Hee Ah Lee, The Four Fingered Pianist

Hee Ah Lee adalah sumber inspirasi bagi semua orang. Sungguh tidak terbayangkan jika tidak tergugah dengan perjalanan hidup Hee Ah Lee sampai menjadi pianis. Bukan sembarang pianis tetapi dia musisi berjari empat.Jika kita mendengarkan musik yang muncul dari permaianan pianonya tidak akan terbayangkan. Namun itulah yang juga ditemui Kurnia Effendi, seorang novelis, yang membuat sketsa hidup Hee Ah Lee.Pengalaman bertemu langsung dengan Hee Ah Lee serta ibunya membuat kekaguman semakin bertambah. Kurnia Efffendi merasakan betapa dalam rasa cinta seorang ibu kepada anaknya yang cacat mental dan cacat tubuh.Tekad sang ibunda menjadikan anaknya seorang yang sepadan dengan anak normal merupakan sebuah tekad suci, pelajaran mendalam bagi para ibu yang sibuk dengan berbagai tugas. Jangan lupa ibu Hee Ah Lee merupakan manusia biasa yang juga terkena rasa frustrasi dan sedih dengan anaknya.Namun kepribadiannya yang kuat menjadikan Hee Ah Lee pianis yang pantas dikagumi dunia.Mohamad Deden Ridwan dari Hikmah Publisih malah menyebutkan, kekurangan (yang dialami Hee Ah Lee) merupakan kesempurnaan. Cacat tidak menjadikan penghalang untuk maju. Cacat bukan alasan untuk tidak berhasil dalam bidang apapun. Deden mengakui banyak belajar dari kisah Hee Ah Lee ini. Sebuah inspirasi bagi semua orang.Dengarkan ulasannya disini.Foto: Penerbit Mizan

Hee Ah Lee

Kalau kita mau belajar tentang kecintaan seorang ibu dan keteguhan seorang anak, simaklah Hee Ah Lee. Dia seorang pianis asal Korea Selatan. Hee Ah bukanlah sembarang pianis. Dia pianis dengan empat jari ! Lagu-lagu klasik yang dibawakannya sangat memukau. Keterbatasan bukan hambatan, keterbatasan bisa jadi kesempurnaan.Belajar dari Hee Ah Lee merupakan keniscayaan. Banyak diantara kita “normal” tapi mentalnya tidak normal. Simak Hee Ah Lee dalam video ini.

London 1 Mei 2000-2008

Tepat ketika 1 Mei 2000 terjadi demonstrasi buruh yang diwarnai kekerasan saya menginjakkan kaki lagi di London setelah tahun 1993 dan 1997 melangkahkan kaki melalui Big Ben. Aksi Hari Buruh yang membuat London guncang adalah pengrusakan restoran terkenal tidak jauh dari 10 Downing Street. Hari Buruh 2008 yang juga liburan nasional saya lagi off day alias tidak bekerjas.Tadinya di London untuk menjadi produser BBC hanya tiga tahun. Perubahan manajemen dan masa kerja menyebabkan rencana tiga tahun batal, digantikan dengan kontrak baru. Begitulah perjalanan seorang jurnalis mengelana dari Tasikmalaya, Jakarta kemudian ke London.Saya ingin bercerita lebih banyak mengenai perjalanan sampai ke negeri Mr Bean sampai berkeliling di beberapa kota serta bagaimana kebiasaan orang Inggris hidup dan mengapa mereka juga bisa bertahan sebagai negara maju, inilah yang mungkin bisa di-share.Inggris sebenarnya bukan negara paling maju namun sumber kreativitas Amerika Serikat justru banyak belajar dari Inggris ini. Bahka negeri ini pernah ditulis surat kabar Amerika menjadi sebuah negeri kreatif nomor satu di dunia. Banyak temuan baru lahir di Inggris meski mungkin tidak terkenal. Itu versi sebuah surat kabar, Wallahu’alam. Mungkin Anda punya versi lain.Semula memang datang ke London ingin mengenang, nostalgia ketika bersama istri dan dua anak tinggal di Birmingham menyelesaikan program master di bidang Hubungan Internasional. Setelah satu satu ternyata menjadi kerasan di negeri orang. Ketika pulang itulah keinginan memperpanjang masih terbayang meski sebagai student tidak boleh melebihi visa tinggal satu tahun.Takdir menentukan lain, setelah berkarir di harian Kompas, saya melangkahkan kaki ke dunia jurnalistik radio bergabung dengan BBC mulai 1 Mei 2000, tepatnya 30 April karena keberangkatan dari Jakarta.Apa yang dirasakan selama ini tinggal di negeri orang dan apa kontribusinya ? Inilah yang memicu saya menuliskan jurnal ini, karena pertanyaan salah satu pengunjung “icha” kalau tidak salah, berkelana dan mengembara di negeri orang itu tak ada kontribusinya bagi kemajuan Indonesia.Argumentasi itu bisa benar. Namun kita lihat dongeng selanjutnya mengenai langkah menuju London sampai sekarang. Semoga bisa memicu semangat dan cita-cita seperti tokoh Ikal dalam Laskar Pelangi yang ingin mengunjungi Edensor di Inggris utara. (Saya sendiri baru mendengar ada kota namanya seperti itu, mungkin nanti mau lihat-lihat juga napak tilas karya Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi). (bersambung)