• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Asian Affairs

TIGA REVOLUSI DUNIA YANG TIGA REVOLUSI DUNIA YANG

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Archives, Asian Affairs, politics

≈ Leave a comment

Oleh Asep Setiawan

PendahuluanMEROSOTNYA nilai mata uang sejumlah negara Asia terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sangat “menyakitkan” kawasan ini. Tanpa “dosa”apa-apa tiba-tiba sebagian besar rakyat menjadi lebih miskin dari sebelumnya karena krisis moneter itu. Seiring dengan kenaikan dollar AS, harga-harga barang dan jasa pun membumbung tinggi tanpa diketahui lagi kapan berakhirnya.Semua akibat itu tak lain karena ekonomi negara-negara yang dulu disebut “macan-macan Asia” sudah mengglobal. Industrialisasi dan keterbukaan terhadap ekonomi pasar yang menjadi andalan ajaran kapitalisme telah dirasakan buah pahitnya oleh negara-negara yang  semula berada di pinggiran ini.Kalau meminjam istilah Johan Galtung (University of Oslo) dalam artikelnya Suatu Teori Struktural tentang Imperialisme maka perasaan kesal dan kecewa itu yang dirasakan Asia sekarang diakibatkan “kekejaman struktural”. Penguasa dan pengendali struktur itu yang tak lain AS dan negara-negara Eropa Barat akan berusaha mengendalikan negara-negara periferal yang baru  berkenalan dengan sistem kapitalisme.Jika sebelumnya “buah manis” kapitalisme itu telah mendorong pertumbuhan tinggi di kawasan Asia, maka kini konsekuensi ekonomi pasar ini telah menimbulkan keguncangan sosial dan politik. Di sinilah tampak apa yang disebut revolusi gagasan ekonomi pasar telah menimbulkan korban karena tidak peduli terhadap sisi-sisi berbahaya ekonomi pasar. Swasta dan pemerintah yang mengutang tanpa kontrol akhirnya menjadikan banyak negara Asia nyaris bangkrut kalau tidak dibantu Dana Moneter Internasional (IMF), sebuah perangkat lembaga keuangan bagian dari ajaran ekonomi pasar.Kekuatan pasar yang telah memaksa ekonomi negara-negara Asia untuk menyusun ulang perkiraan pertumbuhannya itu tak lain akibat dari mewabahnya perdagangan bebas, jargon yang didengung-dengungkan AS dan sahabatnya. Resep inilah yang telah membius banyak praktisi dan teoretisi bahwa dengan ekonomi pasar adalah jalan yang harus ditempuh menuju kemajuan. Dalam kaitan itulah, maka perkiraan sebuah lembaga pemikiran asal AS akan adanya tiga macam revolusi yang berjalan saat ini layak disimak.Revolusi geostrategisDalam sebuah laporan berjudul Strategic Assessment 1997 yang diterbitkan Institute for National Strategic Studies (INSS), AS menyebutkan di dunia ini telah terjadi perubahan-perubahan strategis. Di antaranya, pola Perang Dingin sedang digantikan oleh hubungan multiporal asimetris di mana AS sebagai negara paling kuat yang mengendalikan jaringan internasional (lihat skema). Meskipun demikian kekuatan negara lain penting karena berpengaruh di masing-masing kawasan.Salah satu perkembangan menarik dari perubahan geostrategis global seperti diuraikan dalam laporan tersebut adalah kemenangan gagasan demokrasi dan ekonomi pasar (democracy market). AS melihat bahwa gagasan itu diterima di mana pun di dunia, kecuali di Cina, sebagai cara terbaik dalam memimpin masyarakat.Oleh sebab itulah maka INSS membagi tiba kategori negara. Pertama, negara sukses melaksanakan tujuan demokrasi pasar. Kedua, negara yang sedang dalam transisi dari otoritarianisme menuju demokrasi pasar namun berisiko membeku dengan ekonomi politik dan sebagian sistem politik bebas. Ketiga, negara-negara bermasalah yang tertinggal dari negara lainnya dan bahkan banyak berjuang untuk keluar dari ekstremisne etnik dan religius dan mungkin krisis separatisme.Patut dicatat fenomena dari kemitraan strategis antara AS dan Cina serta Cina dan Rusia. Kemitraan ini secara langsung telah mengeluarkan Cina dari isolasionisme dunia menjadi lebih terbuka terhadap respons dunia. Bahkan muncul pendapat, dengan kemitraan itu Cina takkan lagi berubah menjadi ekstrem karena tidak merasa frustrasi dengan apa yang dinamakan oleh AS sebagai politik pembendungan Cina.Revolusi teknologi informasiPerkembangan teknologi informasi memang sudah dirasakan sebagian