• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Archives

Paradigma Kepemimpina dalam Era Yang Berubah

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Archives, Asian Affairs, politics

≈ Leave a comment

Tags

Kepemimpinan, Leadership

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan

Tuntutan akan nilai-nilai yang melekat kepada pemimpin sebenarnya masih tetap sama. Ia harus memegang amanah, jujur, terbuka, berinovasi, tegas,kreatif dan menjadi model bagi mereka yang dipimpinnya. Dalam masa krisis seperti di Indonesia, tuntutan terhadap pemimpin yang jujur merupakan sebuah kesulitan. Banyak dari pemimpin hanya berkepentingan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Bahkan dalam mengungkapkan kualitas pemimpin itu dengan berbagai gelar yang dipubliksikan terkandung egoisme untuk memperkuat basis kepemimpinannya.Jika para pemimpin lebih sibuk dengan dirinya sendiri maka rakyat atau massa pengikutnya hanya sekedar obyek yang akan menderita di kemudian hari apabila terjadi sesuatu kepada para pemimpinnya. Terbukti di Indonesia ketika para pemimpin politik, sosial dan bisnis banyak yang terlibat skandal yang mengakibatkan krisis kepercayaan, krisis ekonomi dan krisis politik, rakyat harus merasakan penderitaannya. Rakyat bahkan harus membela dirinya sendiri agar tidak jatuh kelaparan.Dari kasus di Indonesia itu jelas bahwa peran kepemimpinan sangatlah penting dalam masyarakat. Para pemimpin yang menjalankan sebuah sistem kepemimpinan bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya tetapi juga kepada masyarakat yang dipimpinnya. Kesalahan yang dilakukan pemimpin karena mengabaikan saran dan kritik massa yang dipimpinnya mengakibatkan krisis yang parah sehingga satu generasi akan merasakannya. Dalam persoalan Indonesia, krisis kepemimpinan itu melahirkan utang rakyat Indonesia yang sangat besar lebih dari 150 milyar dollar AS kepada dunia internasional.Langkanya pemimpin yang berkualitas di satu sisi dengan periode transformasi di abad ke-21 di sisi lain merupakan persoalan pelik yang harus dipecahkan sejak dini. Abad ke-21 dicirikan oleh sebuah globalisasi ekonomi, informasi dan nilai-nilai kemanusiaan sehingga tuntutan kepada suatu kepemimpinan tidak hanya berkualitas dasar seperti jujur dan amanah tetapi juga mampu membawa masyarakat dalam abad yang sangat kompetitif.Artikel ini akan berusaha mengulas bagaimana paradigma  kepemimpinan masa depan dalam era yang senantiasa berubah. Islam sendiri telah memberikan dasar-dasar nilai yang jelas tentang ciri-ciri kepemimpinan yang mashlahat. Namun ada baiknya pula kita melihat bagaimana perkembangan kepemimpinan di dunia internasional.

Paradigma  Kepemimpinan

Steven Covey (1997) membagi paradigma baru kepemimpinan dalam tiga fungsi. Pertama, pathfinding (pencarian alur). Esensi dari pathfinding diperoleh dalam visi dan misi yang pasti. Pathfinding akan memiliki arti yang lebih mendalam di masa depan. Menurut Covey, pencarian itu membuat budaya dibekali dan terangsang mengenai suatu tujuan yang lebih bernilai.Dalam Islam, tujuan yang bernilai itu adalah mencari Ridha Allah. Melalui nilai inilah, umat Islam berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan masyarakat yang diridhai Allah melalui negeri yang aman penuh pengampunan. Rasulullah telah mempraktekkan kepemimpinannya dengan menekankan aspek Tauhid dalam setiap gerak langkahnya.Fungsi kedua, Aligning (Penyelarasan). Kegiatan ini memastikan bahwa struktur, sistem dan proses operasional organisasi memberi dukungan pada pencapaian misi dan visi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Tujuan dari penyelarasan adalah memberikan dukungan. Oleh karena itu hal terbesar dari prinsip ini muncul jika mereka yang dipimpin merasa selaras dengan misi, visi dan strategi pemimpinnya.Menurut Covey, jika massa yang dipimpin menghayati pemahaman akan kebutuhan, berbagai keterikatan yang kuat untuk mencapai visi, terpanggil untuk menciptakan dam secara kontinu memperbaiki struktur dan sistem yang memenuhi kebutuhan, ini berarti pemimpin itu memiliki penyelarasan. Tanpa kondisi manusiawi ini, pemimpin tidak akan memperoleh mutu yang berkelas dunia dan apa  yang dicapai capai hanyalah program-program rapuh.Fungsi ketiga, empowerment (pemberdayaan). Setiap individu biasanya memiliki bakat, kecerdikan, kecerdasan dan kreativitas yang luar biasa, tetapi kebanyakan sifat itu masih belum tergali. Jika pemimpin bekerja erat dengan massanya menuju visi dan misi bersama, maka ia mulai berbagi misi dengan orang-orang itu. Tujuan dan misi perseorangan dipersatukan dengan misi organisasi . Bila tujuan-tujuan itu saling mengisi, maka terciptalah sinergi yang besar. Suatu semangat yang digerakkan dalam diri individu yang mempraktekkan bakat, kecerdikan dan kreativitas untuk mampu mengerjakan apapun dan konsisten dengan prinsip-prinsip yang disepakati untuk mencapai nilai, visi dan misi bersama dalam melayani kebutuhan masyarakat, itulah yang disebut pemberdayaan.Dalam Islam prinsip pemberdayaan didasarkan pada semangat bahwa setiap individu itu merupakan makhluk yang mulia. Namun ia bisa juga jatuh menjadi pribadi yang tidak bernilai. Oleh sebab itu manusia harus diajak senantiasa dalam menempuh jalan kebenaran dan senantiasa saling mengingatkan seperti terungkap dalam Surat Al Ashr.Tiga fungsi tersebut, lebih tepat lagi tiga prinsip itu merupakan pilar dari paradigma kepemimpinan era masa depan. Paradigma itu berbeda dengan pola pikir manajemen tradisional. Antara manajemen dan kepemimpinan terdapat perbedaan yang berarti. Kepemimpinan berfokus pada mengerjalan hal dengan benar, sedangkan manajemen memusatkan perhatian pada pengerjaan secara tepat. Covey menyatakan, kepemimpinan memastikan tangga yang didaki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen mengusahakan bahwa mereka mendaki tangga seefisien mungkin.Pemimpin masa depan memiliki rasa rendah hati menerima prinsip-prinsip hidupnya yang berdasarkan nilai agama dan memiliki keberanian untuk menyelaraskannya yang memerlukan pengorbanan yang besar. Dari kerendahan hati, keberanian dan pengorbanan akan muncul individu yang memiliki integritas. Pemimpin seperti itu merupakan sebuah keluarga yang utuh dimana dia memiliki kerendahan hati untuk mengikuti nilai-nilai dasar hidupnya, keberanian untuk menyelaraskan prinsip-prinsip hidupnya dan melawan asumsi-asumsi lama dan memiliki integritas.Caela Farren dan Beverly L Kaye (1997) menyatakan fokus kepemimpinan telah bergeser dari mengarahkan dan menggurui kepada memfasilitasi dan memberdayakan. Mereka mengemukakan adanya lima peranan pemimpin masa depan yakni fasilitator, penilai, peramal, penasihat dan pemberdaya.Sedangkan Warren Bennis (1997) ikut memperkaya ciri-ciri pemimpin masa depan dengan menyebutkan beberapa hal. Pertama, pemimpin masa depan harus memiliki tujuan hidup yang kuat yang dapat didefinisikan. Kedua, kapasitas untuk mengartikulasikan visi dengan jelas. Ketiga, menciptakan kepercayaan di kalangam massa yang dipimpinnya. “Pemimpin harus dilihat sebagai insan yang dapat dipercaya,” tulis Warren Bennis, pakar kepemimpinan.

Penutup

Kepemimpinan pada era transformasi di abad ke-21 mensyarakatkan sebuah paradigma baru yang bercirikan tiga fungsi yakni pencarian alur, penyelaras, pemberdayaan. Dengan bekal paradigma baru ini diharapkan kepemimpinan masa depan bisa menghadapi dunia yang berubah terus menerus dengan kecepatan tinggi.Krisis kepemimpinan terjadi apabila para pemimpin tidak lagi memiliki prinsip hidup yang dipegangnya. Islam yang kaya menawarkan prinsip kehidupan ini menjadi pilar berarti dalam menyongsong masa depan. Kepemimpinan di bidang apapun tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai Islami yang sudah terbukti dalam sejarah kehandalannya. Penyelarasan dengan nilai Islam ini memang memerlukan perjuangan dan pengorbanan namun imbalan yang ditawarkanpun tidak hanya kebahagiaan di dunia tetapi juga kebahagiaan di akhirat. Insya Allah.

Daftar Pustaka

Covey, Stephen, Principle Centered Leadership. New York, Simon & Schuster,1992.Gibson, Rowan, Rehinking te Future. London: Nicholas Brealey Publishing, 1997.Hesselbein, Frances dkk, Pemimpin Masa Depan. Jakarta: Elex Media Komputindo,1997.Kellerman, Barbara, Leadership: Multidisiplinary Perspectives. New Jersey,Prentice-Hall Inc., 1984.Maududi, Sayyid Abul A’la, Let Us Be Muslims. Leiceste
r, The Islamic Foundation,1983.


Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Pendekatan Konseptual terhadap Transisi Menuju Demokrasi

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Archives, Asian Affairs, politics

≈ Leave a comment

Tags

demokrasi

Oleh Asep SetiawanPendahuluanBanyak pakar politik menyebutkan Indonesia pada masa kini berada dalam periode transisi menuju demokrasi. Pemerintahan Orde Baru banyak yang mengkategorikan sebagai sebuah rejim yang tidak demokratis. Ataupun kalau disebut demokrasi tetapi sifatnya semu. Bahkan ada yang mengatakan sebagai sebuah pemerintahan yang autoritarian.Pada masa transisi dari bentuk pemerintahan autoritarian menuju demokratis di negara-negara berkembang telah menjadi perhatian para ilmuwan sosial. Indonesia tak lepas dari pengamatan bagaimana proses demokratisasi itu berjalan. Karena sistem politik Indonesia mengandung unsur penduduk yang besar sekitar 202 juta jiwa dan luasnya wilayah, maka eksperimen dari autoritarian menuju demokrasi merupakan pengalaman yang sangat unik.Artikel ini akan melihat proses transisi demokratisasi di negara berkembang dari pendekatan konseptual. Pertama, bagaimana sesungguhnya proses demokratisasi itu terjadi. Kedua, bagaimana pula proses menuju demokrasi itu terjadi di negara-negara berkembang.Namun sebelum mengkaji secara konseptual periode transisi menuju demokrasi itu terlebih dahulu melihat apa yang disebut transisi itu. Menurut Guillremo O’Donnell dan Philippe C Schmitter[1], “transisi” adalah interval (selang waktu) antara satu rejim politik dan rejim yang lain. Transisi dibatasi oleh dimulainya proses perpecahan rejim autoritarian oleh pengesahan beberapa bentuk demokrasi, kembalinya beberapa bentuk pemerintahan otoriter atau kemunculan beberapa suatu alternatif revolusioner.Ia juga menilai, sudah jadi ciri masa ini yakni tidak menentunya aturan main politik. Hal itu disebabkan, bukan hanya aturan itu berubah terus menerus dalam masa transisi itu tetapi juga karena aturan main itu dipertarungkan antar elit politik.Menurut O’Donnell dan Schmitter, selama masa transisi bila memang ada aturan-aturan yang efektif, cenderung berada dalam genggaman pemerintah otoriter. Biasanya penguasa ingin mempertahankan kekuasaannya untuk menentukan aturan dan hak-hak yang dalam kondisi demokrasi yang mantap dipagari oleh perundangan. Oleh karena itu penguasa akan berusaha memodifikasi aturan itu demi kepentingan dirinya.Istilah lain yang perlu mendapat perhatian adalah demokratisasi. Menurut O’Donnell prinsip terpenting demokrasi adalah kewarganegaraan (citizenship).  Sedangkan Lyman Tower Sargent[2] unsur-unsur kunci demokrasi adalah keterlibatan warga negara dalam pengambilan keputusan politik, kesederajatan diantara warga negara, kesederajatan kebebasan dan kemerdekaan yang diberikan atau dipertahankan warga negara, sistem perwakilan dan sistem pemilu.Adapun proses demokratisasi, kalau meninjau dua istilah itu, mengacu kepada proses-proses dimana aturan-aturan dan prosedur kewarganegaraan diterapkan pada lembaga-lembaga politik yang dulu dijalankan dengan prinsip-prinsip lain (misalnya pengawasan  dengan kekerasan, tradisi masyarakat, pertimbangan para pakar, praktek administratif) diperluas sehingga mencakup mereka yang sebelumnya tidak ikut menikmati hak dan kewajiban (misalnya golongan bebas pajak, kaum buta huruf, wanita, remaja, golongan etnis minoritas dan warga negara asing) . Demikian pula bila aturan lama itu diperluas sehingga meliputi isu-isu dan lembaga-lembaga yang semula tidak menjadi wilayah partisipasi masyarakat seperti badan-badan pemerintahan, jajaran militer, asosiasi kepentingan dan lembaga pendidikan.. Dengan kata lain sebuah proses demokratisasi merupakan perluasan partisipasi masyarakat dalam berbagai keputusan politik.Proses TransisiProses transisi menuju demokrasi telah menjadi perhatian para ilmuwan studi pembangunan politik. Di sini ada sejumlah pendekatan konspetual untuk melihat proses transisi menuju demokrasi. Adam Przeworksi (1991) menggunakan konsep hardliners dan sofliners dalam mengembangkan model game-theoretic dalam menganalisa kejatuhan rejim autoritarian.Sementara itu Donal Share dan Scott Mainwaring (1986) mengajukan pendekatan transisional yang berawal dari konsepsi mengenai perbedaan antara kelompok pembaharu yang dikontrol oleh pemimpin berkuasa  dengan apa yang disebut ruptulas atau oposisi yang berada dalam kendali penguasa.Ilmuwan lain seperti Michael Borton, Richard Gunter dan John Higley (1992) mengembangkan pengertian democracy consolidation menjadi konsep elite settlements dan elite convergence.Selain itu ilmuwan politik terkenal Samuel Huntington (1991) yang pada awalnya disebut-sebut beraliran neo-konservatif menjadi diskursus demokratisasi gelombang ketiga yang menekankan pada tahap-tahap transisi.Kajian akan masa transisi ini kemudian menoleh kepada penekanan sisi masyarakat. Penekanan kepada peran masyarakat ini akhirnya memunculkan kesimpulan lain. Faktor struktural yang sebelumnya menjadi pusat perhatian bergeser ke faktor elit. Di sini perilaku elit menjadi variabel signifikan dalam menjelaskan tumbangnya rejim otoriter.Teori yang menekankan pada faktor elit tersebut pada beberapa hal sebenarnya berakar dari akar pemikiran, pertama, aktor kunci dalam proses transisi adalah elit politik, baik yang di dalam pemerintahan maupun oposisinya dan bukan lagi  kelompok-kelompok kepentingan, organisasi massa, gerakan sosial atau kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.Kedua, aktor-aktor tersebut secara tipikal dibedakan menurut orientasi mereka terhadap perubahan rejim seperti moderat-ekstrem; dan menurut kepentingan yang berakar pada struktur dan kondisi ekonomi maupun peranan institusionalnya.Ketiga, aktor-aktor tersebut berperilaku strategis, tindakan-tindakan mereka dipengaruhi oleh tingkat penilaian mereka terhadap saingan maupun sekutunya sendiri.Keempat, demokrasi merupakan hasil dari negosiasi, baik secara eksplisit maupun implisit.Dengan penekanan pada faktor elit, maka teori transisi menuju demokrasi menaruh perhatian besar dalam hal model, strategi maupun taktik. Share mengajukan tipologi transisi itu berlandaskan dua kriteria yaitu keterlibatan pemerintah yang sedang berkuasa serta jangka waktu berlangsungnya proses itu. Tipologi itu digambarkan sebagai berikut :Demokrasi melibatkan para pemimpin rejim ?Ya (konsensual)                                 Tidak(non-konsensual)

Bertahap DemokratisasiSecara Bertahap Transisi MelaluiPerjuangan Revolusioner
Cepat Transisi MelaluiTransaksi Transisi Melalui Perpecahan:

  1. Revolusi    c. keruntuhan
  2. b. kudeta    d. ekstrikasi

Dari bagan tersebut terlihat bahwa demokratisasi itu bisa berlangsung cepat atau lambat. Demokratisasi secara bertahap merupakan transisi yang melibatkan para pemimpin yang sedang berkuasa. Demokratisasi seperti ini jarang terjadi kecuali di Inggris dan  negara Eropa Utara. Sementara itu transisi melalui perjuangan revolusioner kecil kemungkina jika oposisi tumbuh bertahap di bawah rejim otoriter.Tipe transisi lain yaitu melalui perpecahan, tidak ada konsensus dan berlangsung cepat. Perpecahan biasanya terjadikarena (a), revolusi yang digerakkan kekuatan pro demokrasi (b)adanya kudeta dari kalangan elit militer atau polisi. (c ) keruntuhan suatu rejim karena, misalnya, kalah perang ataupun (d) ekstrikasi (ectrication) yaitu rejim kehilangan otoriter secara tiba-tiba kehilangan legitimasinya dan tiba-tiba menyerahkan kekuasaan kepada kekuatan oposisi yang demokratis. Ini terjadi misalnya di Argentina setelah Perang Malvinas.Transisi juga bisa terjadi melalui tipe transaksi.Tipe ini adalah transisi yang paling ideal meskipun memiliki sejumlah syarat berat. Pertama, harus ada kemauan politik rejim otoriter untuk mengambil inisiatif ke arah reformasi politik yang mendukung transisi menuju demokrasi. Biasanya hal ini sulit terjadi. Kedua, kemampuan rejim untuk melakukan transisi melalui transaksi. Pada umumnya rejim penguasa akan berusaha membata
si tuntutan ke arah demokratisasi apabila merugikan dirinya. Persoalan yang muncul dari transisi ini adalah mungkinkah sebuah sistem otoriter berubah menjadi demokratis melalui transformasi dari dalam tanpa keruntuhan rejim itu.Kerangka konseptual di atas bukanlah satu-satunya. Munc dan Leff  (1997) menawarkan konsep lain berdasarkan studi empirik di Amerika Latin dan Eropa Timur yang terjadi pada awal 1990-an. Menurut mereka transisi menuju demokrasi tergantung pada identitas pelaku perubahan dan strategi yang dibawakan para pelaku perubahan. Dari dua variabel itu maka transisi menuju demokrasi bisa dilakukan oleh elit berkuasa, penentang elit dan keduanya.Menurut Munc dan Leff, reformasi dari bawah yang dilakukan penentang elit tetapi berlangsung dengan akomodasi dari para pelakunya berlangsung di Cile. Model ini jarang terjadi dan tidak menjamin sepenuhnya terbentuk sistem yang demokratik.Reformasi melalui transaksi terjadi antara lain di Polandia dan Brasil.  Hal itu disebabkan elit penguasa tak cukup memiliki kekuatan untuk menekan kekuatan pro demokrasi.Sementara itu reformasi politik melalui ekstrikasi terjadi di Hongaria. Transisi di negeri ini berlangsung relatif mulus karena baik rejim komunis yang berkuasa maupun kelompok pro demokrasi melakukan perubahan secara terbuka. Ketika terjadi transisi itu, seluruh unsur politik berkumpul dalam sebuah rekonsiliasi nasional untuk membicarakan pemilu mendatang yang menjamin peralihan dengan lancar.Reformasi melalui keruntuhan seperti terjadi di Argentina dan Cekoslowakia berlangsung karena elit politik dan oposisi berbenturan. Dia Argentina perubahan terjadi karena kekalahan Perang Malvinas melawan Inggris. Setelah itu, kelompok masyarakat menentang peranan militer dalam politik. Di Cekoslowakia lain lain. Revolusi Ungu dipicu merebaknya ketidakpuasan dan aksi protes terhadap sikap represif penguasa terhadap mahasiswa bulan Novmber 1989.Revolusi dari atas seperti terjadi di Bulgaria disebabkan oleh faktor eksternal yaitu ambruknya rejim komunis Uni Soviet. Sebagian elit penguasa generasi muda mengadakan kudeta istana yang menjatuhkan para pemimpin senior yang sudah kehilangan kepercayaan rakyat. Kudeta berjalan setelah berkonsultasi dengan Mikhail Gorbachev yang menunjukkan indikasi takkan campur tangan dalam urusan dalam negeri Bulgaria.

Model-model Transisi Kasus Amerika Selatan dan Eropa Timur

Identitas Pelaku Perubahan

Elit Berkuasa
Keduanya
Penentang Elit
Konfrontasi

Strategi

Pelaku

Perubahan

Kombinasi konfrontasi dan akomodasi
Akomodasi

PenutupTransisi menuju demokrasi bisa mengambil sejumlah bentuk. Dari segi waktu bisa berlangsung cepat atau perlahan-lahan. Kecepatan terjadi transformasi dipengaruhi sejumlah faktor baik domestik, misalnya adalah akomodasi atau pertentangan, serta faktor eksternal.Transisi menuju demokrasi juga bisa menempuh pendekatan aktor pelaku perubahan itu sendiri. Bila elit politik rejim yang berkuasa mau berakomodasi dengan pendukung pro demokrasi maka seperti terjadi di Hongaria bisa terjadi transisi menuju alam demokrasi yang relatif mulus.Namun bentuk lain bisa juga terjadi seperti diperlihatkan dalam pengalaman Argentina, Cekoslowakia dan bahkan yang sedang dalam proses seperti Indonesia. Adanya konsep-konsep masa transisi sebuah negara menuju demokrasi itu bisa membuka peluang untuk mengkaji lebih luas bagaimana transisi di suatu negara bisa terjadi dan mengapa terjadi seperti itu.

Daftar Pustaka

Harjanto,  Budi NT., Studi Pembangunan Politik: Dari Modernisasi ke Demokratisasi. ANALISIS CSIS, Tahun XXVII/1998, No. 2.Karim, Rusli M, Peluang dan Hambatan Demokratisasi.ANALISISCSIS, Tahun XXVII/1998, No. 1O’ Donnell, Guillermo, Philippe C Schmitter and Laurence Whitehead(eds), Transitions from Authoritarian Rule: Comparative Perspectives.Baltimore, The Johns Hopkins University Press, 1986.______________________, Transisi Menuju Demokrasi, RangkaianKemungkinan dan Ketidakpastian (terjemahan). Jakarta, LP3ES, 1993.Scott, Gregory M., Political Science: Foundations for a Fifth Millenium.New Jersey, Prentice Hall, 1997Sargent, Lyman Tower,  Contemporary Political Ideologis. Homewood,The Dorsey Press, 1981, hal.30-31.


[1] Guillremo O’Donnell dan Philippe C Schmitter, Transisi Menuju Demokrasi. Jakarta:LP3ES, 1993, halaman 6.[2]Lyman Tower Sargent,  Contemporary Political Ideologis. Homewood, The Dorsey Press, 1981, hal.30-31.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Mencari Model Lembaga Pendidikan Modern

26 Monday Oct 2009

Posted by Setiawan in Archives, Asian Affairs

≈ Leave a comment

Tags

Pendidikan

Oleh  : Asep Setiawan

I. PengantarPakar manajemen Peter Drucker (1993) memberikan ilustrasi menarik tentang pendidikan modern. Ia menulis, sebelum 1550, Cina dan Kekaisaran Ottoman – lembaga politik Islam – telah menjadi “adidaya” tingkat dunia di berbagai bidang, mulai dari politik, militer, ekonomi, sains dan budaya.Sampai 1550, keduanya berkuasa. Mulai 1550 sampai selanjutnya, keduanya stagnan. Keduanya juga menjadi sangat melihat kedalam (inward looking) dan defensif.Sementara itu di Barat, tulis Drucker, sekolah dipandang menjadi semacam lembaga “progresif” dan mesin dari kemajuan di segala bidang seperti budaya, seni, literatur dan sains, di bidang ekonomi, politik dan militer. Tak mengherankan saat ini dikenal dunia pendidikan disebut sebagai agen perubahan.Di dunia Islam dan Cina, sebaliknya, sekolah dipandang sebagai penghambat utama terhadap kemajuan (progress), pemberontakan melawan sekolah merupakan awal dari semua gerakan reformasi di dua peradaban ini.Ulasan Drucker itu memperlihatkan bahwa dunia Islam umumnya, dan universitas Islam khususnya telah tertinggal di segala bidang. Dengan kata lain, sekolah atau perguruan tinggi tidak melahirkan kemajuan dalam berpikir malahan seperti disebutkan tadi terkungkung alam pemikirannya dan mandek.Artikel ini akan berusaha menyentuh beberapa satu aspek dari dari penelitian tentang dinamika universitas. Pertama, akan dilihat karakter peradaban yang dominan saat ini  yang akan  berpengaruh pada model pendidikan tinggi. Kedua, artikel ini akan secara eksploratif melihat ciri-ciri universitas kontemporer yang berhasil baik dari segi kualitas dan kuantitas.II. Knowledge worker (pekerja pengetahuan)Istilah knowledge worker saat ini termasuk populer untuk menggantikan technical worker yang banyak mengandalkan kemampuan teknis seseorang untuk dikatakan “berpendidikan” atau punya akses dalam dunia karir.Atau dapat pula disebut sebagai perubahan dunia yang menekankan pada comparative advantage (keuntungan komparatif) menjadi competitive advantage (keuntungan kompetitif). Keunggulan komparatif sangat menekankan pada keuntungan geostrategis terutama kaitannya dengan sumber daya alam. Sedangkan keuntungan kompetitif bersandar pada penguasaan ilmu dan informasi.Situasi ini memunculkan istilah knowledge society. Dalam buku The Age of Discontinuity (1969) melukiskan perubahan itu dengan pekerjaan tukang ketik dan pekerja yang menghadapi komputer. Menurut dia, seorang tukang ketik tinggal menekan tuts mesin ketika maka yang ditekan akan keluar sesuai dengan huruf yang diinginkan. Semuanya serba mekanis dan tidak memerlukan pemikiran yang mendalam tentang cara mengoperasikan mesin ketika.Namun ini berbeda dengan komputer. Apa yang ditekan memerlukan ilmu yang padat di belakangnya. Demikian pula apa yang ditekan tidak selalu mengeluarkan huruf yang dikehendaki. Bahkan untuk masuk dalam program menulis, misalnya, seseorang perlu belajar bagaimana mengoperasikan komputer dan bagaimana pula mengoperasikan perangkat lunak pemroses kata.Ini menunjukkan bahwa tuntutan terhadap seseorang meningkat mulai dari hal sederhana kini menjadi rumit, menjadi padat ilmu. Bahkan kalau kita lihat dalam kehidupan, setiap pekerjaan saat ini – terutama yang nilai tambahnya tinggi – memerlukan pendidikan dan pelatihan mendalam. Bahkan perlu bertahun-tahun untuk menguasai “ilmu” yang dikehendaki. Namun demikian hasilnya pun akan terasa lebih daripada mereka yang studi hanya masalah teknis.Lingkungan pun ternyata membutuhkan perguruan yang bisa menghasilkan mereka yang jadi pekerja otak, manusia yang mampu menggunakan akalnya. Tentu dalam format Islam, pekerja otak ini dilengkapi dengan iman dan taqwa. Namun demikian untuk menggabungkan dua kekuatan itu yakni menyerap kemajuan peradaban Barat dan memanfaatkannya dengan peradaban Islam, diperlukan sebuah eksplorasi yang inovatif.Berdasarkan lingkungan yang berubah inilah kita melihat dalam alam pendidikan Barat dan Timur terjadi interaksi. Drucker memberikan ciri-ciri bagaimana perguruan yang diperlukan dalam alam sekarang:-         sekolah perlu menyediakan literacy universal dalam tingkattinggimelebihi arti literacy sekarang ini.-         lembaga pendidikan harus mendorong mahasiswa di semuatingkat dan semua usia dengan motivasi untuk belajar dandisiplin pendidikan berkelanjutan.-          Perguruan harus menjadi sistem terbuka, mampu diakses untuk orang-orang terdidik dan mereka yang karena alasan apapun tak memiliki akses untuk belajar lebih tinggi pada tahun-tahun sebelumnya.-          Perguruan itu harus mampu menanamkan pengetahuan baik sebagai substansi maupun proses.-          Akhirnya sekolah bukan lagi monopoli lembaga pendidikan. Pendidikan masa sekarang harus bermitra dengan para pekerja dan organisasi lainnya.Pengetahuan pada zaman sekarang telah menjadi sumber kemajuan masyarakat. Posisi sosial perguruan adalah menjadi “produser” dan “saluran distributif” pengetahuan.  Bahkan ada yang berani melukiskan bahwa sesungguhnya modal pun sekarang bersifat intelektual bukan hanya material. Ini berarti bahwa perguruan tinggi ditantang untuk memenuhi tuntutan masyarakat modern akan lahirnya modal intelektual sebagai sumber kemajuan masyarakat.III. Ciri UniversitasSeperti halnya nama yang disandang manusia ataupun benda-benda lainnya yang diciptakan Allah SWT, pasti memiliki kekhasan yang membedakan satu sama lain. Bahkan perbedaan itu jadi memperkaya khasanah peradaban. Keanekaragaman adalah bagian dari Keagungan Maha Pencipta.Hal ini kita lihat pula dalam lembaga pendidikan modern di mancanegara. Universitas tingkat dunia seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Al Azhar, London School of Economics atau MIT, memiliki kekhasan dan keunggulan masing-masing.Di Inggris, Universitas Edinburg dan Birmingham terkenal akan penelitian eksakta. Oleh karena itu anggaran untuk penelitian menunjukkan ranking tinggi dibandingkan Oxford dan Cambridge. Dua universitas tua ini juga memiliki ciri tersendiri akan tradisi intelektual yang melahirkan para pemimpin dunia seperti Thatcher atau Benazir Bhutto. Sedangkan London School banyak melahirkan tokoh-tokoh teoritisi yang berpengaruh di tingkat internasional. Sementara universitas tak terkenal seperti Warwick ternyata paling unggul di bidang manajemen sehingga dengan satu fakultas saja namanya harum di manca negara. Bristol terkenal dengan teknologi ruang angkasa sedangkan Edinburg University sangat handal dalam kajian agama Islam.Di Amerika Serikat, MIT terkenal dengan kajian teknologi terapan sehingga banyak menyedot para ilmuwan dari mancanegara. John Hopkins University terkenal dengan analisis internasional dan fakultas hukumnya.  Berkeley University dikenal di Indonesia karena banyak melahirkan teknokrat ekonomi yang membawa Indonesia.Demikian pula di Perancis, Jerman yang terkenal dengan teknologi, Cina, Jepang dan negara-negara lainnya. Semua universitas unggul memiliki identitas kelas dunia yang bisa diandalkan untuk mengangkat tidak hanya fakultas atau jurusannya tetapi juga seluruh nama universitas.Di Mesir, Universitas Al Azhar terkenal dengan kajian agamanya meskipun masih cukup ortodoks untuk zaman sekarang. Namun demikian kebesaran namanya tak menghalangi berbagai macam mahasiswa untuk mengikuti pendidikan di sana.Dari ciri-ciri universitas yang muncul di manca negara, tampaknya ciri-ciri dan kekhasan dalam keunggulan sebuah bidang dan jurusan digunakan sebagai bahan promosi yang handal. Maka saat seorang calon mahasiswa bertanya pada dirinya dimana ia masuk kedokteran, manajemen, teknik sipil, agama, politik atau hukum, maka nama-nama tertentu akan jadi pilihan karena dikenal “kebesarannya” yang melahirkan tokoh-tokoh unggulan dalam masyarakat, atau setidaknya alumninya tidak tercemar dengan perbuatan tercela.IV. KesimpulanBerdasarkan perkembangan masyarakat dimana pekerja otak dan inovatif lebih dibutuhkan dalam masyarakat sekarang maka perguruan tinggi harus m
emacu para mahasiswanya untuk kreatif, inovatif dan progresif sehingga bisa langsung beradaptasi dengan lingkungan masyarakat.Sebuah universitas yang sehat dari segi finansial mapun pengembangan intelektual, tentunya memiliki daya tarik sehingga mahasiswa berbondong-bondong mendaftarkan diri, bukan karena perhitungan terjangkau tetapi juga karena kualitas yang dibutuhkan masyarakat. Daya tarik itu penting karena terlihat seperti dari perkembangan universitas di manca negara bisa mendorong calon mahasiswa mengayunkan langkah ke perguruan bersangkutan. Namun biasanya untuk mengangkat daya tarik itu pada awalnya dibutuhkan energi besar dari segenap civitas academic.Daftar PustakaDrucker, Peter F., The Age of Discontinuity. New York,  Harper and Row Publishers, 1969.___________, Post-Capitalist Society. New York, Harper Business, 1993.The Economist, March 29th 1997

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d