• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Global Politics

Isu Isu Hubungan Internasional Pasca Perang Dingin

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Global Politics

≈ Leave a comment

Oleh Asep Setiawan

PendahuluanPerang Dingin (Cold War) ditandai dengan pembagian blok yang kentara antara Blok Timur pimpinan Uni Soviet yang berhaluan komunis dengan blok Barat pimpinan Amerika Serikat yang menganut kapitalisme. Hubungan internasional pada kurun waktu sejak berakhirnya Perang Dunia II tak lepas dari kerangka Perang Dingin.Dominasi  Uni Soviet dan Amerika Serikat terhadap para sekutunya menyebabkan hubungan internasional sangat dipengaruhi kepentingan kedua negara adidaya.  Tidak mengherankan muncullah blok-blok aliansi yang lebih didasarkan pada persamaan ideologis.Hampir semua langkah diplomatik dipengaruhi oleh tema-tema ideologis yang kemudian dilengkapi dengan perangkat militer.  Pertentangan sistem hidup komunis dan liberal ini sedemikian intensifnya sehingga pada akhirnya perlombaan senjata tak dapat dihindarkan lagi karena dengan jalan menumpuk kekuatan nuklir itulah jalan terakhir menyelamatkan ideologinya.Menurut Juwono Sudarsono (1996), secara resmi apa yang dikenal sebagai Perang Dingin berakhir pada kurun waktu 1989-1990 dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989 serta menyatunya Jerman Barat dan Timur pada 3 Oktober 990. Perkembangan itu disusul dengan bubarnya Uni Soviet pada 25 Desember 1991 bersamaan dengan mundurnya Mikhail Gorbachev sebagai kepala negara.Setelah berakhirnya Perang Dingin yang ditandai antara lain runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya.Artikel ini akan  mengeksplorasi tema-tema yang muncul dalam hubungan internasional setelah Perang Dingin .  Munculnya tema-tema baru atau berlanjutnya tema-tema lama dalam kerangka hubungan antar bangsa tak hanya mengubah cara pandang negara besar terhadap negara kecil tetapi juga dalam tingkat tertentu bisa menggeser pola diplomasi antar negara.

Pola Perang Dingin

Paradigma  Perang Dingin 1949-1989 seperti Juwono jelaskan terbagi pada beberapa tahap perkembangan sesuai dengan realitas hubungan antar bangsa.  Juwono menilai secara politis Perang Dingin terbagi atas tahap 1947-1963 dengan beberapa puncak persitiwa seperti Blokade Berlin 1949, Perang Korea 1950-1953, Krisis Kuba 1962 dan Perjanjian Proliferasi Nuklir 1963.Selanjutnya selama Perang Vietnam 1965-1975, paradigma Perang Dingin terbatas pada persaingan berkelanjutan antara AS dan Uni Soviet di beberapa kawasan strategis dunia. Salah satu yang terpenting, kata Juwono, terjadi dalam Perang Arab-Israel 1967-1973.Perundingan senjata  strategis yang mulai dirintis dan dikukuhkan melalui Perjanjian SALT I juga menjadi salah satu ciri periode ini.Selama kurun waktu yang panjang itulah isu-isu seperti pertentangan ideologis, perebutan wilayah pengaruh, pembentukan blok militer, politik bantuan ekonomi yang dilatarbelakangi kepentingan ideologis, spionasi militer dan pembangunan kekuatan nuklir menjadi tema-tema penting.Oleh karena itu di tengah pertentangan  Blok Timur dan Barat itulah muncul apa yang disebut Negara Non Blok. Indonesia menjadi salah satu pelopor berdiringa Gerakan Non Blok yang banyak menarik perhatian negara-negara yang baru merdeka sesudah 1945. Cina meskipun tergolong negara besar dan memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, namun menjadi salah satu anggota GNB hingga kini.

