Persiapan liputan ke luar negeri

Jika Anda telah mendapatkan  tugas ke luar negeri pertama kali bersykurlah. Sekalipun itu hanya pergi ke Malaysia atau Singapura, sudah bisa dikategorikan sudah awal liputan internasional dalam karir Anda. Langkah kecil ke negeri jiran ini bisa berarti langkah besar dalam tugas-tugas jurnalistik ke depan. Selain itu, tugas "kecil" inipun akan menjadi timbangan bagi tugas-tugas besar lainnya.

Ada beberapa hal kalau sudah dimulai penugasan ke luar negeri.

1. Buatlah sesegera mungkin List barang-barang yang akan dibawa dan kategorikan antara list kerja dengan list pribadi. Yang termasuk daftar barang yang dibawa berkaitan dengan profesi misalnya laptop, baterai, kamera, alat perekam, notes dll. Barang pribadi yang perlu dibawa misalnya jacket.

2. Paspor harus disimpan dalam list pertama katergori kerja. Paspor perlu dicek masa berlakunya. Ada beberapa kasus, teman sekerja tidak jadi pergi karena paspor habis masa berlakunya. Bagi Anda yang pertama kali ke luar negeri, biasanya paspor juga baru. Jadi tidak ada kekhawatiran paspor Anda kadaluarsa.

3. Tiket. Tiket perlu dicek ulang baik waktu maupun rutenya. Jangan sampai Anda ketinggalan pesawat karena akan mengacaukan jadwal selanjutnya. Pada umumnya perjalanan ke luar negeri memerlukan waktu dua jam sudah berada di airport. Sebelum check in, barang akan diperiksa dan biasanya setiap orang dapat jatah 20 kg bagasi. Sedangkan tas tangan normalnya 5 kg. Setelah check in jangan sampai ketinggalan boarding pass Anda kalau tidak ingin ditolak masuk pesawat.

4. Setibanya di bandara luar negeri pastikan semua barang dicek dan tidak ada ketinggalan. Pastikan barang berharga seperti lap top, kamera alat perekam tidak rusak. Oleh sebab itu perlu tas penyimpan yang tahan banting untuk barang elektronik yang rawan goncangan.

5. Daftar alamat, telepon dan kontak jangan sampai ketinggalan. Biasanya ini dilupakan sehingga mengalami kesulitan ketika akan mengontak nomor-nomor yang perlu.

6. Mata uang perlu dipersiapkan juga supaya kalau naik taksi atau memerlukan uang recehan akan memudahkan tugas Anda. Seorang teman pernah bersama keluar negeri dalam sebuah liputan dan dibekali beberapa juta rupiah. Setibanya di luar negeri uang itu tidak bisa ditukar dengan mata uang lokal karena memang tidak laku. Jadi jangan lupa membawa matang uang dollar atau mata uang negara yang kita tuju.

Ada beberapa hal lagi yang perlu dipersiapkan saat perjalana pertama ke luar negeri namun akan ditambah di kemudian hari.

Powered by Qumana

Wawancara Nur Misuari di Filipina

Mengejar sumber berita seperti tokoh perjuangan Muslim Moro Nur Misuari yang pernah dikenal dalam perang gerilyawanya bukanlah langkah yang sepele. Diperlukan taktik yang menyertakan semua sumber untuk sampai mendekatinya.

Setelah Misuari menandatangani perdamaian di Istana Malacanang, Manila, saatnya untuk mendekati Misuari sebagai orang yang sekarang diakui oleh Pemerintah Filipina.

Kebetulan Kompas memiliki koresponden di Manila yang memang wartawan profesional untuk beberapa surat kabar asing. Kalau tidak salah namanya Barbara Dacanay. Melalui pintu koresponden inilah saya mencari akses kepada Misuari yang berada di Zamboanga, selatan Filipina.

Akhirnya diberi nama rekan dia untuk menanyakan apakah ada akses kepada Misuari. Setelah berunding kemudian janji bertemu di Zamboanga City. Urusan pertama yang dilakukan setelah mendapat nomor kontak dan berbicara langsung adalah memesan pesawat. Perjalanan Manila ke Pulau Zamboanga tidaklah dekat. Setelah mengatur perjalanan dengan perhitungan beberapa hari di Zamboanga ini maka akhirnya diputuskan untuk ke selatan mengejar Misuari.

 

Rekan wartawan Filipina ini memang cukup lama di lapangan sehingga saya berkesempatan untuk diantar masuk ke markas dan basis dari Front Pembebasan Nasional Mor, MNLF. Untuk memasuki kawasan ini saya beruntung diantar rekan wartawan Filipina ini sampai ke daerah pedalaman dengan kendaraan sendiri karna tidak ada taksi sampai ke sana.

Akhirnya dengan relasi wartawan ini saya ditinggal di markas Misuari ini, dititipkan ke bagian media dan asisten Misuari. Kebetulan pada hari kedatangan ada acara Misuari mengunjungi pulau terpencil yang pernah menjadi basis perjuangan dia melawan Filipina. Nah saya berusaha menempel Misuari dan rombongan dengan naik kapal boat Jihada1, Dengan kecepatan tinggi kapal melesat menuju laut lepas pada siang hari dan kemudian di tengah-tengah boat itulah saya mendekati Misuari untuk sebuah wawancara khusus disela-sela gemuruh ombak dan deru mesin boat.

Wawancara, foto bersama berlangsung lancar dan dalam suasan santai seraya menuju sampai ke sebuah pulau di tengah lautan.

Beruntung bisa mengambil banyak foto bersama rombongan Misuari yang katanya semua adalah mantan gerilyawan dan pernah mengangkat senjata. Di Pulau itulah Misuari mengenang perjuangannya dan disambut meriah penduduk yang jumlahnya bisa dhitung dengan jari. Dijamu dengan bakar ikan maka pesta kecil ini disela dengan canda dan tertawa karena damai sudah di tangan dengan otonomi khusus Moro.

Jadi kalau memang kesulitan mendekati nara sumber, maka salah satu jalan yang ditempuh menggunakan relasi wartawan lokal untuk menemui akses ke sumber utama berita. Disinilah perlunya kontak yang luas wartawan dimanapun bahkan sampai ke mancanegara. 

Tips wawancara: sabar menunggu

Salah satu ujian dalam peliputan di lapangan adalah kesabaran menunggu nara sumber. Mengejar nara sumber utama bukanlah soal mudah. Anda bisa mengejarnya sampai berhari-hari mungkin juga berminggu-minggu. Jadi kalau satu hari tidak berhasil mendapatkan nara sumber, jangan menyerah. Apalagi hanya kalau menunggu berjam-jam dari pagi sampai sore, anggaplah sebuah bagian dari profesi. Di sela-sela menunggu masih banyak hal bisa dikerjakan mulai dari ngobrol dengan sesama rekan sampai merencanakan bentuk pertanyaan, kemungkinan jawaban dan tanggapan terhadap jawaban itu.

Dalam karir awal di bidang jurnalistik, saya pernah diminta wawancara kepala bidang politik LIPI Alfian. Nama beliau sangat harum sebagai analis politik yang jernih. Dalam situasi dimana kajian politik menjadi bahan tabu di masa Orde Baru, Alfian masih bisa memiliki ruang untuk manuver dan memberikan komentarnya.

Saya ditugaskan untuk wawancara Alfian dalam memberikan komentar terhadap sebuah peristiwa politik. Hanya dia satu-satunya yang dianggap bisa memberikan pendapat secara berbobot. Setelah mencari ke kantor dengan menelponnya akhirnya ditemukan kalau tidak salah di Gedung Pers di Jakarta Pusat lagi menghadiri sebuah rapat. Lalu segera bergerak ke sana dan karena sedang sidang maka ditunggulah di luar. Jam makan siang beliau keluar sebentar dan ditemui serta menyatakan kesediannya untuk sebuah wawancara.

Beberapa jam menunggu dan akhirnya setelah lewat pukul 15.00 lebih Dr Alfian keluar dari ruang sidang yang tampaknya sudah diselesai. Segera ditemui dengan harapan sudah siap dengan sebuah wawancara. Namun apa jawaban beliau: "Saya sudah lelah hari ini, bagaimana kalau besok saja ?"

Mendapat jawaban seperti itu setelah menunggu berjam-jam, mau tidak mau ya diterima saja. Nara sumber apalagi yang penting tidak bisa main paksa memberikan pendapat. Terpaksa kita mengalah untuk mendapatkan jawaban berkualitas. Ini juga bagian dari penghormatan kepada nara sumber terhadap sikap dan kondisinya.

Kalau mengikuti kata hati mungkin ada perasaan jengkel dan kesal. Apalagi harus laporan kepada editor, lalu apa kata editor nanti ?

Itulah bagian dari liku-liku liputan di lapangan. Semua nara sumber harus diantisipasi sulit dan waktunya sempit. Hampir semua nara sumber yang utama adalah orang penting yang super sibuk. Apakah dia menteri, pejabat tinggi, akademisi, pengusaha, selebriti atau pengacara, semuanya tidak mudah ditemui dan tidak mudah menyisihkan waktunya. Itulah salah satu yang harus dibiasakan ketika menghadapai nara sumber. Bukan mengalah terhadap "kepentingan" mereka, tetapi memaklumi sehingga bisa terjadi negosiasi untuk menentukan waktu dan tempat wawancara.

Dr Juwono Sudarsono ketika aktif di Universitas Indonesia adalah salah satu nara sumber untuk masalah internasional. Beliau juga orang sibuk namun kalau perlu dikerja ke rumahnya, meskipun sore hari, untuk sebuah wawancara. Perjalanan wawancara memang menuntut kemampuan dalam menyiasati transportasi seperti di Jakarta atau di daerah yang jauh.

Pengalaman liputan di Zamboanga sampai masuk keluar pulau hanya untuk ketemu Nur Misuari merupakan bagian dari perburuan mendapatkan sumber berita penting. Liputan di Rangoon juga terjadi hal yang sama, menunggu dan menyiasati supaya bisa dekat ke nara sumber. Demikian pula ketika berusaha berjumpa dengan mantan Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim dan Wan Azizh Wan Ismail, istrinya, dalam sebuah liputan di Malaysia.

Liputan di luar negeri lebih memerlukan kesabaran lagi karena medan yang masih asing dan perlu penyesuaian terlebih dahulu serta perhitungan secara cermat supaya waktu tidak terbuang percumah.