• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • RoomHLNKI
  • Academic Profile

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Author Archives: Setiawan

The Global Media Giants

10 Monday May 2010

Posted by Setiawan in Archive, Journalism

≈ Leave a comment

By Robert McChesney

A specter now haunts the world: a global commercial media system dominated by a small number of superpowerful, mostly U.S.-based transnational media corporations. It is a system that works to advance the cause of the global market and promote commercial values, while denigrating journalism and culture not conducive to the immediate bottom line or long-run corporate interests. It is a disaster for anything but the most superficial notion of democracy–a democracy where, to paraphrase John Jay’s maxim, those who own the world ought to govern it.

The global commercial system is a very recent development. Until the 1980s, media systems were generally national in scope. While there have been imports of books, films, music and TV shows for decades, the basic broadcasting systems and newspaper industries were domestically owned and regulated. Beginning in the 1980s, pressure from the IMF, World Bank and U.S. government to deregulate and privatize media and communication systems coincided with new satellite and digital technologies, resulting in the rise of transnational media giants.

How quickly has the global media system emerged? The two largest media firms in the world, Time Warner and Disney, generated around 15 percent of their income outside of the United States in 1990. By 1997, that figure was in the 30 percent-35 percent range. Both firms expect to do a majority of their business abroad at some point in the next decade.

Read more here

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Kisah: Gantung diri karena gagal UN

07 Friday May 2010

Posted by Setiawan in Archive, Blog

≈ 1 Comment

Tags

UN SMP

Sebuah kisah sedih mengiringi berita pengumuman kelulusan Ujian Nasional SMP. Antara menurunkan berita sbb:

Diduga stres karena tidak lulus Ujian Nasional (UN), Adek (14), siswa kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), warga Kelurahan Bumi Ayu, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, Provinsi Riau, nekad gantung diri.Desi (43), ibu dari siswa malang itu saat ditemui ANTARA, Jumat, mengatakan, kondisi anaknya terlihat lemas terbelit seutas tali yang tergantung di dekat pintu kamar pada Jumat pagi, sekitar pukul 09.00 WIB. Kondisi Adek seperti yang dijelaskan Desi sudah pucat dengan mata tertutup dan lidah yang menjulur. Beruntung pada saat diturunkan, Adek masih dalam kondisi bernafas sehingga dapat selamat dari tindakan percobaan bunuh diri yang dilakukannya.

Kisah sedih di tengah kegembiraan dan nafas lega anak-anak dan orang tua mereka setelah dinyatakan lulus. Sebenarnya dia bukan lah satu-satunya yang tertunda kelulusannya. Sekitar 350 ribu orang dari 3,6 juta siswa perlu bekerja keras kedua kalinya untuk menembus kelulusan.Bahkan seperti dimuat di Kompas terdapat 561 sekolah lulus nol persen !Sebuah fenomena yang menyesakkan. Harapan saya semoga para orang tua dan guru tidak disalahkan karena tertundanya kelulusan ini. Cukuplah dihadapi dengan tenang dan sabar, siapa tahu dari anak-anak yang tidak lulus langsung ini akan terdapat tokoh-tokoh yang penting di masa depan.Pesannya adalah tetaplah bersemangat. Jangan putus atas. Kegagalan adalah sukse yang tertunda, kata pepatah. Dengan mengulang malah akan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam mendalami subjek ilmunya.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Book: Eleven Minutes by Paulo Coelho

07 Friday May 2010

Posted by Setiawan in Archive, Books

≈ Leave a comment

Tags

Alchemist, Eleven Minutes, Paulo Coelho, São Paulo

paulocoelhoKali ini penulis kaliber dunia Paulo Coelho menyentuh kisah tabu dalam kehidupan manusia. Dunia prostitusi dengan setting Eropa. Sentuhan mengenai kisah Maria yang terbawa penipuan ke Swiss, negeri jam menjadikan jiwanya tegar.Maria yang bercita-cita tinggi dan patah hati dalam cinta pertama terbujuk penipu yang pura-pura menawarkan kerja di Swiss.Patah hati lalu berusaha mencari cinta di tempat jauh. Namun terperosok kedalam prostitusi. Yang menarik, Paulo Coelho merangkaikannya dengan perjuangan Maria menghadapi pelanggan dengan menambah ilmu ke perpustakaan.Akhirnya malah dia bisa lebih luas pengetahuannya untuk membantu memecahkan masalah pelanggannya yang kemudian rata-rata eksekutif. Sampai akhirnya dia bertemu dengan pelukis terkenal yang dicuekinnya namun ternyata diam-diam dia mencintainya.Yang menarik dari novel ini adalah catatan harian Maria yang mengungkapkan keresahan jiwa dan pertanyaan-pertanyaan mengenai cinta dan kehidupan.Freedom only exists when love is present.Ungkapan ini menggambarkan bagaimana antara cinta dan kebebasan itu saling terkait. Bahkan Maria juga menulis “the person who loves wholeheartedly feels free”.Pengalaman cinta Maria yang ditulis Paulo Coelho kembali menyentuh aspek spiritual yang indah, barangkali bisa dipahami kalangan sufi.Simak: The true experience of freedom : having the most important thing in the world without owning it. Sungguh jalinan kata yang dahsyat nilainya. Saya teringat bagaimana pengalaman mistik kalangan sufistik yang menyatakan dunia ini tidak memasuki hatinya tetapi digenggam. Dunia jangan sampai menenggelamkan dirinya tetapi dia tetapi hidup dalam dunia yang modern.Paulo pandai memilih ungkapan yang mendalam melalui buku harian Maria ini. Pergulatan batin mengenai cinta dan dinamika kehidupan seperti dalam novel akbarnya The Alchemist juga muncul di sini.Mengenai dunia dan segala suka dukanya, Maria menulis : I can choose either to be victim of the world or an adventurer in search of treasure. Its all a question of how I viewing life.Novel Eleven Minutes (yang kata Paulo ini berasal dari pengalaman prostitusi bahwa dari berjam-jam pekerjaannya hanya 11 menit itu saja “pekerjaan” sesungguhnya) menghadirkan pandangan-pandangan filosofis sehabis Maria bergulat dengan manusia.Sampai akhir buku, Paulo senantiasa menghadirkan kejutan. Bahkan dalam halaman khusus yang digambarkan sebagai buku harian Maria, ada adegan-adegan erotis.Namun kembali Paulo tidak kehilangan esensi perbincangan jati diri seorang Maria, sampai suatu saat sang Maria ini menulis : When I had nothing to lose, I had everything. Ungkapan mengenai betapa luasnya pandangan Coelho, tentu untuk seorang Maria yang berpendidikan rendah dan terlibat dalam prostitusi terlalu tinggi dan sakral.

Reblog this post [with Zemanta]

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
 

Loading Comments...
 

    %d