Tags

, , ,

More than 100 days into the coronavirus pandemic, here’s where things stand in the United States: 2.3 million people have been infected, and some 120,000 people — more than in any other country — have died. Early epicenters like New York and New Jersey appear to have gotten their outbreaks under control, but several new hot spots have emerged, including in Florida, Texas and Arizona, where daily case counts are higher than ever.

Demikian kalimat dalam editorial New York Times 23 Juni 2020. Dilema antara kepentingan elit politik dengan kenyataan bahwa virus corona ini sulit dikendalikan menjadi bagian tak terpisahkan bagaimana korban di Amerika Serikat menduduki ranking 1.

Idealnya sebuah negara adidaya seperti Amerika Serikat “mudah” menghadapi ancaman pandemi ini. Alasannya antara lain, pemerintahan modern, teknologi yang canggih, infrastruktur kesehatan yang memadai ditambah lagi anggaran yang relatif besar.

Lalu mengapa jumlah penderita pandemi ini terus bertambah? Salah satu yang diduga penyebab bukan ketidakmampuan aparatur kesehatan atau kekurangan anggaran namun leadership yang lemah. Leadership saat ini dibayangi kepentingan pemilu 2020 daripada memfokuskan kepada penyehatan rakyatnya.

Ini menjadi pembelajaran bagi banyak negara bahwa jika leadership yang diberi amanat menjaga negara, menaga rakyat sibuk dengan kepentingan dirinya agar terpilih kembali maka yang jadi korban adalah rakyat kebanyakan. Pilihan kebijakan menjadi bias. Perdebatan kebijakan juga tidak lagi bisa berimbang karena kursi leadership itu yang diincar.

Bandingkan dengan negara lain seperti China dan Rusia misalnya. Ketika China harus menghadapi virus corona pertama kali di Wuhan sejak Desember, leadership nya tegas dan fokus kepada penyelamatan. Lockdown sekitar dua atau tiga bulan dan nyaris selesai.

Crisis leadership, sebagian pihak menyebut menjadi penting jika tidak dikaitkan denga kursi pemilu.