• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Tag Archives: Islam

Khutbah Jumat: Kejujuran sebagai Fondasi Kehidupan

03 Friday Jan 2025

Posted by Setiawan in Uncategorized

≈ Leave a comment

Tags

Iman, indonesia, Inspiration, Islam, khutbah, life, renungan

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَ بِالصِّدْقِ وَنَهَى عَنِ الْكَذِبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan khutbah tentang nilai fundamental dalam kehidupan seorang muslim, yaitu kejujuran atau ash-shidq. Kejujuran merupakan salah satu sifat mulia yang diperintahkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam hal pribadi, keluarga, bermasyarakat, maupun bernegara.

Hakikat Kejujuran dalam Islam

Kejujuran dalam Islam memiliki makna yang sangat luas. Dalam bahasa Arab, kejujuran disebut dengan “ash-shidq” yang berarti kesesuaian antara ucapan dengan kenyataan, antara lahir dan batin, serta antara perkataan dan perbuatan. Kejujuran adalah sifat yang mendasar bagi seorang muslim yang bertakwa.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar (jujur), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Menurut tafsir Ibnu Katsir, makna “ash-shidq” (الصَّادِقِين) dalam ayat ini adalah orang-orang yang benar dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan mereka. Mereka tidak menampakkan kebaikan untuk menyembunyikan kejahatan, tidak pula mengucapkan sesuatu dengan lisannya yang bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya.

الصادقين أي في أقوالهم وأفعالهم وأحوالهم، لا يظهرون خيرا ليوهموا به خلاف ما هم عليه، ولا يقولون بألسنتهم ما ليس في قلوبهم

Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian selalu benar (jujur), karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang selalu berusaha untuk jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang yang selalu berdusta akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran dalam Memangku Jabatan Pemerintahan

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Saat ini, kejujuran menjadi barang yang sangat berharga, terutama dalam hal kepemimpinan dan jabatan publik. Sebagai pemangku jabatan di pemerintahan, seorang muslim diharapkan memiliki integritas yang tinggi karena ia mengemban amanah dari Allah SWT dan juga dari masyarakat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Dalam tafsir Al-Qurtubi, dijelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menunaikan amanah dalam segala bentuknya, baik amanah harta, ucapan, maupun perbuatan. Khususnya bagi para pemimpin dan pejabat pemerintahan, mereka wajib menunaikan amanah rakyat dengan mengelola sumber daya negara dengan jujur dan adil.

الأمانة تعم جميع وظائف الدين وتتناول الأمور الدينية والدنيوية، وحقوق الله وحقوق العباد

Rasulullah SAW mengingatkan tentang bahaya mengkhianati amanah:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Barangsiapa yang kami angkat menjadi pegawai untuk mengerjakan sesuatu, kemudian kami berikan kepadanya suatu pemberian (gaji), maka apa yang ia ambil setelah itu (selain gaji) adalah suatu bentuk pengkhianatan.” (HR. Abu Dawud)

Kisah teladan tentang kejujuran dalam memangku jabatan dapat kita ambil dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau sangat berhati-hati dalam menggunakan fasilitas negara. Suatu ketika, ketika beliau sedang mengurus urusan pribadi, beliau mematikan lampu yang dinyalakan dengan biaya negara dan menyalakan lampu miliknya sendiri. Beliau berkata, “Lampu ini dinyalakan dengan harta kaum muslimin, dan tidak pantas digunakan untuk urusan pribadi.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai pemangku jabatan di pemerintahan, kejujuran dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk:

  1. Jujur dalam mengelola keuangan negara dan tidak melakukan korupsi.
    Allah SWT berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)

  1. Jujur dalam memberikan informasi kepada masyarakat.
    Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ، كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)

  1. Jujur dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
    Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Selain dalam memangku jabatan pemerintahan, kejujuran juga harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun bermasyarakat.

