• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Tips Liputan

Tips liputan di Timur Tengah 1

27 Tuesday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ 3 Comments

Beberapa negara pernah saya kunjungi di Timur Tengah mulai Arab Saudi sampai dengan Mesir. Satu hal terpikirkan mengenai Timur Tengah adalah udaranya yang panas, gurun pasir dan orang-orang Arab.

Di Timur Tengah, selain bahasa Arab, bahasa pengantar sehari-hari bahasa Inggris. Banyak orang Arab apalagi yang terpelajar lancara berbahasa Inggris. Di negara-negara Teluk mereka sangat dipengaruhi oleh teknologi dari Barat mulai dari transportasi sampai peralatan medis dan komunikasi. Di Arab Saudi, peralatan medianya canggih meskipun content media nya mendapatkan pengawasan.

Khusus di Arab Saudi, kehadiran wartawan sangat diperhatikan. Nyamur pers, begitu istilah di Indonesia, akan diawasi dengan ketat apabila kedatangannya memang khusus urusan dengan media. Kecuali kedatangannya ada kaitan dengan umroh atau haji, maka pengawasan terhadap kalangan media jangan dianggap remeh.

Salah-salah Anda bisa masuk penjara gara-gara memotret sembarangan. Dilarang memotret tempat suci di Mekkah dan Medinah, dilarang memotret instalasi militer, kantor polisi, kantor pemerintahan dan tempat-tempat yang dianggap sensitif.

Saya pernah mengalami ketika kunjungan ke Mekkah bersama rombongan dan diantar oleh pejabat dari bagian penerangan, hampir dicengkram oleh polisi agama dan polisi reguler. Ceritanya setelah umrah kami masuk gedung penerima semacam hotel namun gatal untuk mengabadikan Masjidil Haram, maka ditariklah kamera ini dan hal yang sama dialami oleh kameraman Malaysia yang masih berada di rombongan. Karena kamera saya kecil, langsung dimasukkan saku tetapi kamera televisi Malaysia tertangkap basah. Maka terjadi rebutan dan omelan antara petugas penerangan yang berusaha menarik sang kameraman masuk ke hotel di samping Masjidil Haram dengan polisi agama yang meminta agar kamera diambil dan kasetnya biasanya dihancurkan.

Akhirnya dengan suara yang saling berdebat, petugas penerangan bisa membawa sang kameraman aman kembali ke hotel. Dia tidak marah, namun diingatkan lagi dilarang memotret Masjidil Haram.

Memotret perempuan di tengah keramaian pun walaupun maksudnya mengambil gambar gedung didekatnya bisa jadi urusan panjang.

Nasihat utama bagi kalangan media bila datang ke Saudi, jangan sampai ambil gambar ketahuan oleh aparat keamanan. Lihat kiri kanan, depan dan belakang baru memotret terutama di tempat sensitif. Tentu saja kalau hanya di depan hotel atau dipinggir pantai bisa saja dilakukan namun sekali lagi hindari askar atau polisi jika tidak mau urusan berpanjang lebar, kamera dibanting atau filmnya dicopot terus dibuang.

Mengambil foto saja sulit apalagi wawancara. Tidak bisa sembarangan orang di jalan diwawancara atau didekati. Apalagi berhadapan dengan kaum hawa, jangan coba-coba mendekat karena di Arab Saudi kaum hawa biasanya berjalan dengan pendampingnya.

Wawancara hanya bisa dilakukan setelah ada appointment dengan nara sumber. Apakah itu pejabat, pengusaha atau tokoh masyarakat biasanya harus ada indentitas jelas siapa kita.

Liputan ke Arab Saudi juga tidak sembarangan bisa dilakukan. Tanpa ijin jangan coba meliput di sana kecuali kalau kita ikut rombongan pejabat Indonesia dan berkesempatan melihat-lihat ke sekeliling serta melakukan observasi silahkan saja. Namun kalau sengaja membawa kamera, menulis dan mewawancara dengan tapa recorder, ketahuan oleh aparat bisa langsung diseret ke kantor polisi.

Masyarakat juga kadang-kadang merasa terganggu dengan kehadiran juru media ini. Namun sebagian masyarakat juga ada yang senang berfoto bersama kalau kita menunjukkan sikap bersahabat. Dan biasanya orang Indonesia memang sudah dikenal cukup bersahabat dengan masyarakat lokal.

Jangan khawatir kekurangan orang Indonesia di Arab Saudi. Hampir kemanapun, ke kota di luar Mekkah,Medinah, Jeddah dan Riyadh bisa ditemui warga Indonesia. Setidaknya mereka bekerja di hotel atau menjadi sopir kendaraan. Ini bisa menjadi nara sumber penting untuk penulisan laporan.

