Menjaga Pers, Menjaga Aset Perjuangan

PERS nasional menghadapi tantangan berat. Informasi yang dihasilkan sering kali tidak lagi menjadi panduan publik, model bisnis pers juga telah berubah.

Teknologi telah membuka pintu bagi semua orang–bahkan mereka yang tidak mengetahui bagaimana seharusnya membuat berita–untuk menghasilkan berita, kabar, opini, pendapat, bahkan sampai pada tahap fake news (berita palsu). Ya, teknologi memungkinkan semua pengguna gadget di Indonesia, yang melebihi 100 juta orang, mampu memberikan pendapat dan menyebarkan informasi.

Tulisan ini ingin menjadikan momentum Hari Pers Nasional untuk membuat refleksi bahwa semua elemen bangsa sudah saatnya menjaga aset pers nasional. Pertama, aset pers nasional merupakan alat perjuangan bangsa Indonesia yang sudah sejak lahirnya menjadi sumber informasi yang inspiratif untuk membangun. Kedua, aset pers nasional ini juga menjadi bagian kekuatan bangsa yang apabila tidak dirawat akan mencelakakan bangsa.

Alat perjuangan

Pers Indonesia seperti halnya pers di berbagai negara, memiliki nilai-nilai idealisme yang tidak dapat dilepaskan dari lahirnya pers itu sendiri. Pers nasional memiliki nilai-nilai ideal sejak muncul di Indonesia, bahkan sejak sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah alat perjuangan untuk memajukan bangsa.

Jauh menjelang kemerdekaan, Bapak Bangsa Soekarno menggunakan pendapat dan opini bahkan analisisnya sebagai bahan bakar perjuangan memerdekakan Indonesia.

Demikian juga ketika proklamasi kemerdekaan, radio menjadi alat perjuangan menyebarkan suara Bung Karno ketika membacakan naskah proklamasi, yang menjadikan bangsa Indonesia bebas dari penjajahan.

Kehadiran pers seperti radio dan surat kabar saat itu dirasakan sebagai sebuah berkah karena masyarakat Indonesia mampu menerima informasi yang benar sekaligus memberikan solusi bagi kehidupan bangsa ini.

Di sinilah pers memainkan perannya yang utama sebagai pemberi informasi sekaligus edukasi bagi bangsa. Ketika teknologi masih sederhana dan pers dikelola wartawan profesional, informasi yang disiarkan dan dicetak juga mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Memang pers ketika era Orde Baru mendapatkan tekanan besar karena kebijakan terhadap pers nasional berubah. Namun, esensi pers sebagai alat perjuangan membangun demokrasi tidak pernah berhenti. Berbagai cara dilakukan media cetak, terutama untuk menyuarakan perlunya kehidupan demokrasi ditegakkan. Perlunya kebebasan berpendapat dijaga dan dirawat semua pihak. Pers nasional kembali memainkan perannya sebagai alat menyuarakan kebebasan di Indonesia demi sehatnya bangsa ini.

Di era Reformasi, ketika kebebasan berbicara dibuka selebar-lebarnya, pers tumbuh pesat karena memang peluangnya besar dan pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya menjadikan pers sebagai media massa yang hidup dalam sistem demokrasi Pancasila.

Undang-undang Pers No 40 Tahun 1999 yang lahir pada masa pemerintahan BJ Habibie menjadi momentum tepat untuk menata ulang pers nasional.

Pers nasional memiliki peran sebagai media yang memberikan informasi, edukasi, hiburan, dan bahkan sebagai lembaga yang melakukan kontrol sosial. Kemudahan mendirikan lembaga pers setelah 1999 menjadikan pers nasional hidup dalam lingkungan baru dan kebebasan dibuka seluas-luasnya.

Dari alat perjuangan, kadang melenceng menjadi alat ekonomi dan politik, yang kemudian perlu publik menjaga secara bersama agar aset nasional ini tetap pada kiprahnya, menjadikan masyarakat cerdas dan dewasa dalam berbangsa dan bernegara. Dengan segala kelemahan dalam pers saat ini, kalau melihat perjalanan sejarah pers, aset bangsa ini perlu dijaga bersama agar tetap pada relnya sebagai alat perjuangan nasional.

Kekuatan bangsa

Jika kita menengok lanskap pers saat ini memang telah berubah. Seperti sudah dijelaskan di depan karena kemudahan teknologi dan kehadiran media sosial menjadikan pers bukan menjadi satu-satunya andalan dalam menerima informasi dan berita.

Pers tidak lagi penyedia tunggal informasi dan bahkan opini bagi publik karena publik dapat membuat berita tandingan dan mengonsumsi informasi sesuai dengan kehendaknya.

Itulah kemudian era ini disebut post-truth karena berita yang dipercaya bukan berita yang benar, akurat, dan berimbang, tapi yang sesuai dengan persepsi kebenaran yang dianutnya. Itulah mengapa ada produsen berita palsu dan ada konsumennya yang juga ikut menyebarkan.

Jika pers dibiarkan lemah dan mati karena para penyedia informasi palsu dan tidak profesional melalui kemudahan teknologi dan aplikasi ini dibiarkan menguasai publik, dapat diperkirakan munculnya berbagai masalah baru yang tidak mudah diselesaikan. Munculnya ujaran kebencian yang dipelihara sebagian masyarakat ialah bagian dari lanskap media yang sudah berubah.

Dengan kondisi seperti itulah pers sebenarnya menjadi kekuatan nasional yang dapat menjaga negeri ini dari pecah belah dan menjaga optimisme tetap ke depan sebagai satu bangsa. Pers telah menjadi aset perjuangan bangsa Indonesia di tengah era globalisasi informasi ini. Pers diperlukan kehadirannya karena telah memainkan peran penting dalam perjalanan bangsa ini.

Menjaga pers sebagai aset perjuangan bangsa ini berarti masyarakat peduli akan keberadaan pers, dengan menjaganya tetap profesional dan menempatkan idealismenya yang mampu mencerdaskan bangsa.

Dengan kepedulian menjaga pers ini, konsumsi terhadap berita tetap mengandalkan pers nasional yang sudah seharusnya berada dalam napas perjuangan bangsa ini, tidak semata-mata mencari keuntungan ekonomi. Selamat Hari Pers Nasional!.

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/288637-menjaga-pers-menjaga-aset-perjuangan

Media Online Perlu Berbenah Diri

MEDIA berita online telah menjadi bagian dari perjalanan pers nasional. Sebagai bagian dari media elektronik, media online tumbuh subur di Indonesia terutama sekitar lima tahun terakhir ini ketika teknologi sangat mendukung keberadaannya dan kebiasaan mengakses berita telah berubah.

Oleh sebab itulah, media online memegang peranan penting dalam pers nasional dewasa ini. Tidak hanya karena jumlahnya yang besar tetapi dampaknya terhadap publik juga sangat luas.

Ketua Dewan Pers 2016-2019 Yosep Adi Prasetyo memperkirakan jumlah media massa di Indonesia mencapai 47.000 media dan media online mencapai 43.300 (Jurnal Dewan Pers, November 2018). Kemudian sekitar 2000 sampai 3000 merupakan media cetak dan sisanya adalah media radio dan televisi. Jika angka ini dijadikan sandaran dalam memetakan media online di Indonesia, maka betapa perkasanya dan sekaligus betapa rawannya media online ini.

Tulisan ini menjelaskan, pertama, bahwa dengan jumlah yang luar biasa besar ini maka tanggung jawab media online di dalam lingkungan pers Indonesia juga besar. Kedua, karena tanggung jawabnya besar maka media online seharusnya memainkan peran penting di dalam kehidupan pers nasional.

Jumlah besar

Kalau kita lebih cermat lagi mengamai perkembangan media online, maka kita akan menyaksikan bahwa media jenis baru ini justru berkembang pesat di daerah. Media online di Jakarta sebagian besar adalah perpanjangan dari media konvensional seperti koran, majalah, televisi, dan radio. Media online di Jakarta juga relatif lebih beraneka ragam tidak hanya untuk berita dan opini tetapi juga hiburan.

Dengan kondisi seperti ini dapat dikatakan bahwa tumbuh suburnya media online di Indonesia merupakan bagian dari kemudahan membangun media online serta kondisi kebebasan pers yang sudah menjangkau pelosok Indonesia, kecuali di beberapa wilayah seperti Papua dan Papua Barat.

Kondisi media online ini terutama di daerah masih sangat perlu mendapatkan perhatian karena kebangkitan media jenis ini tidak hanya dipicu satu faktor saja seperti idealisme wartawan. Faktor ekonomi sering menjadi penyebab tumbuhnya media online di berbagai daerah.

Faktor ini didorong dengan kemudahan mendirikan media bahkan tanpa badan hukum sekalipun karena saat ini tidak perlu ijin lagi dalam mendirikan media online. Selain kemudahan proses juga semakin murah dan terjangkaunya biaya pengelolaan media online.

Oleh sebab itu media online menjadi salah satu sarana untuk menjadi sandaran hidup bagi sebagian orang meskipun para pelaku media ini kadang-kadang tidak memiliki latar belakang jurnalis profesional. Misalnya ada aktivis atau pengacara mendirikan media online dengan motif agar mudah mendekati para petinggi di daerah yang ujung-ujungnya adalah proyek.

Di sinilah kemudian media online perlu berbenah diri. Tidak hanya faktor ekonomi saja sebagai pemicu berkembangnya media online tetapi harus ditambah dengan faktor idealisme sebagai wartawan yang ingin menginformasikan dan mendidik masyarakat dengan ragam informasi yang ditawarkan media online. Jika hanya faktor ekonomi sebagai determinan utama menjamurnya media online maka peran yang diharapkan kepada media online sebagai bagian dari pers nasional sulit dicapai.

Peran media online

Seperti diketahui, jika mengacu kepada UU No 40 tahun 1999 tentang Pers maka fungsi yang harus dimainkan media adalah sebagai penyebar informasi, pendidik, hiburan dan kontrol sosial. Jika fungsi-fungsi ini tidak dijalankan oleh media online, bisa jadi kehadirannya tidak memberikan dampak positif.

Padahal, media apapun seharusnya bisa membuat masyarakat semakin cerdas sekaligus mampu mengungkap banyak kasus penyimpangan yang dilakukan penyelenggara pemerintah. Sebaliknya, publik bisa makin bingung karena media online hanya mengejar target ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, konten yang ditawarkan hanya mengikuti selera pemesan informasi, tidak menampilkan produk jurnalistik yang profesional.

Tantangan untuk menampilkan media online yang begitu banyak jumlahnya sebagai media yang mencerdaskan bangsa tentu tidak mudah. Ada hukum ekonomi dan juga budaya mencari pengunjung sebesar-besarnya untuk mencapai target page view.

Jika hanya motif ekonomi yang menguat maka informasi yang disuguhkan semata-mata demi mengejar jumlah pengunjung atau mencapai klik sebanyak-banyaknya. Jika ini banyak dilakukan puluhan ribu situs itu, maka media online hanya menjadi penyebar berita dan informasi yang tidak bermutu bahkan mungkin tidak mencerdaskan.

Jadi perlu ada kepedulian dari para pelaku media online, baik di tataran redaksi maupun perusahaan. Di tataran redaksi tentu sesuai dengan apa yang ditetapkan Dewan Pers, seharusnya penanggung jawab yang biasanya juga menjadi pemimpin redaksi memiliki latar belakang sebagai wartawan utama. Demikian juga redaksi perlu memiliki kualifikasi wartawan muda dan madya yang menjadikan kerjanya semakin profesional.

Sedangkan status medianya tentu perlu memiliki badan hukum sebagai perusahaan pers. Prasyarat seperti itu diperlukan media online karena memang fokus bidangnya adalah pers yang berarti mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan data melalui bentuk teks, gambar, audio dan bahkan video.

Produk asal-asalan

Dengan status media yang memenuhi standar ini, maka produk yang dihasilkannya juga akan memiliki nilai tambah tinggi bagi publik. Selain itu pengelolaannya juga akan profesional, tidak seadanya yang menyebabkan produk jurnalistiknya menjadi produk yang asal-asalan.

Dengan demikian, peran media online akan menjadi sangat signifikan di masa kini dan mendatang karena merekalah yang akan menguasai jagat informasi di dunia digital. Sedangkan masa depan pengelolaan informasi ke depan sangat tergantung kepada pengelolaan dunia digital, yang semakin murah sekaligus mudah diakses oleh publik berkat
perkembangan teknologi gadget.

Karena itu, media online memiliki tanggung jawab membangun tradisi baru dalam pers Indonesia. Tanggung jawab ini makin besar sejalan dengan bertambahnya jumlah dan penyebarannya di seluruh Indonesia.

Media online yang tidak mempedulikan tanggung jawabnya di dalam pers Indonesia akan menjadikan wajah pers Indonesia semakin buram. Oleh sebab itu sudah selayaknya tanggung jawab di kalangan media online ini ditumbuhkan seiring dengan berkembangnya jumlah media online di Indonesia. Selamat Hari Pers Nasional![]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id

Sumber: https://www.medcom.id/pilar/kolom/Wb70Wyak-media-online-perlu-berbenah-diri?utm_source=apps_android&utm_medium=share&utm_campaign=share

Challenges for Indonesian Press

Indonesian press encounter uphill battle with new environment which influence distribution content and business model. Digital platform becomes significant trigger for what happens currently in Indonesian press.

Firstly, as news content available for people everyday and every time without spend money to read or listen it. This happens due to progress in information technology. With simple gadget used more than 100 millions people in Indonesia, everyone could simply click button to get latest information. Before, they should buy newspaper, magazines or have radio on television to follow what happening in their surrounding environment.

Secondly, as media growing exponentially – thanks to freedom of press in Indonesia – competition becomes very severe. Online media is available everywhere in Indonesia because to set up media agency as easy as possible. Changes of business model tend to influence all media particularly mainstream media which before enjoy domination on information for public.

Thirdly, as consequences of press freedom in Indonesia, many people could possible produce news almost every time like journalists. The existence of social media put more pressure on traditional media institution. However, news which produced by certain people without news judgement make traditional mass media suffered.