  1. Kejujuran dalam Berumah Tangga

Rumah tangga adalah tempat pertama dalam pembentukan karakter. Kejujuran antara suami dan istri akan menciptakan keharmonisan dan kepercayaan. Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

  1. Kejujuran dalam Berbisnis dan Bekerja

Islam sangat menekankan kejujuran dalam transaksi bisnis. Rasulullah SAW bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)

Beliau juga memperingatkan tentang bahaya penipuan dalam jual beli:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)

  1. Kejujuran dalam Bermasyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, kejujuran akan menciptakan kepercayaan dan kerukunan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Manfaat Kejujuran

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kejujuran memiliki banyak manfaat, baik di dunia maupun di akhirat. Di antaranya:

  1. Mendapatkan ketenangan jiwa
    Rasulullah SAW bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah apa yang meragukan engkau kepada apa yang tidak meragukan engkau, karena sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan.” (HR. Tirmidzi)

  1. Memperoleh kepercayaan masyarakat
    Orang yang jujur akan dipercaya oleh masyarakat dan memiliki integritas yang tinggi.
  2. Mendapatkan keberkahan dalam hidup
    Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

  1. Mendapatkan ridha Allah dan surga
    Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.

Tantangan Menjadi Pribadi yang Jujur

Jamaah yang dirahmati Allah,

Menjadi orang yang jujur di zaman sekarang memang tidak mudah. Banyak godaan dan tantangan yang dihadapi, seperti:

  1. Godaan materi dan keuntungan duniawi
  2. Lingkungan yang kurang mendukung
  3. Sistem yang kadang memaksa untuk tidak jujur
  4. Takut akan konsekuensi dari kejujuran

Namun, sebagai muslim yang beriman, kita harus ingat bahwa Allah SWT selalu mengawasi kita. Allah SWT berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Dan Rasulullah SAW juga mengingatkan:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Penutup Khutbah Pertama

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup dari khutbah pertama ini, marilah kita bertekad untuk selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam setiap aspek kehidupan, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, masyarakat, maupun sebagai pejabat pemerintahan. Kejujuran adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

Mari kita berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu diberikan kekuatan untuk jujur dalam kondisi apapun.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Pada khutbah kedua ini, marilah kita lanjutkan pembahasan tentang kejujuran dengan melihat beberapa strategi praktis untuk menumbuhkan dan mempertahankan kejujuran dalam kehidupan kita.

Menumbuhkan Sifat Jujur

  1. Menanamkan keyakinan bahwa Allah SWT selalu mengawasi
    Allah SWT berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

  1. Membiasakan diri untuk selalu jujur dalam hal-hal kecil
    Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَا يَزَالُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Sesungguhnya seorang hamba senantiasa berkata jujur dan berusaha untuk jujur sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Menjauhi lingkungan yang mendorong untuk berbohong
    Allah SWT berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (QS. An-Nisa: 140)

  1. Menghindari sumpah palsu
    Rasulullah SAW bersabda:

الْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ مَنْفَقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مَمْحَقَةٌ لِلْكَسْبِ

“Sumpah palsu (dalam jual beli) dapat melariskan barang dagangan tetapi menghilangkan keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Teladan Kejujuran dalam Sejarah Islam

Jamaah yang dirahmati Allah,

Dalam sejarah Islam, banyak tokoh yang memberikan teladan tentang kejujuran, di antaranya:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang mendapat gelar “Ash-Shiddiq” (yang sangat jujur) karena beliau langsung membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj ketika banyak orang yang meragukan.
  2. Umar bin Khattab, yang sangat keras terhadap korupsi dan penyelewengan jabatan. Suatu ketika, beliau menulis surat kepada gubernurnya, Abu Musa Al-Asy’ari: “Sesungguhnya kebaikan itu semuanya terkumpul dalam sifat jujur dan amanah, sedangkan kejahatan semuanya terkumpul dalam sifat dusta dan khianat.”
  3. Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan kejujuran dan kesederhanaannya dalam memimpin, hingga mampu memberantas korupsi dan mewujudkan kesejahteraan di masa pemerintahannya.

