• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Global Politics

Smart Power

18 Wednesday Feb 2009

Posted by Setiawan in Archives, Global Politics

≈ Leave a comment

Tags

smart power

“Smart” power means a combination of “hard” power — to coerce by military or other means — and “soft” power — the power to convince and persuade through trade, diplomacy, aid and the spread of values.The phrase is relatively recent addition to the diplomatic phrasebook, even if the concept is not. It was coined not long after the invasion and occupation of Iraq and was presented as a liberal alternative to the aggressive neo-conservatism of the Bush AdministrationAccording to Joseph Nye, a leading exponent of “smart” power as an extension of “soft”, America must “learn to co-operate and to listen” if it is to become a “welcomed world leader”.Smart-power advocates invoke the the creation of such institutions as the United Nations, Nato, global free trade and the Marshall Plan, in which the US plays a central but not solo role.Source: Times Online

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Blog Hubungan Internasional di Indonesia

18 Thursday Dec 2008

Posted by Setiawan in Archives, Global Politics

≈ Leave a comment

Tags

blogger hi, english school, indonesian school

Berkat kunjungan Ardi Fitra Rahman saya jadi banyak berkenalan dengan blog-blog dan situs hubungan internasional dari para peminat dan pakar HI. Sebuah perkembangan menarik yang bisa menjadikan pengembangan studi hubungan internasional versi Indonesia bisa diwujudkan.Sudah lama catatan-catatan saya mengenai studi politik luar negeri dan studi hubungan internasional dengan memasukkan unsur pemikiran dari negara berkembang (Indonesia) dijadikan sebagai basis kajian perilaku negara berkembang dalam berinteraksi dengan mitranya dari mancanegara.Kajian intensif terhadap paradigma hubungan internasional menunjukkan bahwa dasar-dasar filsafat barat dalam mengkaji interaksi global sangat dalam. Bahkan kemudian muncul dalam tataran penafsiran peristiwa aktual. Aliran realisme atau neo realisme misalnya melihat manusia sebagai mahluk jahat yang siap menaklukan dan menyerang sehingga muncul doktrin negara mengenai power politics.Kalau saja pemikiran di Indonesia dikembangkan apakah basisnya tradisi atau religius mengenai unsur-unsur manusia yang intrinsik kemudian ditarik kedalam tataran global sebagai sebuah sifat manusia yang inheren maka akan menjadi kaya kajian hubungan internasional.KJ Holsti misalnya juga melihat pola interaksi yang menjadi latar belakang kerangka analisa HI dilihat dari sedikitnya tiga sistem sub-dunia yakni Yunani, India dan Cina. Saya pernah mendiskusikan hal ini mengapa sistem regional yang pernah menguasai dunia dari abad ke 6 sampai 12 di bawah imperium Islam tidak mendapat kajian. Padahal dari sistem itu bisa ditarik beberapa prinsip hubungan internasional yang pernah hadir di muka bumi.Demikian juga kajian interaksi aktor regional ketika era Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan Islam Indonesia bisa dijadikan sebuah butir-butir penting dalam penelitian mengenai sistem regional yang bisa berinteraksi dengan kekuatan global.Hal ini belum bisa dilihat dari blog-blog hubungan internasional yang terlena dengan kajian, kerang dan teori Barat. Beberapa blog peminat hubungan internasional misalnya Asrudin masih banyak memaparkan kajian HI dunia. Demikian dari Portal HI tak dapat banyak yang digali tentang HI Indonesia.Mungkin dari para peminat HI di Indonesia sudah saatnya mengembangkan Indonesian School – meminjam istilah English School dalam studi Hubungan Internasional.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Pasukan Teluk Sekadar Simbol Solidaritas GCC

25 Tuesday Nov 2008

Posted by Setiawan in Archives, Global Politics

≈ Leave a comment

Tags

GCC, Persia, Teluk

 

     SEDIKITNYA ada dua alasan mengapa sejumlah negara mengadakan kerja sama keamanan atau membentuk alainsi. Pertama, karena ada sesuatu yang perlu diamankan. Dalam hal negara-negara Teluk Persia, yang diamankan adalah emas hitam alias minya. Enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC-Gulf Cooperation Council) terdiri Arab Saudi Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman dan Uni Emirat Arab (UEA).

     Perang Teluk yang melibatkan puluhan negara adalah contoh paling akhir untuk menjelaskan bagaimana minyak harus diamankan. Seluruh dunia termasuk, negara adidaya Amerika Serikat, Jepang dan Masyarakat Eropa Eropa kalang kabut tatkala Irak benar-benar menguasai ladang minyak Kuwait yang kaya raya. Bagi negara industri, minyak adalah darah yang menghidupkan ekonominya. Oleh sebab itu kekuasaan atas minyak bisa membahayakan eksistensi negara Barat umumnya. Kesimpulannya, Irak harus diusir dengan cara apa pun dari Kuwait.

     Alasan kedua, GCC bersedia membentuk pasukan gabungan untuk menjaga

keamanan karena ada yang disebut ‘musuh bersama’ Perasaan terancam kalau-kalau kekayaannya tiba-tiba lenyap karena diambil negara lain, menghinggapi sebagian besar anggota GCC. Kemakmuran yang kini dinikmati sekitar 23 juta penduduk GCC bisa lenyap seketika dan berganti dengan penderitaan bila minyak di tangannya direbut.

     Secara implisit GCC mendefinisikan ‘musuh bersama’ adalah Irak dan Iran, bukan Israel. 

     Irak dicantumkan sebagai sumber ancaman karena penyerbuan ke Kuwait dan fakta bahwa Presiden Saddam Hussein masih berkuasa sekaligus berambisi. Bahkan sampai kini hampir dua tahun setelah kalah di Perang Teluk, Baghdad masih mampu bersilat lidah untuk menghindari perintah yang dicantumkan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang intinya melucuti seluruh persenjataan pembunuh massal milik regim Saddam.

