Apakah hari minggu Anda lebih sibuk?

Pada umumnya hari Minggu adalah acara keluarga. Atau paling tidak acara pribadi. Belakangan kadang-kadang acara hari Minggu lebih padat dari hari biasa. Tidak jarang melelahkan secara fisik. Kalau kesibukan itu terkait dengan keluarga mungkin baik-baik saja. Namun mungkin juga terkait kegiatan sosial.Nah kegiatan dan kewajiban sosial ini memang harus disiasati agar tidak melelahkan secara fisik. Kegiatan Minggu bisa fun dan refreshing. Aktivitas hari libur ini bisa mengeluarkan diri dari kegiatan rutin.Kalau memang memiliki peluang, sebaiknya pergi keluar. Tinggal dirumah hari Minggu atau libur adalah pilihan kurang pas. Jalan-jalan ke luar, apakah untuk sekedar menghirup udara di taman atau berkeliling kota, bisa jadi menyehatkan. Saya kira pilihan pergi ke tempat yang udaranya segar merupakan keputusan terbaik, selain tentu sambil mengunjungi sanak saudara.

Kekuatan bersyukur

Dalam setiap peristiwa senantiasa ada sesuatu yang patut disyukuri. Sebuah musibah akan memberikan daya dorong untuk berfikir bagaimana cara menghindarinya. Kesulitan akan semakin membuat kuat daya fikir dan fisik.Dengan rasa syukur terhadap apa yang dialami akan membuat kita lebih kuat. Banyak sejarah telah membuktikan bahwa kesulitan sebuah bangsa membawa kejayaan kepada bangsa itu apabila situasi itu dipandang sebagai tantangan.Rasa syukur itu bisa skalanya bangsa bisa pula individu. Yang pasti dengan rasa syukur terhadap apa yang dihadapi maka kemajuan akan menjemput, kejayaan akan tergariskan di depan kita.Saya banyak membaca baik langsung maupun tidak langsung bahwa kejayaan, kegemilangan dan kemenangan tidak lain berkat kekuatan syukur. Power of syukur telah memberkan daya dorong untuk bangkit. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dalam kamus orang-orang yang bersyukur, tidak ada kesulitan. Yang ada adalah tantangan dan keinginan untuk maju.Banyak dari kita sendiri berhenti begitu menghadapi kesulitan. Mandek begitu bertemu dengan tantangan. Kemajuan dan kreativitas sangat dekat bertetangga. Orang yang mau maju akan cepat menanggapi situasi. Dia pro aktif. Artinya, lingkungan adalah bahan mentah untuk kemajuan. Dia tidak berhenti merenungkan nasib.Bangkit dan terus bangkit merupakan rahasia syukur. Sejarah kemanusiaan sejak Nabi Adam dipenuhi dengan orang-orang yang hidupnya bersyukur. Mereka yang bersyukur bahkan ketika ditimpa kesulitan berat tidak pernah putus asa dari Rahmat Ilahi. Saatnya kita menilai diri berapa besar keberuntungan kita tanpa kita pernah bersyukur. Saatnya bersyukur, niscaya akan ditambah nikmat kita.

Banjir di Jakarta

Belakangan ini Jakarta kerapkali dilanda bajir besar sampai ketinggian tiga meter. Boleh jadi ini karena memang musim hujan sedang pada puncaknya. Boleh juga karena hujan kiriman dari Bogor. Bisa jadi ada hubungan dengan perubahan iklim dan tata kota yang semakin padat. Namun juga yang kedengaran got di beberapa ruas jalan mampet tidak bisa menyalurkan air sebagaimana mestinya.Saya bisa membayangkan bagaimana banjir ini membuat semua orang kesal. Para karyawan harus bekerja keras untuk sampai kantor. Selain harus berbasah ria juga dimana-mana macet karena jalan-jalan tergenang. Buat mereka yang bisa memutuskan tidak masuk kantor mungkin beruntung namun mereka yang harus hadir karena ada janji ? Sungguh sangat mengesalkan bukan?Kalau sudah banjir begini tidak pada tempatnya saling menyalahkan. Ke depan memang harus ada perhatian dari masyarakat untuk menekan pemerintah memperhatikan ruas jalan dan saluran got supaya ketika air bah datang tidak semakin parah. Perhatian dan tekanan masyarakat ini penting untuk membuat kota Jakarta semakin nyaman ditempati.Kalau setiap tahun ribuan orang datang mencari kerja, praktis akan terjadi penumpukan. Jika setiap orang hanya memikirkan diri sendiri, maka yang terjadi adalah kehancuran prasaran. Jalan, jembatan, trotoar, saluran komunikasi serta fasilitas umum tidak bisa dipikirkan hanya oleh segelintir orang. Semua orang harus peduli. Setidaknya ada orang yang mengajak untuk melibatkan semua orang menjaga lingkungan.Kalau tidak, Jakarta tidak akan menjadi sebuah kota yang ramah. Di kota-kota besar di dunia seperti London masih ada kepedulian terhadap kebersihan. Masih ada perhatian masyarakat terhadap lingkungan. Setidaknya Jakarta bisa mendorong ke arah itu perlahan-lahan.Foto: Kompas online