• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Jurnalisme

Televisi berita antara kritis dan"kritis"

24 Monday Jan 2011

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Jurnalisme

≈ 2 Comments

Tags

televisi berita

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pemilik televisi Indonesia dipengaruhi atau berkepentingan dengan politik. Dua saluran televisi berita dimiliki oleh satu petinggi partai besar dan satu lagi berusaha membangun ormas yang juga mantan petinggi partai besar. Keduanya bersaing memperbutkan jabatan di partai berlambang beringin.Kini setelah satu pihak berkoalisi dengan pemerintah dan lainnya mendirikan ormas yang katanya juga akan berubah menjadi partai politik atau berkoalisi dengan parpol pada tahun 2014, maka nuansa pemberitaan menjadi sangat kentara. Satu televisi kritis dan bahkan sangat kritis terhadap lawan politiknya dan pemerintah koalisi namun di sisi lain mempromosikan ormas yang katanya akan memperbaiki demokrasi Indonesia.Demikian juga dengan televisi berita satu lagi tidak banyak menggali selama ini berita mengenai bencana lumpur di Jawa Timur karena pemiliknya juga menjadi pemilik perusahaan pertambangan. Maka kedua televisi ini dalam hal tertentu akan saling bersaing memperebutkan pengaruh untuk kepentingan para pemiliknya.Begitulah televisi berita yang membentuk opini kalangan urban dan kelas menengah perkotaan di Indonesia. Persaingan itu begitu tajam sehingga dalam perbincangan opini dan analisa baik editor, pembaca acara maupun nara sumber seperti sudah memiliki agenda setting untuk kritis dan bahkan “kritis”. Artinya ketika pemberitaan tentang pemerintah bersifat negatif maka pertimbangan editorial seperti halnya sebuah pemberitaan akan cenderung membesar-besarkannya tanpa melihat konteks.Disinilah sebenarnya tanggung jawab pemirsa televisi dan peminat pertelevisian agar lahir format informasi yang berimbang dan dapat dipertanggung jawabkan. Tidak hanya menyimpan sebuah kerangka untuk kritis apapun yang terjadi tanpa melihat konteks peristiwa.Saatnya ada semacam watchdog yang kuat untuk tidak memberikan konsumsi berita yang sepihak dan miring yang tidak hanya kurang mendidik tetapi menjadi penonton seperti orang bodoh. Bahkan pemberitaan yang cenderung propaganda partai atau pemilik media akan memerosotkan kualitas jurnalistik dalam berita televisi.Lebih-lebih lagi kekuasaan pemilik sepertinya sangat besar sehingga bisa tampil kapan saja dalam waktu yang lama untuk acara yang sudah disusunnya.Jika seandainya tampil pun maka seharusnya ada kontekanya dan apa kepentingan pemirsa televisi sehingga perlu disuguhi acara peresmian atau pengukuhan yang tak lain adalah sebuah peristiwa biasa. Pilihan mengapa ini perlu dan mengapa pemirsa harus menyaksikannya seharusnya bisa dijadikan bahan pertimbangan sehingga informasi bisa di sajikan untuk memperluas wawasan dan menjadikannya sebuah konsumsi berita yang memberikan masukan yang benar dan tidak menyesatkan.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Aung San Suu Kyi bebas

14 Sunday Nov 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Jurnalisme

≈ Leave a comment

Tags

Aung San Suu Kyi

Suu Kyi

Aun San Suu Kyi di depan pendukungnya di Rangoon, Minggu 14/11/2010

Aung San Suu Kyi bebas ! Kabar ini seperti mengulang tahun 1996 ketika dapat wawancara dengan tokoh besar Birma ini di kediamannya di Rangoon sesaat setelah dibebaskan. Aung San Suu Kyi simbol demokrasi dan kebebasan Birma yang terkekang. Tanggal 13 November 2010 Suu Kyi dibebaskan lagi.

Aung-San-Suu-Kyi

Wawancara saya sebagai wartawan Kompas dengan Aung San Suu Kyi Mei 2006 sesaat setelah dibebaskan dari tahanan rumah

Sudah lebih dari 14 tahun pertemuan langsung saya dengan Aung San Suu Kyi, tokoh pergerakan pemenang Nobel Perdamaian. Dia seorang ibu yang sayang sama anak-anaknya yang terpisah karena harus tinggal di Inggris. Suaminya meninggal setelah lama tidak bertemu dia.Di rumahnya di Rangoon di pinggir danau,  Suu Kyi menghabiskan waktu perjuangannya. Dia adalah pribadi yang tegar, kuat dan berwawasan. Andai Birma sejak dulu memberikan kesempatan untuk ruju dengan dia mungkin wajah Birma tidak seperti sekarang, negara miskin dan terbelakang di sesama negara Asia Tenggara.Ucapannya sangat jelas dan tegas bahwa dia menginginkan Birma menjadi negara yang demokratis dan maju. Namun militer masih kuat dan ingin terus berkuasa. Pemilu November 2010 menunjukkan militer melalui jalan parpol ingin tetap mengisolasi Birma. Sebenarnya aneh sekali karena bahkan negara komunis yang bermusuhan dengan Barat pun bisa hidup berdampingan. Nasionalisme yang serba terkekang di Birma ini menjadi ideologi para penguasa yang notabene adalah militer.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Tips masuk dunia jurnalistik (3)

03 Wednesday Mar 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Jurnalisme

≈ Leave a comment

Tags

Jurnalisme

Karena beberapa hal, para pengunjung mungkin kecewa melihat lambatnya pekembangan blog ini karena editor lebih fokus ke journalist-adventure.com.Baiklah melanjutkan soal tips masuk dunia jurnalistik yang diposting 23 Juli 2006, kita lanjutkan lagi perbincangan soal kiat masuk dunia jurnalistik.Setelah dalam posting sebelumnya Tips masuk dunia jurnalistik (1) dibahas soal minat yang menggebu dengan mulai belajar menulis dan menulis kemudian Tips kedua menulsikan program menjadi jurnalis, maka sekarang akan diulas soal kebiasaan menulis dengan perspektif.Apa kebiasaan menulis dengan perspektif? Menulis dalam dunia jurnalistik harus memiliki angle, memiliki sudut pandang dan memiliki tekanan. Dunia jurnalistik adalah dunia yang serba cepat berkembang sehingga sangat penting bagi mereka yang memiliki minat terjun ke dunia ini kemampuannya menulisnya serba cepat. Cepat tetapi tentu akurat. Soal akurasi ini kita akan kaji dalam pertemuan lainnya.Yang disebut menulis dengan perspektif ini adalah menuangkan gagasan dengan satu sudut pandang yang dianggap kuat dan menonjol saat itu. Menliskan laporan dengan sudut pandang sangat penting untuk membuat jiwa dalam tulisan sesuai dengan kebijakan editorial sebuah media. Untuk sampai ke arah sana latihlah tulisan yang memiliki perspekif yang memiliki sudut pandang.Media massa melaporkan peristiwa dengan tekanan dan sudut pandang tertentu. Dalam bahasa media massa adalah angle (sudut pandang). Angle inilah yang kemudian menggulirkan laporan dari hari ke hari, dari minggu ke minggu dan dari bulan ke bulan. Editorial media itu sendiri nanti yang akan menguakan sudut pandang dan membedakan angle satu media dengan media lainnya. Angle inilah yang akan jadi ruh sebuah media sehingga pemirsa atau pembaca akan merasakan sudut pandang media itu.Nah untuk belajar menuliskan sudut pandang ini, kita ambil contoh musibah longsor di Ciwidey baru-baru ini. Langkah pertama tentu menulis soal peristiwanya sendiri, berapa korban dan berapa yang hilang. Mengapa korban? Sebab berita adalah menyangkut manusia. Musibah dan bencana adalah drama manusia. Drama tentang kesedihan dan kegembiraan luput dari bencana. Oleh sebab itulah maka tuliskan dalam latihan ini angle korban sebagai sudut pandang.Misalnya: Sedikitnya 20 orang meninggal akibat tanah longsor di Ciwidey, Bandung.Dari satu kalimat itu dapat berkembang banyak hal yang bisa mengungkap tentang korban ini termasuk jumlah orang yang hilang. Dalam latihan sebelum kita benar-benar menjadi seorang jurnalis, menuliskan peristiwa yang kita lihat dan dengar akan sangat bermanfaat membiasakan diri menulis dalam konteks pemberitaan, pelaporan. Tentu saja latihan sebelum benar-benar menjadi jurnalis ini kita biasakan untuk semua peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan kalau bisa yang lebih dekat dengan keberadaan penulis sehingga lebih berkesan dan mendalam.Mengapa yang dekat? Karena prinsip proximity (kedekatan) merupakan satu hal penting dalam dunia jurnal (harian) dimana mereka yang terdekat akan sangat ingin tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Naluri manusia berupa rasa penasaran dan ingin tahu inilah yang akan menjadi penting dalam dunia jurnalistik dan mengapa dunia jurnalistik akan tetap hidup. Sepanjang manusia memiliki insting ingin tahu maka dengan sendirinya akan terdorong untuk membaca, mendengar dan melihat dengan panca inderanya segala apa yang terjadi di dekatnya.Bagi manusia rasa ingin tahu ini juga merupakan bekal untuk mengantisipasi apa yang menimpa mereka. Setidaknya juga menjadi bekal informasi mankala ada keluarga dekat dan jauh terkena bencana sehingga bisa segera menolong atau memberikan perhatian. Oleh seba itulah maka penting bagi mereka yang berkeinginan terjun ke dunia jurnalistik melaporkan sesuatu dengan cepat dan akurat peristiwa yang paling banyak mempengaruhi manusia.Jika langkah pertama menulis mengenai peristiwa bencana tadi dimulai dengan angle siapa yang jadi korban dan berapa jumlahnya, maka pada hari berikutnya seorang jurnalis akan melangkah kepada langkah penyelamatan mereka yang masih tertimbun – jika memang ada – atau upaya yang dilakukan tim SAR untuk menyelamatkan korban.Sumber: Freejournalist

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d