• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Author Archives: Setiawan

Sekolah jurnalistik di Internet mulai Januari 2007

03 Wednesday Jan 2007

Posted by Setiawan in Archive, Peluang Kerja

≈ 18 Comments

Sebuah program oleh Matranet, Brainmatics, Pena Indonesia dengan dukungan Unesco menyelenggarakan Sekolah Jurnalistik Lewat Ruang Maya. Inilah kesempatan bagi Anda yang akan terjun ke dunia media baik cetak maupun elektronik. Anda yang memiliki cita-cita menjadi presenter di televisi bisa mendapatkan banyak manfaat mengikuti sebuah kursus ini.

Proses belajar akan dimulai bulan Januari 2007. Untuk menjadi siswa, silahkan daftar melalui <http://wartawan. org/registration .php>.
Pendaftaran ditutup tanggal 15 Januari 2007. Persyaratan bagi calon siswa adalah :

* Bersedia mengikuti program ini hingga selesai
* Terbiasa menggunakan internet
* Bersedia mengakses internet setidaknya sehari satu jam
* Mampu membaca bahan-bahan berbahasa Inggris
* Memiliki kamera digital
* Tinggal di luar Jakarta

Segera daftarkan diri Anda ! Ingat batas waktu pendaftaran 15 Januari 2007.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Mantapkan resolusi 2007 di jurnalistik

01 Monday Jan 2007

Posted by Setiawan in Archive

≈ 2 Comments

Saat yang tepat di awal tahun 2007 ini untuk memantapkan resolusi dan janji meningkatkan kualitas di bidang jurnalistik.

Resolusi adalah hal penting untuk memandu kemana pengembangan kemampuan di bidang jurnalistik dan apakah masih ada yang bisa disempurnakan. Lalu dari resolusi inilah semangat baru timbul, daya juang muncul dan tidak ada rasa takut gagal. Apapun yang diinginkan bisa dicapai asal bisa diusahakan. Ingat saja bahwa semua jurnalis hebat di dunia ini berawal dari tidak apa-apa. Yang membedakan kita denga nmereka adalah semangat juang tanpa henti untuk memantapkan kualifikasi di bidang jurnalistik.

Imbalannya tentu tidak hanya sekedar gaji yang naik melesat tetapi juga kepuasan dalam pengabdian profesi sebagai jurnalis. Dunia media ini sangat membutuhkan mereka yang tinggi kualifikasinya, yang kreatif dan yang tetap memacu prestasi sampai tidak terbatas.

Apa yang dapat diusahakan dengan memantapkan resolusi di bidang jurnalistik ini ? Beberapa tips bisa disampaikan disini.

Pertama, sudah sampai mana karya Anda di bidang jurnalistik. Apakah tingkatnya lokal, nasional, regional atau internasional ? Buatlah target dan resolusi untuk meningkatkan kapabilitas Anda dari wartawan tingkat lokal menjadi wartawan daerah kemudian menjadi wartawan nasional. Tirulah kualifikasi seorang wartawan nasional di media besar. Kualifikasi inilah yang akan memandu Anda untuk selalu melihat naik dalam pengembangan diri di bidang jurnalistik. Kualifikasi disini juga termasuk integritas sebagai seorang profesional yang memiliki kemampuan diri sekaligus kepribadian yang handal.

Kedua, resolusi tahun 2007 juga mengacu kepada kualifikasi Anda sekarang di bidang jurnalistik. Jika Anda sudah ada di dalam media dengan status sebagai koresponden lepas, tingkatkan menjadi koresponden tetap. Jika sudah koresponden tetap tingkatkan menjadi karyawan tetap. Caranya: capai ketentuan yang mengharuskan Anda mendapatkan tingkatan lebih dari sekarang. Mustahil ? Itu hanya ada dalam pikiran orang yang pesimis. Anda mampu mencapai itu dengan memberikan prestasi tinggi. Setiap peristiwa adalah kesempatan. Peristiwa bencana alam, kecelakaan, pelantikan pejabat, seminar, tabrakan di jalan bahkan prestasi dan tragedi seseorang adalah kesempatan untuk meyakinkan diri Anda bahwa Anda mampu meliput dengan cara terbaik dan karya terbaik.

Ketiga, susunlah waktu kerja dan pengembangan diri dengan serasi. Meskipun pekerjaan Anda padat, liputan setiap hari dan tidak ada henti tugas membuat laporan, sudah waktutnya membuat resolusi untuk meningkatkan skill Anda. Bahasa Inggris lemah misalnya, mengapa tidak mengikuti kursus seminggu sekali ? Dalam setahun ada 52 minggu. Yakin dengan 52 minggu atau setidaknya 40 minggu banyak hal bisa dicapai dalam penguasaan bahasa Inggris setidaknya dalam listening. Demikian juga kursus manajemen waktu, kursus penulisan kreatif. Semua bisa dilakukan dalam waktu 365 hari ke depan. Tentukan resolusi ini sekarang.