besar lapisan masyarakat di planet bumi ini. Komputer, faksimile, kabel optik fiber, telepon genggam, siaran televisi yang global serta satelit telah mempercepat aliran informasi menembus batas-batas negara tanpa bisa dihentikan. Oleh karena itulah revolusi ini mempercepat penyebaran gagasan-gagasan politik yang semakin membuka mata masyarakat. Sejauh ini sulit diramalkan akan ke mana arah revolusi bidang teknologi ini.Namun satu hal yang jelas bahwa akses terhadap teknologi informasi telah menjadi syarat bagi pertumbuhan ekonomi terutama di negara-negara maju. Data tentang utang yang jatuh tempo di sejumlah negara Asia telah dimanfaatkan pialang perdagangan mata uang di Barat seperti George Soros untuk mengeruk keuntungan dari krisis moneter ini.Di sisi lain, kemajuan komunikasi global ini telah menjadi pintu gerbang bagi lalu lintas kepentingan, budaya dan nilai-nilai dari Barat ke Timur dan sebaliknya. Namun seperti terlihat di berbagai negara, superioritas budaya dalam bentuk produk makanan, musik, novel, dan film telah mengalahkan budaya lain di sebagian negara seperti “macan-macan Asia”.Di samping itu, ketersediaan informasi yang berlimpa ruah, terutama karena adanya jaringan Internet, telah merusak kemampuan pemerintah totaliter untuk mengontrol apa yang didengar, dibaca dan dilihat masyarakat. Kelompok-kelompok yang tidak puas atau bahkan kelompok pembangkang memiliki banyak saluran untuk menyampaikan aspirasinya.Tidak mengherankan, pada masa mendatang, akibat pesatnya teknologi informasi, perang di medan tempur tak lain dari pertempuran berbasiskan informasi. Sudah banyak yang meramal bahwa pertempuran mendatang banyak melibatkan komputer, jaringan Internet, satelit dan telepon satelit. Program-program komputer baik yang berupa virus dan sistem keamanan bakal menjadi ukuran dari kekuatan sebuah negara. Mantan PM Inggris Margareth Thatcher pun pernah membandingkan jika pada era Perang Dingin, tumpukan mesiu dan nuklir jadi andalan, maka pada pasca-Perang Dingin ini senjatanya adalah mata uang, modal dan teknologi.Revolusi dalam pemerintahanBerbeda dengan lima dekade lalu, wilayah kontrol negara kini sedang menyusut. Di banyak negara maju, kekuasaan dialihkan ke pemerintahan regional atau lokal. Bahkan ada pula yang diserahkan ke sektor swasta, terutama dalam penguasaan sumber daya alam, dana dan manusia. Fenomena ini telah memperkuat kecenderungan menuju masyarakat pluralis.Berkurangnya kekuasaan pemerintah ini terlihat seperti di Rusia, AS, Uni Eropa dan mungkin Cina. Pemerintah pusat cenderung memindahkan lebih banyak otoritasnya ke pemerintah lokal atau regional.Berkurangnya fungsi pemerintahan pusat ini antara lain karena berkurangnya anggaran dan mungkin pula karena krisis anggaran di banyak negara. Tidak mengherankan jika banyak terjadi swastanisasi perusahaan negara seperti di Rusia dan Cina. Alasannya, meningkatkan efektif dan efisensi sehingga bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi.Kekuatan bisnis internasional juga telah meningkatkan kekuatannya dalam berhadapan dengan pemerintahan. Namun demikian tentu saja dalam saat-saat tertentu seperti selama perang, kemampuan pemerintah memobilisasi berbagai sumber untuk mendukung kepentingan nasionalnya masih bisa diandalkan.Hubungan kekuatan besarMenurut analisis telah terjadi tiga perubahan cepat dalam dekade ini dan hal ini sepertinya banyak menguntungkan negara adidaya seperti AS. Dalam skema hubungan antarkekuatan besar terlihat AS masih berada di poros, tidak seperti pada Perang Dingin dengan dua poros.Salah satu kecenderungan yang muncul adalah, AS akan senantiasa mempertahankan kekuatannya dengan jalan apa pun meski tentu mengorbankan sekutunya. Berbagai perkiraan bahwa Cina dan Rusia masih berusaha untuk mengimbangi atau mengejar ketinggalannya akan dipandang Washington sebagai ancaman.Tentu saja di sini berlaku sebuah aturan di mana negara yang bisa menguasai sumber-sumber strategis maka ia akan menguasai masa depan. Sejauh ini AS paling siap dengan masa depan apalagi dengan krisis moneter seperti sekarang, kekuatan-kekuatan baru di Asia makin sulit mengejar ketinggalannya.