Isu-isu baru

Berakhirnya salah satu episode dalam hubungan antar bangsa berupa Perang Dingin, melahirkan realitas baru dalam perhatian negara besar dan negara yang bekas komunis. Isu-isu utama yang menjadi pilar hubungan internasionalpun mengalami pergeseran. Meskipun isu lama yang menyangkut keamanan nasional dan pertentangan masih tetap berlanjut namun tak dipungkiri adanya perhatian baru dalam tata hubungan antar negara dan antar bangsa.Menurut Juwono, sedikitnya ada empat isu yang jadi sorotan baru. Pertama, pada era pasca Perang Dingin, perhatian lebih difokuskan pada usaha memelihara persatuan  dan kesatuan bangsa menghadapi lingkungan internasional yang belum jelas.Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia ini menyebutkan, lingkungan internasional sekarang lebih kabur, lebih tidak menentu dan lebih mengandung kompetisi meraih akses pada ilmu, modal dan pasar di negara-negara kaya.Kedua, sorotan ini tidak terlalu baru tapi sekarang muncul ke permukaan yakni soal keamanan regional. Fenomena di Asia Tenggara dengan prakarsa ASEAN mengukuhkan zona bebas nuklir termasuk salah satu ciri dimana keamanan regional penting bagi kawasan ini.Ketiga, sorotan dunia jatuh kepada masalah ekonomi-politik internasional. Isu ini sebenarnya telah bangkit sekitar 1971-1972 ketika sistem Bretton Woods runtuh pada saat kebangkitan ekonomi Jerman dan Jepang mulai menganggu pasar AS. Jika disorot lebih dalam, pembentukan blok-blok ekonomi bisa dikatakan sebagai akibat dari menguatnya isu ini.Menurut Juwono, perhatian keempat terpusat pada apa yang dinamana sebagai “3 in 1” yakni lingkungan hidup, hak asasi manusia dan demokratisasi.  Dibandingkan dengan tiga tema di atas, isu ini sangat dominan dalam pemberitaan pers internasional. Bahkan dalam setiap konferensi dan pertemuan puncak, masalah ini tidak jarang disinggung terutama ketika negara-negara industri menyoroti negara-negara yang sedang berkembang.Bilhari Kausikan  (1993), Direktur Biro Asia Timur dan Pasifik di Kemlu Singapura sudah meramalkan bahwa isu HAM telah menjadi isu yang legitimate dalam hubungan antar negara.  Ia menyatakan, bagaimana sebuah negara memperlakukan warga negaranya tak lagi masalah eksklusif sebuah negara. Pihak lain dapat dan memiliki legitimasi mengklaim keprihatinan terhadapnya.“Kini sedang muncul budaya global HAM dan tubuh hukum internasional mengenai HAM perlahan berkembang terkodifikasi melalui Piagam PBB, Deklarasi Universal HAM dan instrumen lainnya,” tulis Kausikan seraya menegaskan bahwa isu HAM tetap tidak akan menjadi isu utama dalam hubungan internasional. Namun demikian, penekanan Barat terhadap HAM akan mempengaruhi nada dan tekstur hubungan internasional pasca Perang Dingin.Menurut Kausikan, isu-isu HAM menyangkut soal upah, kondisi bekerja, serikat buruh, standar hidup, hak-hak wanita dan anak-anak, hiburan dan waktu cuti, keamanan dan tunjangan sosial serta lingkungan.  Ia melihat telah terjadi pemaksaan dari Barat untuk menentukan standar HAM yang seharusnya dilaksanakan negara-negara di Asia misalnya.Sedangkan Aryeh Neier, Direktur Human Rights Watch, menyebutkan lebih spesifik nilai-nilai HAM yang disebarkan di seluruh dunia. Ia antara lain menyinggung soal hak setiap orang bebas dari hukuman tak adil dan arbitrari, persamaan ras, etnik , agama atau gender. Hal-hal ini ikut menentukan pola hubungan antar negara.Hasjim Djalal dalam tulisannya Indonesian Foreign Policy at the Afvent of 21st Century menyebutkan, The Problem of democratization and human rights will also become more prominent and their impact on foreign policy cannot be ignored. Analisa Djalal itu menunjukkan bahwa masalah yang menyangkut hak asasi manusia, dari sudut manapun ditinjaunya, akan memberikan dampak terhadap politik luar negeri suatu negara. Hal itu juga berarti bahwa kontak satu entitas politik dengan entitas lainnya akan mendapat bobot soal HAM ini.Dalam kasus HAM dan juga demokratisasi sebagai contoh dapat dilihat bagaimana Uni Eropa dan Amerika Serikat bersikap terhadap Myanmar. Negeri yang pernah melakukan pemilu tahun 1990 yang dimenangkan Liga untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi ini terpaksa harus hidup dalam situasi darurat terus menerus.Untuk menjaga keadaan darurat itu, militer Myanmar membentuk apa yang dinamakan Dewan Pemulihan Hukum Negara dan Ketertiban (State Law and Order Restoration Council). Sampai tahun 1997, SLORC masih bertahan atas nama ketertiban negara. Melalui Konvensi Nasional sedang disusun konstitusi yang kemudian akan melahirkan pemilihan umum. KesimpulanPerubahan lingkungan mempengaruhi hubungan antar bangsa. Jika pada masa Perang Dingin isu-isu ideologis dan militer sangat dominan. Hampir semua hubungan antar bangsa diterjemahkan kedalam konteks perang ideologi.Pada era pasca Perang Dingin, tema-tema i
deologis menyurut. Sebagai gantinya muncul isu-isu seperti hak asasi manusia, politik-ekonomi dan demokratisasi sebagai salah satu indikator yang menentukan hubungan internasional

Daftar Pustaka

Djalal, Hasjim, “Indonesian Foreign Policy at the Advent of the 21st Century”dalam The Indonesian Quarterly, Vol. XXIV No. 3, 1996. Kausikan, Bilahari, “Asia’s Different Standard” dalam Foreign Policy, Vol. 32. No. 92, Autumn 1993

Lamborn, Alan C., “Theory and The Politics in World Politics” dalam

International Studies Quarterly, Vol. 41. Number 1, June 1997. Mas’oed Mohtar, Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi.Jakarta, LP3ES, 1990.Neier, Aryeh, “Asia’s Unacceptable Standard” dalam  Foreign Policy, Vol. 32,No. 92, Autumn 1993.

Sudarsono, Juwono , “State of the Art Hubungan Internasional: Mengkaji

Ulang Teori Hubungan Internasional” dalam Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan. Jakarta, Pustaka Jaya, 1996.Sukma, Rizal, Hubungan Internasional Dekade 1990-an dalam Jurnal Ilmu

Politik No. 15. Jakarta, Gramedia, 1995

Viotti, Paul R., Internatinal Relations Theory. New York, MacMillanPublishing Company, 1993.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Hubungan Strategis AS-Uni Soviet

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Asian Affairs, Global Politics

≈ 1 Comment

Tags

Strategis

PendahuluanUntuk melihat pola hubungan strategis antara dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka salah satu penjelasan dapat dimulai dari sejak berakhirnya Perang Dunia II. Situasi dunia setelah PD II selesai muncu dua negara pemenang perang yang saling berebut pengaruh yakni AS dan Uni Soviet.AS beraliran liberalisme-kapitalisme sedangkan Uni Soviet menganut komunisme-sosialisme. Dengan dua kekuatan maha besar yang semua bersatu ini kemudian saling curiga dan membentuk dua kubu, maka dunia sesudah PD II disebut-sebut sebagai era Perang Dingin.Seperti halnya rivalitas negara-negara besar sebelum PD II, rivalitas AS dan Uni Soviet pun ditandai dengan pembentukan aliansi, penggelaran kekuatan, pencarian pengaruh dan dalam tingkat tertentu bentrokan militer.Makalah ini ditujukan untuk menjelaskan mengapa kedua negara adidaya dalam setengah abad terakhir terlibat dalam perebutan kekuasaan dan pengaruh di muka bumi. Kemudian akan dipaparkan interaksi diantara dua adidaya ini antara 1945-1962, 1963-1978, 1979-1991 dan pasca Perang Dingin.Penyebab Perang DinginUntuk melihat pola hubungan strategis antara dua superpower ini terlebih dahulu kita lihat mengapa dua negara besar ini terlibat dalam persaingan menguasai dunia. Kegley mencatat sejumlah faktor penyebab terjadinya Perang Dingin. Namun perdebatan penyebab Perang Dingin ini masih berlangsung di kalangan sejarawan untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi saat berakhirnya Perang Dunia II.1. Konflik kepentinganMenurut logika realisme politik, rivalitas diantara negara adidaya yang baru mncul tak terhindarkan lagi. Dari perspektif ini, tulis Kegley, status AS dan Uni Soviet dalam hirarki tertinggi internasional membuat mereka saling curiga.Menurut Tucker (1990), penyebab utama dari Perang Dingin adalah monopoli kekuasaan yang dipikul dua pihak setelah Perang Dunia II. Hal itu disebabkan kevakuman politik di Eropa yang pernah menjadi pusat sistem internasional. Meskipun demikian seperti ditulis Gaddis (1991) para pemimpin Uni Soviet dan AS menyatakan keinginannya untuk tetap bekerja sama setelah PD II usai. Namun dalam prakteknya karena kepentingan masing-masing untuk menyalurkan aspirasinya dalam sistem internasional menyebabkan terjadinya benturan.2. Pertentangan IdeologiInterpretasi lain tentang penyebab terjadinya Perang Dingin adalah karena perbedaan sistem yang dianut AS dan Uni Soviet. Menlu AS James F Byrnes menyebutkan, “terlalu banyak perbedaan ideologis antara AS dan Rusia untuk bekerja sama dalam jangka panjang.” Kemudian Presiden Dwight Eisenhower mengumumkan, AS menghadapi “ideologi bermusuhan dalam tingkat global, karaternya ateis, tujuannya tidak bisa dipercaya dan metodenya busuk.Oleh karena itu ketidakcocokan ideologis ini mencegah terjadinya kompromi. Seperti perang agama pada masa lalu, Perang Dingin menjadi pertempuran untuk memperebutkan hati dan alam pikiran. Pertikaian itu bermula dari persepsi saling berlawanan yang disebutnya merupakan pertempuran antara baik dan buruk, yang jahat dan yang lurus.3. Salah PersepsiPenjelasan ketiga mengenai penyebab munculnya Perang Dingin adalah faktor-faktor psikologis, khususnya salah persepsi dari kedua belah pihak. Aliran yang menganut paham ketiga ini menilai konflik kepentingan dan ideologi merupakan penyebab sekunder. Pendukung alasan ketiga ini menunjukkan memang ada bukti-bukti adanya saling tidak percaya dalam melihat karakter masing-masing.

  1. Citra Soviet

Bagi orang Soviet, alasan yang meragukan niat Amerika banyak sekali. Rakyat Uni Soviet hidup dalam memori tentang partisipasi AS dalam intervensi Sekutu atas Rusia tahun 1918-1919. Sekutu ini ingin mempertahankan dari kejatuhan terhadap Jerman tapi ternyata malah jatuh ke tangan kelompok anti Bolshevik. Sikap tidak mengakui Uni Soviet secara diplomatis sampai 1933 juga sangat mendalam dalam memori rakyat.

  1. Citra AS

Sebaliknya AS juga memiliki citra tersendiri terhadap Uni Soviet. AS merasa tidak mempercayai Uni Soviet. Misalnya, Stalin menyatakan tidak adakan membubarkan mobilisasi angkatan bersenjata tahun 1946. Padahal saat itu terlibat dalam demobilisasi militer secara besar-besaran. AS juga curiga Rusia tidak berkeinginan melakukan pemilihan yang demokratis di wilayah yang telah dibebaskan dari Nazi.

  1. Faktor Lain

Gambaran yang akurat tentang asal-usul Perang Dingin juga harus mempertimbangkan penyebab lain disamping konflik kepentingan, perbedaan ideologi dan citra yang berbeda.Misalnya perlu dilihat adanya “kevakuman kekuasaan” yang mengundang terjadinya konfrontasi. Selain itu ada faktor tekanan kebijakan luar negeri dari kelompok kepentingan dan perubahan iklim politik di masing-masing masyarakat.Periode 1945-1962Dalam waktu singkat pernah terjadi persahabatan antara AS dan Uni Soviet. Namun kemudian muncul antagonisme antara dua negara adidaya. Ada dua karakter pada periode ini. Pertama, adanya keprihatinan akan ambisi rivalnya. Hal tersebut menimbulkan pesimisme. Kedua, AS merupakan kekuatan militer sangat kuat. AS juga memiliki kemampuan menghancurkan musuhnya dengan senjata atom. Dalam periode ini muncul hal-hal sbb;a. Doktrin PembendunganBulan Februari 1946, Stalin memberika pidato yang berbicara tentang “tak terhindarnya konflik dengan kekuatan kapitalis. Ia mendesak rakyat Soviet untuk tidak terperdaya dengan berakhirnya perang yang berarti negara bisa santai. Sebaliknya perlu mengintensifkan usaha memperkuat dan mempertahankan tanah air.Tidak lama setelah muncul tulisan George F Kennan, diplomat di Kedubes AS di Uni Soviet, yang memaparkan tentang kefanatikan Soviet, Presiden Harry S Truman mendeklarasikan apa yang kemudian disebut Doktrin Truman. Doktrin ini menggarisbawahi strategi pembendungan politik luar negeri AS sebagai cara untuk menghambat ambisi ekspansionis Uni Soviet. Selain itu AS juga merekrut sekutu-sekutunya untuk mewujudkan tujuan itu.b. Lingkungan Pengaruh dan Pembentukan BlokKetidakmampuan negara adidaya memelihara “lingkungan pengaruh” diinterpretasikan sebagai akibat dari program global kekuatan lain. Misalnya ketika Uni Soviet memasuki Eropa Timur, para pemimpin AS menilainya sebagai usaha rivalnya menaklukan dunia.Perebutan lingkungan pengaruh diantara dua negara adidaya ini melahirkan sebuah pola yang bipolar. AS dan sekutunya merupakan satu polar sedangkan di polar (kutub) lain muncul Uni Soviet dengan sekutunya. Di Eropa muncul Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berhadapan dengan Pakta Warsawa. Di berbagai kawasan pun muncul blok-blok yang memihak AS dan Uni Soviet sebagai salah satu konsekuensi persaingan antara dua adidaya.Periode 1963-1978Periode ini ditandai dengan dua hal penting yakni koeksistensi damai dan Détente (Peredaan Ketegangan).Koeksistensi Persaingan yang terus menerus antar dua adidaya membuat soal koeksistensi dan non koeksistensi menjadi pilihan. Dalam situasi seperti itu, menemukan cara bagaimana koeksistensi  menjadi mendesak.DetenteHubungan Uni Soviet-AS mengalami perjalanan dramatis dengan terpilihnya Richard Nixon. Didampingi penasihat keamanannya, Henry A Kissinger, Nixon berusaha menempuh pendekatan baru terhadap Uni Soviet tahun 1969. Pendekatan itu disebut détente (peredaan ketegangan). Ternyata Uni Soviet juga mengambil pendekatan yang sama.Sebagai sebuah strategi politik luar negeri, détente dijelaskan Kissinger sebagai upaya menciptakan “kepentingan tertentu dalam kerja sama dan pembatasan”, “sebuah lingkungan dimana kompetitor dapat meregulasi dan menghambat perbedaan diantara mereka dan akhirnya melangkah dari kompetisi menuju kerja sama”. Periode 1979-1991Meskipun détente sudah dipelihara secara terus menerus tapi akhirnya tidak bertahan. Akhirnya semangat détente ini memud
ah akhir 1970-an.a.  Hancurnya DétentePerjalanan doktrin dekade selama satu dekade hancur diantaranya karena invasi Uni Soviet ke Afganistan. Presiden Jimmy Carter menyatakan, agresi Soviet di Afganistan mengkonfrontasi dunia dengan tantangan strategis paling serius sejak Perang Dingin dimulai. Kemudian muncul Doktrin Carter, keinginan AS untuk menggunakan kekuatan militer di Teluk Persia. Kemudian Doktrin Reagan makin mengnyahutkan era détente. Doktrin Reagan menyatakan AS mendukung pemberontakan antikomunis di Afganistan, Angola dan Nikaragua. Para pemberontak ini diberi istilah halus “pejuang kemerdekaan” (freedom fighters). AS juga berbicara tentang kemampuan nuklirnya, termasuk ancaman serangan pertama.b.  Pembaruan DialogSituasi mulai membaik saat Mikhail Gorbachev memikul tampuk kekuasaan di Kremlin sejak 1985. Di bawah kepemimpinan Gorbachev, Uni Soviet ditransformasikan melalui kebijakan perestroika (restrukturisasi) dan glasnost (keterbukaan). Berbeda dengan penguasa sebelumnya, Gorbachev memerintahkan tentara Uni Soviet mundur dari Afganistan. Bahkan ia berkunjung ke AS tahun 1987, makin mendekatkan dua negara adidaya dalam sebuah forum dialog. Perang Teluk 1990-1991 tidak menghanyutkan Uni Soviet kedalam perang terbuka melawan AS dan sekutunya karena Gorbachev mengambil sikap lebih netral.Berakhirnya Perang DinginReformasi yang dilancarkan Gorbachev menghapuskan ketegangan dunia. Pemulihan hubungan antar dua negara adidaya ini makin membaik. Tahun 1989, Gorbachev mengumumkan, Uni Soviet mundur dari Afganistan. Tahun 1991, ia juga memberhentikan bantuan ke Kuba.Kudeta gagal Agustus 1991 oleh kelompok garis keras menyebabkan naiknya Boris Yeltsin. Namun reformasi yang sudah berjalan tak bisa dibendung, bahkan 14 republik yang tergabung kedalam Uni Soviet memisahkan diri dan sebagian malah menyatakan merdeka. Bubarnya Uni Soviet akhir tahun 1991 meneguhkan akhirnya Perang Dingin.PenutupRivalitas antar negara adidaya atau antar negara-negara besar telah mewarnai sejarah hubungan internasional. Pasca Perang Dunia II lahir Perang Dingin. Setelah Perang Dingin pertama dan kedua, lahirlah dunia pasca Perang Dingin. Multi polaritas kemudian menggantikan bipolaritas.Dalam dunia baru ini, kekuatan militer hanya dikuasai Amerika Serikat. Sebagai satu-satunya adidaya di dunia militer, Washington menjadi polisi dunia. Dalam perlakuan AS ke Irak, Libya dan Iran serta ke Korea Utara, AS memperlihatkan diri sebagai polisi dunia yang kadang-kadand tidak disukai oleh negara lainnya.Namun dalam bidang ekonomi, kekuatan AS bukanlah satu-satunya. Disamping AS ada Jepang, Jerman dan Inggris. Apalagi dengan lahirnya negara ekonomi baru seperti Korea Selatan, Taiwan dan Singapura, dunia ekonomi lebih beragam.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Jihad in Paradise