Keempat, mengapa Anda tidak berfikir untuk mengikuti pendidikan lanjutan? Apakah Anda merasa cukup dengan S-1 saja ? Fikirkan masa depan penguasaan materi karena masyarakat semakin terdidik, kalangan intelektual semakin luas. Dengan kemampuan Anda berfikir seperti lima tahun lalu, sudah saatnya Anda memikirkan pendidikan khusus di luar jam kerja. Tinggal setahun di kelas akan merupakan lompatan lima tahun ke depan. Tetapkan resolusi untuk menggali kembali keilmuan yang semakin cepat berkembang. Daya analisis Anda juga bisa meluas serta daya kritis dan sense of knowledge akan mendalam.

Kelima, resolusi bukanlah omong kosong. Disiplinkan diri Anda dan kaji kembali setiap bulan resolusi Anda. Apakah perlu modifikasi ? Apakah perlu perubahan ? Apakah bisa ditambah ? Semua terserah Anda. Disiplinkan dan tuliskan resolusi Anda dalam annual planning, dalam rencana tahunan. Beliha diary sekarang juga, tetapkan resolusi Anda. Tuliskan segera dan kaji terus sampai merupakan sebuah perencanaan matang. Rencana adalah setengah dari pekerjaan.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Pengalaman di Kuwait pasca Perang Teluk 1991

25 Monday Dec 2006

Posted by Setiawan in Teknik Penulisan

≈ 3 Comments

Tulisan saya bersama wartawan senior Kompas M. Sjafe’i Hassanbasari di Kuwait merupakan salah satu karya jurnalistik ke daerah pasca perang. Barangkali menarik mengenai cara pelaporannya.

LIMA HARI SETELAH KUWAIT DIBEBASKAN

*Lima jam di Kuwait City (1)

 

Pengantar Redaksi

Wartawan Kompas M. Sjafe’i Hassanbasari dan Asep Setiawan tanggal 4 Maret 1991 bersempatan melihat-lihat Kuwait City, ibu kota Kuwait, setelah dibebaskan pasukan multinasional. Kesan-kesannya akan diturunkan lewat tulisan berikut.

TEPAT dua jam setelah terbang dari Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pesawat militer Hercules C-130 milik Royal Saudi Air Force mendarat mulus di bandara udara Kuwait City Senin pagi (4/3). Jam menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat. Tanpa diduga, sepasang penumpang yang juga terbang bersama kami ternyata Paul Findley dan istri, pengarang buku They Dare to Speak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Mereka Berani Bicara. Buku ini mengungkapkan seluk-beluk lobi Yahudi yang banyak mempengaruhi kebijakan AS mengenai masalah Timur Tengah, sehingga ia tidak disukai oleh Pemerintah Israel dan kaum Yahudi di AS karena kecamannya itu. Mantan anggota Kongres AS dari Illinois sekitar 20 tahun dan juga kolumnis ini juga ingin melihat dari dekat suasana di Kuwait setelah dibebaskan dari pendudukan Irak.

 

Begitu keluar dari pesawat terasa perpaduan antara sengatan matahari dan tiupan angin dingin yang menusuk kulit. Aroma perang masih keras tercium. Di bandara yang kini hanya berfungsi sebagai pangkalan militer terpancar suasana mencekam, tapi keadaannya tidak seperti yang dibayangkan semula. Ternyata keadaan bandara relatif masih utuh. Kerusakan berat hanya menimpa menara pengatur lalu lintas udara dan bangunan ruang tunggu penumpang yang berantakan, sedangkan landasan pacu berkondisi baik. Pada suatu sudut ada bangkai dua pesawat komersial. Sebuah pesawat B-747 milik British Airways hanya tinggal bagian ekor bergambar logo maskapai penerbangan ini, dan di sampingnya ada reruntuhan pesawat DC-9 milik Kuwait Airways yang hanya berupa gundukan logam.

Selama penerbangan dengan pesawat pengangkut militer yang dimodifikasi seperti pesawat komersial, sejauh-jauh mata memandang nun di bawah sana hanya padang pasir gersang berwarna coklat muda. Loreng warna coklat muda itu pula yang menjadi pakaian tempur pasukan multinasional. Sandi yang digunakan pun dikaitkan dengan padang pasir, yaitu “Desert Shield (Perisai Padang Pasir)” semasa Krisis Teluk, kemudian diubah menjadi “Desert Storm” (Badai Padang Pasir) setelah krisis meningkat menjadi perang.

Begitu mendekati wilayah Kuwait, udara di luar seperti berkabut. Asap hitam dari sumur minyak yang terbakar membubung tinggi ke udara membentuk payung raksasa. Kobaran api ratusan sumur minyak terbakar itu tampak jelas dari jendela pesawat. Sulit membayangkan bagaimana mematikan api yang berkobar-kobar, walaupun dari udara tampak seperti lilin-lilin kecil. Sumber daya alam yang menjadi salah satu faktor penyebab perang itu terbuang percuma. Emas hitam yang seharusnya dimanfaatkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia dirusak, sehingga meracuni lingkungan hidup.

Jika dari ladang minyak yang kecil saja sudah begitu banyak asap yang mengakibatkan udara seperti mendung, tidak dapat dibayangkan keadaan udara di sekitar ladang-ladang utama minyak Kuwait. Pernah disiarkan foto yang menggambarkan udara di seberang kota perbatasan Khafji pada siang hari. Matahari tertutup oleh asap hitam yang tebal. Kota kecil Arab Saudi dekat perbatasan Kuwait ini sempat dikuasai beberapa hari oleh tentara Irak sehingga memberikan dampak psikologis yang mencuatkan tentang suatu ketangguhan.

    ***

SEBELUM berangkat ke Kuwait dari Riyadh Conference Palace tempat kami menginap, pejabat Kementerian Penerangan Arab Saudi dan Protokol Kerajaan yang mengatur perjalanan menyarankan kepada para wartawan untuk membawa bekal seperti air, roti, dan buah-buahan.

 

“Di Kuwait tidak ada makanan. Tentara Irak telah mencuri semua yang ada di Kuwait. Mereka telah mengangkutnya ke negaranya,” seloroh Nabil Murad, staf Kementerian Penerangan yang mengantar rombongan.

 

Rombongan wartawan Indonesia berjumlah enam orang, yakni dua dari Kompas, dan masing-masing satu orang dari Pelita, Berita Buana, Harian Terbit, dan Media Dakwah. Dari Malaysia empat orang wartawan terdiri dari tiga personel RTM dan seorang dari kantor berita Bernama.

 

Di bandara Kuwait City yang lengang, bahaya masih mengintip. Kami diingatkan tetap berhati-hati karena masih banyak ranjau. Tentara multinasional dari kontingen Amerika dan Inggris tampak siaga walaupun terkesan lebih santai. Tidak ada seorang sipil pun berada di lokasi vital ini. Semuanya serba militer. Di dekat sebuah truk militer yang diduga merupakan kendaraan komunikasi, seorang tentara AS kulit hitam sedang mencuci pakaian. Kelelahan masih terbayang di wajahnya, tapi ia membalas sapaan dengan ekspresi ceria sambil mengacungkan jari membentuk huruf “V” (Victory).

Puluhan helikopter tempur Apache dan jenis lainnya serta pesawat transpor Hercules berjejer. Sementara itu beberapa helikopter mengadakan patroli dari udara, dan di seberang lain sebuah jip militer AS yang dilengkapi senjata mesin mengadakan patroli mengitari bandara. Suasananya betul-betul masih mencekam.

 

Sebuah hanggar besar miliki Kuwait Airways bagian atas dan bagian sampingnya hancur, mungkin bekas bom yang dijatuhkan dari pesawat multinasional. Pecahan kaca dan peralatan kantor berserakan. Dari kenyataan yang ada, tampaknya serangan udara kekuatan multinasional untuk merebut bandara cukup akurat. Kerusakan diupayakan seminimal mungkin, terbukti dari tetap mulusnya landasan pacu di bandara. Di tempat parkir mobil di luar bandara, pemandangan yang pertama terlihat adalah belasan mobil sedan yang dihancurkan tentara Irak pada serangan tanggal 2 Agustus 1990.

Di jalan aspal berserakan kelongsongan peluru maupun peluru-peluru yang belum terpakai. Pada suatu sudut taman ada sebuah lubang perlindungan bekas tentara Irak mengawasi jalan masuk ke bandara
udara.

    ***

DALAM situasi lepas perang, memang kita harus sudah mengantisipasi segala kemungkinan termasuk peluang untuk bisa melihat dari dekat Kuwait City. Karena itu wajar kalau semula ada rasa pesimis mendapatkan kendaraan yang bisa mengangkut kami ke kota. Alhamdullilah, setelah sekitar satu jam menunggu akhirnya Nabil berhasil mendapatkan mobil pick-up bak terbuka dengan persediaan lima jerigen bensin. Seorang pengawal bersenjata M-16, Kapten Angkatan Udara Kuwait bernama Al Adwani mengantar rombongan wartawan dari dua negara serumpun berkeliling ke seluruh penjuru Kuwait City. Ketika Irak menyerbu Kuwait 2 Agustus 1990, penerbang helikopter antitank ini sempat menyelamatkan sebuah pesawat helikopter ke wilayah Arab Saudi. Ia kemudian mendapat gemblengan baru ilmu perang sehingga rasa percaya diri tetap terpelihara. Tapi ia sama sekali tidak berkomentar mengapa banyak satuan militer Kuwait yang melarikan diri.

 

Memasuki ibu kota Kuwait, suasana mencekam semakin terasa. Kota modern yang sebelumnya terkenal bersih ini tidak terawat, namun keadaannya dapat dikatakan masih utuh walaupun di sana-sini tampak gedung-gedung yang hancur atau bekas terbakar. Toko-toko tutup dan kehidupan kota masih sangat terbatas. Ada sebuah restoran yang buka tapi tidak jelas apakah sudah berfungsi karena tidak tampak ada pengunjung. Bangkai mobil-mobil mewah di kiri-kanan jalan menjadi saksi mati kisah yang menyedihkan. Di pelataran sebuah toko mobil yang gedungnya hangus terbakar, tampak belasan mobil yang hancur. Sebagian besar dari mobil yang bergelimpangan itu bannya atau bagian penting lainnya telah dipreteli. Tidak begitu jelas apakah mobil yang ringsek itu akibat serangan udara atau sengaja dirusak.

 

Di sebuah jalan simpang, Al Adwani menunjukan sebuah mobil yang jatuh dari atas jalan layang. “Itu perbuatan tentara Irak,” katanya, sambil menunjuk tempat yang pernah menjadi check point tentara Irak.

 

Kini, di tiap persimpangan ada pos pemeriksaan oleh anggota pasukan multinasional atau tentara Kuwait dibantu para sukarelawan bersenjata. Para sukarelawan ini terdiri dari anggota perlawanan

 

Kuwait semasa pendudukan Irak. Mereka umumnya mahasiswa dan pemuda. Di salah satu bagian kota ada sekelompok orang yang duduk di tanah dijaga petugas karena identitas mereka diragukan. Tindakan pembersihan terhadap anasir pro-Irak memang tengah dilancarkan. Seperti diungkapkan Adwani, warga Palestina yang pro-Irak dan mereka yang bekerja sama dengan tentara pendudukan, kini diuber.

 

Bendera Kuwait muncul kembali di mana-mana. Bahkan di depan sebuah rumah tergantung bendera Kuwait dalam ukuran sangat besar. Di rumah lainnya terpampang foto Emir Kuwait Sheikh Jaber al-Ahmad al-Sabah dan Putra Mahkota Sheikh Saad Abdullah al Sabah. Putra Mahkota ini bersama sejumlah pemimpin lainnya tiba kembali di tanah airnya dari pengasingan di Arab Saudi, setelah kami kembali ke Riyadh.

Berkat pengawalan Kapten Al Adwani, rombongan kami bebas dari pemeriksaan dan petugas pemeriksa mengucapkan salam atau mengacungkan tangan membentuk huruf “V” (kemenangan). Salam kemenangan ini juga dilontarkan oleh penumpang mobil pribadi yang sudah mulai banyak berlalu-lalang. Mereka hanya putar-putar keliling kota untuk melampiaskan kegembiraan. Di setiap pompa bensin terdapat antrean panjang mobil pribadi warga Kuwait City.

 

Al Adwani menunjukan sebuah tugu yang sebelumnya ditempeli foto Presiden Irak Saddam Hussein. “Dulu ada foto Saddam, tetapi dicopot oleh tentara perlawanan Kuwait,” ujar Adwani. Di sebuah ladang pertanian modern, persis di pintu sebelah kiri masih terpampang dua gambar Saddam yang sudah robek sebagian. Uniknya, menjelang pintu masuk terdapat gambar Sheikh Jaber al-Ahmad al-Sabah.

 

Mobil kami berpapasan dengan truk yang ditumpangi sejumlah pekerja asal Mesir. Mereka membawa gambar Presiden Mesir Hosni Mubarak dan bendera Kuwait. Di sebuah jalan ada dua pria berjalan kaki; yang seorang membawa gambar Mubarak sedangkan yang lainnya membawa bendera Kuwait. Ini merupakan ungkapan persahabatan dari warga Mesir yang bekerja di Kuwait, atau juga kebanggaan atas peran Mesir dalam pembebasan Kuwait. *** (bersambung)

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d