• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Category Archives: Archive

Sisi lain Tasikmalaya

04 Sunday Mar 2012

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Gallery

≈ Leave a comment

Salah satu hasil jepretan saat berkunjung ke Tasikmalaya tahun 2008. Inilah satu sisi Tasikmalaya dilihat dari jalan menuju Manonjaya, tepatnya di samping Dahana, Cibeureum. Hamparan hijau sawah menyejukkan mata, menenangkan hati. Sementara padi menguning sudah siap dipanen.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Inspirasi dari profesi jurnalistik

04 Sunday Mar 2012

Posted by Setiawan in Archive, Blog, Jurnalisme, Jurnalistik

≈ Leave a comment

Tugas mulia di dunia jurnalistik telah membawa saya berkeliling sejumlah negara. Profesi jurnalis telah mendorong saya terus belajar karena bertemu dengan orang-orang besar, para pemikir besar yang memperhatikan kehidupan di muka bumi. Profesi ini mempertemukan saya dengan sultan, presiden, perdana menteri, para menteri, elit di kepolisian dan TNI bahkan elit di ekonomi, sosial, budaya dan ekonomi.

Pertemuan tidak hanya terjadi secara fisik tetapi juga dalam pertarungan pemikiran ketika menuliskan pandangan mereka. Itulah mengapa seorang jurnalis adalah mereka yang senantiasa belajar tanpa henti, menggali ilmu dan memperluas wawasan karena dialah yang seharusnya memandu masyarakat dan mendayung masyarakat ke arah keselamatan.

Salah satu cara menggali ilmu yang cepat adalah bertanya dan berbicara kepada para pakar di bidangnya. Pertanyaan yang tepat akan membawa kita kepada sebuah pandangan baru, horison yang lebih luas untuk memahami kehidupan ini dan tentu saja kemudian mentransfernya dalam bentuk teks, audio dan video untuk di share dengan komunitas lebih luas.

Itulah mengapa tepat sekali ketika Bung Karno mengatakan bahwa profesi kewartawanan adalah bagaikan profesi guru yang membimbing, mengedukasi, mencerahkan dan menunjukkan mana sesuatu yang negatif yang harus dihindari. Kalau guru membimbing di kelas maka seorang jurnalis membawa pencerahan kepada masyarakat secara luas, secara massal. Dan di sinilah tanggung jawab seorang jurnalis, dia semestinya memiliki wawasan luas mengenai fakta dan konteksnya sehingga bisa meramu berita, laporan dan investigasi dalam sebuah laporan yang mudah dipahami, dicerna dan mengena.

Seorang jurnalis membuat sebuah laporan, tulisan, artikel atau seri lengkap mengenai sesuatu kejadian bukan didorong oleh nafsu untuk menjatuhkan seseorang, sekelompok orang atau sebuah masyarakat. Namun ia memiliki motif untuk mendudukan persoalan tersebut dalam konteks yang lebih luas dan implikasinya jika peristiwa itu berlanjut atau terhenti.

Namun karena aplikasi kerja jurnalistik ini tidak lain merupakan sebuah mosaik dari rangkaian peristiwa, maka sebuah laporan dan cerita tidak dapat dipahami secara berdiri sendiri. Hampir semua peristiwa muncul karena adanya penyebab langsung atau tidak langsung. Dan hampir semua kejadian juga akan memberikan implikasi kepada peristiwa berikutnya. Oleh karena itulah maka sebuah berita dan laporan hendaknya dipahami dan ditempatkan dalam konteks satu sekuen atau bahkan serangkaian sekuen.

Bahwa kemudian yang muncul di koran, berita online, radio dan televisi itu berupa peristiwa buruk yang menimpa kepada manusia dimanapun dia berada, usia berapapun dan profesi apapun maka ini juga menjadi sebuah pelajaran bagi setiap anggota masyarakat bahwa apa yang disebut “bad news” itu mengandung “positive news bagi siapapun yang menginterpretasikannya secara positif. ***

 

 

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Dan Trafalgar Square-pun Jadi Saksi Perkawinan

03 Saturday Mar 2012

Posted by Setiawan in Archive, Blog, London

≈ Leave a comment

Untuk menuju Istana Buckingham, rombongan mempelai Kerajaan Inggris Pangeran William dan Catherine Middleton harus melalui Lapangan Trafalgar atau terkenal dengan nama Trafalgar Square. Di lapangan ini terdapat monumen tinggi dengan patung Kapten Nelson di atasnya.