Jika datang ke Saudi kemudian membahas masalah tenaga kerja Indonesia mungkin tidak menjadi masalah. Namun jika kita bermaksud menulis mengenai kondisi monarki, keluarga kerajaan, demokratisasi dan kebebasan pers, berikan sedikit ekstra perhatian terhadap gaya penulisan dan fakta-fakta yang ditulis.

Di Indonesia pun Anda tidak luput darai pengamatan pihak Kedutaan Arab Saudi. Tentu kalau media Anda cukup besar dan liputannya menyeluruh maka ada kemungkinan bila terjadi penilaian negatif akan menjadi urusan dibelakang hari, artinya mungkin tidak diijinkan lagi berkunjung lagi.

Namun pada umumnya berhubungan dengan pejabat dan pengusaha Saudi, sama dengan nara sumber lainnya. Bisa gampang dan bisa juga susah.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Liputan dalam satu tim

27 Tuesday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ Leave a comment

Peliputan di lapangan tidak hanya dilakukan secara individual tetapi juga dalam satu tim. Sebagai anggota satu tim maka cara kerja dalam liputan pun mengikuti apa yang sudah disepakati dalam satu tim itu. Kesepakatan dan perencanaan di atas kertas ini penting agar tidak terjadi tabrakan dan agar ada pembagian tugas yang efisien. Pembagian tugas dengan berdasarkan kerangka yang sudah disepakati ini penting saat terjun ke lapangan.

Beberapa contoh dalam liputan satu tim adalah liputan pemilu, liputan khusus, liputan kasus pengadilan atau liputan konflik di lapangan dan juga liputan olahraga. Event olahraga yang besar seperti olimpiade atau pesta olahraga Asia Tenggara memerlukan perencanaan yang terpadu, tidak hanya pembagian dalam meliput cabang olahraga tetapi juga untuk irama liputan secara menyeluruh sehingga tidak ada event yang terlewatkan.

1. Peliputan pemilu. Saat pemilu berlangsung apakah pemilihan anggota parlemen/DPR atau presiden, sangat penting untuk membentuk tim terlebih dahulu dan membebaskan tugas personal jurnalistik dari tugas-tugas rutin. Biasanya setiap individu membuat rencana liputan sesuai dengan spesialisasi kawasan atau topik kemudian dipadu dalam sebuah proposal utuh. Persiapan dengan memegang proposal secara utuh ini akan memudahkan kerja di lapangan dan memudahkan fokus liputan sehingga lebih berkualitas dan terpadu. Pengalaman meliput pemilihan anggota DPR dengan fokus liputan di Palu, Sulawesi Tengah kemudian dipadukan dengan liputan di Jakarta, Sulawesi utara dan daerah lain memudahkan pekerjaan di lapangan juga. Demikian juga liputan pemilu di luar negeri seperti Malaysia, Palestina dan Israel memudahkan kerja kelompok baik dua atau tiga orang.

2. Liputan konferensi besar seperti APEC atau ASEAN baik di Jakarta atau di luar negeri juga memiliki karakter sama untuk memudahkan kerja satu tim. Kembali fokus liputan, rangkaian peristiwa dan topik apa yang akan diangkat akan lebih memudahkan dalam penyajian dan penulisan berita nanti. Konferensi besar memiliki berbagai acara yang perlu dibagi-bagi tugas dan perlu dikaji ulang fokus liputannya. Saat peliputan pertemuan puncak APEC di Manila menunjukkan bahwa satu tim beranggotakan sekitar empat orang memerlukan koordinasi dalam penyajian topik mulai dari bidang politik, ekonomi sampai dengan feature ringan atau berita analisis.

3. Liputan peristiwa khusus. Handover Hongkong adalah salah satu contoh peristiwa besar di luar negeri yang memerlukan kerja sama satu tim. Tentu pembagian tugas meski liputan di satu kota adalah penting. Penyusunan laporan mulai dari event itu sendiri sampai dengan reaksi masyarakat kecil perlu direkam untuk dimasukkan dalam laporan besar. Biasanya dalam liputan besar seperti peristiwa politik dan ekonomi ini maka alokasi space di surat kabar atau media cetak atau alokasi di media elektronik diperlukan diskusi harian terlebih dahulu sebelum penulisan naskah akhir. Fokus laporan perlu disiapkan lebih baik karena semua media akan menyajikan hal yang sama. Dengan kata lain, peristiwanya sama namun jika memiliki daya pantau yang kuat juga akan memberikan nilai tambah dalam liputan akhirnya.