Membangun Budaya Jujur dalam Masyarakat

Untuk membangun budaya jujur dalam masyarakat, kita perlu:

  1. Mulai dari diri sendiri dan keluarga
    Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Memberikan apresiasi kepada orang yang jujur
    Allah SWT berfirman:

هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Inilah saat orang-orang yang jujur memperoleh manfaat dari kejujuran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Maidah: 119)

  1. Menciptakan sistem yang mendukung kejujuran
    Seperti sistem yang transparan, akuntabel, dan adanya konsekuensi bagi ketidakjujuran.
  2. Mendidik generasi muda tentang pentingnya kejujuran
    Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Doa untuk Menjadi Pribadi yang Jujur

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar kita selalu diberikan kekuatan untuk menjadi pribadi yang jujur:

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang terbaiknya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dari kami akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dari kami akhlak yang buruk kecuali Engkau.”

Penutup

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Sebagai penutup khutbah pada hari ini, marilah kita bertekad untuk menjadi pribadi yang jujur dalam segala hal, baik dalam posisi sebagai pemimpin, pejabat pemerintahan, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ingatlah selalu bahwa kejujuran adalah jalan menuju surga dan keridhaan Allah SWT.

Mari kita jadikan kejujuran sebagai prinsip hidup, bukan sekadar slogan. Dengan kejujuran, insya Allah kehidupan kita akan penuh keberkahan dan ketenangan, serta masyarakat akan menjadi lebih baik dan sejahtera.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Asep Setiawan

Share this:

  • Click to share on X (Opens in new window) X
  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Click to print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Pentingnya Amanah dalam Kegiatan di Dunia

02 Thursday Jan 2025

Posted by Setiawan in Uncategorized

≈ Leave a comment

Tags

indonesia, Inspiration, Islam, life, renungan

KHUTBAH PERTAMA

Doa Pembuka Khutbah

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Amma ba’du.

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Hendaklah kita senantiasa berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, kita akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, khatib ingin mengingatkan diri sendiri dan kita semua tentang pentingnya amanah, terutama dalam memangku jabatan di pemerintahan maupun di mana pun kita berada. Tema ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam dan bangsa kita, agar kita menjadi hamba-hamba Allah yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab.


Makna Amanah dalam Islam

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Amanah adalah salah satu sifat mulia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Amanah artinya dapat dipercaya, jujur, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Amanah merupakan salah satu sifat utama para nabi dan rasul, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿ إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴾
(سورة الأحزاب: 72)

Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
(QS. Al-Ahzab: 72)

Tafsir singkat ayat ini:

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa amanah di sini mencakup seluruh perintah dan larangan Allah, seluruh syariat dan tanggung jawab yang harus dipikul oleh manusia. Langit, bumi, dan gunung-gunung yang begitu besar saja tidak sanggup memikulnya, tetapi manusia menerima amanah tersebut, walaupun manusia sering menzalimi dirinya sendiri dengan melalaikan amanah itu.


Amanah dalam Jabatan Pemerintahan

Jama’ah rahimakumullah,

Di antara amanah yang sangat berat adalah amanah jabatan, baik di pemerintahan, lembaga, maupun organisasi apapun. Jabatan adalah amanah, bukan kehormatan semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»
(رواه مسلم)

Artinya:
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mengangkatku menjadi pejabat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk pundakku, lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sementara jabatan itu adalah amanah. Dan jabatan itu pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar.” (HR. Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa jabatan itu adalah amanah yang berat. Barang siapa yang tidak menunaikan amanah itu dengan benar, maka di akhirat kelak ia akan menanggung kehinaan dan penyesalan.


