Saya mendengar seorang teman bercerita mengenai meninggalnya dua orang yang dikenal dengan baik di Indonesia. Berita duka cita ini memang sering terdengar. Namun yang mengesankan mengenai ucapan: kita mesti mengingat batas waktu kita hidup ini. Mereka meninggal di usia 40-an dan 50-an.
Ya kita mesti ingat bahwa di dunia ini sementara.Apakah kita selalu mengingatnya ? I don’t think so. We are very busy with our business and personal plan to achieve famous and wealth.Kita tidak selalu bisa berpikir jernih betapa sebentarnya hidup di dunia ini. Betapa kecilnya sumbangsih karya kita dalam kemanusiaan. Kita lebih sibuk dengan urusan pendek melupakan tabungan jangka panjang di alam sana.Remind us on the deadline. Kita memiliki batas waktu hidup ini. Sungguh sebuah kata-kata bijak yang berarti dalam sekaligus menenangkan segala haru biru kehidupan dunia yang serba sibuk dan dikejar berbagai target. Ingatan akan deadline ini juga memacu kita untuk sebanyak mungkin berbuat baik demi kemanusiaan, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semangat untuk berbuat kebajikan inilah yang akan memicu karya-karya besar dari diri kita yang hidup serba sebentar ini.
Wisdom: Remind us on the deadline
17 Saturday Mar 2007
Posted in Commentary
Saya melihat sendiri bayi berusia 22 minggu di dalam layar televisi hasil scanner dokter. Jantun berdenyut-denyut yang menandakan mahluk hidup di dalam rahim ibu.Saya baru tersadar bahwa jantung di dalam tubuh ini berdegup terus dengan kecepatan konstan dan tanpa henti sejak usia empat bulan di dalam rahim ibu. Apakah pernah terpikir betapa jantung ini penting ? Saya mengakui jarang.Renungan ini mengingatkan pula bahwa jika jantung ini bekerja keras tetapi kita tidak pernah bersyukur kepada Maha Pencipta.Jantung bayi di dalam rahim yang saya saksikan di sebuah rumah sakit di London menunjukkan betapa ajaibnya dan betapa luar biasa jantung ini. Jika ada kelainan dalam jantung – ini memang terjadi kepada siapa saja – maka kita akan semakin bersyukur mengenai jantung kita.