4. Pengalaman mengikuti konferensi perdamaian Timur Tengah di Madrid tahun 1991 menunjukkan bahwa konferensi yang diliput ribuan wartawan dan dialokasikan hanya beberapa wartawan dari seluruh dunia hadir, maka diperlukan teknik lain untuk menuliskannya. Dalam konferensi besar seperti itu biasanya media centre menyajikan kelengkapan mulai dari release sampai dengan liputan melalui televisi. Salah satu pengalaman ketika itu, adalah karena para pihak yang bertikai dalam konflik Timur Tengah ini baru pertama kali duduk dalam satu tempat dan ruangan, maka sikap tubuh dan raut muka serta posisi duduk menjadi berita tersendiri. Dan itulah kemudian yang keluar dalam laporan, bukan substansi perundingan karena semua tahu bahwa substansinya akan sulit terselesaikan. Itu pula yang menjadi bahan laporan dari sebuah koran internasional dimana posisi duduk dan raut muka peserta perundingan dari Palestina dan Israel itu menjadi bagian laporan menarik. Dengan menyimak posisi duduk ini juga bisa diketahui bagaimana diplomasi konferensi ini begitu sulitnya sehingga tawar menawar dari kedua untuk tempat konferensi juga sangat alot. Dalam konferensi internasional biasanya tempat duduk itu menentukan nilai dari sebuah delegasi, apakah cukup terhormat, disisihkan atau diberi tempat yang sentral.

Liputan dalam tim ini juga akan menguji lebih banyak kemampuan kita dalam bekerja sama yang sangat penting dalam kelangsungan sebuah liputan peristiwa besar. Tentu saja tidak terhindar perbedaan pendapat dan angle dalam penulisan dan pelaporan namun ini bagian dari dinamika sebuah tim.

Powered by Qumana

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Liputan di lapangan perlukan kecepatan

26 Monday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ Leave a comment

Liputan di lapangan tidak hanya sekedar memiliki angle yang tepat dan teknologi yang memadai tetapi da satu faktor lain yang dibutuhkan dalam dunia jurnalistik, yakni kecepatan.

Sehebat apapun seorang wartawan kalau sudah lewat deadline, berita itu tidak bisa dimuat, demikian kata guru saya ketika di tempat pelatihan Kompas, Anggrek.

Memang benar, kehebatan seorang jurnalis diuji oleh terbatasnya waktu. Waktu adalah musuh utama dalam peliputan. Sadar akan waktu merupakan masalah penting ketika berada di lapangan. Seorang wartawan yang diterjunkan ke lapangan seringkali berfikir bahwa inilah berita yang paling hebat, paling besar saat itu dan paling mungkin dijadikan headline.

Namun ilusi ini akan berbeda dengan pandangan editor yang melihat peta pemberitaan secara menyeluruh. Pandangan yang berlebihan terhadap berita yang dimuat seringkali menyebabkan keterlambatan. Salah satu penyebabnya, berita yang diliput seolah-olah yang terbesar -misalnya sidang MPR atau kecelakaan mobil beruntun di jalan tol – mempengaruhi pandangan kita di lapangan sehingga lepas dari kehebatan berita lainnya.

Tantangan terhadap deadline ini lebih hebat lagi bagi surat kabar yang terbit tengah malam dan radio yang harus segera mengambil manfaat dari perkembangan terbaru ini. Dengan demikian sadar akan deadline merupakan bagian dari wawasan jurnalis yang langsung berada di lapangan di tengah panasnya siang atau dinginnya malam atau di tengah hujan lebat.

Kecepatan ini semakin dibutuhkan tatkala perbedaan waktu dengan Indonesia sudah mencapai setengah hari. Liputan di London cukup berat. Perbedaan waktu enam sampai tujuh jam menyebabkan kecepatan liputan, perencanaan yang tepat serta bahan yang terkumpul cepat ikut mempengaruhi bentuk akhir dari beritanya. Perbedaan enam jam itu berarti, begitu kita bangun pagi di Jakarta dan WIB khususnya sudah siang hari. Jadi hanya butuh waktu enam jam agar berita liputan hari itu masuk dalam sidang rapat dan diperitmbangkan oleh dewan editor.

Lebih-lebih lagi ketika meliput konferensi yang belum selesai, konflik terbuka seperti perang dan menerobos lautan dan hutan untuk liputan khusus. Format straight news atau berita langsung seperti biasa perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan matang jangan sampai tertinggal atau sulit dilengkapi editor yang berada di Jakarta atau kantor utama.

Kesadaran akan waktu juga digunakan ketika menyusun jadwal wawancara di lapangan dengan nara sumber. Jatuh dekatnya diperhitungkan dengan cermat sehingga tidak kedodoran ketika sudah sampai di tempat menginap untuk pengiriman berita. Susunlah wawancara denan para pakar sehingga bisa lebih senggang waktunya untuk menulis. Jangan biarkan, penulisan berita terdesak oleh deadline sehingga mutu laporannya akan rendah.

Powered by Qumana

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d