• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Archive

Fenomena Setengah Juta Eksemplar Laskar Pelangi

21 Monday Apr 2008

Posted by Setiawan in Archive, Books

≈ 2 Comments

Andrea Hirata dalam pameran buku di Malaysia awal April ini mengatakan Laskar Pelangi telah laku setengah juta eksemplar ! Kabar baru mengenai dunia buku Indonesia dan segala kemungkinan bisa terjadi. Tidak ada penjelasan logis mengenai mengapa buku itu laku. Ya memang tidak pernah ada yang bisa tahu sebuah buku akan laku.Selangkapnya bias didengar di You Tube.Andrea adalah fenomena seperti halnya Habbiburahman El Sirazy, penulis baru berlatar belakang pengalaman global. Penulis ganre baru yang melanglangbuana melihat dunia lebih luas lalu dituangkan dalam sebuah novel yang cantik.Sepulang dari Indonesia dalam perjalanan pesawat ke London saya membaca separuh buku Laskar Pelangi. Perjalanan dua belas jam pesawat memang bukan waktu pendek, sebagian waktu dihabiskan memelototi buku ini.Ada beberapa komentar ingin saya tulis. Pertama, pengalaman pribadi Laskar Pelangi yang dituturkan si ikal memang sebuah kisah yang mendekati pengalaman pribadi. Potret pengalaman pribadi di Pulau Belitong yang mengkontraskan kaya dan miskin, kejayaan dan kelemahan, kekukuhan, tekad keras dan cita-cita yang ditanamkan untuk kelua dari dunia yang suntuk.Kedua, Andrea Hirata berhasil menggambarkan situasi kemiskinan yang dikontraskan dengan juragan timah PN yang kaya dan hebat. Plot seperti ini memang memberikan motivasi kepada pembaca yang menginginkan sekolah miskin Muhammadiyah dimana Laskar Pelangi berada bisa mengalahkan Goliath PN Timah dan jajarannya.Ketiga, Andrea Hirata menguraikan novelnya dalam sebuah bahasa penuturan yang kontemplasi, memberikan ruang bahasa dialog yang singkat tapi kuat – misalnya ketika pertandingan cerdas cermat di bagian penghujung buku – sehingga pembaca bisa berkhayal sangat luas.Keempat, tidak seperti novel lainnya, Andrea juga menyisipkan pesan-pesan moral dan bahkan pelajaran moral dari perjalanan hidup karakter si ikal dalam buku ini.Kelima, ketika terjadi dialog dan perenungan, Andrea tidak semata-mata berkhayal tetapi mendasarkan pada pengetahuan luas dan mendalam soal sains yang menjadi minatnya padahal dia seorang ekonom by education.  Nuansa menambah sisipan keilmuan ini menambah bobot Laskar Pelangi yang cukup tebal.Keenam, tetralogi sebuah perjalanan Laskar Pelangi dalam empat jilid merupakan sebuah kunci keberhasilan lainnya sehingga pembaca seperti halnya penggemar Harry Potter harus menempuh perjalanan delapan tahun menyelesaikan semua bukunya ! Andrea tidak perlu membuat novel lainnya, cukup tetralogi untuk menyerap semua pandangan filosif dan praktis dari Andrea dari Belitong.Saya pernah mengulas buku Sang Pemimpi dengan Andrea Hirata, sementara bisa didengarkan dulu di sini

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Dengan (sedih) kembali ke London

20 Sunday Apr 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 1 Comment

Sekitar 10 hari berkeliling beberapa kota di Indonesia, sungguh sangat menyenangkan dan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan karena bisa berjumpa dengan kerabat dekat dan jauh. Menikmati udara Jakarta yang panas dan mencicipi hidangan Indonesia asli di daerah asalnya.Sebagai orang Melayu memang kangen akan kampung halaman sangat kuat, dibandingkan misalnya bangsa dari Asia Selatan yang berada di Inggris berpuluh-puluh tahun. Kunjungan ka Indonesia kali ini memang dalam urusan kerjas bukan untuk pelesir sehingga tidak bisa semua dinikmati. Tadinya juga ingin mengambil foto Indonesia yang asri di beberapa daerah tidak bisa juga dilakukan dengan cepat.Sedih tentu saja karena singkatnya kangen-kangenan di Indonesia belum terpuaskan. Singkat dan harus kembali ke London. Bagi mereka yang pernah merasakan lama di luar Indonesia mungkin hal ini bisa dirasakan juga. Maunya lama dulu di Tanah Air, berkeliling sampai puas baru melanjutkan tugas lainnya. Ini idealnya, tapi nggak bisa juga.Sampai ke bandara udara Heathrow di London seperti pulang kampung meski sebenarnya tidak juga.  Penerbangan lebih dari 12 jam di udara menambah kurang nyamannya bepergian jauh sampai ke sebuah negeri di Eropa ini.Mudah-mudahan, di masa datang memang bisa sering bolak balik sehingga lebih banyak belajar dari Indonesia yang sangat dinamis dan bahkan bersifat dinamit (mau meledak-ledak).Saya ingin menuliskan lebih panjang lagi kesan berkeliling ke Yogyakarta, Surabaya dan Banjarmasin, serta tentu menikmati novel Laskar Pelangi jilid pertama. Belum tamat tapi asyik juga juga,

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Malioboro Yogya yang makin sempit

07 Monday Apr 2008

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 2 Comments

Malioboro Yogya kini sudah sangat padat. Saya sedikit kecewa melihat bagaimana Malioboro yang asri dengan lampu-lampu berbinar kini menjadi terlihat gelap dimalam hari dan semakin sempit jalannya.Kiri kanan jalan pertokoan tertutup dengan pembatas jalan yang menambah gelap. Ah berbeda sekali dengan bayangan dulu ketika Malioboro asri dan tenang. Tampaknya tranportasi jalan sudah menghabiskan badan jalan menambah suasana bising dan polusi. Mungkinkah Malioboro bisa menjadi jalan bebas polisi, bebas motor dan mobil ? Kalau ini bisa dikembalikan, Malioboro dengan lesehan dan pusat kerajinan akan menambah nilai pariwisata Yogya.(Saya lanjutkan tulisan mengenai Malioboro ini sesudah tiba di London, maklum susah sekali mencari waktu selama di Indonesia. Tugas berkeliling beberapa kota menyita waktu dan akses internet juga tidak mudah ya) Bagi saya Malioboro ada simbol penting seperti halnya Thamrin di Jakarta atau Oxford Street di London. Ini adalah jalur identitas kota Yogyakarta, kalau tidak disebutkan sebagai pusat kunjungan turis.Malioboro ada Yogya dan Yogya bisa direpresentasikan secara populer dengan kehadiran Malioboro. Memang ada Keraton Yogya di kota Gudeg ini namun semua orang yang datang ke Yogya mau tidak mau akan menyentuh jalan ini. Jika tidak dirawat dan dijaga maka Malioboro menjadi kumuh, kotor, semrawut, macet, padat dan tidak asri. Pemandangan yang menyebabkan mungkin banyak pengunjung bergegas segera pergi dari Mailoboro daripada menikmatinya.Sudah saatnya daerah ini ditata ulang untuk memberikan ruang lebih besar kepada para pejalan kaki. Merekalah yang akan menghidupkan denyut nadi Maliboro dengan lesehan terkenal yang sudah berjalan sangat lama. Kalau tempat lesehan itu kumuh dan kotor karena asap knalpot motor, sulit sekali pengungunjung menikmati udara Malioboro.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d