Tag Archives: Pers

Matinya “Bola” dan Tantangan Pers Indonesia

Oleh Asep Setiawan

Berakhirnya penerbitan tabloid Bola 26 Oktober 2018 setelah hadir selama 34 tahun merupakan puncak gunung es dari tantangan yang dihadapi media massa di Indonesia. Salah satu penyebab tabloid Bola yang dicetak mingguan ini akhirnya tutup adalah akses media yang semakin cepat dan gratis melalui platform digital selain ongkos produksi yang semakin mahal. Sementara,  tabloid yang dicetak kertas harus dibeli dan memerlukan modal yang tidak sedikit di tengah kebiasaan masyarakat mengakses media telah berubah.

Selain tabloid Bola sebelumnya pernah juga dilaporkan beberapa media cetak tutup dalam berberapa tahun terakhir. Harian Sinar Harapan terhitung 1 Januari 2016 tutup padahal sudah terbit sejak 1960-an.  Tahun 2015  penerbitan Koran Tempo Minggu, Jakarta Globe, Harian Bola juga tutup.  Tahun 2016 juga edisi cetak Kawanku, Sinyal, Chip, Chip Foto Video, What Hi Fi, Auto Expert, Car and Turning Guide, dan Motor juga berakhir. Tahun 2017 edisi cetak majalah yang berakhir penerbitannya di Indonesia antara lain, HAI, Esquire Indonesia, Maxim Indonesia, Rolling Stone Indonesia, Grazia Indonesia,  NYLON Indonesia, Majalah Commando, High End Teen Magazine, For Him Magazine Indonesia. Sejumlah edisi cetak majalah juga sudah tumbang seperti tabloid Soccer, T3, Reader’s Digest Indonesia , Tech Life , Bloomberg Business Week, Trax dan Fortune. Sebagian media cetak ini kemudian melakukan transformasi menjadi media berbasis digital.

Berbeda dengan media massa cetak, media elektronik seperti radio, televisi dan online mengalami perkembangan. Namun di era digital, televisi juga mendapat saingan media platform digital sehingga harus mulai menransformasikan diri  sementara radio sudah terlebih dahulu survive karena platform digital mendukung kehadiran radio.

Dalam sebuah kajian di Oxford University disebutkan bahwa media massa saat ini menghadapi tantangan tidak sedikit untuk tetap relevan. Martha L. Stone dalam kajian berjudul Big Data for Media (2014) diterbitkan Oxford University disebutkan bahwa media industri sangat terdampak oleh banjir data.           Yang dimaksud Big Data oleh industri media terdiri dari empat V yakni, pertama, volume data, banjirnya data dalam jumlah yang yang diterima masyarakat. Kedua, velocity data yaitu data yang cepat hadir yang berarti perlunya secara cepat dianalisis terutama terkait berita. Ketiga, variety of structure karena semakin banyaknya data yang tidak terstruktur formatnya. Keempat, adanya volume, kecepatan dan struktur data itu semuanya memiliki values terutama untuk kepentingan jurnalisme, bisnis dan income.

Dua hal yang akan diulas dalam artikel ini adalah semakin kuatnya Big Data dalam masyarakat termasuk di dalamnya data dari media sosial, menyebabkan berubahnya cara akses terhadap media sekaligus cara memproduksi berita. Kedua, perlunya panduan dari stakeholders industri media, seperti perhimpunan jurnalis, para penerbit media,  kelompok percetakan, Komisi Penyiaran Indonesia dan juga Dewan Pers untuk menjaga tidak hanya independensi tetapi juga secara pro aktif menjaga atmosfir keberadaan media massa sebagai salah satu pilar demokrasi.

 

Era Big Data

Bercermin dari penutupan tabloid Bola yang merupakan indikasi bahwa media massa versi cetak sudah dalam posisi terancam. Artinya era Big Data dimana informasi sudah banjir dalam format digital dan tidak perlu dibeli dalam bentuk kertas sangat mempengaruhi lembaga media. Big Data telah mendorong audiens dan pembaca tidak peduli lagi kepada lembaga media massa arus utama apalagi yang dicetak dan harus dibeli. Informasi sudah dalam kondisi gratis dimana-mana.