     Kecerdikan Irak menyembunyikan persenjataannya yang konon disimpan di bawah tanah, dianggap anggota GCC sebagai suatu bahaya laten. Sebagai catatan saja, Irak tidak pernah menarik klaimnya atas Kuwait sebagai propinsi ke-19.

     Iran adalah negara kedua yang jadi perhatian Seikh dan raja minyak di Teluk Persia. Bukan karena Iran juga kaya minyak, tetapi negara tetangga yang berpenduduk lebih dari 59 juta ini sering berlawanan dalam kebijakan politiknya. Jika GCC dekat dengan AS, sebaliknya Teheran menentang kehadiran AS di Teluk.

 

“Peninsula Shield”

     Untuk menciptakan rasa aman, GCC membentuk pasukan gabungan yang disebut Peninsula Shield (Perisai Jazirah). Menurut catatan, pasukan ini sudah ada sejak 1983 dengan markas di Khafr Bateen, Arab Saudi.

     Kekuatan pasukan ini sekitar 10.000 personel dengan tugas utama sebagai kekuatan penggetar. Sejauh ini kegiatan pasukan ini adalah latihan bersama, koordinasi komando dan tukar menukar data intelijen.

     Sultan Qaboos dari Oman mengusulkan peningkatan jumlah pasukan ini sampai 100.000 personel namun tidak mendapat sambutann pada KTT GCC ke-13 yang berlangsung di Abu Dhabi 21-23 Desember.

     Proposal Oman ini juga tidak disinggung dalam deklarasi akhir pertemuan para menteri pertahanan baru-baru ini di Kuwait. Pertemuan itu hanya merekomendasi Peninsula Shield sebagai inti pasukan gabungan di masa depan. Namun media massa Kuwait menyebutkan GCC merencanakan meningkatkan kekuatan pasukan gabungan 15 tahun mendatang.

     Saat ini dipertahankan jumlah sampai 10.000 pasukan gabungan sebagai pilihan terbaik dari tiga pilihan yang ada. Dua alternatif lainnya adalah pembentukan pasukan independen baru dan setiap negara berkonsentrasi pada pengembangan angkatan bersenjatanya.

     Menhan UEA Sheikh Mohammad bin Rashid mengatakan, “Pembentukan pasukan gabungan teluk atau angkatan bersenjata bukanlah tugas sulit namun juga tidak segera dibutuhkan. Perang pembebasan Kuwait membuktikan bahwa masalah serius dan keputusan menentukan tidak memerlukan berbagai studi, komite-komite atau konferensi. Teknologi modern adalah salah satu elemen penting dalam menggabungkan upaya dan memajukan langkah bersama. Anggota GCC mampu menggabungkan dan mengkoordinasikan langkah dalam beberapa hari.

 

Efektivitas

     Apakah dengan jumlah 10.000 serdadu cukup untukmenggetarkan kekuatan luar, katakanlah Irak atau Iran? Jika melihat perkembangan kedua negara ini, efektivitas 10.000 tentara ini sangat diragukan. Lebih-lebih setelah muncul konflik intern di perbatasan Qatar-Arab Saudi, pasukan ini tampak kurang berperan. Sebaiknya Qatar yang menjalin hubungan lebih banyak dengan Iran, mengancam mundur dari Peninsula Shield.

     Bandingkan pula kekuatan personel Irak yang lebih dari setengah juta tentara dan Iran yang mencapai satu juta orang, Sedangkan kekuatan GCC bila digabung semuanya hanyalah sekitar 200 ribu sampai 300 ribu tentara. Walaupun dilengkapi peralatan canggih pasukan teluk ini masih harus diuji di lapangan.

     Lalu siapa penjamin keamanan minyak milik anggota GCC? pilihan jatuh ke negara adidaya Amerika Serikat. Pengalaman Perang Teluk membuktikan kekuatan penggetar 10.000 pasukan Teluk tak berdaya sama sekali dan tidak efektif. Irak dengan segudang senjata dan segudang sumber daya manusia dengan mudahnya mencaplok Kuwait.

     Namun ketika AS dan negara Eropa terlibat, barulah keamanan minyak di teluk terjamin. AS dan sekutunya tidak lagi mendapat tantangan dari timur seperti dilakukan Uni Soviet pada masa perang dingin. 

     Jika melihat situasi ini maka keberadaan perisai Jazirah lebih  terkesan sebagai simbol solidaritas GCC, di samping itu terkesan pula sebagai simbol adanya perhatian terhadap masalah pertahanan dibandingkan sebagai kekuatan nyata untuk menggetarkan musuh bersama. Bahkan peningkatan kekuatan sampai 100.000 pun misalnya, tampaknya masih belum mampu menggetarkan Irak atau Iran yang berpengalaman dengan perang modern selama tahun 1980-1988.

     Keamanan minyak terutama dijamin dengan keperkasaan militer AS yang menempatkan sejumlah kapal induk dan pangkalan militer di seputar Teluk Persia. Negara-negara Barat tampaknya masih bisa menjamin suplai minyak dari teluk sedikitnya sampai tahun 2000 sebelum alternatif energi lainnya ditemukan.

     Keberadaan pasukan gabungan ini mungkin bermanfaat untuk menunjukkan betapa kuatnya solidaritas dan kompaknya GCC dalam koordinasi komando militer. Ada pun cara menghadapi ancaman nyata tampaknya masih banyak berlindung ke dalam payung keamanan AS dan sekutunya. ***

Sumber: Kompas

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d