Bertemu Soni Farid Maulana di dunia maya mengingatkan akan kehadirannya di tanah kelahiran Tasikmalaya. Roni kalau tidak salah adalah adik Soni, dia teman satu SMA. Rumah kami pernah berdekatan. Dulu Soni kurus sekarang wah sudah menjadi penyair tenar badannya gemuk.Saya teringat masa lalu ketika Soni sudah sejak belia terus menulis puisi. Sajak-sajaknya yang aneh kedengarannya pada waktu itu mungkin menjadi bahan perbincangan. Namun Soni kelihatan tidak pernah berhenti menulis puisi.Pengasahan puisinya semakin dalam, semakin mengalir dan semakin memikat. Perjalanan penulisan terus menerus bergumul dengan syair puisi ini menjadikan para pembacanya merasakan kemanusiaan yang utuh. Rasa seni yang merangsang emosi di tengah kegersangan hidup karena tekanan ekonomi dan politik yang menyesakkan.Sajak-sajak Soni – seperti halnya penyair yang berkutat dengan tema sosial – memberikan oase segar terhadap perjalanan keseharian yang kadang membosankan, melelahkan dan mungkin untuk tingkat tertentu menakutkan. Sajak menjadikan kemanusiaan ini menjadi utuh kembali, mereguk untaian kata yang segar untuk dinikmati. Pantas di negara maju dan di dalam peradaban lama, penulis sajak dan penyair menempati posisi terhormat dalam masyarakat. Tidak lain karena memang sajak menghidupkan peradaban suatu bangsa.
Bertemu Soni Farid Maulana
16 Wednesday Jul 2008

Tadi di kantor baru menghadiri pertemuan sejumlah editor dengan bos BBC World Service. Dari pertemuan yang teringat adalah perubahan selalu terjadi. Tidak ada yang bisa terjadi selain perubahan. Persaingan antar media, perubahan kebiasaan pendengar, berkembangnya teknologi komunikasi, semuanya menuntut perubahan.Banyak hal bisa dicatat dari pertemuan itu.Pertama, perubahan senantiasa terjadi, dikehendaki atau tidak. Kita biasanya sudah terbiasa dengan zona nyaman sekarang ini. Kalau sudah demikian, maka kita biasanya takut akan perubahan. Perubahan akan mengancam kue kenyamanan kita. Inilah pangkal dari kemunduran dan kekalahan, biasanya. Diterima atau tidak perubahan akan selalu terjadi. Bahkan usia kita berubah, detika bergerak dan satu atau dua menit lalu berbeda dengan saat ini. Mental kita harus dipersiapkan dengan prinsip bahwa perubahan akan senantiasa mengikuti kita dan kita harus siap dengan perubahan.Kedua, antisipasi perubahan dengan melihat berbagai kemungkinan. Kadang-kadang ketika berubah ada ketidaknyamanan. Kebiasaan mungkin berubah. Jatah makanan mengecil. Pekerjaan menjadi lebih sulit. Situasi tidak enak. Semuanya mungkin dilihat dari kacamata negatif. Maka kita seharusnya melihat berbagai kemungkinan dengan tangan terbuka.Ketiga. senangi perubahan. Jika kita tidak menyukai perubahan dan pergeseran maka akan ada sikap resisten dari kita untuk menolak perubahan. Jadikanlah perubahan itu sebuah peluang, sebuah harapan, bukan kemalangan atau kesulitan.Keempat, meski memang perubahan sebuah keniscayaan tetapi ada juga beberapa prinsip dalam kehidupan yang tidak berubah. Akui bahwa ada satu hukum yang ajeg yang juga sama kuatnya dengan perubahan. Matahari selalu terbit dari timur untuk sebagian besar wilayah di muka bumi. Ini salah satu contoh.Sebenarnya masih banyak catatan yang bisa ditambah mengenai renungan dari sebuah pertemuan itu. Namun sudah empat poin dulu untuk mengingatkan kita bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan.