Tag Archives: junalistik

Jurnalisme Indonesia Masa Kini

Kebebasan pers yang dinikmati pasca reformasi 1998 telah memberikan warna terhadap dinamika pers di Indonesia saat ini. Media massa baik dari sisi sebagai lembaga pemberitaan atau bagian dari lembaga usaha telah berkembang pesat mengikuti hukum-hukum pasar. Artinya media massa yang tidak mampu bertahan di tengah persaingan ketat dan pembiayaan cukup besar – seperti dialami oleh TV Berita – maka akan rontok di tengah jalan.

Untuk melihat pers Indonesia masa kini dapat dilihat dari beberapa perspektif.  Pertama, dari sisi sifat jurnalisme itu sendiri sebagai bagian dari pilar negara demokratis. Kedua, dari sisi profesionalisme di bidang jurnalistik dimana media massa sebagai bagian dari pengarah pendidikan dan informasi. Ketiga, perspektif pers sebagai bagian dari kegiatan ekonomi di sebuah negara.

Pandangan dari beberapa perspektif diatas tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi yang menghadirkan media baru (new media) dimana media tidak lagi bersifat ekslusif tetapi sudah massal. Disinilah kemudian perspektif sebagai sebuah pilar demokrasi dan juga bidang usaha, maka media massa tidak lepas dari lingkungan dimana dia berada.

Pilar demokratis.

Pada dasarnya media massa yang sehat dapat berkembang di sebuah negara yang menerima asas demokratis. Artinya jaminan dari perundangan untuk mengumpulkan, mengolah dan menyiarkan informasi sudah memberikan jaminan kepada warganya. Jika tidak ada jaminan kepada warga negara akan kebebasan memperoleh dan menyiarkan informasi maka media massa tidak hidup sehat. Dia akan berada dalam tekanan pemerintah atau penguasah sehingga publik tidak mendapatkan informasi yang utuh.

Oleh karena kehadiran media massa yang berhimpun menjadi pers sebuah negara diletakkan dalam kerangka demokrasi. Artinya pers merupakan sebuah institusi yang dijamin keberadaannya dan secara bersamaan juga memiliki fungsi untuk menjaga demokrasi. Tanpa kebebasan pers maka sulit sekali sebuah negeri yang disebut demokratis itu dapat hidup secara normal.

Kekuasaan di dalam pers itu sendiri bukan yang tidak terbatas. Dia melekat kepada asas kehidupan demokrasi selain pilar eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tanpa pengawalan pers maka fungsi lembaga demokrasi juga sulit hidup secara sehat. Masih akan ada tekanan dan desakan agar kebebasan informasi dibatasi apabila lembaga-lembaga demokratis non pers kemudian menekan kehidupan media massa. (to be continued)