Monthly Archives: October 2018

Jurnalisme era Post Truth

Jurnalisme di era post-truth merupakan era dimana media massa arus utama tidak lagi menjadi sandaran dalam mencari kebenaran. Kebenaran menjadi sesuatu afirmasi terhadap keyakinan pembaca sehingga tidak memerlukan verifikasi. Kalau jurnalisme menjunjung tinggi nilai fakta, nilai kebenaran dan nilai reporting both-side maka, di era post-truth publik sering tidak peduli kebenaran karena mereka lebih cocok dengan versi kebenaran sesuaid engan seleranya.

Oleh karena itulah aka keberadaan media massa mulai dari surat kabar, radio dan televisi serta media online berita yang kredible, sering kalah oleh media abal-abal dan bahkan media sosial dalam memberitakan fakta-fakta yang terjadi. Media sosial dan media abal abal – blog online dan media online dadakan tidak jelas redaksinya dan tanpa kode etik jurnalistik – justru mejamur mendominasi penyebaran informasi. Sebagian dari media di era post-truth itu seperti mesi propaganda yang memompakan fakta-fakta yang sudah direkayasa, opini dan bahkan hoax untuk kepentingan bisnis dan politik.

Di sinilah media massa arus utama (mainstream) ditantang untuk hidup di era kebenaran bukan lagi kebenaran konvensiona namun kebenaran yang dibentuk para pembuat berita dan informasi. Dengan dalih bahwa media massa dikuasai penguasa dan kelompok tertentu maka para pengelola media post-truth ini melakukan produks informasi dalam skala yang luar biasa cepat dan sigapnya dibanding media massa mainstream yang penyebaran informasia diatur atau sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Please follow and like us:

Thick Journalism dalam Televisi Berita

Mei 11, 2015 by Moderator

Thick Journalism dalam Televisi Berita

Interview

Interview

Antropolog Clifford Geertz menggunakan istilah terkenal ‘thick
description’ untuk melukiskan bagaimana upaya yang dilakukan pakar
etnografi membantu kita menafsirkan dan memahami makna dunia yang lain.

Simon Cottle dalam artikel berjudul “In defence of ‘thick’
journalism; or how television journalism can be good for us” meminjam
istilah thick description itu digunakan untuk menjelaskan bahwa praktek
jurnalisme lebih dari sekedar laporan berita, headline dan nilai berita
yang dangkal. Dengan demikian jurnalisme beruaya mengungkap sesuatu
lebih dalam, memberikan perspektif yang berbeda dan laporan yang hidup.
Kerja jurnalisme seperti itu akan mendorong munculnya berita susulan dan
maknanya bagi publik.

Televisi merupakan medium yang berpengaruh untuk meningkatkan
pemahaman publik terhadap berita dan opini yang berkembang. Menurut
Cottle, teknik thick journalism ini bisa dicapai antara lain melalui:
observasi dan kesaksian langsung; investigasi, dokumentasi dan ekspos
kasus; presentasi kepentingan yang terlibat konflik dan identitas;
program dan teknologi berformat spesifik yang membantu menayangkan
gambar-gambar dan isu yang kuat.

‘Thick journalism’ saat ini diperlukan bukan untuk melindungi genre
televisi tertentu apakah news, current affairs atau documentary. Hal itu
disebabkan tiga genre itu sudah tipis perbedaannya. Menurut Cottle and
Rai (2006) kompleksitas jurnalisme televisi saat ini jarang dibahas.

Para peneliti menunjukkan bahwa media sekarang secara market semakin
kompetitif, terderegulasi dan berorientasi pasar. Kecenderungan ini
telah mengurangi bobot televisi berita baik secara kuantitas dan
kualitas program current affairs dan dokumenter.

Munculnya ‘reality TV’, agenda berita yang populis, majalah yang
berbasiskan infotainment dan mengutamakan personalitas telah
menyingkirkan program berita. Semuanya telah diteliti di Inggris,
amerika Serikat dan Australia. Walaupun demikian sebagian aktivitas
jurnalisme televisi masih mampu memberikan kontribusi kepada kehidupan
demokratis masyarakat.

Jurnalisme televisi yang terdesak dengan kepentingan bisnis dan
konsumerisme masih mampu menghasilkan program yang berkualitas. Program
yang berkualitas inilah yang memberikan kontribusi penting dalam dialog
sehat di dalam masyarakat.