Matinya tabloid Bola yang juga sudah berusaha menyesuaikan dengan format digital menunjukkan bahwa dalam era Big Data ini media massa  tidak cukup hadir di ranah virtual. Cara kerja dan cara mempresentasikan berita juga telah berubah sejalan dengan tingginya jumlah dan kecepatan yang luar biasa dari aliran informasi.

Dalam cara mendapatkan informasi yang semula melalui media massa arus utama (mainstreams media) dengan lahirnya Big Data juga mengalami perubahan. Masyarakat tidak perlu menunggu media cetak sehari sesudah kejadian atau analisis dan komentar seminggu sekali melalui majalah. Publik memiliki posisi kuat mengakses ragam berita dari gadget yang dimilikinya tanpa harus membayar dan tanpa menunggu esok harinya seperti terjadi dengan media cetak.

Kebiasaan membaca media cetak setiap pagi dari koran pagi, atau siang dari koran sore tidak lagi dapat dipertahankan. Media massa berbasis online sudah mudah diperoleh kapanpun dimanapun. Dengan mengklik situs atau aplikasi media berbasis online itu, publik akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan secara instan dan cepat.

Bahkan untuk media massa elektronik seperti televisi dan radio pun akses informasi dapat diperoleh melalui perangkat gadget seperti smartphone. Perkembangan teknologi tidak hanya gadget itu menjadi murah harganya tetapi langganan data juga semakin murah. Dua faktor ini antara lain menyebabkan informasi juga mudah didapat dan tanpa harus menunggu koran terbit dan tidak harus membayar setiap ingin mendapatkan informasi atau analisis.

Tidak hanya itu, media untuk mengakses berita dan informasi dari situs berita arus utama juga berubah. Adanya media sosial menjadikan setiap orang memiliki kecepatan tinggi mengakses dengan volume informasi berlimpah tanpa batas. Dari Twitter sampai grup WhatsApp telah menjadi platform untuk mendapatkan informasi yang cepat, berlimpah dan gratis.

Namu sayangnya, informasi berlimpah ini bercampur baur dengan berita palsu dan berita bohong sehingga tidak sehat bagi kehidupan bangsa.  Jadi risiko juga dengan pembiaran media arus utama yang memiliki rekam jejak baik “dibiarkan” tumbang karena alasan tidak mampu lagi hidup. Seperti pernah dikatakan tokoh pers Jakob Oetama, media massa untuk mewujudkan idealisme dalam menyajikan berita, opini dan analisis yang tinggi kualitasnya harus menjadikan lembaganya “sehat” dari sisi ekonomi.

Jika kecenderungan ini berlanjut dimana Big Data jadi arus utama maka media cetak tradisional yang tidak melakukan metaformosa ke ranah digital maka ada kemungkinan tinggal menghitung waktu. Konvergensi, sinergi dan integrasi dengan digital merupakan pilihan yang harus ditempuh bagi media massa tradisional di era digital dan era Big Data.

 

Tantangan Pers

Lalu siapa yang mesti peduli keberadaan lembaga media massa sehingga jangan sampai mati suri atau mati di tengah jalan ? Inilah waktunya untuk kemudian melakukan gotong royong seluruh stakeholders media massa termasuk Dewan Pers. Dengan tujuan, “mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional” dan fungsinya menjaga “pengembangan kehidupan pers” maka Dewan Pers tidak hanya memiliki kiprah dalam content management dan content mediation, tetapi juga memberikan atmosfir menjaga business value dari lembaga pers.

Kematian lembaga media cetak seperti tabloid Bola di satu sisi merupakan peringatan dini dari perubahan model media massa di Indonesia. Era Big Data telah menyebabkan informasi menjadi berlimpah namun dapat diperoleh dengan gratis, sementara media cetak dan media massa pada umumnya hidup dari kolaborasi dengan lembaga usaha melalui bentuk periklanan dan kemitraan.

Kematian lembaga media cetak seperti Bola di sisi lain menjadi tantangan bagi para pengawas dan stakeholders media juga untuk memikirkan bagaimana pers ke depan. Apakah mereka akan dibiarkan mati satu demi satu digerus perkembangan Big Data dan teknologi informasi ? Apakah dibiarkan media berbasis online tidak jelas dibiarkan merajai dunia informasi yang kemudian ada bahaya manipulasi dan tanpa panduan etika sehingga bermunculan hoax yang dapat merusak masyarakat.

Dengan kata lain pembiaran media massa mati dengan alasan tantangan bisnis yang keras, perkembangan teknologi dan perubahan pola akses media tidak harus menjadi alasan yang diterima begitu saja. Jika kemudian media cetak arus utama dan atau media elektronik (radio, televisi dan online) yang sudah ada dibiarkan juga tergerus karena tidak mampu secara lembaga sehat menghidup dirinya, maka bisa terjadi ledakan informasi yang “menghancurkan” (destructive).

Apa yang menjadi kenyataan adanya era post truth dimana kebenaran informasi diterjemahkan menurut kepentingan audiens dan pembuat informasi, maka jangan heran kalau kemudian media massa arus utama justru dimusuhi dan media abal-abal menjadi “pemandu informasi” yang semu. Dan apabila trend berita abal-abal yang berserakan di dunia digital ini juga dibiarkan karena lembaga media massa tidak mampu hidup lagi, maka akan terdapat bahaya dimana informasi yang sehrusnya disaring oleh lembaga jurnalistik menjadi liar.

Potensi penggunaan informasi yang tidak pada tempatnya inilah yang kemudian bisa melahirkan anarki. Terjadi kebebasan yang tidak bertanggung jawab karena ledakan Big Data menjadi ledakan angkara murka.  Saatnya stakeholders di industri media berkolaborasi mencegah kematian sia-sia para pekerja media  dan industri media karena perkembangan jaman.***

 

 

 

 

 

 

 

Thick Journalism dalam Televisi Berita

Mei 11, 2015 by Moderator

Thick Journalism dalam Televisi Berita

Interview

Interview

Antropolog Clifford Geertz menggunakan istilah terkenal ‘thick
description’ untuk melukiskan bagaimana upaya yang dilakukan pakar
etnografi membantu kita menafsirkan dan memahami makna dunia yang lain.

Simon Cottle dalam artikel berjudul “In defence of ‘thick’
journalism; or how television journalism can be good for us” meminjam
istilah thick description itu digunakan untuk menjelaskan bahwa praktek
jurnalisme lebih dari sekedar laporan berita, headline dan nilai berita
yang dangkal. Dengan demikian jurnalisme beruaya mengungkap sesuatu
lebih dalam, memberikan perspektif yang berbeda dan laporan yang hidup.
Kerja jurnalisme seperti itu akan mendorong munculnya berita susulan dan
maknanya bagi publik.

Televisi merupakan medium yang berpengaruh untuk meningkatkan
pemahaman publik terhadap berita dan opini yang berkembang. Menurut
Cottle, teknik thick journalism ini bisa dicapai antara lain melalui:
observasi dan kesaksian langsung; investigasi, dokumentasi dan ekspos
kasus; presentasi kepentingan yang terlibat konflik dan identitas;
program dan teknologi berformat spesifik yang membantu menayangkan
gambar-gambar dan isu yang kuat.

‘Thick journalism’ saat ini diperlukan bukan untuk melindungi genre
televisi tertentu apakah news, current affairs atau documentary. Hal itu
disebabkan tiga genre itu sudah tipis perbedaannya. Menurut Cottle and
Rai (2006) kompleksitas jurnalisme televisi saat ini jarang dibahas.

Para peneliti menunjukkan bahwa media sekarang secara market semakin
kompetitif, terderegulasi dan berorientasi pasar. Kecenderungan ini
telah mengurangi bobot televisi berita baik secara kuantitas dan
kualitas program current affairs dan dokumenter.

Munculnya ‘reality TV’, agenda berita yang populis, majalah yang
berbasiskan infotainment dan mengutamakan personalitas telah
menyingkirkan program berita. Semuanya telah diteliti di Inggris,
amerika Serikat dan Australia. Walaupun demikian sebagian aktivitas
jurnalisme televisi masih mampu memberikan kontribusi kepada kehidupan
demokratis masyarakat.

Jurnalisme televisi yang terdesak dengan kepentingan bisnis dan
konsumerisme masih mampu menghasilkan program yang berkualitas. Program
yang berkualitas inilah yang memberikan kontribusi penting dalam dialog
sehat di dalam masyarakat.

