Tags
Karena beberapa hal, para pengunjung mungkin kecewa melihat lambatnya pekembangan blog ini karena editor lebih fokus ke journalist-adventure.com.Baiklah melanjutkan soal tips masuk dunia jurnalistik yang diposting 23 Juli 2006, kita lanjutkan lagi perbincangan soal kiat masuk dunia jurnalistik.Setelah dalam posting sebelumnya Tips masuk dunia jurnalistik (1) dibahas soal minat yang menggebu dengan mulai belajar menulis dan menulis kemudian Tips kedua menulsikan program menjadi jurnalis, maka sekarang akan diulas soal kebiasaan menulis dengan perspektif.Apa kebiasaan menulis dengan perspektif? Menulis dalam dunia jurnalistik harus memiliki angle, memiliki sudut pandang dan memiliki tekanan. Dunia jurnalistik adalah dunia yang serba cepat berkembang sehingga sangat penting bagi mereka yang memiliki minat terjun ke dunia ini kemampuannya menulisnya serba cepat. Cepat tetapi tentu akurat. Soal akurasi ini kita akan kaji dalam pertemuan lainnya.Yang disebut menulis dengan perspektif ini adalah menuangkan gagasan dengan satu sudut pandang yang dianggap kuat dan menonjol saat itu. Menliskan laporan dengan sudut pandang sangat penting untuk membuat jiwa dalam tulisan sesuai dengan kebijakan editorial sebuah media. Untuk sampai ke arah sana latihlah tulisan yang memiliki perspekif yang memiliki sudut pandang.Media massa melaporkan peristiwa dengan tekanan dan sudut pandang tertentu. Dalam bahasa media massa adalah angle (sudut pandang). Angle inilah yang kemudian menggulirkan laporan dari hari ke hari, dari minggu ke minggu dan dari bulan ke bulan. Editorial media itu sendiri nanti yang akan menguakan sudut pandang dan membedakan angle satu media dengan media lainnya. Angle inilah yang akan jadi ruh sebuah media sehingga pemirsa atau pembaca akan merasakan sudut pandang media itu.Nah untuk belajar menuliskan sudut pandang ini, kita ambil contoh musibah longsor di Ciwidey baru-baru ini. Langkah pertama tentu menulis soal peristiwanya sendiri, berapa korban dan berapa yang hilang. Mengapa korban? Sebab berita adalah menyangkut manusia. Musibah dan bencana adalah drama manusia. Drama tentang kesedihan dan kegembiraan luput dari bencana. Oleh sebab itulah maka tuliskan dalam latihan ini angle korban sebagai sudut pandang.Misalnya: Sedikitnya 20 orang meninggal akibat tanah longsor di Ciwidey, Bandung.Dari satu kalimat itu dapat berkembang banyak hal yang bisa mengungkap tentang korban ini termasuk jumlah orang yang hilang. Dalam latihan sebelum kita benar-benar menjadi seorang jurnalis, menuliskan peristiwa yang kita lihat dan dengar akan sangat bermanfaat membiasakan diri menulis dalam konteks pemberitaan, pelaporan. Tentu saja latihan sebelum benar-benar menjadi jurnalis ini kita biasakan untuk semua peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, bahkan kalau bisa yang lebih dekat dengan keberadaan penulis sehingga lebih berkesan dan mendalam.Mengapa yang dekat? Karena prinsip proximity (kedekatan) merupakan satu hal penting dalam dunia jurnal (harian) dimana mereka yang terdekat akan sangat ingin tahu apa yang terjadi di sekelilingnya. Naluri manusia berupa rasa penasaran dan ingin tahu inilah yang akan menjadi penting dalam dunia jurnalistik dan mengapa dunia jurnalistik akan tetap hidup. Sepanjang manusia memiliki insting ingin tahu maka dengan sendirinya akan terdorong untuk membaca, mendengar dan melihat dengan panca inderanya segala apa yang terjadi di dekatnya.Bagi manusia rasa ingin tahu ini juga merupakan bekal untuk mengantisipasi apa yang menimpa mereka. Setidaknya juga menjadi bekal informasi mankala ada keluarga dekat dan jauh terkena bencana sehingga bisa segera menolong atau memberikan perhatian. Oleh seba itulah maka penting bagi mereka yang berkeinginan terjun ke dunia jurnalistik melaporkan sesuatu dengan cepat dan akurat peristiwa yang paling banyak mempengaruhi manusia.Jika langkah pertama menulis mengenai peristiwa bencana tadi dimulai dengan angle siapa yang jadi korban dan berapa jumlahnya, maka pada hari berikutnya seorang jurnalis akan melangkah kepada langkah penyelamatan mereka yang masih tertimbun – jika memang ada – atau upaya yang dilakukan tim SAR untuk menyelamatkan korban.Sumber: Freejournalist

![Reblog this post [with Zemanta]](https://i0.wp.com/img.zemanta.com/reblog_e.png)
Kalau meminjam almarhum Gus Dur, anggota DPR itu seperti anak-anak TK. Ribut melulu dan kadang bersitegang.Ungkapan Gus Dur berulang ketika Ketua DPR Marzuki Alie menutup sidang Paripurna DPR untuk dilanjutkan hari Rabu membahas rekomendasi Pansus Century. Keributan itu hampir melahirkan baku hantam kalau tidak dilerai oleh sejumlah orang. Ketika putusan itu dibuat sejumlah orang sudah protes dan mengambil microphone untuk menyatakan agar Ketua diturunkan.Sikap sejumlah anggota DPR itu menunjukkan tidak matangnya perilaku kenegaraan mereka. Sikap emosional, ingin menang saja tanpa memperlihatkan etika muncul kembali. Ini juga menunjukkan betapa para politisi DPR ini tidak bertindak elegan, jauh dari sikap yang beretika.Lalu apa yang mereka kehendaki semuanya? Bukankah kepentingan rakyat dimana harga-harga sembako, pengadaan perumahan dan bahaya bencana alam seharusnya yang menjadi fokus kerja mereka? Semuanya mengurus Century sehingga energi mereka habis hanya untuk bersitegang soal-soal yang sebenarnya bisa diputuskan dengan cepat.Masih ada satu hari lagi sidang Paripurna DPR dan masih ada kesempatan memperlihatkan etika dan ahlak yang lebih baik. Memang perbedaan pendapat seperti di DPR sering membuat panas kepala namun jangan sampai terjadi perang mulut dan fisik yang tak berkesudahan.Jika satu kubu menginginkan agar ada yang dijatuhkan karena Pansus Century ini, sudah menjadi bagian dari demokrasi lakungan voting. Jika voting kalah masih bisa dilakukan lobi atau upaya pendekatan lainya kepada masyarakat. Tidak dengan ngotot di ruang sidang.