Wartawan memang harus jeli melihat perilaku para pemimpin dunia. Inilah yang ditangkap banyak media termasuk televisi mengenai perbincangan sangat intim antara Bush dan Blair.
|
||
|
Source: Times
18 Tuesday Jul 2006
Posted in Archive
Wartawan memang harus jeli melihat perilaku para pemimpin dunia. Inilah yang ditangkap banyak media termasuk televisi mengenai perbincangan sangat intim antara Bush dan Blair.
|
||
|
Source: Times
16 Sunday Jul 2006
Posted in Tips Liputan
Jalur Gaza adalah sepetak tanah tandus Palestina yang berada di ujung dekat perbatasan Mesir. Tandusnya Jalur Gaza dengan Gaza City sebagai ibu kotanya sangat kontras dengan daerah seputar Jerusalem yang luar biasa suburnya. Kebun anggur, jeruk dan kurma merupakan andalan dari daerah Jerusalem dan sekitarnya.
Tidak mengherankan ketika tahun 1995 berkunjung ke sana, Israel membiarkan daerah ini menjadi ibu kota dari Palestina. Di kota Gaza inilah terdapat istana sederhana dari Presiden Arafat yang saat itu baru terpilih.
Suasan saat itu kumuh. Rumah berdempetan tidak seperti di ibu kota negara lainnya. Gaza City bagaikan kampung besar saat itu.
Di pasar campuran antara dokar, mobil, motor dan kendaraan lainnya campur aduk. Pasar yang merupakan aktivitas utama penduduk Gaza City juga terlihat padat dan tidak teratur. Kesan semrawut barangkali lebih tepat untuk menjelaskan suasana itu.
Jika kita memasuki Jalur Gaza dari Israel kita akan melewati daerah kosong antar dua pos pemeriksaan. Kita diharuskan berjalan melewati daerah tidak bertuan antar dua pos pemeriksaan. Saat berjalan membelakangi pos tentara Israel terpikir apakah bisa kembali lagi masuk Jerusalem. Di tengah terik pun kita harus berjalan tidak peduli siapa dia.
Barulah saat masuk ke pos perbatasan suasana lebih terasa dekat meski pemeriksaan tetap ketat.
Jalur Gaza ini mendapat gempuran dari Israel. Daerah miskin dan sulit ini semakin menderita karena tekanan militer Israel sekarang ini. Jalur Gaza menjadi arena berbahaya bagi kalangan jurnalis sekaligus menarik untuk tugas liputan.
14 Friday Jul 2006
Posted in Tips Liputan
Ada kalanya kita harus mewawancarai anggota DPR atau para pejabat partai. Saat kita menghadapi kalangan politisi ini perlu persiapan khusus tidak hanya dari substansi pertanyaan yang diajukan tetapi juga mengantisipasi jawaban yang akan diberikan.
Karakteristik yang perlu diperhatikan dari politisi adalah jawaban dan pandangannya yang menekankan kepentingan partai atau kelompoknya. Hal ini logis karena partai politik sebagai sebuah lembaga modern di dunia politik memiliki kepentingan dengan media dan wartawan. Bagi kalangan jurnalis sendiri perlu ada kehati-hatian dalam menerima pendapat mereka secara bulat.
Politisi adalah pegiat politik yang aktif. Mereka sudah terbiasa dalam menghadapi perdebatan dan diskusi untuk memperjuangkan nilai partainya. Wartawan yang melakukan wawancara sebaiknya tetap tidak terjebak kedalam kerangka yang akan dijelaskan oleh seorang politisi. Daya kritis harus ditingkatkan secara maksimum sehingga tidak terseret dalam arus konflik politisi dengan pihak lain.
Pernyataan politisi seringkali menekankan kepada kebenaran pihaknya tanpa melihat situasi. Berpfikir obyektif bagi politisi bukanlah bahasa yang biasa digunakan. Berfikir menurut kepentingan lebih ditekankan terutama ketika berada dalam situasi konflik.
Oleh sebab itu filter harus dipasang sekuatnya agar jurnalis tidak hanya menjadi “juru bicara” politisi tetapi menjadi jembatan untuk memahami sebuah permasalahan. Jika terpaksa harus wawancara langsung, maka perlu keahlian khusus untuk mengendalikan pembicaraan sebelum akhirnya dikendalikan sehingga tidak mendapatkan apa yang dicari.
Politisi adalah mereka yang sadar akan media. Jadi semakin sering terekspos media semakin besar kesempatan pesannya sampai kepada konstituen atau calon pemilihnya. Disinilah peran media sebagai jembatan harus ada tidak hanya menjadi “corong” seorang politisi atau partai.