Share this:

  • Click to share on X (Opens in new window) X
  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Click to print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Hubungan Strategis AS-Uni Soviet

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Asian Affairs, Global Politics

≈ 1 Comment

Tags

Strategis

PendahuluanUntuk melihat pola hubungan strategis antara dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka salah satu penjelasan dapat dimulai dari sejak berakhirnya Perang Dunia II. Situasi dunia setelah PD II selesai muncu dua negara pemenang perang yang saling berebut pengaruh yakni AS dan Uni Soviet.AS beraliran liberalisme-kapitalisme sedangkan Uni Soviet menganut komunisme-sosialisme. Dengan dua kekuatan maha besar yang semua bersatu ini kemudian saling curiga dan membentuk dua kubu, maka dunia sesudah PD II disebut-sebut sebagai era Perang Dingin.Seperti halnya rivalitas negara-negara besar sebelum PD II, rivalitas AS dan Uni Soviet pun ditandai dengan pembentukan aliansi, penggelaran kekuatan, pencarian pengaruh dan dalam tingkat tertentu bentrokan militer.Makalah ini ditujukan untuk menjelaskan mengapa kedua negara adidaya dalam setengah abad terakhir terlibat dalam perebutan kekuasaan dan pengaruh di muka bumi. Kemudian akan dipaparkan interaksi diantara dua adidaya ini antara 1945-1962, 1963-1978, 1979-1991 dan pasca Perang Dingin.Penyebab Perang DinginUntuk melihat pola hubungan strategis antara dua superpower ini terlebih dahulu kita lihat mengapa dua negara besar ini terlibat dalam persaingan menguasai dunia. Kegley mencatat sejumlah faktor penyebab terjadinya Perang Dingin. Namun perdebatan penyebab Perang Dingin ini masih berlangsung di kalangan sejarawan untuk memastikan apa sebenarnya yang terjadi saat berakhirnya Perang Dunia II.1. Konflik kepentinganMenurut logika realisme politik, rivalitas diantara negara adidaya yang baru mncul tak terhindarkan lagi. Dari perspektif ini, tulis Kegley, status AS dan Uni Soviet dalam hirarki tertinggi internasional membuat mereka saling curiga.Menurut Tucker (1990), penyebab utama dari Perang Dingin adalah monopoli kekuasaan yang dipikul dua pihak setelah Perang Dunia II. Hal itu disebabkan kevakuman politik di Eropa yang pernah menjadi pusat sistem internasional. Meskipun demikian seperti ditulis Gaddis (1991) para pemimpin Uni Soviet dan AS menyatakan keinginannya untuk tetap bekerja sama setelah PD II usai. Namun dalam prakteknya karena kepentingan masing-masing untuk menyalurkan aspirasinya dalam sistem internasional menyebabkan terjadinya benturan.2. Pertentangan IdeologiInterpretasi lain tentang penyebab terjadinya Perang Dingin adalah karena perbedaan sistem yang dianut AS dan Uni Soviet. Menlu AS James F Byrnes menyebutkan, “terlalu banyak perbedaan ideologis antara AS dan Rusia untuk bekerja sama dalam jangka panjang.” Kemudian Presiden Dwight Eisenhower mengumumkan, AS menghadapi “ideologi bermusuhan dalam tingkat global, karaternya ateis, tujuannya tidak bisa dipercaya dan metodenya busuk.Oleh karena itu ketidakcocokan ideologis ini mencegah terjadinya kompromi. Seperti perang agama pada masa lalu, Perang Dingin menjadi pertempuran untuk memperebutkan hati dan alam pikiran. Pertikaian itu bermula dari persepsi saling berlawanan yang disebutnya merupakan pertempuran antara baik dan buruk, yang jahat dan yang lurus.3. Salah PersepsiPenjelasan ketiga mengenai penyebab munculnya Perang Dingin adalah faktor-faktor psikologis, khususnya salah persepsi dari kedua belah pihak. Aliran yang menganut paham ketiga ini menilai konflik kepentingan dan ideologi merupakan penyebab sekunder. Pendukung alasan ketiga ini menunjukkan memang ada bukti-bukti adanya saling tidak percaya dalam melihat karakter masing-masing.

  1. Citra Soviet

Bagi orang Soviet, alasan yang meragukan niat Amerika banyak sekali. Rakyat Uni Soviet hidup dalam memori tentang partisipasi AS dalam intervensi Sekutu atas Rusia tahun 1918-1919. Sekutu ini ingin mempertahankan dari kejatuhan terhadap Jerman tapi ternyata malah jatuh ke tangan kelompok anti Bolshevik. Sikap tidak mengakui Uni Soviet secara diplomatis sampai 1933 juga sangat mendalam dalam memori rakyat.

  1. Citra AS

Sebaliknya AS juga memiliki citra tersendiri terhadap Uni Soviet. AS merasa tidak mempercayai Uni Soviet. Misalnya, Stalin menyatakan tidak adakan membubarkan mobilisasi angkatan bersenjata tahun 1946. Padahal saat itu terlibat dalam demobilisasi militer secara besar-besaran. AS juga curiga Rusia tidak berkeinginan melakukan pemilihan yang demokratis di wilayah yang telah dibebaskan dari Nazi.

  1. Faktor Lain

Gambaran yang akurat tentang asal-usul Perang Dingin juga harus mempertimbangkan penyebab lain disamping konflik kepentingan, perbedaan ideologi dan citra yang berbeda.Misalnya perlu dilihat adanya “kevakuman kekuasaan” yang mengundang terjadinya konfrontasi. Selain itu ada faktor tekanan kebijakan luar negeri dari kelompok kepentingan dan perubahan iklim politik di masing-masing masyarakat.Periode 1945-1962Dalam waktu singkat pernah terjadi persahabatan antara AS dan Uni Soviet. Namun kemudian muncul antagonisme antara dua negara adidaya. Ada dua karakter pada periode ini. Pertama, adanya keprihatinan akan ambisi rivalnya. Hal tersebut menimbulkan pesimisme. Kedua, AS merupakan kekuatan militer sangat kuat. AS juga memiliki kemampuan menghancurkan musuhnya dengan senjata atom. Dalam periode ini muncul hal-hal sbb;a. Doktrin PembendunganBulan Februari 1946, Stalin memberika pidato yang berbicara tentang “tak terhindarnya konflik dengan kekuatan kapitalis. Ia mendesak rakyat Soviet untuk tidak terperdaya dengan berakhirnya perang yang berarti negara bisa santai. Sebaliknya perlu mengintensifkan usaha memperkuat dan mempertahankan tanah air.Tidak lama setelah muncul tulisan George F Kennan, diplomat di Kedubes AS di Uni Soviet, yang memaparkan tentang kefanatikan Soviet, Presiden Harry S Truman mendeklarasikan apa yang kemudian disebut Doktrin Truman. Doktrin ini menggarisbawahi strategi pembendungan politik luar negeri AS sebagai cara untuk menghambat ambisi ekspansionis Uni Soviet. Selain itu AS juga merekrut sekutu-sekutunya untuk mewujudkan tujuan itu.b. Lingkungan Pengaruh dan Pembentukan BlokKetidakmampuan negara adidaya memelihara “lingkungan pengaruh” diinterpretasikan sebagai akibat dari program global kekuatan lain. Misalnya ketika Uni Soviet memasuki Eropa Timur, para pemimpin AS menilainya sebagai usaha rivalnya menaklukan dunia.Perebutan lingkungan pengaruh diantara dua negara adidaya ini melahirkan sebuah pola yang bipolar. AS dan sekutunya merupakan satu polar sedangkan di polar (kutub) lain muncul Uni Soviet dengan sekutunya. Di Eropa muncul Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berhadapan dengan Pakta Warsawa. Di berbagai kawasan pun muncul blok-blok yang memihak AS dan Uni Soviet sebagai salah satu konsekuensi persaingan antara dua adidaya.Periode 1963-1978Periode ini ditandai dengan dua hal penting yakni koeksistensi damai dan Détente (Peredaan Ketegangan).Koeksistensi Persaingan yang terus menerus antar dua adidaya membuat soal koeksistensi dan non koeksistensi menjadi pilihan. Dalam situasi seperti itu, menemukan cara bagaimana koeksistensi  menjadi mendesak.DetenteHubungan Uni Soviet-AS mengalami perjalanan dramatis dengan terpilihnya Richard Nixon. Didampingi penasihat keamanannya, Henry A Kissinger, Nixon berusaha menempuh pendekatan baru terhadap Uni Soviet tahun 1969. Pendekatan itu disebut détente (peredaan ketegangan). Ternyata Uni Soviet juga mengambil pendekatan yang sama.Sebagai sebuah strategi politik luar negeri, détente dijelaskan Kissinger sebagai upaya menciptakan “kepentingan tertentu dalam kerja sama dan pembatasan”, “sebuah lingkungan dimana kompetitor dapat meregulasi dan menghambat perbedaan diantara mereka dan akhirnya melangkah dari kompetisi menuju kerja sama”. Periode 1979-1991Meskipun détente sudah dipelihara secara terus menerus tapi akhirnya tidak bertahan. Akhirnya semangat détente ini memud
ah akhir 1970-an.a.  Hancurnya DétentePerjalanan doktrin dekade selama satu dekade hancur diantaranya karena invasi Uni Soviet ke Afganistan. Presiden Jimmy Carter menyatakan, agresi Soviet di Afganistan mengkonfrontasi dunia dengan tantangan strategis paling serius sejak Perang Dingin dimulai. Kemudian muncul Doktrin Carter, keinginan AS untuk menggunakan kekuatan militer di Teluk Persia. Kemudian Doktrin Reagan makin mengnyahutkan era détente. Doktrin Reagan menyatakan AS mendukung pemberontakan antikomunis di Afganistan, Angola dan Nikaragua. Para pemberontak ini diberi istilah halus “pejuang kemerdekaan” (freedom fighters). AS juga berbicara tentang kemampuan nuklirnya, termasuk ancaman serangan pertama.b.  Pembaruan DialogSituasi mulai membaik saat Mikhail Gorbachev memikul tampuk kekuasaan di Kremlin sejak 1985. Di bawah kepemimpinan Gorbachev, Uni Soviet ditransformasikan melalui kebijakan perestroika (restrukturisasi) dan glasnost (keterbukaan). Berbeda dengan penguasa sebelumnya, Gorbachev memerintahkan tentara Uni Soviet mundur dari Afganistan. Bahkan ia berkunjung ke AS tahun 1987, makin mendekatkan dua negara adidaya dalam sebuah forum dialog. Perang Teluk 1990-1991 tidak menghanyutkan Uni Soviet kedalam perang terbuka melawan AS dan sekutunya karena Gorbachev mengambil sikap lebih netral.Berakhirnya Perang DinginReformasi yang dilancarkan Gorbachev menghapuskan ketegangan dunia. Pemulihan hubungan antar dua negara adidaya ini makin membaik. Tahun 1989, Gorbachev mengumumkan, Uni Soviet mundur dari Afganistan. Tahun 1991, ia juga memberhentikan bantuan ke Kuba.Kudeta gagal Agustus 1991 oleh kelompok garis keras menyebabkan naiknya Boris Yeltsin. Namun reformasi yang sudah berjalan tak bisa dibendung, bahkan 14 republik yang tergabung kedalam Uni Soviet memisahkan diri dan sebagian malah menyatakan merdeka. Bubarnya Uni Soviet akhir tahun 1991 meneguhkan akhirnya Perang Dingin.PenutupRivalitas antar negara adidaya atau antar negara-negara besar telah mewarnai sejarah hubungan internasional. Pasca Perang Dunia II lahir Perang Dingin. Setelah Perang Dingin pertama dan kedua, lahirlah dunia pasca Perang Dingin. Multi polaritas kemudian menggantikan bipolaritas.Dalam dunia baru ini, kekuatan militer hanya dikuasai Amerika Serikat. Sebagai satu-satunya adidaya di dunia militer, Washington menjadi polisi dunia. Dalam perlakuan AS ke Irak, Libya dan Iran serta ke Korea Utara, AS memperlihatkan diri sebagai polisi dunia yang kadang-kadand tidak disukai oleh negara lainnya.Namun dalam bidang ekonomi, kekuatan AS bukanlah satu-satunya. Disamping AS ada Jepang, Jerman dan Inggris. Apalagi dengan lahirnya negara ekonomi baru seperti Korea Selatan, Taiwan dan Singapura, dunia ekonomi lebih beragam.

Share this:

  • Click to share on X (Opens in new window) X
  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Click to print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Paradigma Kepemimpina dalam Era Yang Berubah

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Archives, Asian Affairs, politics

≈ Leave a comment

Tags

Kepemimpinan, Leadership

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan

Tuntutan akan nilai-nilai yang melekat kepada pemimpin sebenarnya masih tetap sama. Ia harus memegang amanah, jujur, terbuka, berinovasi, tegas,kreatif dan menjadi model bagi mereka yang dipimpinnya. Dalam masa krisis seperti di Indonesia, tuntutan terhadap pemimpin yang jujur merupakan sebuah kesulitan. Banyak dari pemimpin hanya berkepentingan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Bahkan dalam mengungkapkan kualitas pemimpin itu dengan berbagai gelar yang dipubliksikan terkandung egoisme untuk memperkuat basis kepemimpinannya.Jika para pemimpin lebih sibuk dengan dirinya sendiri maka rakyat atau massa pengikutnya hanya sekedar obyek yang akan menderita di kemudian hari apabila terjadi sesuatu kepada para pemimpinnya. Terbukti di Indonesia ketika para pemimpin politik, sosial dan bisnis banyak yang terlibat skandal yang mengakibatkan krisis kepercayaan, krisis ekonomi dan krisis politik, rakyat harus merasakan penderitaannya. Rakyat bahkan harus membela dirinya sendiri agar tidak jatuh kelaparan.Dari kasus di Indonesia itu jelas bahwa peran kepemimpinan sangatlah penting dalam masyarakat. Para pemimpin yang menjalankan sebuah sistem kepemimpinan bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya tetapi juga kepada masyarakat yang dipimpinnya. Kesalahan yang dilakukan pemimpin karena mengabaikan saran dan kritik massa yang dipimpinnya mengakibatkan krisis yang parah sehingga satu generasi akan merasakannya. Dalam persoalan Indonesia, krisis kepemimpinan itu melahirkan utang rakyat Indonesia yang sangat besar lebih dari 150 milyar dollar AS kepada dunia internasional.Langkanya pemimpin yang berkualitas di satu sisi dengan periode transformasi di abad ke-21 di sisi lain merupakan persoalan pelik yang harus dipecahkan sejak dini. Abad ke-21 dicirikan oleh sebuah globalisasi ekonomi, informasi dan nilai-nilai kemanusiaan sehingga tuntutan kepada suatu kepemimpinan tidak hanya berkualitas dasar seperti jujur dan amanah tetapi juga mampu membawa masyarakat dalam abad yang sangat kompetitif.Artikel ini akan berusaha mengulas bagaimana paradigma  kepemimpinan masa depan dalam era yang senantiasa berubah. Islam sendiri telah memberikan dasar-dasar nilai yang jelas tentang ciri-ciri kepemimpinan yang mashlahat. Namun ada baiknya pula kita melihat bagaimana perkembangan kepemimpinan di dunia internasional.