Bahaya Mengkhianati Amanah

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Islam sangat mengecam keras perbuatan mengkhianati amanah. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴾
(سورة الأنفال: 27)

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal: 27)

Tafsir ayat ini:
Ibnu Katsir menafsirkan, “Janganlah kalian mengkhianati Allah, yaitu dengan meninggalkan perintah-Nya; dan jangan mengkhianati Rasul-Nya, yaitu dengan tidak meneladani sunnahnya; serta jangan mengkhianati amanah yang diberikan kepada kalian, baik berupa harta, jabatan, rahasia, maupun tugas-tugas lainnya.”


Amanah Adalah Ciri Orang Beriman

Kaum muslimin rahimakumullah,

Amanah adalah ciri utama orang beriman. Allah berfirman tentang sifat orang mukmin sejati:

﴿ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ﴾
(سورة المؤمنون: 8)

Artinya:
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.”
(QS. Al-Mu’minun: 8)

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan, “Mereka adalah orang-orang yang menjaga apa saja yang Allah amanahkan kepada mereka, baik berupa hak-hak Allah maupun hak-hak manusia, dan mereka memelihara janji-janjinya.”


Contoh Amanah Para Pemimpin Islam

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sejarah Islam mencatat betapa beratnya para sahabat Nabi menerima jabatan. Mereka takut akan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika diangkat menjadi khalifah, beliau sering menangis di malam hari, karena khawatir tidak mampu memikul amanah besar tersebut.

Beliau berkata:
“Seandainya ada seekor keledai yang tergelincir di Irak, aku takut Allah akan menanyai aku: ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'”

Begitu juga Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika diangkat menjadi khalifah, beliau berkata:

“Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat salah, luruskanlah aku. Kebenaran adalah amanah dan kebohongan adalah pengkhianatan.”


Wasiat Rasulullah tentang Amanah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
(رواه أحمد)

Artinya:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak dapat dipercaya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan bahwa amanah adalah bagian dari iman dan agama seseorang.


Bentuk Amanah di Pemerintahan dan Kehidupan

Jama’ah sekalian,

Amanah dalam pemerintahan meliputi berbagai aspek, antara lain:

  1. Mengelola harta negara dengan jujur
    Tidak boleh ada korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau penggelapan.
  2. Keadilan dalam mengambil keputusan
    Tidak boleh berpihak karena kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok.
  3. Menunaikan tugas sesuai aturan
    Bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kapasitas.
  4. Transparansi dan akuntabilitas
    Siap dievaluasi dan mempertanggungjawabkan pekerjaan secara terbuka.
  5. Mengutamakan kepentingan rakyat
    Memprioritaskan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Amanah juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari:

  • Amanah sebagai suami/istri,
  • Amanah sebagai orang tua,
  • Amanah sebagai guru,
  • Amanah sebagai karyawan dan atasan,
  • Amanah menjaga rahasia.

Akibat Mengkhianati Amanah

Saudaraku,

Orang yang mengkhianati amanah akan mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
(رواه البخاري ومسلم)

Artinya:
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Penutup Khutbah Pertama & Doa

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Marilah kita semua berusaha menjadi pribadi yang amanah. Jangan tergoda untuk mengkhianati amanah, sekecil apapun itu. Karena setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Mari kita berdoa:

اللهم اجعلنا من عبادك الأمناء، ووفقنا لأداء الأمانة، ونجنا من الخيانة، واغفر لنا ذنوبنا، إنك أنت الغفور الرحيم.

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang amanah, berikanlah kami taufik untuk menunaikan amanah, selamatkan kami dari pengkhianatan, dan ampunilah dosa-dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.


KHUTBAH KEDUA

Doa Pembuka Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،


Ajakan untuk Memperbaiki Amanah

Jama’ah Jumat yang dirahmati Allah,

Di khutbah kedua ini, kembali khatib mengingatkan diri sendiri dan seluruh jama’ah untuk meningkatkan kualitas amanah dalam segala hal. Bagi yang saat ini sedang memangku jabatan, baik kecil maupun besar, tunaikanlah amanah itu dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab. Ingatlah, setiap jabatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا ﴾
(سورة النساء: 58)

Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa’: 58)


Doa Penutup Khutbah

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa memohon kepada Allah agar kita dijadikan hamba yang amanah:

اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى، اللهم إنا نعوذ بك من الخيانة والفساد، اللهم أصلح ولاة أمورنا، ووفقهم لأداء الأمانة، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

Artinya:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian, dan kecukupan. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari pengkhianatan dan kerusakan. Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, berikanlah mereka taufik untuk menunaikan amanah. Ampunilah kami, orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.”

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Asep Setiawan

Share this:

  • Click to share on X (Opens in new window) X
  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Click to print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Islam and Multi National Corporations

08 Tuesday Mar 2011

Posted by Setiawan in Gallery

≈ Leave a comment

Tags

Islam, MNC

By Asep Setiawan

This essay assesses whether Islamic fundamentalism is a threat to multinational business. Two variables are applied for the assessment: the Islamic way of thinking and the impact of the manifestation Islamic system on international business particularly banking and finance sectors. It seems those fields are more affected than, for instance, in extracting or manufacturing sectors.

Based on those variables this essay will analyse whether Islamic militant is a hazard to translational business. In this paper Islamic fundamentalism refers to a search for fundamentals of faith, the foundations of Islamic polity and the bases of legitimate authority.1

While multinational business is defined as a group of corporation that is operating in different countries but is controlled by its headquarters in a given country.2

In this essay, the first section deals with Islamic world-view and then, the second part, to assess the Islamic fundamentalism’s impact to multinational business.

II

To begin with, it is useful to consider the origins of the fundamentalism. Islamic fundamentalism as the movement back to the basic value is not a new phenomenon throughout the Islamic history. Generally speaking the emergence of fundamentalism has been closely associated to the spiritual, social and political crises. In other words, when the existence of the Islamic polity and moral integrity were under threat the forms of a fundamentalism could be appeared.3 A major crises in Islamic history and in Muslim identity was precipitated by the advent of the combining the Western colonialism and the Christian missionaries.

The Arab-Israel conflict also generates radicalism. Other factors that contribute to the emergence militants are a class conflict, modernization, an corrupt pro-Western regime, communism and the military impotence particularly when the Arab countries were defeated by Israel. To some extent, the presence of Western firms from the point of view of some fundamentalist is perceived as a tool American-European power to maintain colonialism in the new forms.

Gilpin notes that the dominating presence of foreign corporations in the host country is characterized as constituting for of cultural imperialism.4Since fundamentalism is the effort to establish Islamic system in a society, it is important to explore briefly what Islam is. The name “Islam” is the key to understanding the nature of the religion. Islam means “to submit”. Therefore, a Muslim is one who accepts and submits to the will of Allah. According to Sardar, “Islam is perceived not as a religion with set of rituals nor as body of law with catalogue of dos and don’ts, but as a total, systemic holistic world-view.”5 Because Islam is the detailed way of live, it brings about the implications to various activities such as economics and politics even international relations.6

Thus, it seems that all muslims activities can not be separated from the religion. The shari’a which contains Qur’an and Sunnah is the foundation of an Islamic society.As mentioned above, Islam covered all muslims activities including the economics matters. Khan argues that the basic economics concept in Islam is that the ownership of everything belong to God alone. Man is God’s vicegerent on earth. God has subjected to man’s service.7 Legal ownership of the individual, that is to say, the right of possession, enjoyment and transfer of property, is recognized and safeguard in Islam. But all ownership, as Khan explains, subject to the moral obligation that in all wealth all sections of society have right to share.8 As a consequence, the Islamic economic should be based on shari’a and merely to implement Allah’s will.

