet secara langsung, berita yang termuat dalam radio juga bisa dimuat dalam situs di internet. Bahkan rekamannya dalam bentuk MP3 atau podcast bisa diakses, diunduh dan didengarkan kapan saja oleh pengunjungnya.Oleh sebab itulah kehadiran jagat maya internet menjadi sangat penting dalam dunia pemberitaan.

Dan tetap mengukuhkan radio sebagai salah satu medium komunikasi massa yang masih bisa diandalkan.Sementara itu gelombang FM radio yang semakin marak memberikan nuansa baru dalam kehadiran radio berita. Radio berita semakin lebih baik disimak kualitas audionya melalui FM yang sangat populer di dunia.

Beberapa keunggulan radio dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya bisa disebutkan sebagai berikut.

1.It is Immediate. Berita dapat dilaporkan lebih cepat melalui radio daripada surat kabar atau televisi karena teknologinya lebih simple. Meski zaman sekarang bisa ditandingi juga dengan media online namun berita radio menampilkan atmosfir nyata dari sebuah peristiwa yang bisa didengar langsung pemirsanya.

2. It is accessible.Radio juga mudah di akses. Kita bisa mendengarkan radio hampir dimanapun. Kita dapat mendengar radio ketika mengendarai mobil atau ketika berada di luar rumah. Teknologi telepon cerdas atau smartphone bahkan memudahkan kita mendengarkan radio dalam segala cuaca tanpa harus membawa-bawa kotak radio. Lebih-lebih lagi kita bisa mengerjakan hal lain sambil mendengarkan radio.

3. It is inclusive. Radio bisa mencapai banyak orang termasuk masyarakat yang miskin, terpinggirkan dan mereka yang tidak membaca atau menulis. Suara penyiar atau wartawan radio akan memberikan nuansa lain disamping tentu pengetahuan bagi para pendengarnya.

Namun diantara faktor penting yang membuat radio masih relevan sampai sekarang meskipun penemuannya sudah ratusan tahun lalu adalah sifat personal dari suara radio. Sifat personal dimana penyiar seperti berbicara langsung secara perseorangan. Suara radio seperti masuk kedalam hati dan pikiran para pendengarnya. Ini antara lain karena suara radio itu merupaka imajinasi masing-masing maka seseorang yang menerima berita atau laporan dari radio seperti menyampaikan secara personal apa yang terjadi jauh di luar dirinya. ***

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Tipe-tipe wawancara jurnalistik

17 Thursday Feb 2011

Posted by Setiawan in Archive, Jurnalisme, Jurnalistik, Jurnalistik Radio

≈ Leave a comment

Tags

wawancara jurnalistik

Interview atau wawancara tujuannya untuk mendapatkan data yang akan dimuat sebagai sebuah berita. Kadang-kadang wawancara dilakukan terhadap satu orang namun lebih sering lebih dari satu orang untuk satu topik.

Tidak jarang pula wawancara dilakukan melalui telepon atau di lapangan. Untuk Radio dan Televisi wawancara di lapangan sangat penting terutama jika ada kejadian penting, misalnya kebakaran gedung pemerintah.Sedikitnya ada tiga jenis wawancara:

1. Informational Interviews
Wawancara jenis ini untuk mengorek data atau opini. Karena sifatnya sebagai data maka hanya mendapatkan beberapa data penting. Misalnya, berapa buah mobil yang terlibat dalam tabrakan di jalan bebas hambatan. Namun yang pasti dalam pencarian informasi ini tidak dilupakan kaidah penting dalam news yakni pertanyaan dengan kata kunci who-what-where-why-when dan how. Meski biasanya bersifat pertanyaan terbuka akan tetapi bisa juga pertanyaan tertutup untuk mendapat jawaban ya dan tidak. Sebagai contoh, jika terjadi skandal korupsi yang melibatkan sebua lembaga, maka ditanya kepada kepala lembaga, apakah Anda akan mengundurkan diri ?

2. Interpretative Interviews
Biasanya untuk wawancara seperti ini memerlukan interpretasi terhadap fakta yang sudah ada. Misalnya, setelah terjadi kenaikan BBM apa pengaruhnya. Jenis pertanyaan seperti ini biasanya diajukan kepada sejumlah pakar atau akademisi.

3. Emotional Interviews
Jenis pertanyaan ini bersifat rawan. Jurnalis bisa dianggap campur tangan dalam urusan pribadi seseorang. Kadang-kadang malah memancing emosi. Namun jawaban emosional merupakan warna dalam laporan yang cukup penting. Seorang penumpang kapal yang tenggelam baru-baru ini atau yang terbakar, akan sangat lega bisa mengungkapkan rasa bahagia karena semangat dan sekaligus kesal kepada pemilik kapal.Tiga tipe wawancara ini tidaklah mutlak. Beberapa jenis wawancara bisa muncul dan bahkan tiga tipe ini bisa campur baur.

 

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d