Paradigma  Kepemimpinan

Steven Covey (1997) membagi paradigma baru kepemimpinan dalam tiga fungsi. Pertama, pathfinding (pencarian alur). Esensi dari pathfinding diperoleh dalam visi dan misi yang pasti. Pathfinding akan memiliki arti yang lebih mendalam di masa depan. Menurut Covey, pencarian itu membuat budaya dibekali dan terangsang mengenai suatu tujuan yang lebih bernilai.Dalam Islam, tujuan yang bernilai itu adalah mencari Ridha Allah. Melalui nilai inilah, umat Islam berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan masyarakat yang diridhai Allah melalui negeri yang aman penuh pengampunan. Rasulullah telah mempraktekkan kepemimpinannya dengan menekankan aspek Tauhid dalam setiap gerak langkahnya.Fungsi kedua, Aligning (Penyelarasan). Kegiatan ini memastikan bahwa struktur, sistem dan proses operasional organisasi memberi dukungan pada pencapaian misi dan visi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Tujuan dari penyelarasan adalah memberikan dukungan. Oleh karena itu hal terbesar dari prinsip ini muncul jika mereka yang dipimpin merasa selaras dengan misi, visi dan strategi pemimpinnya.Menurut Covey, jika massa yang dipimpin menghayati pemahaman akan kebutuhan, berbagai keterikatan yang kuat untuk mencapai visi, terpanggil untuk menciptakan dam secara kontinu memperbaiki struktur dan sistem yang memenuhi kebutuhan, ini berarti pemimpin itu memiliki penyelarasan. Tanpa kondisi manusiawi ini, pemimpin tidak akan memperoleh mutu yang berkelas dunia dan apa  yang dicapai capai hanyalah program-program rapuh.Fungsi ketiga, empowerment (pemberdayaan). Setiap individu biasanya memiliki bakat, kecerdikan, kecerdasan dan kreativitas yang luar biasa, tetapi kebanyakan sifat itu masih belum tergali. Jika pemimpin bekerja erat dengan massanya menuju visi dan misi bersama, maka ia mulai berbagi misi dengan orang-orang itu. Tujuan dan misi perseorangan dipersatukan dengan misi organisasi . Bila tujuan-tujuan itu saling mengisi, maka terciptalah sinergi yang besar. Suatu semangat yang digerakkan dalam diri individu yang mempraktekkan bakat, kecerdikan dan kreativitas untuk mampu mengerjakan apapun dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disepakati untuk mencapai nilai, visi dan misi bersama dalam melayani kebutuhan masyarakat, itulah yang disebut pemberdayaan.Dalam Islam prinsip pemberdayaan didasarkan pada semangat bahwa setiap individu itu merupakan makhluk yang mulia. Namun ia bisa juga jatuh menjadi pribadi yang tidak bernilai. Oleh sebab itu manusia harus diajak senantiasa dalam menempuh jalan kebenaran dan senantiasa saling mengingatkan seperti terungkap dalam Surat Al Ashr.Tiga fungsi tersebut, lebih tepat lagi tiga prinsip itu merupakan pilar dari paradigma kepemimpinan era masa depan. Paradigma itu berbeda dengan pola pikir manajemen tradisional. Antara manajemen dan kepemimpinan terdapat perbedaan yang berarti. Kepemimpinan berfokus pada mengerjalan hal dengan benar, sedangkan manajemen memusatkan perhatian pada pengerjaan secara tepat. Covey menyatakan, kepemimpinan memastikan tangga yang didaki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan bahwa mereka mendaki tangga seefisien mungkin.Pemimpin masa depan memiliki rasa rendah hati menerima prinsip-prinsip hidupnya yang berdasarkan nilai agama dan memiliki keberanian untuk menyelaraskannya yang memerlukan pengorbanan yang besar. Dari kerendahan hati, keberanian dan pengorbanan akan muncul individu yang memiliki integritas. Pemimpin seperti itu merupakan sebuah keluarga yang utuh dimana dia memiliki kerendahan hati untuk mengikuti nilai-nilai dasar hidupnya, keberanian untuk menyelaraskan prinsip-prinsip hidupnya dan melawan asumsi-asumsi lama dan memiliki integritas.Caela Farren dan Beverly L Kaye (1997) menyatakan fokus kepemimpinan telah bergeser dari mengarahkan dan menggurui kepada memfasilitasi dan memberdayakan. Mereka mengemukakan adanya lima peranan pemimpin masa depan yakni fasilitator, penilai, peramal, penasihat dan pemberdaya.Sedangkan Warren Bennis (1997) ikut memperkaya ciri-ciri pemimpin masa depan dengan menyebutkan beberapa hal. Pertama, pemimpin masa depan harus memiliki tujuan hidup yang kuat yang dapat didefinisikan. Kedua, kapasitas untuk mengartikulasikan visi dengan jelas. Ketiga, menciptakan kepercayaan di kalangam massa yang dipimpinnya. “Pemimpin harus dilihat sebagai insan yang dapat dipercaya,” tulis Warren Bennis, pakar kepemimpinan.

Penutup

Kepemimpinan pada era transformasi di abad ke-21 mensyarakatkan sebuah paradigma baru yang bercirikan tiga fungsi yakni pencarian alur, penyelaras, pemberdayaan. Dengan bekal paradigma baru ini diharapkan kepemimpinan masa depan bisa menghadapi dunia yang berubah terus menerus dengan kecepatan tinggi.Krisis kepemimpinan terjadi apabila para pemimpin tidak lagi memiliki prinsip hidup yang dipegangnya. Islam yang kaya menawarkan prinsip kehidupan ini menjadi pilar berarti dalam menyongsong masa depan. Kepemimpinan di bidang apapun tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai Islami yang sudah terbukti dalam sejarah kehandalannya. Penyelarasan dengan nilai Islam ini memang memerlukan perjuangan dan pengorbanan namun imbalan yang ditawarkanpun tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akhirat. Insya Allah.

Daftar Pustaka

Covey, Stephen, Principle Centered Leadership. New York, Simon & Schuster,1992.Gibson, Rowan, Rehinking te Future. London: Nicholas Brealey Publishing, 1997.Hesselbein, Frances dkk, Pemimpin Masa Depan. Jakarta: Elex Media Komputindo,1997.Kellerman, Barbara, Leadership: Multidisiplinary Perspectives. New Jersey,Prentice-Hall Inc., 1984.Maududi, Sayyid Abul A’la, Let Us Be Muslims. Leiceste
r, The Islamic Foundation,1983.


Share this:

  • Click to share on X (Opens in new window) X
  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Click to print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d