Moreover Islam constitutes the special framework in the finance and banking issues. Above of all Qur’an ordains the prohibition of interest (riba) by which is meant the receipt and payment of interest.9 This can be considered that an Islamic business cannot deal in any negotiable instrument that would entail the receipt or payment of interest. It is because of the Muslim’s believe that an interest is prohibited for all purposes and in all its form. From the Islamic view point of view, riba is prohibited because it tends to draw wealth into the hands of small circle. In the case of loans which bear interest, the lender in effect takes advantages of and makes a profit from the need or distress another.10 However, Watt states that the precise meaning of riba is uncertain and there have been divergent views.11 In practice, it is useful to underline here that within Islam exists two sects, Sunni and Shi’a. Although Sunni is majority within Islamic community, Shi’a is often associated with fundamentalism. Revolution in

Iran under Ayatollah Khomeini’s leadership has made the fundamentalism become popular in the world. Both of the Sunni and the Shi’a’s fundamentalists have the similar voices : they call for the emergence of Islam as a social, political and economic movement which seek to go back to the original message of Islam and to rebuild the society and its institutions in the light of Islamic milieu.12

III

The explanation above shows that Islam has an unique world-view to which seems different from the Western conception. As a consequence, the fundamentalist is or will not accept the Western values. In contrast, the West particularly the US Government consider fundamentalism as a threat to their interests. Hadar notes that there are some voices to consult Bill Clinton’s administration that radical Islam would replace communism as a global threat.13 He calls the threat as “Green Peril” to replace “Red Peril” or communism.

Miller also mentions that some of the Western observers see Islam as a potential replacement for the Soviet Union in East-West confrontation.14 Other analyst such as Martin Kramer argues that militant Islam groups by nature cannot be democratic, pluralistic or pro Western. Moreover, Bernard Lewis explains that Islam refuse any legal recognition of corporate person which is at the heart of representative institutions embodied in Roman Law. Thus, the fundamentalists are often perceived as the threat to the Western politics, economics and strategic interest.15 The confrontation between multinational business and the host countries in Vernon’s words the so-called “a clash of national cultures”.16

However, Hadar argues that the impact of fundamentalists’ threat too simplified because in fact the radical movements are not monolith. International banking and finance can be considered as the representative Western interest in a Muslim society. Their expansion seems as a part of multinational corporations operation.17 Indeed their operations have been seen not only provide financial services for the multinational business or the domestic customers, but they also carry the Western value. In Alvin Toffler’s term, banking is the central institution of the modern money system. Accept the banks, Sardar argues, it means to accept the entire exploitative and theoretical framework that comes with it.18

So, the presence of the foreign banks touches one of the Islamic fundamental values: the prohibition of riba. More than that financial institutions deal with money, one of the cores of the modern economy. In this field fundamentalist strictly follow shari’a or as Watt explains they interpret Qura’n literally.19 Therefore, those businesses have much more attention than non-bank multinational enterprises. The manifestation of fundamentalist movement is not only into a group but also a state. 20 A state, a Hassan Turabi argues, is only the political expression of an Islamic society. 21

In implementing shari’a, the militants seem to impose banking and finance sector both domestic and foreign owner bank with free-interest system. This change, in term Tschoegl, is political philosophy risk which involving changes in attitude toward private ownership. 22 In a case fundamentalist articulation is a group the threats could be different. They are possibly operated in a secular state such as in Indonesia or Egypt or within orthodox Muslim countries such as Kuwait. Indeed the radical groups might be operated within Western countries as its happened in the case of the World Trade building’s sabotage in New York. The executives of multinational business could be target of some fundamentalist groups. In this circumstance, kidnapping or killing may be occurred. Some cases shows that international banking and finance have been forced to adopt shari’a, otherwise they withdraw from Islamic areas.

Sudan is one example where the fundamentalism manifests into the state’s form and it becomes the threat to international banking. In 1984, as part of move to Islamize the country’s banking system, the government of Sudan has ordered all banks operating in the country to stop paying or charging interest. Muslim law forbids interest of payments; instead, banks are expected to invest their clients’s funds and share profits or losses with them. Sudanese government’s action will affect 27 banks, including nine foreign banks operating in that country.23

In Iran’s case many American companies and its allies had been forced to abandon their operations after Islamic’s revolutionaries seized power in 1979. The incidents in Iran and Sudan have the same root: Islamic fundamentalism. The two cases also explain that either the militant groups or the states can be seen as the threat to the finance industries. The threat, however, seems same as common threat in business risk literature such as expropriation, transfer risk or nationalization.

