Tag Archives: media massa

Jurnalisme era Post Truth

Jurnalisme di era post-truth merupakan era dimana media massa arus utama tidak lagi menjadi sandaran dalam mencari kebenaran. Kebenaran menjadi sesuatu afirmasi terhadap keyakinan pembaca sehingga tidak memerlukan verifikasi. Kalau jurnalisme menjunjung tinggi nilai fakta, nilai kebenaran dan nilai reporting both-side maka, di era post-truth publik sering tidak peduli kebenaran karena mereka lebih cocok dengan versi kebenaran sesuaid engan seleranya.

Oleh karena itulah aka keberadaan media massa mulai dari surat kabar, radio dan televisi serta media online berita yang kredible, sering kalah oleh media abal-abal dan bahkan media sosial dalam memberitakan fakta-fakta yang terjadi. Media sosial dan media abal abal – blog online dan media online dadakan tidak jelas redaksinya dan tanpa kode etik jurnalistik – justru mejamur mendominasi penyebaran informasi. Sebagian dari media di era post-truth itu seperti mesi propaganda yang memompakan fakta-fakta yang sudah direkayasa, opini dan bahkan hoax untuk kepentingan bisnis dan politik.

Di sinilah media massa arus utama (mainstream) ditantang untuk hidup di era kebenaran bukan lagi kebenaran konvensiona namun kebenaran yang dibentuk para pembuat berita dan informasi. Dengan dalih bahwa media massa dikuasai penguasa dan kelompok tertentu maka para pengelola media post-truth ini melakukan produks informasi dalam skala yang luar biasa cepat dan sigapnya dibanding media massa mainstream yang penyebaran informasia diatur atau sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Please follow and like us:

Jurnalisme Indonesia Masa Kini

Kebebasan pers yang dinikmati pasca reformasi 1998 telah memberikan warna terhadap dinamika pers di Indonesia saat ini. Media massa baik dari sisi sebagai lembaga pemberitaan atau bagian dari lembaga usaha telah berkembang pesat mengikuti hukum-hukum pasar. Artinya media massa yang tidak mampu bertahan di tengah persaingan ketat dan pembiayaan cukup besar – seperti dialami oleh TV Berita – maka akan rontok di tengah jalan.

Untuk melihat pers Indonesia masa kini dapat dilihat dari beberapa perspektif.  Pertama, dari sisi sifat jurnalisme itu sendiri sebagai bagian dari pilar negara demokratis. Kedua, dari sisi profesionalisme di bidang jurnalistik dimana media massa sebagai bagian dari pengarah pendidikan dan informasi. Ketiga, perspektif pers sebagai bagian dari kegiatan ekonomi di sebuah negara.

Pandangan dari beberapa perspektif diatas tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi yang menghadirkan media baru (new media) dimana media tidak lagi bersifat ekslusif tetapi sudah massal. Disinilah kemudian perspektif sebagai sebuah pilar demokrasi dan juga bidang usaha, maka media massa tidak lepas dari lingkungan dimana dia berada.

Pilar demokratis.

Pada dasarnya media massa yang sehat dapat berkembang di sebuah negara yang menerima asas demokratis. Artinya jaminan dari perundangan untuk mengumpulkan, mengolah dan menyiarkan informasi sudah memberikan jaminan kepada warganya. Jika tidak ada jaminan kepada warga negara akan kebebasan memperoleh dan menyiarkan informasi maka media massa tidak hidup sehat. Dia akan berada dalam tekanan pemerintah atau penguasah sehingga publik tidak mendapatkan informasi yang utuh.

Oleh karena kehadiran media massa yang berhimpun menjadi pers sebuah negara diletakkan dalam kerangka demokrasi. Artinya pers merupakan sebuah institusi yang dijamin keberadaannya dan secara bersamaan juga memiliki fungsi untuk menjaga demokrasi. Tanpa kebebasan pers maka sulit sekali sebuah negeri yang disebut demokratis itu dapat hidup secara normal.