Cottle menyebutkan contoh thick journalism melalui beberapa contoh seperti

1. Behind the headlines, beyond news agendas.

Kasus ini mengenai program televisi di Australia yang menunjukkan
bagaimana nasib para pencari suaka di tempat penampungan Woomera di
Australia Selatan. Program ini mengangkat tidak hanya berita utama
kerusuhan di Woomera tetapi lebih dalam lagi yakni adanya ketidakadilan
di dalammya yang memotivasi adanya kerusuhan besar. Program ini
memberikan pesan penting dan bahkan berkontribusi untuk munculnya
perhatian publik, protes dan terjadinya perubahan.

2. Investigation and exposé

Peran investigasi dan exposé dalam jurnalisme disebut sebagai fungsi
Pilar Keempat (Fourth Estate) dalam negara demokrasi dan juga merupakan
idealisme profesi jurnalistik. Program ini akan memberikan kontribusi
yang disebut John Thompson (1995) sebagai ‘the transformation of
visibility’
dimana kekuasaan dan orang-orang berkuasa menjadi di bawah pengawasan dan kritik publik.

3. Circulating public rhetoric, reason and debate

Sejumlah program televisi juga berperan sebagai interlocutor publik,
menuntut jawaban dari pengambil kebijakan dan pihak penguasa. Dalam
upaya ini media menjadi wahana terjadinya retorika dan eksplanasi yang
penting untuk ‘deliberative democracy’

4. Mediatized ‘liveness’and social charge

Live talk yang berbeda dengan perbincangan yang sudah direkam dan
diedit memiliki kapasitas menghasilkan pengungkapan, kadang-kadang
dramatis, perdebatan dan pernyataan spontan. Wawancara langsung juga
memberikan dinamika yang bisa menghasilkan suasana tegang, perbincangan
spontan pro dan kontra, menembus jantung permasalahan.”

5. Public performance, emotion and affect

Jika suara dan pandangan yang muncul merupakan bahan mentah untuk
proses deliberative democracy, demikian juga emosi dan perasaan yang
sering terpendam. Televisi sering mengungkapkan sesuatu yang sifatnya
pradi seperti kesedihan dan kemarahan yang terkait dengan kebijakan
publik.

6. Voice to the voiceless, identity to image

Jurnalisme televisi mendelegasikan siapa yang dilihat, siapa yang
diijinkan bicara dan “pandangan” apa yang didengar. Agenda berita dan
berita yang muncul dapat berpengaruh bagaimana grup dan individual
digambarkan. Kelompok masyarakat dan individual ini dapat digambarkan
sebagai menyimpang, orang luar atau asing. Namun Thick journalism
berpotensi mencegah ketidakberimbangan dan ketidakadilan ini.

7. Challenging society’s meta-narratives

Sejumlah program televisi melangkah lebih dalam dalam mengungkapkan
masalah kekuasaan dan menggugat keyakinan masyarakat dan pandangan yang
sudah diterima. Program ini melakukan konstruksi secara naratif untuk
mengkaji pandangan yang berbeda.

8. Recognition, difference and cultural settlement

Kenangan mengenai kekerasan, trauma dan ketidakadilan masa silam
dalam bentuk perjuangan masa kini dan menggugah perhatian lebih luas
rasa sakit masa lalu dan sekarang.

9. Media reflexivity

Media sekarang kadang-kadang memonitor dan mengomentari kinerja dan
praktek sendiri. Program ini sudah lama berjalan seperti Media Watchin
Australia atau Right to Reply di Inggris.

10. Bearing witness in a globalizing world

Dunia kita yang semakin global dan terkait namun tidak sederajat
mendorong kita untuk mendapat informasi dan merespons kebutuhan dan
nasib orang lain. Jurnalisme televisi memiliki kemampuan untuk
mengangkat nasib manusia di muka bumi. ***

Sumber: https://freejournalist.wordpress.com/2015/05/11/thick-journalism-dalam-televisi-berita/

Sumber: asepsetiawan.com

Sumber: Simon Cottle, In defence of ‘thick’ journalism; or how
television journalism can be good for us, dalam Journalism: critical
issues, Edited by Stuart Allan, Berkshire, Open University Press,2005.