However, banks are exposed to other risks. They lend money to foreign governments, government-owned or controlled companies and private borrowers.24 The international banks have showed a certain respond to the threat. Chase and Citibank lost assets in Iran during the revolution and then approached US Government to freeze Iranian assets in American bank.25 More than that it can be argued that a hazard from a fundamentalist movement arise because it confronts the basic value of financial or banking business. As Dunn points out that all economic transaction take place in real social settings.26 The operating interest system can be one of the reason.

However, the prohibition riba it self comes from the Islamic system which seems the meaning of money, capital, ownership differ with the Western model. Indeed, such firms are themselves product of culture as evidence by the fact that their organizational forms, management philosophies and main objectives different with Islamic concept on business.In fact, however, not all Islamic community which refuse riba at the same time reject the presence the un-Islamic banking and finance. Saudi Arabia can be seen as an appropriate example of this case. Some say Saudi Arabia is the fundamentalist state because it implements shari’a. Another view put the country as an orthodox Islamic state. But in practice, Saudi administration prohibits riba in the whole economic system. It seems that the need for Western technology particularly for oil exploitation may bring the multinational business come to this country. At the same time, the wealth from oil brings about Saudi to contact with the Western financial institutions for business reason. To bridge the difference between free-interest system and Western banking and finance institutions, Saudi and some countries establish what the so-called “House”.27 This kind of a compromise could be achieved because some countries adopt a policy that is based on a principle “permission due to necessity”. They recognize contact between Islamic and foreign banks and finance institutions.28 It means that those companies have an opportunity in those areas although they are advised to manage this cultural difference.

Moreover, in a country with majority muslim like Indonesia, foreign banks may have broad opportunities to gain profits. In this case some possible actual threats are transfer risk, expropriation or nationalization.

IV

To sum up, generally the Islamic fundamentalism posses a hostility attitude toward multinational business particularly banking and financial services. This is because Islam has its own concept on those fields which is different from the Western notion. This attitude from Islamic militant will become an actual threat if the fundamentalism takes in the form of a state. The experiences in Iran and Sudan are appropriate examples for this case. Indeed, there is small scale of threat posed by the fundamentalist.

However, since such a threat usually arises within a secular state, it can be handled by the host government. The difficulties facing foreign companies in encountering actual threat from fundamentalism behaviour lies in their failures to anticipate the emergence of the radicalism which is neither neat nor sudden.

So, if transnational business has great interests in Islamic areas, they should understand the Islamic environment and possible risks posed by such environment.

________________________________________

Notes and References1. See R Hrair Dekmejian, Islam in Revolution. New York,
SyracuseUniversity Press, 1985, p. 4. In this essay the term of Islamic fundamentalism is same as Islamic resurgence, Islamic revival, Islamic awakening, Islamic militant or Islamic radical.

2. Parviz Asheghian and Bahman Ebrahimi, International Business. New York, HarperCollins Publishers, Inc., 1990, p. 12. This paper also uses multinational corporation, transnational business or multinational enterprises for multinational business.

3. Dekmejian, op.cit. p. 35.

4. Robert Gilpin, The Political Economy of International Relations. Princeton,
PrincetonUniversity Press, 1987, p. 248.

5. Ziauddin Sardar, Islamic Future. London, Mansell Publishing Limited, 1985, p. 11.

6. See Verna Terpstra, The Cultural Environment of International Business. Cincinnati, South Western Publishing Co., 1978, p. 49.

