Seperti dijelaskan dalam posting terdahulu ada beberapa alasan secara pribadi yang dipandang karir di dunia jurnalistik menjanjikan masa depan seperti karir di profesi lainnya.

2. Alasan untuk terjun ke dunia jurnalistik adalah keinginan untuk keliling Indonesia dan kalau perlu dunia setidaknya di Asia Tenggara. Keinginan berkunjung ke negara lain merupakan salah satu pendorong untuk masuk ke media. Kita tahu bahwa sejumlah jurnalis yang handal dikirim medianya ke luar negeri untuk mengikuti berbagai peristiwa. Berkunjung ke berbagai kota di Indonesi apalagi berkunjung ke negara lain merupakan cita-cita yang besar. Sebagian orang mungkin berkunjung ke negara lain atas biaya sendiri, namun biasanya karena tugas liputan ke luar negeri seorang jurnalis jalan-jalan dengan gratis.

Seorang yang berjalan-jalan di Indonesia tentu wawasannya akan lebih luas dibandingkan mereka yang tinggal di satu kota. Jalan-jalan di muka akan membuat kita lebih bijaksana dalam mengkaji sesuatu dan pada saat yang sama mendapatkan informasi dan pengetahuan luas mengenai adat istiadat berbagai suku bangsa di satu negara. Di sisi lain, tugas liputan antar kota juga memberikan perspektif mengenai pembaca atau audiens.

Dapat dibayangkan kalau terjun ke dunia jurnalistik maka kesempatan keliling dunia pun terbuka. Saya dapat mengetahui berbagai adat istiadat di berbagai negara, saya dapat belajar bahasa asing dan juga berkenalan dengan berbagai kalangan di luar negeri. Ini kesempatan yang tidak akan banyak didapat dari jenis karir lainnya. Intensitas untuk kunjungan ke luar negeri pun akan tinggi sejalan dengan semakin baiknya kualitas liputan.

Setelah berkarir cukup lama baik Kompas maupun di BBC, maka jelas semua bayangan ketika akan masuk ke dunia jurnalistik ini sebagian sudah terwujud. Berbagai negara telah dikunjungi dan berbagai kota juga pernah disinggahi. Pengenalan terhadap berbagai bangsa bisa memberikan perspektif baru mengenai apa yang disebut Indonesia di mata internasional. Begitu kita keluar Indonesia kita segera dapat membandingkan seberapa majunya Indonesia dibandingkan negara tetangganya. Kita juga bisa sedikit tahu mengapa mata uang rupiah tidak laku di dunia, mengapa Indonesia tertinggal dibandingkan tetangganya dan bagaimana pula kira-kira kelemahan Indonesia yang harus diobati setidaknya melalui laporan jurnalistik.

3. Alasan ketiga masuk kedalam media antara lain keinginan bertemu dengan berbagai kalangan dalam masyarakat. Seorang wartawan akan bertemu dengan strata sosial paling rendah seperti pemulung atau pengemis dan di titik ekstrim lain akan bertemu dengan raja-raja, presiden atau perdana menteri. Sebuah anugrah bisa bertemu dengan seorang pengamen, pedagang asongan atau pemulung namun bisa menyampaika aspirasi mereka kedalam media. Saat yang sama kita bisa bertemu kalangan terkemuka di dalam masyarakat seperti pejabat tinggi, intelektual dan kalangan profesional lainnya untuk menjadi medium menyampaikan gagasan mereka.

Pertemuan dengan berbagai kalangan akan membuka wawasan lebih luas. Saya teringkat kemudian ketika mendapatkan kesempatan wawancara dengan sejumlah pakar di Indonesia mulai dari Juwono Sudarsono, Lie Tek Tjeng, Alfian, Nurcholis Majid, Frans Magnis Susoeno, Arbi Sanit, Ali Alatas sampai dengan Hasan Wirajuda dalam berbagai kesempatan. Saya merasakan terjadi lompatan besar dalam informasi dan pengetahuan yang diberikan oleh  kalangan intelektual ini. Lompatan keilmuan ini sangatlah berharga dalam penulisan di belakang hari.

Dalam liputan juga bisa mendengarkan bagaimana Raja Norodom Sihanouk berbicara, bagaiman Sheikh Zayed dari Emirat Arab dan bagaimana pula Menteri Luar Negeri Amerika James Baker bahkan bagaimana bisa mendengarkan langsung Presiden Uni Soviet waktu itu Mikhail Gorbachev dalam liputan di Madrid, Spanyol. Atau ketika wawancara Mantan Deputi PM Malaysia Anwar Ibrahim serta pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi memberikan perspektif baru tentang kehidupan mereka.

Pertemuan dengan tokoh Indonesia dan Dunia memberikan kesempatan untuk bertukar pandangan dan  menyerap karakter mereka yang kuat. Inilah salah satu motivasi mengapa bergerak di dunia jurnalistik akan memperkaya wawasan dan sekaligus berkesempatan duduk bersama dengan penguasa dunia dan juga dengan anggota masyarakat  biasa. (to be continued)