Pers diminta memegang teguh Kode Etik Jurnalistik

Indonesia diguncang oleh pandemi virus corona mulai awal Maret 2020.  Tatanan sosial ekonomi bahkan pendidikan sudah berubah drastis karena ternyata virus corona ini sangat mematikan. Wabah ini sudah menjalar ke seluruh dunia sejak awal Maret Indonesia mengumumkan dua orang terkena virus corona. Tidak terkecuali media massa menghadapi tantangan berat.

Tantangan awal adalah bagaimana kerja jurnalistik dijalankan di lingkungan dimana virus dapat membahayakan kesehatan para jurnalis. Bahkan tidak hanya mengancam kerja jurnalis tapi mengancam jiwa mereka. Oleh sebab itulah maka perhatian utama pada awal virus ini menjalar di Indonesia menyangkut pemberitaan yang harus memegang teguh kode etik jurnalistik, keselamatan kerja dari para wartawan dan awak media lainnya baik di media elektronik atau media cetak.

Pesan awal dari Dewan Pers misalnya menegaskan semua produk media massa harus akurat dan memperhatikan kepentingan umum. Selengkapnya rilis dari Dewan Pers ini sebagai berikut:

1. Pemberitaan mengenai virus Corona ini memegang teguh prinsip-prinsip kode etik jurnalistik seperti memberitakan secara akurat, berimbang, selalu menguji informasi, tidak beritikad buruk serta dilakukan secara profesional.
2. Media massa tidak memberitakan kasus virus corona ini secara berlebihan sehingga melupakan prinsip-prinsip dasar dalam kode etik jurnalistik. Media massa harus memperhatikan kepentingan publik yang lebih luas sebelum memuat berita atau laporan mengenai kasus virus corona ini.
3. Media massa melalui ruang redaksinya untuk menjaga ketertiban masyarakat sehingga dalam laporan dan pemberitaan mengenai virus corona ini tidak menimbulkan kepanikan mayarakat.
4. Media massa tidak memuat identitas pasien baik yang dinyatakan positif terkena virus Coona maupun yang dalam pengawasan otoritas kesehatan baik nama, foto atau alamat tinggalnya karena pasien adalah korban yang harus dhargai hak privasinya.
5. Media Massa menjaga keselamatan awak media dalam liputan virus Corona sehingga tidak menimbulkan masalah baru seperti terjangkit virus Corona saat bertugas di lapangan.
6. Media massa bersama otoritas kesehatan menyampaikan informasi yang memberikan kepastian dalam masyarakat dan tidak membuat laporan atau berita yang hanya mencari sensasi dan meresahkan masyarakat.

Rilis ini kemudian ditandangani di Jakarta 3 Maret 2020 oleh Ketua Dewan Pers Mohammad NUH