7. Muhammad Zafrulla Khan, Islam.
London, Routledge and Kegan Paul, 1980, p. 150.

8. Khan, Ibid.

9. See Habib Shirazi, Islamic Banking.
London, Butterworths, 1990, p. 5.

10. Khan, op.cit., p 153.

11. William Montgomery Watt, Islamic Fundamentalism and Modernity.
London, Routledge, 1988, p. 108.

12. Khurshid Ahmad, “The Nature of the Islamic Resurgence”, in Voices of Resurgence Islam edited by John L Espito,
New York: Oxford University Press, 1983, p 220. Choueiri suggests some common characteristics fundamentalist are the return to original Islam as the religion of oneness of God, the advocacy of independent reasoning in matters of legal judgements (ijtihad), and the necessity of fleeing (hijra) the territories dominated by unbelievers. See Youssef M Choueiri, Islamic Fundamentalism. London, Pinter Publishers,1990, pp. 23-24.

13. Leon T Hadar, “What Green Peril?” in Foreign Affairs, Spring 1993, Vol. 72, No. 2. See also Ghasam Salame, “Islam and the West” in Foreign Policy, No. 90, Spring 1982.

14. Judith Miller, “The Challenge of Radical Islam”, in Foreign Affairs, Spring 1993, Vol. 72, No.2.

15. Miller, op.cit., in Foreign Affairs, Spring 1993, Vol. 72 No.2.

16. Raymond Vernon, Sovereign at Bay. New York, Basic Books Inc., 1971, p. 204.

17. Multinational banks are growing as a respond to increasing numbers of multinational corporations. They provide a tool of techniques and market instrument used to maximize the return on the firms investment. See Theo Kiriazidis and Stephen Regan “The Globalization of Financial Services” in International Business edited by Jill Preston.
London, Pitman Publishing, 1992, p. 87.

18. Alvin Toffler’s view is quoted by Ziauddin Sardar from The Third Wave. See Sardar, op.cit., p.204.

19. Watt, op.,cit., p. 2.

20. A state on Islamic’s view is different from Western concept on nation-state. State here is based on shari’a not nation or community within certain areas. See for example PJ Vatikiotis, Islam and the State.
London, Routledge, 1987, pp. 35-40.

21. Hassan al-Turabi, “The Islamic State”, in Esposito, op.cit., p. 241.

22. Adrian E Tschoegl, “Ideology and Changes in Regulations: The Case of Foreign Bank Branches Over period 1920-80” in Political Risks in International Business edited by Thomas L Brewer, New York, Praeger, 1985, p. 87.

23. See James K Weekly and Raj Aggarwal, International Business. Chicago, The Dryden Press, 1987, p. 41.

24. See Wendell H McCulloch, Jr., “Country Risk Assessment by Banks” in Global Risk Assessments edited by Jerry Rogers, California, Global Risk Assessments, Inc, 1986, p 121.

25. Anthony Sampson, The Money Lender. London, Hodder and
Stoughton, 1981, pp. 244-246. In 1981, under Algiers agreement, an accord was signet by Iran and the US which allowed the release or Iranian assets than had been frozen the Federal Bank of new York in return for the release of US hostages in Iran. See Frederict Stapenhurst, Political Risk Analysis Around theNorth Atlantic. London,St Martin’s Press, 1992, p.141.

26. John Dunn, “Country risk: social and cultural aspects”, in Managing International Risk, edited by Richard J. Herring. Cambridge,
CambridgeUniversity Press, 1983, p. 163.

27. The establishment of the Islamic Development Bank at Jeddah (Saudi Arabia) followed by the formation of Islamic banks at Dubai (The United Arab Emirates), Cairo (Egypt), Khartoum (Sudan) and Jordan. Muhammad Nejatullah Siddiqi, Issues in Islamic Banking.
Leicester, The Islamic Foundation, 1983, p. 35.

28. Siddiqi, ibid.

Asep Setiawan, a graduate from University of Birmingham. The eassay was written around 1993-1994.

Share this:

  • Click to share on X (Opens in new window) X
  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Click to print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d