Trafalgar Square telah menjadi semacam lapangan kebebasan serta banyak dikunjungi wisatawan. Saya ingin mengajak pembaca melihat lapangan bersejarah ini sesudah melalui Whitehall dimana terletak kantor PM di Downing Street dan pengawal berkuda Ratu Inggris Life Guards.
Monumen ini didirikan 1843 untuk memperingati kemenangan Laksanama Horatio Lord Nelson atas armada Perancis dalam Pertempuran Trafalgar 21 Oktober 1805. Monumen ini tingginya sekitar 52 meter.

Pada abad ke-14 sampai akhir abad ke-17, sebagian wilayah yang sekarang menjadi Trafalgar Square merupakan halaman dari Great Mews atau bisa disebut pula sebagai gudang atau tempat kereta atau kendaraan berada yang melayani Whitehall Palace.
pada awal abad ke-18, Mews ini tidak digunakan lagi oleh Royal Household sehingga kawasan ini dibersihkan. Tahun 1812 arsitek John Nash mengembangkan konsep baru untuk memperbaiki wajah London. Dia menginginkan space atau halaman ini menjadi lapangan kultural, terbuka untuk umum. Baru tahun 1830 secara resmi dinamakan Trafalgar Square.

Dalam perkembangan berikutnya tahun 1800-an kawasan ini mengalami perubahan besar. Tahun 1832 mulai dibangun National Gallery di dekatnya dengan arsitek William Wilkins.

Setelah National Gallery selesai, tahun 1838 Sir Charles Barry yang menjadi arsitek Palace of Westminster mengajukan rancangan mengembangkan Trafalgar Square. Dalam rancangannya terdapat tangga menuju National Gallery, tangga dan monumen Nelson serta dua air mancur.

Tahun 1843, Nelson’s Column yang berada di tengah lapangan ini dibangun dengan rancangan William Railton. Kemudian tahun 1845 dibangun air mancur yang didasarkan pada desain Sir Charles Barry. Lalu Sir Edwin Landseer merancang patung singa yang mengawal Nelson’s Column pada tahun 1867.

Pada era modern Trafalgar Square terus dikembangkan. Juli 2003 sesudah mengalami perombakan selama 18 bulan maka kawasannya lebih lapang.

Ruang untuk pejalan kaki di teras utara kini terhubung dengan National Gallery. Terjadi pula perubahan lainnya seperti adanya kafe, toilet umum dan lift untuk orang cacat.

Kini di era modern Trafalgar Square memiliki nilai sejarah yang signifikan baik monumen dan patung di dalamnya.

Sejak pembangunan awal 1800-an menjadi ajang gerakan demokrasi dan aksi protes. Setiap minggu ada saja yang mengadakan unjuk rasa terkait masalah politik, keagamaan dan isu-isu lainnya. Secara tradisional Wali Kota mendukung tradisi demokrasi ii dan memberikan aksis ke lapangan ini untuk memperjuangkan niali-nilainya.

Saya teringat ketika terjadi demonstrasi besar anti Perang Irak di London beberapa tahun lalu, maka di Trafalgar Square ini diberi tempat sebagai ajang “menjatuhkan patung George Bush” perlawanan simbolis ketika tentara Amerika menjatuhkan patung Saddam Hussein di Baghdad.

Menikmati keindahan lapangan ini bisa sambil duduk di tangga atau di tempat duduk yang disediakan dari kursi beton. Burung merpati beterbangan manja di sekitar para wisatawan seolah meminta untuk diberi makan. Burung-burung ini tidak pernah jauh dari lapangan dan tetap berada di Trafalgar Square.

Bagi yang pernah bertandang ke sini, coba rasakan keindahannya. Ada air mancur, ada monumen yang tinggi, ada patung singa dan bangunan sekelilingnya juga mendukung. Lapangannya tidak luas tetapi terasa nilai sejarahnya.

Nilai sejarah Trafalgar Square ini akan bertambah tatkala pasangan baru Kerajaan Inggris Pangeran William dan Kate Middleton akan lewat dengan kereta kencana kerajaan. ***

Kompasiana, 27 April 2011
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/27/dan-trafalgar-square-pun-jadi-saksi-perkawinan/

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d