Cottle menyebutkan contoh thick journalism melalui beberapa contoh seperti

1. Behind the headlines, beyond news agendas.

Kasus ini mengenai program televisi di Australia yang menunjukkan
bagaimana nasib para pencari suaka di tempat penampungan Woomera di
Australia Selatan. Program ini mengangkat tidak hanya berita utama
kerusuhan di Woomera tetapi lebih dalam lagi yakni adanya ketidakadilan
di dalammya yang memotivasi adanya kerusuhan besar. Program ini
memberikan pesan penting dan bahkan berkontribusi untuk munculnya
perhatian publik, protes dan terjadinya perubahan.

2. Investigation and exposé

Peran investigasi dan exposé dalam jurnalisme disebut sebagai fungsi
Pilar Keempat (Fourth Estate) dalam negara demokrasi dan juga merupakan
idealisme profesi jurnalistik. Program ini akan memberikan kontribusi
yang disebut John Thompson (1995) sebagai ‘the transformation of
visibility’
dimana kekuasaan dan orang-orang berkuasa menjadi di bawah pengawasan dan kritik publik.

3. Circulating public rhetoric, reason and debate

Sejumlah program televisi juga berperan sebagai interlocutor publik,
menuntut jawaban dari pengambil kebijakan dan pihak penguasa. Dalam
upaya ini media menjadi wahana terjadinya retorika dan eksplanasi yang
penting untuk ‘deliberative democracy’

4. Mediatized ‘liveness’and social charge

Live talk yang berbeda dengan perbincangan yang sudah direkam dan
diedit memiliki kapasitas menghasilkan pengungkapan, kadang-kadang
dramatis, perdebatan dan pernyataan spontan. Wawancara langsung juga
memberikan dinamika yang bisa menghasilkan suasana tegang, perbincangan
spontan pro dan kontra, menembus jantung permasalahan.”

5. Public performance, emotion and affect

Jika suara dan pandangan yang muncul merupakan bahan mentah untuk
proses deliberative democracy, demikian juga emosi dan perasaan yang
sering terpendam. Televisi sering mengungkapkan sesuatu yang sifatnya
pradi seperti kesedihan dan kemarahan yang terkait dengan kebijakan
publik.

6. Voice to the voiceless, identity to image

Jurnalisme televisi mendelegasikan siapa yang dilihat, siapa yang
diijinkan bicara dan “pandangan” apa yang didengar. Agenda berita dan
berita yang muncul dapat berpengaruh bagaimana grup dan individual
digambarkan. Kelompok masyarakat dan individual ini dapat digambarkan
sebagai menyimpang, orang luar atau asing. Namun Thick journalism
berpotensi mencegah ketidakberimbangan dan ketidakadilan ini.

7. Challenging society’s meta-narratives

Sejumlah program televisi melangkah lebih dalam dalam mengungkapkan
masalah kekuasaan dan menggugat keyakinan masyarakat dan pandangan yang
sudah diterima. Program ini melakukan konstruksi secara naratif untuk
mengkaji pandangan yang berbeda.

8. Recognition, difference and cultural settlement

Kenangan mengenai kekerasan, trauma dan ketidakadilan masa silam
dalam bentuk perjuangan masa kini dan menggugah perhatian lebih luas
rasa sakit masa lalu dan sekarang.

9. Media reflexivity

Media sekarang kadang-kadang memonitor dan mengomentari kinerja dan
praktek sendiri. Program ini sudah lama berjalan seperti Media Watchin
Australia atau Right to Reply di Inggris.

10. Bearing witness in a globalizing world

Dunia kita yang semakin global dan terkait namun tidak sederajat
mendorong kita untuk mendapat informasi dan merespons kebutuhan dan
nasib orang lain. Jurnalisme televisi memiliki kemampuan untuk
mengangkat nasib manusia di muka bumi. ***

Sumber: https://freejournalist.wordpress.com/2015/05/11/thick-journalism-dalam-televisi-berita/

Sumber: asepsetiawan.com

Sumber: Simon Cottle, In defence of ‘thick’ journalism; or how
television journalism can be good for us, dalam Journalism: critical
issues, Edited by Stuart Allan, Berkshire, Open University Press,2005.

Please follow and like us: