• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Blog

Rethinking Tanah Abang Railway Station

24 Wednesday Feb 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 1 Comment

"LUNGAMU NANG ENDI??"
Image by Badia Harrison via Flickr

Saya sengaja menggunakan judul bahasa Inggris untuk menekankan bahwa sangat penting mengkaji ulang posisi Stasiun Kereta Api Tanah Abang yang bisa dianggap sekarang ini rapih di dalam tapi semrawut di luar. Stasiun ini seharusnya dijadikan sebuah tempat yang modern dengan dukungan fasilitas akses keluar masuk yang mudah.Mengapa perlu memikirkan kembali status Tanah Abang ini? Karena lokasinya strategis, karena vital perannya dan karena masa depannya akan cemerlang.Lihat yang pertama lokasinya strategis. Sungguh sangat penting akses ke pusat kota dari daerah pinggiran. Siapapun dari kaum profesional, pengusaha atau masyarakat biasa, jalur ke pusat kota akan menjadi sangat penting. Semakin mudah, semakin baik. Kalau kita simak sekarang saja semua jalur kereta api yang menuju ke kota pinggiran mampir di Tanah Abang. Begitu keluar langsung terhubung dengan pusat bisnis, pusat pemerintahan dan bahka pusat perbelanjaan.Tempatnya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sebuah pijakan pendatang untuk masuk ke ibu kota sungguh luar biasa. Harus ada dari sekarang yang mau mendesain ulang Stasiun Tanah Abang karena lokasinya sangat penting. Dia memiliki akses keluar dan masuk yang bisa menghembat waktu dan energi.Tanah Abang ini vital perannya. Bukan saja karena ada sentra tekstil tetapi yang lebih penting lagi merupakan lalu lintas masyarakat yang penting. Dengan mobilitas yang semakin tinggi makan terminal kereta menjadi luar biasa pentingnya. Tanah Abang sudah memainkan peran sebagai pintu gerbang keluar dan masuk masyarakat bahkan sampai ke bagian paling Barat di Pandeglang.Yang berikut masa depannya cemerlang. Coba tengok potensi apa yang bisa dibangun dari Tanah Abang. Saya bayangkan sebuah mall besar dengan berbagai produk yang bisa disuguhkan kepada setiap pengunjung. Berapa lalu lintas manusia setiap hari, seratus ribu, dua ratus atau bahkan lebih dari tiga ratus ribu? Ini potensi luar biasa.Belum lagi kalau dipasang iklan yang akan menjadikan tempat ini menguntungkan. Think, again.Jadi jika tidak dibenahi bagian lalu lintas masuk dan keluar Tanah Abang, maka sangat prihatin sekali melihat ketidakmampuan otoritas mengelola sesuatu yang sebenarnya mudah dan bisa direncanakan. Contoh, jika seseorang dari Bundaran HI atau Blok M mau menggunakan KRL dari Tanah Abang, adakah akses transportasi yang langsung berhenti di depan stasiun? Saya meragukannya.Belum kalau malam hari betapa semrawut dan tidak tertibnyak truk yang parkir seenaknya di badan jalan. Belum lagi kendaraan umum yang berhenti di tengah jalan. Maka lengkaplah sebuah kawasan antah berantah di luar stasiun yang megah Tanah Abang. Seolah-olah jika malam telah tiba, akses ke Tanah Abang bagaikan melintasi zona pertempuran penuh kemacetan. Zona yang hanya bisa dilalui mereka yang tabah.Tengok setiap hari di jalan-jalan mendekati kawasan stasiun, seperti tidak wibawanya. Jangan heran jika kaum profesional atau pengusaha enggan menggunakan KRL karena memang aksesnya tidak nyaman untuk tidak dikatakan sangat ketinggalan dengan mal-mal megah di Jakarta.Inilah saatnya memikirkan ulang stasiun Tanah Abang, akses keluar dan masuknya sehingga bisa berkembang menjadi pusat bisnis yang bermartabat.

Reblog this post [with Zemanta]

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Menunggu hasil Pansus Century

23 Tuesday Feb 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ Leave a comment

Tags

dpr, Pansus Century

Bank Indonesia - Jogja 3
Image by eo_kuro via Flickr

Beberapa hari ini kita menyaksikan perdebatan mengenai hasil akhir Pansus Century. Semua ingin tahu apakah partai-partai yang selama ini kritis akan mengambil kesimpulan yang kritis. Semua juga ingin tahu apakah nama-nama penguasa akan disebut sebagai pihak dan indidvidu yang bertindak melanggar dalam merger, pemberian dana talangan dan pengelolaan dana talangan ke Bank Century.Jika ya maka orang juga menunggu apa langkah selanjutnya. Jika rekomendasi akhir Pansus menyentuh nama-nama penting, apakah lembaga yang diminta bertindak juga berani melangkah. Apakah penegak hukum juga punya waktu memprioritaskan kasus ini.Banyak pertanyaan menggelayut. Jika berjalan lancar maka minggu depan sudah ada kepastian kalau jadi dibawa ke Sidang Paripurna DPR. Namun dalam beberapa hari ini juga akan terlihat sikap-sikap yang pro dan kontra dalam Pansus itu sendiri.

Reblog this post [with Zemanta]

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Bisnis Bank yang Berhati Nurani

17 Wednesday Feb 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ Leave a comment

Tags

Bank Century, Bank Indonesia, indonesia, Indonesian rupiah, Skandal

Indonesian rupiah
Image via Wikipedia

Sudah menjadi sebuah jargon bahwa bisnis bank adalah bisnis kepercayaan. Artinya bisnis bank adalah bisnis kejujuran. Bisnis dengan hati nurani. Mengapa ? Karena yang dibisniskan adalah penyimpanan uang, modal dan harta lainnya. Jika tidak ada kepercayaan maka pilihannya disimpan di rumah.Tapi di Indonesia tampaknya bisnis kepercayaan ini masih banyak dirusak oleh oknum pemilik bank. Oknum yang sehari-harinya mentereng dan kaya sehingga tidak tersentuh hukum. Oknum inilah yang merusak tatanan perbankan yang nyaris hancur lebur karena krisis ekonomi 1997.Dengan terkuaknya pelanggaran Bank Century terungkap pula bahwa pilar utama bisnis kepercayaan ini yakni Bank Indonesia, masih jauh dari nurani dan kepercayaan untuk menstabilkan moneter. Oknum di lembaga yang luar biasa besarnya yang tidak ada satu lembaga di Indonesia yang bisa memeriksa, mengaudit isi perut Bank Indonesia ternyata berbuat sangat luar biasa menyimpangnya. Sebuah Bank Sentral yang nyaris tidak ada pengawasnya meski gaji Gubernur nya konon bisa lebih dari Rp 300 juta per bulan ! Sebuah kerajaan yang bisa menjadi kekuatan dalam bisnis kepercayaan ini atau sebuah kerajaan hitam yang penuh dengan okum korup mungkin dari lapis bawah sampai lapisan teratas.Skandal demi skandal kini terungkap. Tampaknya bisnis kepercayaan yang ditopang dan diawasai Bank Indonesia ini harus dirombak, harus ada reformasi bahkan revolusi yang memasukkan udara segar, person-person kredibel tapi bersih hatinya. Inilah yang harus dijadikan modal oleh dunia perbankan Indonesia. Nurani yang bersih dan profesionalisme.Jika tidak ada pelajaran yang bisa ditarik dari kasus Bank Century dimana lalu lintas uang tidak terkontrol, dimana mergernya banknya tidak semestinya, dimana oknum pengawas berpesat dengan uang suap dan dimana para oknum petinggi sibuk memperkaya diri, menari di atas kemiskinan rakyat Indonesia, maka sudah hancur lebur harapan terhadap bisnis kepercayaan, bisnis kejujuran ini.Semestinya dari dalam Bank Indonesia muncul pendekar pendekar keuangan, bankir-bankir yang bisa dibanggakan bukan karena ilmunya tetapi karena kokohnya nurani untuk terjun dalam bisnis kepercayaan. Apalah artinya kekayaan jika semuanya mengakibatkan kehancuran bangsa. Sudah saatnya dari bankir lulusan mancanegara muncul sebuah otak brilian dengan hati yang putih yang melihat bahwa pengelolaan keuangan negara dilakukan dengan hati-hati. Satu rupiah jika itu uang negara, uang rakyat, maka sang bankir akan mengembalikannya.Jadi sekaranglah momentum untuk menjadikan skandal dan krisis di satu bank kecil dengan gema yang besar ini menjadi pijakan untuk membangkitkan harapan bahwa masih ada diantara sekian banyak bankir dan birokrat di Bank Indonesia yang masih jujur, bersih dan profesional. Dengan kekuatan inilah maka tidak akan lagi pemilik dan bankir nakal berkeliaran memutar-mutar uang haram untuk kepentingan segelintir orang. Wallahu’alambishawab.

Reblog this post [with Zemanta]

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d