Kekuasaan di dalam pers itu sendiri bukan yang tidak terbatas. Dia melekat kepada asas kehidupan demokrasi selain pilar eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tanpa pengawalan pers maka fungsi lembaga demokrasi juga sulit hidup secara sehat. Masih akan ada tekanan dan desakan agar kebebasan informasi dibatasi apabila lembaga-lembaga demokratis non pers kemudian menekan kehidupan media massa. (to be continued)

 

Please follow and like us:

Masa Depan Jurnalisme di Indonesia

Tidak pelak lagi, era keterbukaan sejak reformasi 1999 telah merubuhkan sendi-sendi otoritariasme. Hampir tidak ada sekat lagi bagi publik untuk mengetahui informasi terkini yang terjadi di sekelilingnya melalui media massa. Peristiwa politik, hukum, kriminal dan bahkan terkait selebriti telah menjadi konsumsi sehari-hari selama 24 jam. Sebagian pihak memanfaatkan untuk mengembangkan jurnalisme sehat sebagian lagi berusaha mencari untung melalui pemerasan dan fitnah. Sosial media bahkan digunakan sebagai alat menekan seseorang untuk mendapatkan keuntungan uang.

Semuanya tidak lain karena lalu lintas informasi di Indonesia dijamin hukum. Tidak ada informasi yang bisa ditutupi sedemikian rupa selain dapat diendus oleh media era pasca reformasi ini. Informasi yang terungkap segera berdar hanya dalam hitungan detik melalui jurnalisme online sampai dengan jurnalisme televisi.

Kebebasan luar biasa setelah tiga dasar warsa dikekang ini menjadikan ledakan informasi di Indonesia. Dunia jurnalisme menjadi medium untuk mengetahui duduk perkara dan persoalan sebenarnya yang terjadi di seputar masyarakat. Jurnalisme dituntut untuk cepat, akurat dan komprehensif. Bisakah ini dicapai dengan model jurnalisme di Indonesia saat ini?

Setidaknya ada beberapa hal dimana jurnalisme bisa berkembang ke depan. Pertama, kualitas SDM. Sumber Daya Manusia menjadi salah satu tantangan karena semakin langkanya kemampuan jurnalistik yang akurat dan jujur. SDM dipenuhi pencari kerja yang ingin instan sukses. Kedua, kepemilikan media sering berputar hanya pada elit tertentu yang sudah terkait dengan kekuatan politik. Ketiga, kepastian hukum di jurnalisme. Jika ada jaminan bagi awak media maka jurnalisme akan menjadi landasan kebebasan pers yang bertanggung jawab. Keempat, ijin bagi hadirnya teknologi terkini.

Andalkan SDM
Tuntutan terhadap SDM yang berkualitas semakin tinggi bagi media elektronik dan cetak. Kebutuhan SDM ini menyangkut kualitas SDM di inti kegiatan jurnalistik mulai dari reporter, editor, produser sampai dengan pemimpin media. Kebutuhan SDM yang tinggi ini tidak bisa secara instan dipenuhi oleh pasar sehingga terjadi rebutan dan pembajakan. Oleh karena itu sudah saatnya ada lembaga pendidikan yang menyiapkan SDM berkualitas.

Media milik siapa
Elemen penting untuk pengembangan jurnalisme Indonesia adalah pola kepemilikan media. Pemilikan ini akan menentukan seberapa jauh jurnalisme di Indonesia akan subur berkembang. Pemilik media tentu saja akan memfokuskan kepada kepentingan bisnisnya namun idealisme jurnalistik dimana membongkar informasi untuk kepentingan publik juga penting. Jika tekanan terhadap bisnis saja maka media massa hanya semata alat produksi tanpa tujuan ideal. Di sinilah pentingnya memadukan kepentingan bisnis agar media tetap sehat dengan idealisme agar jurnalisme tetap berkembang sehat.

Kepastian
Dimana perlindungan awak media jika terjadi tekanan terhadap individunya. Pengawalan secara hukum akan memberikan ruang yang luas bagi praktek jurnalisme yang sehat dan menyehatkan. Tidak ada lagi ketakutan dan hambatan untuk membuka informasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum dan secara jurnalistik.

Teknologi
Dukungan pemerintah terhadap kehadiran teknologi terkini untuk delivery karya jurnalistik penting agar publik mendapatkan informasi real time. Dengan tidak adanya hambatan dari pemerintah terhadap kehadiran teknologi ini maka jurnalisme akan menjadi subur berkembang.

Penutup
Jurnalisme di Indonesia sudah memiliki awal yang baik untuk memberikan informasi dan menjadi ruang ekspresi publik. Dengan iklim jurnalisme yang sehat ini, termasuk kesiapan para pemangku kepentingan untuk mendengar dan memberi kesempatan jurnalisme berkembang maka masa depannya di Indonesia cukup optimis. ***

Sumber: https://asepsetiawann.wordpress.com/tag/jurnalisme/

Please follow and like us: