Tags

- Image by Bill D’Agostino via Flickr
Ada sebuah nasihat dari seorang pakar marketing dan karir. Kebanyakan orang untuk mengambil sebuah karir adalah tidak mengambil keputusan. Orang ragu-ragu apakah karir yang akan dimasuki memiliki masa depan baik? Atau cocokkah dengan karakter saya ? Apakah saya mampu ? Saya tidak punya keahlian di bidang ini sebelumnya ? Saya tidak punya pengalaman menulis ?Sang pakar ini memberi nasihat. Putuskanlah terlebih dahulu. Buatlah keputusan. Pilihlah jalan hidup Anda! Demikian apa yang disarankannya. Diterima atau tidak, kadang-kadang kita tidak memutuskan terlebih dahulu mau kemana.Jika Anda memutuskan masuk dunia jurnalistik apakah sebagai wartawan bidang media cetak atau elektronik, segera ambil. Jangan menunggu sampai habis waktu kita. Bertanyalah mengenai prospek di bidang ini kepada sahabat, rekan atau orang yang bisa diminta pertimbangkan.Setelah mengambi keputusan, tuliskanlah. Tuliskan keputusan itu diatas sehelai kertas atau di sebuah file atau di sebuah blog. Tuliskan dengan rinci tujuan Anda dalam karir itu. Tidak menuliskan secara eksplisit untuk keperluan Anda sendiri, maka keputusan itu tidak lain adalah harapan kosong.Jika kita memutuskan sesuatu kemudian menuliskannya, maka energi akan menyatu antara harapan dan kenyataan. Antara apa yang dipikirkan dengan apa yang akan terjadi. Tangan dan pikiran serta seluruh energi dalam tubuh Anda tersalur kedalam tulisan itu. Keputusan tidak akan jadi harapan kosong. Keputusan itu telah menjadi energi.Langkah selanjutnya akan mengikuti keputusan yang ditulis itu. Langkah-langkah berikutnya akan beranjak dari keputusan yang telah ditulis. Tidak percaya ? Coba tuliskan, apa yang Anda kehendaki dengan masuk dunia jurnalistik. Lalu apa langkah-langkah berikutnya. Tanpa ada rincian, sekali lagi keputusan itu tinggal angan-angan Anda.Sumber: Freejournalist
![Reblog this post [with Zemanta]](https://i0.wp.com/img.zemanta.com/reblog_e.png)
Kalau meminjam almarhum Gus Dur, anggota DPR itu seperti anak-anak TK. Ribut melulu dan kadang bersitegang.Ungkapan Gus Dur berulang ketika Ketua DPR Marzuki Alie menutup sidang Paripurna DPR untuk dilanjutkan hari Rabu membahas rekomendasi Pansus Century. Keributan itu hampir melahirkan baku hantam kalau tidak dilerai oleh sejumlah orang. Ketika putusan itu dibuat sejumlah orang sudah protes dan mengambil microphone untuk menyatakan agar Ketua diturunkan.Sikap sejumlah anggota DPR itu menunjukkan tidak matangnya perilaku kenegaraan mereka. Sikap emosional, ingin menang saja tanpa memperlihatkan etika muncul kembali. Ini juga menunjukkan betapa para politisi DPR ini tidak bertindak elegan, jauh dari sikap yang beretika.Lalu apa yang mereka kehendaki semuanya? Bukankah kepentingan rakyat dimana harga-harga sembako, pengadaan perumahan dan bahaya bencana alam seharusnya yang menjadi fokus kerja mereka? Semuanya mengurus Century sehingga energi mereka habis hanya untuk bersitegang soal-soal yang sebenarnya bisa diputuskan dengan cepat.Masih ada satu hari lagi sidang Paripurna DPR dan masih ada kesempatan memperlihatkan etika dan ahlak yang lebih baik. Memang perbedaan pendapat seperti di DPR sering membuat panas kepala namun jangan sampai terjadi perang mulut dan fisik yang tak berkesudahan.Jika satu kubu menginginkan agar ada yang dijatuhkan karena Pansus Century ini, sudah menjadi bagian dari demokrasi lakungan voting. Jika voting kalah masih bisa dilakukan lobi atau upaya pendekatan lainya kepada masyarakat. Tidak dengan ngotot di ruang sidang.