• Home
  • About
  • International Relations
    • Journal Articles
    • Books
  • Journalism
    • Karya Jurnalistik
  • Commentary
  • Lecture
    • Politik Luar Negeri Indonesia
    • Pengantar Hubungan Internasional
    • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Academic Profile
  • RoomHLNKI

Jurnal Asep Setiawan

Jurnal Asep Setiawan

Monthly Archives: June 2006

Liputan Pemilu Inggris 1997

28 Wednesday Jun 2006

Posted by Setiawan in Teknik Penulisan

≈ Leave a comment

Saat masih di Kompas saya pernah mendapat tugas meliput pemilihan di Inggris. Saat itulah untuk pertama kalinya Tony Blair menjadi perdana menteri seperti sudah diperkirakan sebelumnya.

Kajian mengenai gerak gerik Tony Blair inilah yang menarik dunia dengan jargon New Labour Party.

Liputan seperti ini tentu tidak memiliki akses langsung kepada tokoh-tokoh partai namun lebih sebagai observasi di lapangan berdasarkan tinjauan ke markas partai, media massa dan reaksi masyarakat Inggris yang terekam di berbagai sumber berita.

Berikut ini contoh penulisan liputan pemilu dimana penulis tidak langsung mengamati jalannya kampanye:

                 

 Ketua Partai Buruh Tony Blair:

INGGRIS HARUS BERUBAH 

London, Kompas

Partai Konservatif pimpinan John Major menekankan pada “statusquo” untuk memenangkan pemilihan umum 1 Mei nanti. Sedangkan saingan utamanya Partai Buruh pimpinan Tony Blair mengajak masyarakat untuk berubah agar Inggris lebih baik. 

Wartawan Kompas,
Asep Setiawan dan pembantu Kompas, L Sastra Wijaya melaporkan, poster-poster kampanye Partai Konservatif di London menyerang langsung Partai Buruh. Misalnya salah satu poster berbunyi, “Inggris sedang berkembang, jangan biarkan Buruh merusaknya”. 

Sementara Blair yang tampil dalam poster kampanye Partai Buruh mengajak masyarakat Inggris agar membangun negerinya lebih baik lagi. Poster Buruh ini seolah-olah tidak mempedulikan serangan Konservatif, tapi mengalihkan perhatian pada perbaikan Inggris. 

Sejumlah rumah juga terlihat memasang tanda bunga mawar di jendelanya sebagai dukungan terhadap Partai Buruh. Setelah 18 tahun berkuasa tampaknya Konservatif yang dilanda perpecahan akan berakhir kejayaannya. Berbagai laporan media dan komentar pengamat politik sudah mengarah pada tampilnya Blair dan kalahnya Major. Namun majalah Economist mengambil sikap hati-hati dengan menampilkan judul di mana Konservatif akan kalah tapi Buruh-pun tak berhak menang. 

Harian The Times dalam berita utamanya malah sudah meramalkan adanya pergulatan kekuasaan untuk menggantikan Major. Wakil PM Michael Heseltine dan Menteri Pertahanan Michael Portillo diramalkan akan bertarung memenangkan kedududkan kunci di Partai Konservatif. 

Suasana kampanye masih berlangsung ramai. Blair dengan semangat sekali mengajak para pendukungnya untuk memenangkan pemilu kali ini yang menurut jajak pendapat sudah dimenangkannya. Bahkan ia dengan menggunakan helikopter mewah terjun ke lapangan, menuju tempat-tempatpemilihan potensial. Tidak canggung-canggung ia berjabat tangan dengan para olahragawan sebagai sarana kampanyenya. Blair bisa membawa Buruh menjadi ancaman bagi Konservatif karena visinya yang segar bagi partai dan masyarakat. Kini ia menjadi sorotan masyarakat Inggris dan bahkan negara lainnya terutama Eropa. Ia dikenal sebagai salah satu pendukung integrasi Inggris ke dalam Uni Eropa. Sebaliknya Konservatif menghalang-halangi integrasi itu. 

Sampai Senin, kedudukan Buruh masih di atas angin. Sebaliknya Konservatif berusaha menyerang berbagai posisi Buruh untuk melemahkannya menjelang pemilu nanti. Namun usaha itu tampaknya sia-sia saja karena Buruh dengan segenap kekuatan ingin meraih kesempatan emas ini, berkuasa setelah 18 tahun menjadi oposisi. 

Suasana dan mood masyarakat pun tampaknya lebih cenderung untuk menerima kehadiran Buruh di pentas politik. Mungkin sudah jenuh dengan
gaya Konservtif apalagi di bawah Major yang kurang bergairah, atau memang Buruh yang lebih menarik tawarannya masih sulit diduga. Hanya banyak pengamat sekarang memfokuskan pada isu-isu yang diajukan Buruh dan mulai menimbangnya. *

Sumber: KOMPAS, Selasa, 29-04-1997.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Tips liputan di Timur Tengah 1

27 Tuesday Jun 2006

Posted by Setiawan in Tips Liputan

≈ 3 Comments

Beberapa negara pernah saya kunjungi di Timur Tengah mulai Arab Saudi sampai dengan Mesir. Satu hal terpikirkan mengenai Timur Tengah adalah udaranya yang panas, gurun pasir dan orang-orang Arab.

Di Timur Tengah, selain bahasa Arab, bahasa pengantar sehari-hari bahasa Inggris. Banyak orang Arab apalagi yang terpelajar lancara berbahasa Inggris. Di negara-negara Teluk mereka sangat dipengaruhi oleh teknologi dari Barat mulai dari transportasi sampai peralatan medis dan komunikasi. Di Arab Saudi, peralatan medianya canggih meskipun content media nya mendapatkan pengawasan.

Khusus di Arab Saudi, kehadiran wartawan sangat diperhatikan. Nyamur pers, begitu istilah di Indonesia, akan diawasi dengan ketat apabila kedatangannya memang khusus urusan dengan media. Kecuali kedatangannya ada kaitan dengan umroh atau haji, maka pengawasan terhadap kalangan media jangan dianggap remeh.

Salah-salah Anda bisa masuk penjara gara-gara memotret sembarangan. Dilarang memotret tempat suci di Mekkah dan Medinah, dilarang memotret instalasi militer, kantor polisi, kantor pemerintahan dan tempat-tempat yang dianggap sensitif.

Saya pernah mengalami ketika kunjungan ke Mekkah bersama rombongan dan diantar oleh pejabat dari bagian penerangan, hampir dicengkram oleh polisi agama dan polisi reguler. Ceritanya setelah umrah kami masuk gedung penerima semacam hotel namun gatal untuk mengabadikan Masjidil Haram, maka ditariklah kamera ini dan hal yang sama dialami oleh kameraman Malaysia yang masih berada di rombongan. Karena kamera saya kecil, langsung dimasukkan saku tetapi kamera televisi Malaysia tertangkap basah. Maka terjadi rebutan dan omelan antara petugas penerangan yang berusaha menarik sang kameraman masuk ke hotel di samping Masjidil Haram dengan polisi agama yang meminta agar kamera diambil dan kasetnya biasanya dihancurkan.

Akhirnya dengan suara yang saling berdebat, petugas penerangan bisa membawa sang kameraman aman kembali ke hotel. Dia tidak marah, namun diingatkan lagi dilarang memotret Masjidil Haram.

Memotret perempuan di tengah keramaian pun walaupun maksudnya mengambil gambar gedung didekatnya bisa jadi urusan panjang.

Nasihat utama bagi kalangan media bila datang ke Saudi, jangan sampai ambil gambar ketahuan oleh aparat keamanan. Lihat kiri kanan, depan dan belakang baru memotret terutama di tempat sensitif. Tentu saja kalau hanya di depan hotel atau dipinggir pantai bisa saja dilakukan namun sekali lagi hindari askar atau polisi jika tidak mau urusan berpanjang lebar, kamera dibanting atau filmnya dicopot terus dibuang.

Mengambil foto saja sulit apalagi wawancara. Tidak bisa sembarangan orang di jalan diwawancara atau didekati. Apalagi berhadapan dengan kaum hawa, jangan coba-coba mendekat karena di Arab Saudi kaum hawa biasanya berjalan dengan pendampingnya.

Wawancara hanya bisa dilakukan setelah ada appointment dengan nara sumber. Apakah itu pejabat, pengusaha atau tokoh masyarakat biasanya harus ada indentitas jelas siapa kita.

Liputan ke Arab Saudi juga tidak sembarangan bisa dilakukan. Tanpa ijin jangan coba meliput di sana kecuali kalau kita ikut rombongan pejabat Indonesia dan berkesempatan melihat-lihat ke sekeliling serta melakukan observasi silahkan saja. Namun kalau sengaja membawa kamera, menulis dan mewawancara dengan tapa recorder, ketahuan oleh aparat bisa langsung diseret ke kantor polisi.

Masyarakat juga kadang-kadang merasa terganggu dengan kehadiran juru media ini. Namun sebagian masyarakat juga ada yang senang berfoto bersama kalau kita menunjukkan sikap bersahabat. Dan biasanya orang Indonesia memang sudah dikenal cukup bersahabat dengan masyarakat lokal.

Jangan khawatir kekurangan orang Indonesia di Arab Saudi. Hampir kemanapun, ke kota di luar Mekkah,Medinah, Jeddah dan Riyadh bisa ditemui warga Indonesia. Setidaknya mereka bekerja di hotel atau menjadi sopir kendaraan. Ini bisa menjadi nara sumber penting untuk penulisan laporan.

Jika datang ke Saudi kemudian membahas masalah tenaga kerja Indonesia mungkin tidak menjadi masalah. Namun jika kita bermaksud menulis mengenai kondisi monarki, keluarga kerajaan, demokratisasi dan kebebasan pers, berikan sedikit ekstra perhatian terhadap gaya penulisan dan fakta-fakta yang ditulis.

Di Indonesia pun Anda tidak luput darai pengamatan pihak Kedutaan Arab Saudi. Tentu kalau media Anda cukup besar dan liputannya menyeluruh maka ada kemungkinan bila terjadi penilaian negatif akan menjadi urusan dibelakang hari, artinya mungkin tidak diijinkan lagi berkunjung lagi.

Namun pada umumnya berhubungan dengan pejabat dan pengusaha Saudi, sama dengan nara sumber lainnya. Bisa gampang dan bisa juga susah.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...

Blog Pak Juwono

27 Tuesday Jun 2006

Posted by Setiawan in Archive

≈ Leave a comment

Berkenalan dengan Pak Juwono, begitu saja memanggilnya, sungguh beruntung. Sejak awal meniti karir di dunia wartawan Kompas, saya sudah berkenalan dengan beliau karena beberapa kali wawancara masalah internasional. Seminar, diskusi panel atau wawancara langsung baik di forum nasional maupun internasional berkali-kali saya ikuti.

Juwono Sudarsono

Ternyata saya mendapat informasi  Pak Juwono selain menjabat Menhan RI, juga ikuti menjadi blogger. Pandangan dan percikan pemikirannya sudah mulai memasuki alam maya. Klik saya:

http://www.juwonosudarsono.com/

Anda dapat juga memberi komentar baik dalam bahasa Inggris, Indonesia atau bahasa lainnya.

Satu pengalaman dengan Pak Juwono adalah beliau yang membuka mata saya untuk melanjutkan studi ke Birmingham, Inggris tahun 1993-1994. Bahkan ketika lamaran saya diterima, beliau bersedia memberikan surat referensi yang memang sangat dibutuhkan untuk akses ke dunia akademik di luar negeri.

Meski sibuk mungkin percikan pemikiran itu perlu direkam terus dan didiskusikan apalagi Pak Juwono memiliki akses ke suprastruktur sebagai decision maker.

Saya belum tahu apakah ada pejabat lainnya juga memiliki blog yang sama meski beberapa tokoh seperti Gus Dur sudah memiliki situs tersendiri jauh lebih canggih. Ya kita mulai blog untuk mengembangkan kreativitas dan sumbangsih kedalam pengembangan pemikiran di Indonesia.

Share this:

  • Share on X (Opens in new window) X
  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp
  • Share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
  • Email a link to a friend (Opens in new window) Email
  • Print (Opens in new window) Print
Like Loading...
← Older posts
Newer posts →

Recent Posts

  • Bencana Alam di Sumatera: Pemicu dan Solusi Berkelanjutan
  • Statecraft 3.0: AI dan Masa Depan Diplomasi
  • Perang Dagang Amerika-China 2025: Analisis Implikasi terhadap Ekonomi Asia Tenggara
  • Strategi Palestina Pasca Pengakuan Internasional
  • Perjuangan Palestina: Dari Pengakuan ke Kedaulatan Efektif

Archives

Categories

My Tweets

Pages

  • About
  • Academic Profile
  • Bahasa Inggris Diplomasi
  • Karya Jurnalistik
  • My Books
  • NEWSROOM-HLNKI
  • Pengantar Hubungan Internasional
  • Politik Luar Negeri Indonesia
  • RoomHLNKI

Create a website or blog at WordPress.com

  • Subscribe Subscribed
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Already have a WordPress.com account? Log in now.
    • Jurnal Asep Setiawan
    • Subscribe Subscribed
    • Sign up
    • Log in
    • Report this content
    • View site in Reader
    • Manage subscriptions
    • Collapse this bar
%d