13 Thursday Aug 2009

Posted by Setiawan in Archives, Asian Affairs, Global Politics

≈ Leave a comment

Tags

jihad, paradise, politics, souteast asia

Terrorism in Southeast Asia has been a focus of global media after July 17 attack on JW Marriott and Ritz Carlton Hotels. People need to know what are behind these suicide bombers. A background from several books might explain this phenomenon.Jihad in Paradise written by Mike Millard.Review“Traditionally, the most insightful and passionate works about the Orient have been written by outsiders. After having encountered Asia for a decade, Millard chronicles Singapore from his heart and soul. His personal and intimate knowledge of the momentous events and actors enables him to cast them artfully. Jihad in Paradise is a must read for all those who want to know Singapore, Asia-Pacific’s vanguard.” – Rohan Gunaratna, author, Inside Al Qaeda, Global Network of Terror”Product DescriptionWritten in an accessible, journalistic style, Jihad in Paradise focuses on Southeast Asia’s struggle to deal with Islamic extremists and terrorism at the hands of Jemah Islamiyah, al Qaeda’s Southeast Asian arm. Although the book gives particular attention to Singapore’s attempts to deal with these issues, the story extends into Malaysia, Indonesia, and the Philippines. All of these countries have significant Muslim populations, and recent violent events have affected the business environment, tourism, and the region’s tradition of religious tolerance. The author draws on personal interviews with experts in the field as well as key political and religious figures in Singapore, Malaysia, and Indonesia, including Prime Minister Lee Kuan Yew, Minister for Muslim Affairs Jaacoub Ibrahim, and expelled Muslim dissident Zulfikar Mohamad Sharif. Millard examines the Bali bombing, Malaysia’s conservative Islamic party PAS, the Malaysian province of Kelantan which is a Muslim political hotbed, Abu Saayaf of the Philippines, and Fateha.com and the use of the Internet. He also provides a glimpse of how Singapore, the region’s most developed nation, has engineered its society in order to impose a degree of racial and religious tolerance.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d