Tips liputan sidang tertutup

Saya teringat setelah mendapatkan "latihan" mengenai cara peliputan dan penulisannya, maka diterjunkan meliput langsung pertemuan informal Laut Cina Selatan. Masih segar dalam ingatan, pertemuan berlangsung di Hotel Homan Bandung.

Pertemuan berlangsung tertutup dan informasi hanya didapat dari Dr Hasyim Djalal pada akhir pertemuan. Namun kan kita harus tetap meliput karena berlangsung kalau tidak salah dua atau tiga hari.

Nah salah satu caranya yang mungkin banyak sekali digunakan adalah wawancara ketika jam makan siang. Saat mereka keluar ruangan untuk mencari udara segar dan beristirahat, dimulailah perburuan.

Pengalaman, perburuan harus dilakukan dengan cara mendekati nara sumber yang kenal baik. Nah salah seorang anggota delegasi yang dijadikan nara sumber waktu itu adalah Dr Luhulima, pakar dan pengamat Asia dari LIPI. Pandangannya berbobot dan menjadikan state of the art soal Laut Cina selatan menjadi jelas bagi saya dan bagi pembaca kemudian, termasuk apa yang sekarang diupayakan.

Dengan berbekal bincang-bincang singkat itu dapat disusun berita cukup informatif.

Informasi lainnya saya dapatkan dari seorang anggota delegasi Singapura, juga seorang akademisi dan peneliti. Dia juga memberikan gambaran persoalan dan posisi masing-masing delegasi termasuk Singapura.

Jadi kalau ada sidang tertutup, berburulah saat makan siang. Bahkan dalam kasus tertentu, saat anggota delegasi ke toilet pun diburu nyamuk pers. Tentu Anda juga tidak ketinggalan berburu.

Liputan pertama ke Abu Dhabi

Pengalaman pertama selalu teringat, begitu kata orang. Liputan pertama saya adalah memenuhi undangan dari Uni Emirat Arab. Kebetulan Kompas memberikan kesempatan kepada saya untuk berkunjung ke sana tahun 1989 kalau tidak salah, sebelum perang Teluk.

Kunjungan ke luar negeri memang exciting. Paspor harus dibuat untuk pertama kalinya. Membuat paspor pada zaman itu tidaklah mudah. Namun karena diantar oleh petugas dari Kompas, urusan lancar-lancar saja. Jadilah sebuah paspor lengkap lalu visa diurus ke Kedutaan Besar Emirat di Jakarta.

Ternyata saya berangka berombongan dengan wartawan TVRI, Antara, Jakarta Post dan kalau tidak salah juga Tempo. Karena berada dalam rombongan, perasaan tidak begitu menakutkan pergi ke luar negeri itu.

Naik pesawat ke luar negeri memang pertama kali jadi serba baru dan serba kaku. Demikian juga terkagum-kagum ketika transit di Changi Singapura.

Yang paling mudah lagi, semuanya sudah disediakan. Di airport sudah ada penjemput pejabat dari kementerian penerangan meskipun tiba menjelang subuh.

Saya masih ingat bersama seorang teman langsung memesan makan sahur untuk enam orang ! Asuminya rekan-rekan lain akan ikut makan sahur karena sedang berkunjung ke sebuah negara Arab.

Ternyata yang berpuasa cuma berdua. Lebih hebat lagi ternyata memang ada keringanan kalau sedang musafir. Waktu ke Al Ain, sekitar satu jam naik mobil, orang lain makan siang, kami hanya berdiam di restoran. Pengantar orang Arab pun ternyata makan dengan lahap.

Inilah pengetahuan pertama tentang lingkungan baru seperti di Emirat Arab. Pandangan kita yang ketat karena Ramadhan ternyata tidak demikian. Keringanan itu digunakan, apalagi liputan diantar terus dari satu restoran ke restoran lain.

Menginap di Hotel Le Meridien – begitu ingatan saya – ada beberapa restoran dan semuanya dicicipi karena gratis !

Liputan pun diantar. Ke pasar, ke gedung penerangan, ke pusat kebudayaan, ke pantai, wawancara dengan menteri penerangan dan bahkan ketemu Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan yang sekarang sudah almarhum diantar pula. Semuanya serba diantar karena memang liputan untuk persiapan kunjungan Sang Emir ke Indonesia.

Wawancara bersama berlangsung menjelang tengah malam karena beliau banyak tamu, mulai dari rakyat jelata sampai pejabat tinggi.

Wawancara berlangsung enak, karena diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia ! Ada pertanyaan soal bola, niat kunjungan, sosial politik dsb.

Hanya karena belum pengalaman, membawa kamera wide angle tidak begitu banyak manfaatnya. Hasil jepretan pun tidak begitu bagus, maklum pemula.

Kamera memang penting kalau liputan ke lapangan meskipun kita mungkin merekam atau menulis. Kamera bagus akan memberikan nilai tambah pada liputan kemudian.

Liputan ke lapangan, apalagi rombongan adalah yang paling mudah dan memiliki kesempatan bertukar pikiran dengan sesama rekan Indonesia. Kadang di Indonesia sendiri tidak sempat bertemu maka pengalaman ke luar negeri sekalipun hanya satu minggu banyak sekali manfaatnya.

Lowongan kerja di Majalah Nebula

ANDAKAH YANG KAMI CARI?

Majalah Nebula mencari SDM kreatif, gigih, dan dapat bekerja dalam
tim, untuk menjadi :

1. KORESPONDEN NEBULA
Untuk Seluruh Wilayah Nusantara,
Di antaranya:

1. Jakarta
2. Solo
3. Padang
4. Cilegon/Banten
5. Bali
6. Jambi
7. Lampung
8. Papua
9. Cirebon
10. Bogor
11. Balikpapan
12. Bandung
13. Palembang
14. Malaysia
15. Singapura

Syarat :
1. Alumnus ESQ Training
2. Diutamakan memiliki pengalaman jurnalistik
(sertakan CV & contoh tulisan/berita)
3. Memiliki kamera minimal 3 Mega Pixels
4. Bersedia aktif mengirim berita setiap bulannya
5. Maksimal berusia 35 tahun
6. Bersedia mengikuti pelatihan dan koordinasi di Jakarta*
*Pelatihan akan diadakan pada bulan
Agustus/September 2006

Bagi yang lulus seleksi, akan :
1. Menjadi koresponden tetap Nebula yang akan menuliskan berita
daerah/wilayahnya masing-masing *
* Setiap tulisan yang dimuat akan diberikan honor yang layak
2. Mendapatkan pelatihan dan evaluasi secara berkala oleh
Nebula Jakarta

Posisi Lainnya:

2. SIRKULASI
3. DISTRIBUSI
4. PEMASARAN
5. PROMOSI
6. IKLAN/PARIWARA

Syarat :
1. Pengalaman di bidangnya minimal satu tahun
2. Diutamakan alumnus ESQ
3. Maksimal berusia 35 tahun

Layangkan lamaran Anda dilengkapi CV, dan foto diri (3×4 = 2 lbr)
ke redaksi majalah Nebula via email : majalahnebula@yahoo.com
(majalahnebula @ yahoo. com) atau via pos dengan alamat Jl. Ciputat
Raya No. 1 B Pondok Pinang Jaksel 12310 telp/fax. 021-75818408
dengan menuliskan posisi yang diinginkan pada subject email, atau
kanan atas surat/fax, paling lambat 25 Juli 2006.

Majalah Nebula
ESQ Leadership Center
Berbagi, Bersama, Berusaha