Coba kita menengok ke belakang, sudah berapa jauh perjalanan kita? Sudah berapa banyak perbekalan yang dihabiskan dan tinggal berapa bekal kita? Cukupkah bekal itu untuk sampai tujuan dari perjalanan ini?Perjalanan hidup kita kadang melalui jurang dan ngarai. Tidak jarang harus mendaki berpeluh keringat di tengah panas terik. Atau ketika hujan deras dan salju menerpa kita yang mengharuskan perjalanan itu diteruskan.Ada kalanya kita memang melakukan perjalanan dengan tenang dan gembira. Tertawa dan tersenyum menyertai kita dalam perjalanan kehidupan ini.Perjalanan ini memang disertai dengan tawa dan tangis. Seharusnya memang kita menyadari itu. Tidak selamanya jalan yang kita tempuh bertaburan bintang dan pujian. Bahkan kadangkal celaan dan kecaman yang ada di hadapan kita.Oleh karena itulah kita semestinya memiliki prinsip dasar dalam mengarungi jalan kehidupan. Prinsip hidup inilah yang digali dari nilai ruhani yang kita miliki. Niscara perjalana itu akan tambah berarti karena kita memiliki tujuan yang indah dan penuh dengan harapan. Sasaran kehidupan itulah yang membuat perjalanan meski dihadang kesulitan menjadi sedemikian indah dan bermakna.Akhir perjalanan pasti akan ditemui setiap orang. Harapan dan keindahan dalam akhir perjalanan inilah yang menjadi dambaan semua orang.
Perjalanan
15 Tuesday Jul 2008
Posted in Archive
Tadi di kantor baru menghadiri pertemuan sejumlah editor dengan bos BBC World Service. Dari pertemuan yang teringat adalah perubahan selalu terjadi. Tidak ada yang bisa terjadi selain perubahan. Persaingan antar media, perubahan kebiasaan pendengar, berkembangnya teknologi komunikasi, semuanya menuntut perubahan.Banyak hal bisa dicatat dari pertemuan itu.Pertama, perubahan senantiasa terjadi, dikehendaki atau tidak. Kita biasanya sudah terbiasa dengan zona nyaman sekarang ini. Kalau sudah demikian, maka kita biasanya takut akan perubahan. Perubahan akan mengancam kue kenyamanan kita. Inilah pangkal dari kemunduran dan kekalahan, biasanya. Diterima atau tidak perubahan akan selalu terjadi. Bahkan usia kita berubah, detika bergerak dan satu atau dua menit lalu berbeda dengan saat ini. Mental kita harus dipersiapkan dengan prinsip bahwa perubahan akan senantiasa mengikuti kita dan kita harus siap dengan perubahan.Kedua, antisipasi perubahan dengan melihat berbagai kemungkinan. Kadang-kadang ketika berubah ada ketidaknyamanan. Kebiasaan mungkin berubah. Jatah makanan mengecil. Pekerjaan menjadi lebih sulit. Situasi tidak enak. Semuanya mungkin dilihat dari kacamata negatif. Maka kita seharusnya melihat berbagai kemungkinan dengan tangan terbuka.Ketiga. senangi perubahan. Jika kita tidak menyukai perubahan dan pergeseran maka akan ada sikap resisten dari kita untuk menolak perubahan. Jadikanlah perubahan itu sebuah peluang, sebuah harapan, bukan kemalangan atau kesulitan.Keempat, meski memang perubahan sebuah keniscayaan tetapi ada juga beberapa prinsip dalam kehidupan yang tidak berubah. Akui bahwa ada satu hukum yang ajeg yang juga sama kuatnya dengan perubahan. Matahari selalu terbit dari timur untuk sebagian besar wilayah di muka bumi. Ini salah satu contoh.Sebenarnya masih banyak catatan yang bisa ditambah mengenai renungan dari sebuah pertemuan itu. Namun sudah empat poin dulu untuk mengingatkan kita bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Nama Peter Drucker sudah tak asing lagi di dunia manajemen. Wawasannya tidak hanya menguraikan masalah manajemen, Drucker juga mengulas berbagai persoalan dalam masalah sosial dan kepemimpinan.Pembahasannya yang luas dan membedahnya dengan tajam membuat tulisan Drucker mempesona.Saya teringat ketika masih di kampus rajin membaca buku karya Drucker meski bukan jurusan manajemen.Baru-baru ini saya menemukan buku gratis menyarikan karya Drucker untuk kebutuhan sehari-hari.Anda bisa baca sendiri di halaman web