Jurnalisme era Post Truth

Jurnalisme di era post-truth merupakan era dimana media massa arus utama tidak lagi menjadi sandaran dalam mencari kebenaran. Kebenaran menjadi sesuatu afirmasi terhadap keyakinan pembaca sehingga tidak memerlukan verifikasi. Kalau jurnalisme menjunjung tinggi nilai fakta, nilai kebenaran dan nilai reporting both-side maka, di era post-truth publik sering tidak peduli kebenaran karena mereka lebih cocok dengan versi kebenaran sesuaid engan seleranya.

Oleh karena itulah aka keberadaan media massa mulai dari surat kabar, radio dan televisi serta media online berita yang kredible, sering kalah oleh media abal-abal dan bahkan media sosial dalam memberitakan fakta-fakta yang terjadi. Media sosial dan media abal abal – blog online dan media online dadakan tidak jelas redaksinya dan tanpa kode etik jurnalistik – justru mejamur mendominasi penyebaran informasi. Sebagian dari media di era post-truth itu seperti mesi propaganda yang memompakan fakta-fakta yang sudah direkayasa, opini dan bahkan hoax untuk kepentingan bisnis dan politik.

Di sinilah media massa arus utama (mainstream) ditantang untuk hidup di era kebenaran bukan lagi kebenaran konvensiona namun kebenaran yang dibentuk para pembuat berita dan informasi. Dengan dalih bahwa media massa dikuasai penguasa dan kelompok tertentu maka para pengelola media post-truth ini melakukan produks informasi dalam skala yang luar biasa cepat dan sigapnya dibanding media massa mainstream yang penyebaran informasia diatur atau sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Please follow and like us: